WITH YOU

WITH YOU
Resah


__ADS_3

Evan mengecup bibir Carissa dengan lembut dan penuh perasaan, sebelum akhirnya menarik kembali wajahnya menjauh dari wajah Carissa. Carissa yang telah terlanjur memejamkan matanya tampak merasa agak kecewa, pasalnya Evan tak memberikannya ciuman panas yang dia rindukan.


Carissa membuka matanya dan melihat kearah Evan dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


"Apa kamu benar-benar harus pergi sekarang?" Tanya Carissa dengan nada putus asa.


"Iya." Jawab Evan singkat.


Carissa terdiam dan tak mengatakan apa-apa lagi. Tentu saja dia mengerti jika Evan harus menjalankan tugasnya di rumah sakit. Tapi entah kenapa kali ini dia merasa sangat tidak rela melepas Evan untuk bekerja.


"Sepuluh menit lagi." Pinta Carissa dengan nada lirih sambil menggenggam jemari Evan erat.


Evan terlihat agak heran dengan tingkah Carissa. Dia melihat kearah Carissa dengan penuh tanda tanya.


Melihat Evan yang tidak meresponnya, Carissa tak patah arang. Semakin di eratkannya genggaman tangannya pada jemari Evan.


"Lima menit saja. Tolong temani aku lima menit lagi saja, setelah ini kamu boleh pergi." Pinta Carissa lagi dengan nada memohon.


Evan masih terdiam dan menatap Carissa. Lalu tiba-tiba dia bangkit dari duduknya. Carissa yang melihat Evan berdiri pun merasa agak kecewa. Dia merasa suaminya ini seperti sedang ingin menghindarinya.


Carissa menundukkan wajahnya karena tidak sanggup melihat Evan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tapi di luar dugaan Carissa, rupanya Evan justru sedang menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Evan...?" Carissa mengangkat kembali wajahnya dan melihat kearah Evan lagi dengan raut wajah tidak mengerti.


Evan kembali duduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuh menghadap kearah Carissa. Di pandangnya wajah istrinya itu dengan tatapan yang agak lain dari sebelumnya.


"Aku tidak ingin Mama tiba-tiba masuk dan mengganggu kita." Ujar Evan seakan menjelaskan kenapa dia bangkit dari duduknya tadi.


Carissa menatap Evan dengan mata yang seketika berbinar. Bibirnya menipis membentuk sebuah senyuman.


"Aku tidak bisa lama. Banyak pasien yang sudah membuat janji denganku sejak jauh-jauh hari." Ujar Evan sambil merengkuh tubuh Carissa ke dalam pelukannya. Kemudian Evan sedikit merenggangkan pelukannya dan mulai memagut bibir Carissa dengan lembut. Di jelajahinya setiap inci rongga mulut Carissa hingga gairah keduanya pun sama-sama bangkit.

__ADS_1


"Apa kamu sungguh tidak apa-apa kalau kita melakukan ini?" Tanya Evan di sela cumbuannya.


Carissa tak menjawab. Hanya tangannya saja yang terus menjelajahi tubuh Evan dengan sangat bersemangat.


"Aku merindukanmu, Evan..." Gumamnya dengan mata yang setengah terpejam. Tampaknya istri Evan itu sudah benar-benar terbakar gairah dan meminta untuk segera di puaskan.


Mendengar kata-kata Carissa, Evan menjadi sedikit berbeda. Dia yang awalnya ragu-ragu menyentuh Carissa, kini tampak menjadi lebih bersemangat. Keduanya pun hanyut ke dalam kenikmatan yang telah agak lama tidak mereka reguk. Evan dan Carissa saling menyentuh dan memuaskan hingga tanpa sadar mereka saling menyebutkan nama satu sama lain saat telah mencapai puncak.


Setelah kegiatan panas mereka selesai, untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam. Carissa yang masih berada dalam pelukan Evan, tampak enggan untuk beranjak. Tiba-tiba saja dia menyadari jika tubuhnya terasa jauh lebih baik setelah melakukan hubungan suami istri dengan Evan tadi. Perutnya tidak terasa mual dan kepalanya juga tidak terlalu pusing lagi.


