
Fania yang bangun tengah malam ketika merasakan Raka bergerak malam itu, ranjangnya yang bergerak karena Raka bangun. Sejenak dia memaksakan matanya untuk terbuka melihat apa yang terjadi. Raka pergi menjauh dari ranjangnya dan memilih untuk keluar. fania berpikir jika suaminya keluar hanya untuk mengambil air minum.
Fania tertidur hingga subuh dan melihat suaminya tidak kembali hingga saat itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya itu. Sungguh, dia tidak mengerti lagi dengan sikap suaminya. Raka yang berubah tibat-tiba sedari kemarin ketika mereka kembali dari pemakaman.
Apa Raka rindu dengan papanya? Itu yang dipikirkan oleh Fania.
Saat dia selesai melakukan ibadahnya, dia langsung keluar dari kamar dan mencari keberadaan suaminya yang ada di kamar sebelah sedang mengaji. “Raka,” ucapnya pelan tanpa suara yang begitu jelas. Dia tidak pernah melihat suaminya seperti sekarang ini. Raka yang selalu mengabaikan hal itu dulu. Tapi, kali ini dia melihat suaminya sendiri melakukan itu. Hati Fania begitu damai ketika melihat suaminya mengaji.
Dia memilih keluar dari kamar itu. Tapi jika memang Raka seperti itu, kenapa juga suaminya menghindar dan tidak tidur bersama dengan dirinya.
Ketika dia turun untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya, “Ma, Papa dari tadi ada di kamar sebelah ya?” Keano keluar dari kamarnya sepagi itu dengan setelan untuk lari pagi.
Fania berbalik, “Iya, tadi malam sekitar pukul dua dini hari. Papa keluar dari kamar,”
“Papa dari semalam ngaji,”
“Kamu denger?”
“Ya, Ma. Aku sempat keluar waktu dengar suara papa. Aku nggak nyangka Papa ngaji,”
“Keano, Mama nggak tahu kalau Papa bakalan lakukan hal itu. Papa yang biasanya cuek,”
Mereka berdua pun turun, “Kamu sarapan apa?”
“Ma, buatin roti bakar ya! Selai cokelat sama kacang,”
“Iya, nenek semalam minta dibuatin pudding. Jadi, Mama mau buatin nenek,”
“Ma, nenek bilang pengin tinggal sama Kak Adel,”
“Terus? Kamu bilang apa sama dia?”
“Nenek bahas kematian terus, Ma. Jadi aku merinding gitu,”
__ADS_1
Ternyata bukan hanya kepada dirinya dan juga Raka mamanya membahas hal itu. Tapi pada Keano juga mama mertuanya mengatakan hal itu. Apalagi dia juga mengatakan ingin tinggal bersama dengan Adelia. Sangat sulit untuk dituruti mengenai permintaan keinginan mertuanya yang ingin tinggal bersama dengan Adelia. Apalagi anaknya sudah memiliki suami seperti sekarang ini. Jadi, tidak mungkin dia bisa menurutinya, atau bahkan itu adalah hal yang sangat sulit.
“Ya udah, Ma. Aku mau lari dulu ya,” pamit Kenao yang saat itu langsung pergi begitu saja.
Fania sibuk di dapur bersama dengan asisten yang membantunya menyiapkan sarapan untuk keluarganya nanti. “Bi, bantuin buat pudding lapis ya,”
“Ohya, nyonya yang minta kemarin,” ucap asistennya mengingatkan.
Fania tahu akan hal itu, dia tahu kalau mertuanya memang menginginkan pudding untuk pagi ini. Maka dari itu dia harus menyiapkannya dengan cepat. Mertuanya memang jarang sekali meminta untuk dibuatkan sesuatu. Tidak salah jika mertuanya yang tinggal sendirian selama ini justru memilih untuk menyanggupi permintaan Raka untuk tinggal bersama dengan mereka. Dia menjadi tidak kesepian. Lagipula selama ini mereka tidak pernah bertengkar. Mereka justru selalu akur dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Apalagi Adelia yang sangat disayang oleh mertuanya itu. Keano juga disayang, akan tetapi karena Adelia perempuan. Maka dari itu, mama mertuanya terlihat lebih condong menyayangi Adelia.
Ketika dia sudah selesai membuat sarapan. Dia melihat mama mertuanya keluar dari kamar. Fania sadar, jika perempuan itu sangat tua. Jadi, dia tidak terlalu memberikan makanan yang terlalu manis. Fania juga sudah mengatur porsi makan. serta selalu menyiapkan makanan sehat untuk mertuanya.
Fania sudah selesai juga membuat pudding yang ditaruhnya didalam kulkas. “Fania, Raka kok tumben belum turun?”
