WITH YOU

WITH YOU
Pelangi Di Tengah Badai


__ADS_3

Dokter Grace menggerak-gerakkan alat USG di permukaan perut Carissa sembari melihat kearah layar monitor. Senyumnya kemudian mengembang dan menoleh kearah Carissa sekilas.


"Selamat, Nyonya Carissa. Saat ini Anda memang sedang mengandung, dan usia janinnya sudah mencapai empat minggu lebih." Ujar Dokter Grace pada Carissa.


"Selamat untuk Anda juga, Direktur. Anda dan Nyonya Carissa tidak perlu menjalani program bayi tabung, prosedur pembersihan saluran rahim yang di jalani Nyonya Carissa sebelumnya ternyata membuahkan hasil." Ujar Dokter Grace lagi, kali ini dia berujar pada Evan.


Carissa tersenyum dengan penuh rasa haru. Dia menatap kearah layar monitor yang memperlihatkan janinnya dengan perasaan yang membuncah.


Dokter Grace kemudian membersihkan gel yang sebelumnya di oleskan ke permukaan perut Carissa, kemudian membimbing Carissa untuk kembali duduk.


Evan dan Carissa kemudian duduk berhadapan dengan Dokter Grace untuk mendengarkan lebih lanjut keterangan tentang kehamilan Carissa. Dokter Grace mulai menanyakan beberapa hal pada Carissa, kemudian dia juga menyampaikan perkiraan tanggal persalinan.


Carissa mendengarkan keterangan Dokter Grace dengan sangat antusias. Dia juga menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan dengan sangat bersemangat, hingga tidak di sadarinya jika Evan sedari tadi hanya diam tanpa mengatakan apapun.


"Keluhan apa yang Nyonya rasakan sekarang? Apa sudah mulai merasakan morning sickness?" Tanya Dokter Grace lagi.


"Saya memang sudah mulai merasa pusing dan mual beberapa hari ini, tapi tidak sampai muntah-muntah. Saya hanya tidak berselera makan dan ingin makan buah yang rasanya asam saja." Jawab Carissa.


"Meski tidak berselera, usahakan selalu makan dengan nutrisi yang cukup, Nyonya. Jangan lupa untuk mengkonsumsi susu khusus ibu hamil juga. Saya akan meresepkan obat mual dan vitamin untuk Nyonya. Dan juga, jangan terlalu berlebihan mengkonsumsi buah dengan rasa asam yang kuat, tidak baik untuk sistem pencernaan Anda." Ujar Dokter Grace menerangkan.


Carissa mengangguk tanda mengerti.


"Oh, iya, satu lagi. Anda tidak boleh stres selama menjalani kehamilan. Hindari memikirkan sesuatu yang membuat Anda merasa kesal, marah atau pun sedih. Suasana hati Anda sangat berpengaruh terhadap kondisi janin yang Anda kandung. Usahakan untuk selalu rileks." Tambah Dokter Grace lagi.


Lagi-lagi Carissa mengangguk. Senyumnya mengembang dengan sangat manis. Lalu tanpa sengaja dia menoleh kearah Evan yang tampak menatap lurus ke depan.


Carissa terkesiap. Raut wajah Evan terlihat datar tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang di rasakannya saat ini. Apakah dia senang mendengar kehamilan Carissa atau pun sebaliknya, hanya Tuhan saja yang tahu. Untuk pertama kalinya selama Carissa menjadi istri Evan, dia tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.

__ADS_1


"Untuk kali ini, saya rasa pemeriksaannya cukup, Nyonya Carissa. Anda bisa kembali bulan depan. Jika ada keluhan lain, langsung saja hubungi saya." Suara Dokter Grace membuyarkan lamunan Carissa.


Carissa tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih, Dokter Grace." Ujar Carissa.


"Terima kasih, Dokter Grace. Kami permisi dulu." Kali ini Evan yang mengeluarkan suaranya. Keduanya lalu beranjak dan meninggalkan ruangan itu dengan berjalan beriringan.


Evan menyuruh Carissa duduk di salah satu bangku yang ada di koridor rumah sakit, sementara dia menebus obat dan vitamin yang di resepkan oleh Dokter Grace tadi.


Tak lama kemudian Evan kembali. Carissa melihat lelaki itu berjalan dari ujung koridor menuju kearahnya. Wajah Evan masih terlihat tak menunjukkan emosi apapun. Tak ada senyuman yang mengisyaratkan dia sedang senang, tapi di sisi lain Carissa juga tak bisa menyimpulkan jika Evan sedang marah.


