WITH YOU

WITH YOU
Evan, Sebenarnya Kamu Kenapa?


__ADS_3

Carissa melangkahkan kakinya dengan pelan dan sangat hati-hati. Dia tidak ingin sampai membuat kedua orang tua Evan terbangun. Jika hal itu sampai terjadi, maka dapat di pastikan keinginannya untuk pulang ke apartemen akan kandas, pasalnya Sonya dan Zacky tentu tidak akan mengizinkan dia pulang tengah malam begini dengan berbagai macam alasan.


Tapi sampai di lantai bawah, Carissa menghentikan langkahnya dan langsung bersembunyi di balik lemari pajangan saat menyadari jika ada orang lain juga di sana selain dirinya. Carissa tampak berusaha agar keberadaannya tak di ketahui.


"Kenapa kamu juga bangun?" Terdengar suara Sonya bertanya pada seseorang. Sudah bisa Carissa tebak jika lawan bicara Sonya adalah Zacky, suami Sonya sendiri, pasalnya jika malam semua yang bekerja di rumah mereka sudah pulang dan akan kembali pagi nanti, kecuali pelayan yang membantu memasak. Pelayan tersebut akan datang lebih pagi dari yang lainnya, karena dia harus membantu Sonya membereskan dapur setelah selesai membuat sarapan.


"Aku terbangun dan kamu tidak ada di tempat tidur." Terdengar Zacky menjawab.


"Aku haus, tadi aku lupa menyiapkan air minum di kamar, jadi aku ke dapur untuk mengambilnya." Ujar Sonya lagi.


Carissa tertegun mendengar percakapan keduanya. Pasangan yang tak lagi muda ini terdengar begitu saling mencintai hingga saat tidur saja mereka tak bisa berjauhan. Tanpa sadar Carissa tersenyum, tapi bersamaan dengan itu hatinya agak mencelos. Dia jadi teringat bagaimana Evan selalu menghindarinya akhir-akhir ini. Mungkinkah itu karena saat ini Evan sudah tidak mencintainya lagi?


"Apa malam ini Evan tidur di apartemennya lagi?" Terdengar Zacky kembali bertanya pada Sonya.


"Dia tidak datang ke sini, sepertinya dia tidur di apartemennya lagi malam ini." Jawab Sonya.


"Apa rumah sakit sedang banyak sesuatu yang harus du urus hingga Evan harus membawa pekerjaan pulang?" Sonya balik bertanya.


Zacky tak langsung menjawab, terdengar dia sedikit menghela nafasnya.


"Sebenarnya tidak ada yang benar-benar membuat sibuk di rumah sakit. Tempo hari dia memang harus mempersiapkan perluasan rumah sakit, tapi sekarang sudah selesai. Jika sekarang dia sibuk, itu berarti ada hal lain yang membuatnya sibuk."


"Apa maksudmu?" Tanya Sonya lagi tak mengerti.


"Entah apa alasannya, tapi sepertinya saat ini Evan sedang menjaga jarak dengan Carissa." Jawab Zacky.


Tak terdengar suara Sonya menimpali. Mungkin ibu mertua Carissa itu sedang tertegun mendengar kata-kata Zacky.

__ADS_1


"Meskipun di permukaan mereka tampak normal, tapi sepertinya hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Aku melihat ada yang berbeda, terutama pada Evan." Ujar Zacky lagi.


Carissa menunduk sedih. Bahkan ayah mertuanya pun dapat melihat dengan jelas jika Evan tidak lagi seperti dulu. Dadanya terasa sesak dan kelopak matanya kembali memanas, tapi sebisa mungkin Carissa menahan agar airmatanya tidak jatuh. Dia tidak ingin sampai menangis dan kedua orang tua Evan mendengar isakannya.


"Aku juga melihat hal itu, tapi aku berusaha untuk berpikir positif. Aku beranggapan jika Evan memang sedang banyak pekerjaan sehingga tidak bisa menghabiskan waktunya bersama Carissa. Kasihan sekali Carissa, dia sekarang sedang hamil dan sangat membutuhkan Evan. Jika terus seperti ini, hubungan mereka akan terus memburuk." Sonya bergumam sambil menghela nafasnya.


"Kita harus memberi pengertian pada anak itu. Meskipun mendiang Tuan Arga memang sangat bersalah pada Evan, tapi Carissa tidak tahu apa-apa. Sangat ironis rasanya jika dia yang harus menanggung kemarahan Evan, terlebih dalam kondisi hamil seperti sekarang ini. Dan lagi, aku lihat dia sangat mencintai Evan. Dengan sikap Evan yang seperti sekarang, pasti dia sangat menderita." Ujar Zacky lagi dengan nada prihatin.


"Besok saat Evan datang, aku akan mencoba bicara padanya. Sejauh ini Carissa sangat pengertian dan tak menuntut macam-macam pada Evan meski dalam keadaan hamil. Tapi seperti katamu tadi, dia pasti sangat menderita."


