
Devan pergi ke rumah tante Shita dan langsung membicarakan mengenai inti dari apa yang dia bicarakan tadi bersama dengan papa mertuanya. Sebenarnya Devan juga merasa canggung karena papa mertuanya yang bersikap seperti tidak menyukainya.
Begitu dia tiba di rumah tante Shita. Ada adiknya juga yang ada di sana. "Kakak kok ninggalin kak Adel?"
Bukan, sebenarnya dia sedang tidak meninggalkan Adelia. Hanya saja dia berusaha untuk bernapas dengan lega. Devan pergi dari rumah mertuanya untuk menenangkan diri karena ucapan papa mertuanya yang sangat menegangkan. Apalagi di hari pertama kali mereka akur.
"Kalian masuk kamar!" Shita barangkali memang merasa jika Devan ingin menceritakan sesuatu tapi masih ditahan.
Ketika kedua gadis itu pergi dari ruang tamu, Deva ingin menceritakan keadaan mertuanya yang memag menerimanya. Akan tetapi belum sepenuhnya. Karena Devan tidak pernah tahu bahwa mertuanya bisa saja memisahkan mereka berdua nanti setelah mertuanya tahu mengenai status dirinya yang merupakan anak dari musuh bebuyutan mertuaya.
Devan masih menjaga diri dengan baik. Dia tidak ingin jika salah bicara terhadap papa mertuanya yang sudah dipastikan sangat sangar dan juga bersikap dingin kepadanya. Bagaimana dia bisa lebih dekat lagi kalau mereka bersikap seperti itu setiap hati nantinya. Apalagi nanti malam dia akan menginap di rumah mertuanya untuk pertama kali. Tantangan bagi seorang Devan adalah bertemu dengan mertuanya setiap saat. Napasnya terasa sangat sakit ketika tertahan di tenggorokan setiap kali ada hal yang diucapkan mertuanya takut jika mereka menanyakan orang tua kandung Devan.
"Kamu ada beban pikiran?"
Devan mengangguk pelan ketika melihat tantenya yang sepertinya memang sudah tahu bahwa niatnya kemari adalah untuk menceritakan sesuatu.
"Tante, Om Raka itu seperti apa sih?"
__ADS_1
"Om Raka itu orangnya baik, nyebelin nomor satu iya, kemudian dia itu penyayang sih. Bakalan ngelindungin apapun yang dia punya agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Ya sama seperti yang dia lakuin ke kamu sekarang ini, awalnya kan kamu sampai dipukulin babak belur sama dia, tapi karena dia itu memang sayang sama Adelia makanya dia kecewa sama kamu,"
"Tante, Om Raka itu cuek,"
"Bukan cuek, karena kamu belum kenal. Kalau dia udah mulai ngledek, atau apalah itu artinya dia memang udah nerima. Ngomong-ngomong waktu kamu datang tadi, dia nggak mukulin dan ngatain kamu kan?"
"Ngatain sih enggak, tante. Cuman omongannya itu kadang bikin elus dada, om Raka itu selain nyebelin. Dia juga bisa bikin spot jantungku mengerikan, aku takut kalau dia tiba-tiba nanyain mengenai papa sama Mama. Yang ada aku ****** kalau sampai mereka bertanya seperti itu,"
Tante Shita berusaha menenangkan Devan dengan cara mengelus punggung pria itu yang sebentar lagi akan menjadi Ayah karena bayi yang dikandung Adelia sudah mulai membuat Devan menjadi sosok yang lebih dewasa lagi.
Devan juga sebenarnya belum siap menjadi seorang papa. tapi, karena kandungan itu sudah terlanjur membesar, maka mau tidak mau dia harus menerima calon buah hatinya yang hadir memang karena kesalahannya yang tidak bisa menjaga nafsunya waktu itu. Akan tetapi dia tidak menyesali semua itu sekalipun dia akan merasakan badai rumah tangga nantinya tidak tahu kapan semua itu akan terjadi. tapi, setidaknya dia harus bisa menyiapkan diri dari semua itu.
Ia melihat Adelia yang kadang jatuh sakit membuatnya ikut merasaka sakit juga jika istrinya mengeluh sakit dibeberapa bagian tubuhnya. Devan kadang memijit pundak dan juga kaki Adelia ketika perempuan itu tibat-tiba-tiba duduk di sofa berselonjoran.
"Devan, apapun yang terjadi tetap ya baik-baik saja sama Adelia! Tante lihat kamu mencintai dia,"
"Sekalipun itu Adelia tidak tahu, iya aku memang udah cinta sama dia sepenuhnya, Tante. Tapi, Mama sama Papa pasti akan menentang setelah tahu ini semua,"
__ADS_1
"Kuatkan hatimu. Karena pondasi sama kamu, Adelia akan ikut ke manapun kamu pergi, dan juga kamu bertahan maka dia akan bertahan. Kamu lemah, maka dia akan lemah, Devan. Jadi, kunciya ada sama kamu. Jangan sampai kamu lengah, kamu lemah, dan juga pertahankan semuanya yang menjadi milik kamu,"
Ia ingat pertama kali dia menyentuh Adelia waktu itu, perempuan itu mengatakan bahwa dia tidak ingin ditinggalkan, dan juga tidak ingin menyesal karena pernikahan mereka awalnya dilandasi tanpa cinta. Sekalipun seperti itu, dia tidak ingin semuanya menjadi berantakan.
Devan tersenyum, "Aku aka berusaha,"
"Karena tante lihat kamu serius juga sama pernikahan kamu ini, Devan. Papa sama Mama kamu keras kepala mau jodohin kamu sama Bianca, tapi jangan sampai itu terjadi, tante nggak mau kamu lepasin Adelia karena ular sanca itu yang bisanya melilit dan menelan hidup-hidup,"
Devan tertawa ringan karena mendengar sebutan untuk Bianca yang di mana tantenya terdengar sangat lucu ketika menyebut Bianca dengan sebutan itu. "Devan, dia istri paling baik buat kamu,"
"Dia adalah perempuan istimewa, tante,"
"Ketika kamu merasa bahwa seseorang itu adalah orang yang paling istimewa di dalam hidup kamu, maka kamu harus benar-benar siap dengan semuanya, kamu juga harus terima apapun itu Devan. Adelia, dia manja tante tahu itu. tapi, karena kamu terima dia sepenuh hati, maka dari itu kamu harus benar-benar serius jalani ini semua, Devan,"
"Aku meragukan Adelia jadi seorang ibu di usia yang terbilang matang, tapi dia kekanakan, tante. tapi, dia begitu berusaha berjuang buat aku bahagia, dia selalu belajar untuk jadi yang terbaik sekalipun aku nggak pernah minta sama sekali,"
"Itu karena dia mencintai kamu. Dia nggak pernah diminta untuk berubah, tapi dia belajar untuk jadi istimewa hanya untuk kamu,"
__ADS_1
"Itulah alasan kuatnya tante, maka dari itu aku selalu sayang sama dia,"
Kebahagiaan memang datang dari hal yang tak pernah terduga sekalipun. Tapi tahu bagaimana cara untuk memberikan bahagia itu kepada orang lain. Maka, bersiaplah menerima, bersiap pula merelakan. Jatuh cinta adalah bukan tentang siapa yang telah siap dan mencari. Melainkan siapa yang telah berani menerima.