
Raka memang berniat mebawa anaknya dan juga menantunya pulang hari ini. Karena dia telah memesan tiket untuk keduanya. Baru saja dia pergi ke apartemen tempat anak dan juga menantunya tinggal, justru dia disuguhkan dengan pemandangan yang mengerikan. Hal yang ditakuti oleh Raka adalah ketika melihat anaknya menangis. Raka sengaja tidak menanyakan hal itu kepada anaknya.
Kali ini mereka berada di dalam pesawat perjalanan untuk pulang. Dua hari dia berada di sana. Dia datang sendiri untuk menjemput anaknya itu. ketika dia melihat disebelah kirinya ada Adelia yang sedang tidur dengan lelap.
Ketika tiba di hotel tempat dia menginap selama dua hari itu. Ia tak bertanya apa pun pada Adelia. Raka tahu bagaimana cara mengatasi ini. Dia harus bijaksana untuk membiarkan anaknya terlebih dahulu yang menceritakan masalahnya kepada dirinya.
Raka mengelus kepala anaknya, “Sudah besar kamu, Nak. Hidup ini terus berlanjut, Papa nggak bisa awasi kamu terus. Setiap kamu sedih, Papa nggak selalu bisa kasih bahu Papa buat kamu,” katanya kepada anaknya.
Dia memang tidak tahu masalah yang sedang dihadapi oleh anaknya. Tapi dilihat dari cara anaknya dan juga Devan. sepertinya memang ada masalah yang serius sehingga Adelia berniat pergi.
Raka punya waktu ketika tiba di Indonesia untuk menanyakan hal itu.
Ia memang tidak menghubungi keduanya ketika ingin pergi ke apartemen. Tapi, dia menghubungi Reza agar dia yang memberitahu anaknya tentang kedatangannya ke sana. raka memang mendengar pertengkaran serta teriakan Adelia yang tadi dia dengar sekilas. Untuk urusan rumah tangga, sudah dipastikan memang masalah itu sudah pasti ada.
Dua hari kemudian.
Raka memang jarang sekali melihat Adelia keluar dari kamar.
“Ma, Adelia sudah makan?” tanyanya ketika dia pulang dari kantor. Dia mendapatkan kabar jika Adelia dan Devan memang bertengkar. Jika keadaannya sudah membaik, dia akan meminta Devan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Daripada dia melihat anaknya yang seperti itu. memang seharusnya dia tidak ikut campur. Akan tetapi jika sudah seperti ini, apalagi Adelia yang dia tahu memang sedikit kekanakan. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun untuk kali ini. Karena mereka sudah berumah tangga. Maka dari itu dia harus menanyakan masalah yang sebenarnya kepada Devan selaku suami anaknya.
Fania yang sedang menyiapkan makan malam itu mendekati Raka dan mengambil tas yang ditenteng oleh Raka. “Adelia udah makan kok, Pa. mungkin dia capek atau malas keluar. Adiknya juga tadi beliin dia makanan kok. Semuanya di makan, jadi Papa nggak usah khawatir. Dia lahap banget kok makannya, sekarang lagi di kamar sama neneknya,”
“Di kamar mana?”
“Kamar Mama. Dia yang cariin Mama tadi,” kata Fania.
Raka sedikit merasa lebih tenang jika Adelia keluar. Dia masih enggan untuk menanyakan masalah anaknya karena tidak mau anaknya justru bersedih.
Ketika Raka pergi ke kamar mamanya untuk memastikan kedua perempuan yang ada di sana. Adelia tidur dipangkuan neneknya, sedangkan neneknya terus mengelus puncak kepala Adelia hingga tertidur. Raka melihat mamanya dan mamanya juga sempat melihatnya. Tapi keduanya hanya tersenyum dari jauh.
Setelah itu dia pergi untuk membersihkan tubuhnya setelah bekerja seharian. Ketika diahendak masuk ke dalam kamar, “Pa!” panggil Keano.
Raka berhenti kemudian menoleh kesamping, “Ada apa, Keano?”
“Kak Adel nggak apa-apa? Papa yang bawa dia pulang,” dia tahu tentang Keano yang khawatir dengan kakaknya.
“Papa jemput dia ke apartemennya,”
“Papa tahu kalau mereka tinggal di luar?”
__ADS_1
“Iya, Papa tahu kalau mereka ninggalin kota ini karena Papa. Tapi, ketika Papa mau mengetuk pintu, Papa dengar mereka bertengkar. Setelah itu Papa lihat kakak kamu nangis dan bawa barangnya,”
“Ini bukan karena paksaan Papa?”
“Paksaan apa? Keano, awalnya Papa mau turutin kemauan nenek kamu biar Devan juga tinggal di sini. Tapi sepertinya ada masalah sama kakak kamu dan juga ipar kamu,”
“Kak Adel kenapa bilang pengin cerai?” pertanyaan itu keluar dari mulut Keano lolos begitu saja.