"Iya, kamu harus segera membicarakan hal ini dengan Evan secepatnya. Kalau tidak, anak dalam kandungan Carissa juga akan jadi korbannya." Zacky menimpali.


"Hm, benar."


"Kalau begitu, kita kembali ke kamar dan tidur lagi."


"Baiklah. Ayo."


Tapi sejurus kemudian, Carissa menghapus airmata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Ini bukan saatnya bersedih, sekarang dia harus segera pergi ke apartemen dan mencari tahu apa yang di sembunyikan Evan darinya. Dan jika memang benar Evan sedang menghindarinya karena sudah tidak mencintainya lagi, maka yang harus di lakukan Carissa adalah meminta kejelasan dari masa depan hubungan mereka.


Dengan menguatkan hatinya, Carissa bangkit dan melangkah ke ruang keluarga. Dia membuka laci yang biasa di gunakan Sonya untuk menyimpan semua kunci, baik kunci rumah maupun kunci-kunci mobil. Sebelumnya Sonya memang telah memberi tahu Carissa di mana dia menyimpan semua kunci agar menantunya itu bisa menggantikannya memegang kendali rumah saat dirinya sedang tidak ada.


Carissa mengambil kunci pintu utama dan salah satu kunci mobil yang pernah di gunakan Evan beberapa kali. Lalu segera setelahnya Carissa membuka pintu utama, kemudian pergi ke garasi untuk membawa salah satu mobil yang terparkir di sana.


Petugas keamanan yang bertugas menjaga gerbang rumah keluarga Zacky tampak menghampiri mobil Carissa dengan tergopoh-gopoh. Carissa segera membuka kaca mobil.


"Tolong buka gerbangnya, Pak. Suami saya menyuruh saya untuk segera ke apartemen saat ini juga." Pinta Carissa pada petugas keamanan tersebut.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Lelaki yang berusia empat puluh tahunan itu membuka pintu gerbang meski wajahnya terlihat bingung.


Carissa segera mengemudikan mobil yang di gunakannya keluar dari pelataran rumah keluarga Zacky. Lalu setelah berada di jalanan, segera dia melajukan mobil tersebut dengan kecepatan yang bisa di bilang cukup tinggi.


Jantung Carissa berdegup kencang selama berada di dalam mobil. Dia memikirkan kalimat apa yang akan di katakannya pada Evan jika ternyata dia tak menemukan apa-apa saat tiba di apartemen nanti.


Pikiran Carissa terus melayang, hingga akhirnya dia tiba di tempat tujuan. Setelah memarkir mobil yang di bawanya di area gedung apartemen, Carissa pun naik ke lantai tempat apartemennya berada.


Dengan tangan yang sedikit gemetaran, Carissa menekan tombol kunci digital apartemennya, dan pintunya langsung terbuka.


Carissa melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Dengan pelan dan hati-hati dia melangkah menuju kamarnya, lalu membuka pintu perlahan. Kamar tersebut kosong, tak ada Evan di sana. Carissa pun langsung menuju kamar yang satunya lagi, kamar tempat di mana Evan tidur belakangan ini.


Tiba-tiba Carissa di kejutkan dengan suara benda jatuh dari kamar tersebut, hingga Carissa mempercepat langkahnya dan langsung membuka pintu kamar dengan sedikit khawatir. Cahaya kamar tersebut tampak temaram. Dan tampaklah sosok Evan yang sedang terhuyung-huyung seperti sedang menahan sakit, tangannya berusaha mencari sesuatu di sebuah lemari hingga menyebabkan benda yang lain terjatuh.


Carissa membeku dengan ekspresi yang tak bisa di lukiskan. Tercium bau asap rokok yang sangat pekat di kamar tersebut. Terdengar pula suara erangan Evan menahan sakit sambil masih berusaha mencari sesuatu yang Carissa tidak tahu itu apa. Dan akhirnya Evan berhasil menemukan benda yang terlihat seperti botol obat, lalu mengeluarkan isinya.


Tangan Evan yang gemetaran membuat sebagian isi di dalam botol obat tersebut berceceran. Di masukannya beberapa butir obat ke dalam mulutnya dan di telannya tanpa air minum.


Setelah berhasil menelan obat tersebut, tubuh Evan luruh ke lantai. Dia menyandarkan punggungnya di salah satu sudut tembok kamar dengan nafas yang memburu. Sepertinya dia masih tidak menyadari kehadiran Carissa di sana.


Carissa yang masih berdiri di ambang pintu menatap pemandangan di hadapannya dengan sorot mata tak percaya. Perlahan dia melangkah mendekati Evan yang kini terlihat jauh lebih tenang.


Carissa berhenti tepat di hadapan Evan , lalu berjongkok di depan Evan yang telah memejamkan matanya. Di pandangnya wajah Evan dengan perasaan yang sulit di lukiskan.


'Evan, sebenarnya kamu kenapa?'


Bersambung...

__ADS_1


Tetap like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2