
“Bisa ‘kan untuk hubungi mereka untuk saat ini? Suruh mereka pulang!”
Selama mengobrol dengan Raka, kali ini Reza tidak setuju dengan permintaan jika Devan dan juga Adelia harus pulang dengan segera. Bukan karena dia tidak mau jika anaknya di sini. Tapi sudah begitu banyak cobaan untuk mereka berdua. Pertama, Reza tidak pernah sadar jika menantunya itu adalah anak Raka. Kedua, dia terlalu egois ketika meminta Devan menikah lagi dengan Bianca. Tidak mau jika keduanya terpisah nanti ketika pulang ke Indonesia. Lagipula untuk biaya hidup keduanya sudah dia jamin dan bisa hidup dengan enak di sana.
Reza gelisah. Tidak mau jika ini adalah jebakan untuknya yang di mana Raka mendekatinya hanya untuk mengambil anaknya. Kemudian membuat Devan bersedih ketika berpisah dengan istrinya. Raka keras kepala. Jadi dia hafal dengan pria yang ada di depannya.
Raka sendiri tahu jika dari ekspresi Reza terlihat begitu jelas raut wajah curiga yang mungkin tidak percaya dengan dirinya yang ingin mengambil Adelia dan juga Devan. tapi, kali ini dia sangat bersungguh-sungguh jika dia memang ingin anaknya bahagia dengan Devan. memberikan kesempatan untuk pria itu menjadi menantunya.
Raka ingin membiarkan cucunya hidup bahagia tanpa ada halangan dari kedua belah pihak. Baik itu pihaknya, maupun pihak Reza sendiri. Karena dia memang tahu jika menantunya sudah memilih untuk hidup bersama dengan Adelia.
“Kamu masih ragu denganku?” pertanyaan itu terlontar begitu dia melihat ekspresi Reza berubah tadi. Sepertinya pria yang ada di depannya itu memang tidak percaya dengan dirinya. Akan tetapi, sungguh dia tidak bisa lagi untuk menahan rindunya kepada anaknya. “Aku sama sekali nggak berminat untuk misahin mereka. Mungkin kamu pikir kalau mereka pulang aku bakalan misahin mereka? Aku kan sudah bilang kalau kita perlu belajar dari masa lalu. Nggak seharusnya kita bisa seperti ini lagi ‘kan, Za?”
“Kamu memang benar kalau kita nggak bakalan seperti ini terus. Tapi, nanti bagaimana sama Nesya?”
“Nesya itu istri kamu. Risiko harusnya berani kamu tanggung karena dia adalah istri kamu. Sama halnya dengan aku, Fania itu sekarang istri aku. Antara dia terima atau nggak. Itu adalah urusan aku dan aku berani ambil risiko apa pun karena aku nggak mau kalau sampai Fania misahin kebahagiaan anaknya, aku udah bilang juga kalau sekarang kita hanya perlu kerjasama,”
“Ini nggak semudah yang kamu bayangin, Raka. Nesya itu sekarang lagi mau jebak Devan kalau dia pulang,”
Raka mengernyitkan dahinya ketika Reza mengatakan itu. Baru kali ini dia mendengar seorang ibu akan menjebak anaknya sendiri. Mencelakai anaknya sendiri demi kebahagiaannya semata. “Menjebak bagaimana?”
__ADS_1
“Ya menjebak. Intinya Nesya itu nggak mau Devan nikah sama orang lain. Kecuali Bianca. Jadi aku masih berpikir dengan keras. Nggak mau kalau sampai Devan itu nanti celaka sama Mamanya sendiri. Mamanya pernah menginginkan jika Devan menikah dengan Bianca. Maka dari itu, untuk saat ini aku minta izin juga sama kamu, biarin mereka tinggal di luar untuk beberapa bulan kedepan. Aku nggak mau kalau sampai mereka itu terpisah hanya karena perbuatan Nesya. Ataupun perbuatan kamu nanti yang bisa saja berubah pikiran. Aku nggak mau kalau kamu misahin mereka kalau ada kesalahan yang dibuat Devan,”
“Kamu mikirnya aku sejahat itu sama anak aku sendiri, Reza?”