“Dia lagi ngaji, Ma. Tadi jam dua itu dia keluar dari kamar. Terus nggak balik lagi ke kamar aku,”
Netra mama Raka menapat tajam ke arah Fania. Sejenak dia berpikir mengenai penyesalan Raka yang dahulu pernah dilakukan oleh anaknya itu. Melalui kenangan itu, Raka bisa menjadi seperti sekarang, senyum simpul terbentuk dari bibir keriputnya ketika mendengar anaknya yang sudah mulai melakukan hal baik hari ini. Berharap jika suatu saat anaknya itu tidak mencampuri kehidupan Adelia sehingga menjadi lebih baik lagi dan tidak ada kesedihan yang perlu dipikirkan lagi oleh mereka. Kali ini dia langsung mengelus punggung menantunya. “Nggak apa-apa, mungkin Raka mau berubah. Jadi kamu juga harus dukung dia, kamu tahu sendiri kan dulu Raka pemabuknya kayak apa. Jadi, mungkin sekarang dia sadar. Maka dari itu, kita nggak bisa maksa orang buat berubah. Lihat kan, sekarang justru dia berubah dengan sendirinya. Raka tidak pernah dipaksa. Sekalipun dia sering mendapatkan omelan dari Mama. Tapi, dia nggak pernah tanggapi ucapan Mama,”
Fania akui, semenjak menikah. Beberapa kali mama mertuanya menyuruh Raka untuk berhenti mabuk, dan juga setelah menikah. Raka memang pernah melakukan hal itu beberapa kali. Tapi, Fania tidak ingin memaksa suaminya untuk bersikap lebih baik lagi. Karena kadang seseorang itu berubah karena dirinya sendiri tanpa ada unsur paksaan. Orang yang berubah dengan sendirinya itu akan menjadi jauh lebih baik. Dibandingkan dengan berubah karena paksaan. Apalagi ketika dia tidak menyangka jika suaminya berubah dengan sendirinya seperti itu.
Fania juga sempat berpikir mengenai kematian yang dibahas oleh mamanya. Fania tidak pernah menyangka jika hal itu menjadi hal yang membuat suaminya berubah begitu saja.
Baru saja mereka membicarakan Raka. Fania berpamitan untuk memanggil suaminya untuk sarapan.
Begitu dia masuk ke dalam kamar yang kosong itu. Fania melihat suaminya masih di sana. “Pa, ayo sarapan!” ajak Fania mendekati suaminya.
Raka memberikannya seulas senyum dan langsung meminta Fania duduk disebelahnya. Raka mencium kening Fania, “Maafin suami kamu yang payah ini ya!”
“Kok payah?”
“Nggak bisa lindungi keluarga kita dengan baik. Fania, kadang aku mikir kalau semua ini adalah hukuman buat aku. Mungkin sekarang Adelia, aku nggak tahu nanti. Bisa jadi semuanya yang aku punya ini bakalan ninggalin aku,”
“Pa, kenapa Papa bisa berkata seperti itu?”
__ADS_1
“Karena apa yang ada di dunia ini semuanya titipan. Kamu, Mama, dan juga harga serta anak itu semuanya titipan. Kita di dunia ini hanya sementara. Jadi, kita nggak tahu kapan Tuhan ambil ini semua dari kita. Terlebih harta yang aku punya, aku nggak tahu kapan akan tetap sama aku. Kamu juga merupakan harta aku, Fania. Aku jaga kamu dengan baik juga karena aku nggak mau kehilangan lagi,”
“Kehilangan lagi?”
“Seperti Rania dan juga Papa,”
Fania mengangguk ketika suaminya berkata demikian. Dia tahu mengenai suaminya yang kehilangan Rania juga. Begitu juga dengan papanya. Tapi, yang lebih kehilangan itu adalah Fania yang dia punya saat ini hanyalah suami dan juga anaknya. Semua orang meninggalkannya. Termasuk, pria yang pernah dianggapnya terbaik dulu. Justru mengkhianatinya. Tapi, dia tidak mau mengungkit hal itu lagi.
“Ya udah, kalau gitu kita sarapan sekarang ya?”
“Mau peluk Mama dulu,” jawab Raka yang semakin mempererat pelukannya. “Papa kangen Adelia,”
“Nanti kita telepon suruh pulang!”
“Nomornya nggak aktif,”
“Hmm, nanti suruh Keano ke sana. Mama juga minta kita buat jemput Adelia biar dia tinggal di sini sama kita, Pa,”
“Iya, Papa juga berpikiran seperti itu. Biarin dia yang tinggal sama suaminya yang payah itu di sini,”
“Papa masih aja kayak gitu sama Devan,”
“Papa kan nggak tahu dia itu orangnya kayak gimana. Jadi, Papa juga pengin dong kenal dekat sama menantu,” ucap Raka disertai dengan kekehan.
__ADS_1
Sabar ya. Ceritanya masih panjang, jadi sabar aja.