
Hati Carissa seperti di timpa sebuah batu besar saat mendengar kalimat yang di ucapkan Dokter Melissa tadi. Matanya sedikit melebar dengan mulut yang agak menganga. Di pandangnya Dokter Melissa yang sedang mengemudikan mobilnya dengan tatapan tak percaya.
'Evan sekarat? Apa maksudnya?'
Carissa ingin bertanya lebih jauh, tapi di urungkan niatnya. Dia pun mengalihkan pandangannya kearah depan dan menghela nafas dalam. Tampaknya Carissa harus menyiapkan hatinya untuk mendengarkan apa yang akan Dokter Melissa katakan nanti. Jelas sekali jika Evan dalam kondisi yang tidak main-main. Carissa hanya berharap, tidak terlalu terlambat untuk menyelamatkan suaminya itu.
Tak lama kemudian, mobil Dokter Melissa menepi di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai pengunjung. Dia turun dari mobil, di ikuti oleh Carissa. Keduanya duduk di salah satu meja yang terletak paling sudut, agak jauh dari pengunjung yang lain.
Dokter Melissa memesan minuman dan kudapan untuk mereka berdua. Tak butuh waktu lama, seorang pelayan kafe menyajikan makanan dan minuman tersebut. Baru setelah pelayan kafe tersebut pergi, Dokter Melissa mulai membuka suaranya.
"Aku dan Dokter Evan sudah lama saling mengenal. Dia dulu adalah juniorku, dan kami juga tergabung dalam organisasi yang sama." Ujar Dokter Melissa mengawali pembicaraan.
Carissa diam dan hanya merespon dengan matanya. Tampaknya dia ingin fokus mendengarkan apa yang akan Dokter Melissa sampaikan.
"Aku akan mengatakan hal ini padamu bukan sebagai dokternya, tapi lebih sebagai saudara. Sebenarnya dia tidak ingin satu pun keluarganya yang tahu, tapi kondisinya semakin memburuk sejak pertama kali dia datang berkonsultasi padaku. Jadi aku rasa, sebagai istrinya kamu berhak tahu. Lagipula, menurutku kamu adalah kunci untuk kesembuhan Dokter Evan." Ujar Dokter Melissa lagi.
Carissa masih diam dan mencerna apa yang di dengarnya. Hatinya sedikit resah dengan apa yang akan dia dengar selanjutnya.
__ADS_1
"Nyonya Carissa, suamimu itu menderita complex post traumatic stres disorder (CPTSD). Itu merupakan kondisi psikologis seseorang yang mengalami trauma pahit akan masa kecilnya, yang kemudian terulang saat dia telah dewasa. Saat kecil Dokter Evan mengalami sebuah kejadian traumatik yang sangat mengguncang kejiwaannya, yaitu kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan, dan sekarang dia mendapati fakta jika yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal adalah orang tua Anda, mertuanya sendiri. Hal ini sangat membuatnya terpukul dan kembali mengguncang kejiwaannya. Itu sama seperti dengan dia seakan mengulang kembali trauma masa kecil yang sangat ingin dia lupakan. Dan saat kenangan pahit itu hadir lagi, otaknya menghasilkan hormon stres yang lebih parah dari sebelumnya, dan menimbulkan rasa sakit serta nyeri pada otak."
Carissa membeku dengan wajah yang pias. Dia tidak tahu harus berkata apa. Apa yang di dengarnya tadi seperti sebuah gelegar petir yang memekakkan telinganya. Dia benar-benar terkejut hingga sekujur tubuhnya menjadi lemas.
"Kapanpun dia teringat akan kenangan pahitnya, dia akan merasakan sakit yang tak terkira di kepalanya. Dan jika kondisi ini terus berlanjut, semua organ di tubuhnya akan sangat terpengaruh. Hal ini sangat berbahaya untuk Dokter Evan. Dia bisa kehilangan nyawanya kapan saja."
"Apa?" Carissa terperangah dengan tatapan tak percaya. Airmatanya jatuh tanpa terasa. Di bekapnya mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya agar tangisnya tak terdengar oleh orang lain. Rasa bersalah langsung memenuhi setiap penjuru hati Carissa, hingga dadanya terasa sesak. Terbayang kembali di ingatan Carissa saat Evan kesakitan dan memegangi kepalanya. Kecurigaannya benar, itu bukan karena kelelahan, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih serius.