“Keano, maksud kamu?”
“Kak Adel bilang dia capek sama Devan, itu bukan karena paksaan Papa? Bukannya aku mau nuduh, Pa. Tapi kenapa tiba-tiba dia bilang begitu? Awalnya aku memang nggak percaya dengan apa yang dia katakan. Tapi, aku kaget waktu dia bilang begitu, Pa. jujur aja, Pa. Kak Adel itu sedang dalam posisi kebingungan,”
“Papa mau bicara sama Devan nanti. Jadi kamu tenang saja!” kata Raka menepuk pundak anaknya.
Raka pun masuk ke dalam kamarnya.
Satu jam kemudian dia telah mandi dan juga berpakaian rapi. Ketika dia mencoba menghubungi Devan. tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, ketika dia melihat ada anaknya yang ada di depan pintu. Raka langsung memutuskan sambungan telepon yang baru saja diangkat oleh Devan ketika dia melihat putrinya.
“Papa sibuk?”
“Nggak, kenapa?”
Raka merangkul anaknya untuk turun, “Kita ke bawah ya!”
Adelia berhenti melangkah, “Di ruangan Papa aja gimana?”
Barangkali Adelia ingin menceritakan sesuatu hingga anak itu meminta di ruangannya. “Butuh Mama juga nggak?”
“Jangan, Pa,”
Raka mengiyakan dan merangkul anaknya ke ruang kerjanya.
Adelia tiba-tiba terisak, “Boleh peluk, Papa?” kata Adelia begitu tiba di ruang kerja Raka.
Raka tidak tahu penyebab anaknya menangis seperti sekarang ini. Raka mendekati Adelia dan memeluk anaknya, mungkin memang benar ada yang disembunyikan oleh Adelia. Tiba-tiba tubuh Adelia sesenggukkan. “Nggak usah ditahan, Nak! Apa pun itu, bilang sama Papa,”
“Pa, Papa nggak marah tentang aku yang pergi dari rumah dan milih, Devan?”
“Adel, Papa kecewa sama kamu, kecewa banget. Tapi, Papa nggak bisa paksa kamu untuk tinggal sama Papa waktu itu. setelah dengar kamu bertengkar, ada rasa sedih dan juga rasa sakit yang Papa rasakan saat kamu nggak bisa akur sama Devan,”
__ADS_1
“Papa nggak benci?”
“Adelia, kamu sudah besar. Apa masalah yang kamu lalui itu harusnya kamu tahan. Jangan nyerah! Papa dengar kamu berantem sama Devan, Papa dengar Devan juga teriak sama kamu. Papa boleh tahu masalahnya di mana?”
“Pa, bisa nggak usah kita bahas dia? Aku capek,”
“Adel, Papa nggak bakalan maksa kamu buat bahas dia. Tapi Papa pengin tahu aja alasannya apa?”
“Pengin pisah,”
Raka memeluk anaknya lebih erat lagi. Berpisah adalah kata yang paling dibenci. Sekalipun dia sudah tahu jika Devan merupakan anak Reza. Tapi dia tidak mau jika anaknya berpisah dengan suaminya. “Adel, kenapa bilang begitu?”
“Adel capek, Pa. nggak mau lagi, bahkan Adel nyesel,”
“Bagaimana sama anak kamu?”
“Adel bakalan usaha sendiri, Pa,”
“Nggak semudah itu sayang,”
“Adel tahu, Pa. adel pengin cerita ke Mama. Tapi kalau ingat Mama pernah sakit hati dulu, Adel nggak mau nambah beban, Mama. Maka dari itu Adel tungguin Papa,”
Ia merasa gagal merawat anaknya ketika Adelia berpikir jika berpisah itu adahal hal yang baik. “Kamu masih terlalu muda, Nak. Kenapa kamu pengin pisah? Papa bukannya mau belain salah satunya, tapi bukannya harus diselesaikan dengan baik?”
“Pa, apa artinya Adelia bertahan kalau hati Adel ragu sekarang? Perasaan ke Devan itu pudar, Pa. seiring berjalannya waktu Devan selalu main rahasia, sakit itu nggak bisa dibohongi, Pa. adel pengin nangis dekat, Mama. Tapi Adel tahan,”
Dia mencium kening anaknya berkali-kali. Tangan Adelia tak melepaskan tubuhnya. “Iya, Papa bakalan usahakan untuk ada buat kamu. Adelia mau apa?”
“Pa, tetap di sisi aku ya!”
“Iya, Nak. Papa bakalan di sini, bahu Papa bakalan ada kalau Adelia butuh sandaran,”
Raka tak ingin menyinggung perihal anaknya yang ingin berpisah. “Aku juga sudah cerita sama Keano,”
“Adelia, biarin ini Papa yang tahu. Jangan cerita sama Mama ataupun nenek! Papa bakalan ada untuk kamu, Keano juga,”
__ADS_1