Raka masih tak bisa meyakinkan pria ini. Entah bagaimana lagi dia bisa meyakinkan Reza agar dia mau menyuruh kedua anak itu pulang.
“Raka, aku akui kalau aku memang salah. Karena memang aku juga sempat untuk meminta Devan menikah lagi dan menikahi Bianca. Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ternyata menantu aku itu adalah anak kamu sendiri. Devan juga sudah berkuat diri untuk menahan agar rumah tangganya sama anak kamu baik-baik saja,”
Reza memang plin plan sedari tadi karena dia tidak bisa yakin dengan cepat kepada pria itu. tidak bisa percaya dengan mudah karena dia memang takut jika anaknya akan dipisahkan nanti. Jika tadi dia sempat percaya kepada Raka. Tapi kali ini mengingat apa yang diucapkan oleh Devan waktu itu bahwa Raka selalu memata-matai Devan. dia menjadi ragu dengan hal itu.
“Kalau kamu masih ragu, kamu bisa cari mereka ke rumah aku nantinya. Nggak mungkin juga aku tega sama anak aku sendiri, Reza. Aku berani sumpah kalau memang mereka aku pisahkan, kamu bisa datang dan bilang sama Fania secara langsung. Aku nggak mau dia terluka,”
“Kamu nggak mau dia terluka tapi kamu masih mencintai perempuan yang sudah meninggal. Itu apa kabar sama perasaan kamu sendiri?”
Reza menarik simpul dasinya agar lebih longgar. Karena dia seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raka barusan. Dia sepertinya memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. akan tetapi Raka seolah sedang memojokkannya. “Sekalipun kamu masih cinta sama Fania. Dia sudah jadi ratu di istanaku, Reza. Dia itu nggak bakalan aku lepasin, nggak bakalan pernah aku sia-siakan. Dia juga nggak bakalan pernah kecewa lagi untuk kesekian kalinya. Aku hanya nggak bisa maafin diri aku sendiri kalau seandainya anak aku bernasib sama seperti perempuan yang pernah aku campakkan, maka dari itu aku bilang sama kamu kalau aku pengin Devan dan Adelia tinggal sama aku. Biarkan mereka bahagia, itu juga karena permintaan Mama aku. Kamu sudah pasti tahu kalau nenek Adelia itu sudah tua,”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Hubungi mereka dan minta pulang!”
__ADS_1
“Bisakah kita kasih waktu untuk mereka berdua? Jujur saja aku sedikit ragu tentang hal itu,”
“Kalau begitu, berikan aku alamatnya!”
Reza terdiam sejenak, “Kenapa?”
“Aku cuman bisa memohon itu sama kamu,”
Raka merendahkan dirinya untuk mencari keberadaan anaknya karena dia benar-benar ingin mewujudkan apa keinginan mamanya untuk tinggal bersama dengan Adelia dan juga Devan. sekalipun dia masih sakit untuk menerima anak itu karena merupakan anak dari Reza. Tapi, dia tidak mau dendam kepada Devan hanya karena perlakuan Reza dulu.
Reza bangkit dari tempat duduknya lalu kembali lalu membawa secarik kertas yang isinya adalah alamat tempat tinggal Adelia dan juga Devan yang diberikan oleh Jesse waktu itu. “Jangan hancurkan mereka berdua, aku nggak bakalan sanggup lihat anak aku hancur hanya karena kehilangan sama seperti kita,” kata Reza yang kemudian menyodorkan lembaran yang berisikan alamat itu.
Ketika sudah mendapatkan alamat tempat tinggal anaknya. Raka berpamitan karena itu adalah jam makan siang.
Raka juga tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan anaknya dan membiarkan keduanya terpisah. Dia hanya ingin menuruti kata mamanya untuk menjemput Adelia. Sekalipun nanti tidak mudah mengajak keduanya pulang begitu saja karena masih banyak hal yang akan mereka lakukan.
__ADS_1