"Ayo." Ujar Evan saat berada di hadapan Carissa.


Carissa tidak bangkit dari duduknya. Dia merespon ajakan Evan dengan menengadahkan wajahnya. Di tatapnya suaminya itu dengan tatapan yang agak sendu.


Evan tampak menautkan kedua alisnya tanpa menjawab pertanyaan Carissa.


"Kita sudah menantikannya sejak berbulan-bulan yang lalu, tapi sekarang saat dia hadir, kamu bahkan tidak tersenyum sedikit pun. Apa sekarang kamu tidak menginginkannya lagi, Evan?" Tanya Carissa lagi, masih dengan nada lirih. Suaranya terdengar agak sedih.


Evan tampak menghela nafasnya.


"Berhentilah memikirkan yang tidak perlu. Ayo kita pulang." Ujar Evan sambil mengulurkan tangannya.


Carissa melihat tangan Evan yang terulur padanya, lalu melihat kearah Evan lagi. Dia masih setia di tempat duduknya tanpa berniat untuk beranjak.


"Aku akan jadi seorang ayah, mana mungkin tidak senang. Apa sekarang kita bisa pulang?" Evan masih mengulurkan tangannya pada Carissa.

__ADS_1


Carissa akhirnya tersenyum dan menyambut tangan Evan. Meskipun nada bicara Evan masih tak selembut biasanya, tapi kata-katanya tadi cukup membuat hati Carissa menghangat.


Carissa pun bangkit dan melangkah mengikuti Evan menyusuri koridor rumah sakit. Mereka melangkahkan kaki tanpa saling mengucapkan kata. Meski begitu, hati Carissa terasa jauh lebih baik. Kehadiran calon anak di dalam rahimnya, ibarat munculnya pelangi di tengah badai. Carissa berharap dengan kehamilannya, Evan perlahan kembali menjadi suami yang di kenalnya selama ini.


☆☆☆


Carissa bergerak gelisah di tempat tidur. Dari tadi dia tidak bisa memejamkan matanya, hingga sekarang waktu telah menjelang dini hari.


Tadi sekembalinya dari rumah sakit, Evan sudah bersikap lebih lembut padanya, bahkan mereka juga telah makan malam bersama-sama. Tapi entah kenapa, Evan masih enggan untuk tidur sekamar dengan Carissa. Dia masih kembali tidur di kamar tamu, tempatnya tidur selama tiga minggu belakangan ini.


Pikiran Carissa pun berkecamuk hingga tak bisa terlelap karena memikirkan kemungkinan hubungan mereka ke depannya.


Tapi kemudian, tiba-tiba Carissa merasakan ada yang membuka pintu kamarnya, hingga cepat-cepat Carissa kembali memejamkan matanya seolah dia sedang terlelap.


Tampak Evan datang dan mendekati Carissa yang berbaring di tempat tidur.


Evan duduk di pinggiran tempat tidur dan memandangi wajah Carissa. Tangannya pun terulur membelai wajah istrinya itu. Tak lama kemudian, tangan Evan mulai turun dan berhenti tepat di perut Carissa yang masih rata. Evan mengusap-usap perut Carissa dengan sangat pelan dan agak mengambang, seolah tidak ingin tangannnya menjadi beban di sana.


Carissa tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Tanpa sadar dia membuka matanya, hingga pandangannya langsung bertemu dengan mata Evan yang juga sedang melihat kearahnya. Sudah agak lama Carissa tidak melihat tatapan teduh itu. Carissa pun bangkit dan langsung berhambur ke dalam pelukan Evan. Dia tak peduli jika pada akhirnya Evan tak membalas pelukannya. Yang di inginkannya hanyalah melepas rasa rindunya pada suaminya ini.


Tapi di luar dugaan, tangan Evan justru membalas pelukan Carissa dengan sama eratnya. Dia juga membelai pucuk kepala istrinya itu dengan sangat lembut, lalu menciuminya. Tampaknya bukan hanya Carissa yang merindu, ternyata Evan juga merasakan hal yang sama.


Keduanya pun saling memeluk dengan segenap perasaan yang ada, menumpahkan kerinduan yang di pendam selama beberapa hari terakhir.


Bersambung...


Dua orang yang saling rindu menjadi satu, apakah yang akan terjadi selanjutnya????

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2