"Aku harus mandi dan segera pergi ke rumah sakit." Suara Evan terdengar memecah keheningan.


Carissa mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Evan dengan agak tidak rela. Dia juga sebenarnya tidak mengerti kenapa belakangan dia sangat tidak ingin berjauhan dengan suaminya ini.


"Aku ikut." Lirih Carissa.


Evan tampak menautkan kedua alisnya.


Evan tersenyum dan beranjak dari tempat tidur. Lalu masih dengan tubuh yang polos tak mengenakan pakaian, dia pun mengangkat tubuh Carissa dan menggendongnya memasuki kamar mandi. Keduanya lalu mandi bersama.


Sepuluh menit kemudian, Evan dan Carissa telah selesai mandi dan kembali berpakaian. Evan bahkan masih sempat membantu Carissa mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.


Dalam hati Carissa benar-benar merasa tersentuh. Terlepas dari Evan telah memaafkan Papanya atau belum, faktanya suaminya ini tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.


Carissa tak mau berharap terlalu berlebihan sekarang. Baginya, Evan masih mau menganggapnya sebagai istri saja sudah lebih dari cukup. Carissa berjanji akan melakukan apapun agar tak semakin mempersulit Evan. Dia tidak akan melakukan hal yang dapat menguji batas kesabaran suaminya itu.


Setelah di rasa sudah kembali berpenampilan rapi, Evan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Lalu di bukanya kunci pintu kamar tersebut.


Carissa ikut bangkit dan mengikuti Evan dari belakang. Saat pintu kamar telah terbuka, tanpa sadar Carissa memeluk Evan dari belakang. Tiba-tiba rasa cemas dan takut datang meyusup ke dalam relung hati Carissa. Entah kenapa dia membayangkan Evan pergi dan tidak kembali lagi padanya.


"Carissa..." Evan melepaskan tangan Carissa yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


Evan berbalik dan melihat kearah istrinya itu.


"Aku benar-benar harus pergi ke rumah sakit sekarang. Kamu baik-baiklah di sini." Ujar Evan lembut.


"Nanti sepulang dari rumah sakit, kamu langsung ke sini, kan?" Tanya Carissa.


"Sepulang dari rumah sakit, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di aparteman. Kalau selesainya cepat, aku akan langsung datang ke sini,tapi kalau selesainya agak malam, mungkin besok pagi aku baru ke sini." Jawab Evan.


Carissa terlihat agak kecewa, tapi tak urung dia tetap menganggukkan kepalanya juga.


"Hati-hati." Ujar Carissa lagi.


Evan mengangguk dan melangkah meninggalkan Carissa. Sedangkan Carissa tetap mematung di ambang pintu kamar. Di lihatnya Evan hingga suaminya itu menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan menghilang dari penglihatannya.


Carissa menghela nafasnya dan memcoba menenangkan dirinya sendiri. Evan telah berjanji untuk selalu berada di sisinya dalam keadaan apapun, dan tentu saja kata-kata Evan sangat bisa di percaya. Carissa sangat tahu jika Evan tidak akan meninggalkannya, dan sejauh ini sikap Evan padanya juga bisa di bilang masih sangat baik, terlepas dari fakta jika Papa Carissa yang menyebabkan kedua orang tua Evan meninggal dunia.


Tapi entah kenapa hati Carissa tetap saja merasa resah, seolah semuanya tidaklah baik-baik saja.


Dengan menguatkan hatinya sebisa mungkin, Carissa kembali masuk ke dalam kamar dan membaringkan lagi tubuhnya yang tiba-tiba saja kembali terasa lemah sepeninggalan Evan. Carissa berusaha untuk berpikir positif seperti yang selalu Evan katakan padanya. Dia terus meyakinkan hatinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja.


Ya. Semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung...


Maaf yak udah dua hari ga update, semoga ada yang merindukan emak.


Tiga hari kemarin sebenarnya emak pulkam dan ngunjungin keluarga yang kena musibah. Hari pertama emak sempet2in update, tapi hari selanjutnya ga memungkinkan buat emak ngetik cerita karena suasananya sangat tidak kondusif.


Semoga ga pada kabur


Happy reading ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2