"Bagaimana bisa, Dokter? Bagaimana bisa kondisinya separah itu? Apa tidak ada cara untuk menghilangkan traumanya? Apa dia tidak bisa sembuh kembali?" Carissa akhirnya terisak di hadapan Dokter Melissa.
Dokter Melissa menghela nafasnya. Dia diam beberapa saat. Tampaknya ada yang ingin dia katakan lagi, tapi terasa berat dan sangat sulit untuk di ucapkan.
"Dokter Evan sudah sangat berusaha mengatasi trauma itu, Nyonya Carissa. Tapi sebesar apapun usahanya, tetap saja akan berakhir sia-sia jika sumber trauma itu sendiri ada bersamanya." Dokter Melissa akhirnya kembali membuka suara.
Carissa tampak menautkan kedua alisnya.
"Apa maksud Anda, Dokter?" Tanya Carissa.
__ADS_1
"Kamu adalah sumber trauma yang membuat Dokter Evan selalu kembali teringat kenangan pahitnya. Kamu adalah putri dari orang yang menyebabkan Dokter Evan kehilangan kedua orang tuanya. Terlepas dari kamu bersalah atau tidak, tapi kenyataannya kamu punya nama keluarga yang sama dengan orang yang telah menyebabkan Dokter Evan seperti ini. Setiap kali melihatmu dan mengingat nama lengkapmu, tanpa sadar trauma itu datang dan dia kembali merasakan rasa sakit yang tak terkira. Jika di ibaratkan, Dokter Evan sedang berusaha untuk keluar dari sebuah lubang, tapi saat hampir berhasil keluar dari lubang tersebut, kamu mendorongnya kembali terjatuh kedalam lubang itu hingga berapa kalipun dia berusaha, usahanya tetap akan berakhir dengan sia-sia."
Dokter Melissa menghela nafasnya dalam. Sedangkan Carissa membeku dengan nafas yang tersengal.
"Maaf jika aku harus mengatakan ini, Nyonya Carissa. Tapi selama kamu masih bersama Dokter Evan, kondisinya tidak akan membaik. Jujur saja, aku bahkan pernah menyarankan agar kalian berpisah, tapi dia bersikeras menolaknya dan mengatakan tidak akan pernah meninggalkanmu. Dia sangat mencintaimu, tapi di sisi lain tubuhnya semakin kesakitan. Jika terus seperti itu, maka akan terjadi komplikasi penyakit lain yang akan memperparah kondisi tubuhnya itu sendiri. Alih-alih mendengarkanku, dia malah mengatakan lebih baik mati daripada harus meninggalkanmu. Itulah kenapa aku mengatakan padamu jika saat ini dia sedang sekarat."
Carissa mencengkram kedua ujung gaunnya dengan wajah tertunduk. Airmatanya semakin deras saja mengalir di kedua belah pipinya. Bibirnya bergetar karena menahan isakan. Dada Carissa benar-benar terasa sakit seperti di tusuk dengan menggunakan ribuan belati.
"Evan..." Hanya itu yang bisa Carissa ucapkan. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain menyebut nama suaminya itu dengan sangat sedih. Hati Carissa benar-benar hancur mengetahui jika Evan sangat menderita sejak kebenaran tentang Papanya terkuak.
Terbayang kembali di ingatan Carissa saat Evan memintanya untuk memutus hubungan dengan keluarga Nugraha dan membuang nama Nugraha dari namanya. Awalnya Carissa menganggap Evan meminta hal itu karena semata membenci Papanya, tapi ternyata semua itu karena Evan ingin terlepas dari rasa sakit yang menderanya, dan Carissa justru menolaknya tanpa memikirkan kondisi Evan sedikit pun.
Carissa tergugu dengan rasa bersalah yang begitu besar. Semua pertanyaan yang bersarang di benaknya tentang perubahan sikap Evan belakangan ini, sekarang terjawab sudah. Evan telah sangat menderita, dan Carissa tidak sedikit pun meringankan penderitaannya itu. Entah apa dia masih pantas di sebut sebagai seorang istri, Carissa sendiri mulai meragukannya.
Bersambung...
Satu lagi ntar malem yak, emak sedih banget ini, mau nonton True Beauty dulu.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