WITH YOU

WITH YOU
I Love Maldives...


__ADS_3

Carissa memandang suasana sekelilingnya dengan menipiskan bibir membentuk seulas senyuman tipis. Udara pagi yang menyegarkan membuatnya di penuhi aura positif. Hatinya terasa begitu damai hingga tanpa sadar Carissa memejamkan matanya.


Dihirup udara dalam-dalam, seolah ingin mengisi oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya. Hatinya terasa hangat dan membuncah. Entah kata-kata apa yang bisa menggambarkan keindahan yang tengah dia rasakan saat ini.


Pemandangan yang menawan, suasana yang damai, serta kehadiran sosok istimewa yang menemani saat ini. Semuanya benar-benar telah lengkap. Tak ada lagi yang Carissa inginkan, jika ada yang lebih baik lagi dari ini, Carissa tak tahu lagi itu apa.


Sempurna, mungkin hanya itulah satu-satunya kata yang mampu mewakili segenap rasa yang ada di dalam diri Carissa saat ini. Tak pernah sebelumnya Carissa merasakan kebahagiaan yang begitu besar seperti setelah dia menikah dengan Evan. Kini terjawab sudah kenapa usahanya mengambil hati Aaron selama bertahun-tahun tak membuahkan hasil. Ternyata itu karena Tuhan telah menyiapkan seseorang yang lebih baik untuknya. Seseorang yang saat ini tengah memandangnya sembari mendekatinya diam-diam. Hingga akhirnya Carissa merasakan sepasang lengan kokoh melingkar di perutnya.


Sepeti biasa, suaminya itu kembali memeluknya sembari menciumi pipinya dari arah belakang, membuat Carissa tidak bisa untuk tidak tersenyum.


"Bagaimana? Bukankah pemandangannya bagus?" Tanya Evan sambil masih melingkarkan lengannya di perut Carissa.


"Hmm..." Carissa hanya mengangguk. Di sandarkan kepalanya pada dada Evan sembari kembali memejamkan matanya.


"Maaf, ya." Gumam Evan kemudian.


"Hah?' Carissa membuka matanya dan mendongak melihat wajah Evan.


"Setelah kita menikah, aku baru sekarang mengajakmu berbulan madu. Itu pun karena tiket perjalanan pemberian Mama. Sepertinya setelah ini aku harus lebih banyak mengajakmu pergi ke tempat-tempat yang indah." Ujar Evan sembari menempelkan dagunya ke pucuk kepala Carissa.


"Setelah kita menikah kamu sibuk dengan rencana perluasan rumah sakit, belum lagi di tambah mengurus pasien-pasienmu. Tentu saja kamu tidak sempat mengajakku berbulan madu. Aku sangat mengerti."


Evan tersenyum mendengar jawaban Carissa. Lalu dia menghela nafasnya dan mengeratkan pelukannya pada istrinya itu. Perempuan yang tengah di peluknya ini sangat pengertian, hingga Evan sampai kehabisan kata-kata di buatnya.


"Apa aku sudah pernah bilang kalau aku sungguh beruntung memilikimu, Carissa?" Tanya Evan kemudian.


Carissa tertawa kecil, lalu membalik badannya untuk menghadap kearah Evan. Tangannya terulur merangkung wajah Evan dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku yang beruntung memilikimu sebagai suamiku, Evan. Dan aku berharap aku akan tetap menjadi istrimu meski di saat semuanya telah berubah sekalipun. Bagiku, menjadi istrimu adalah takdir paling manis yang Tuhan gariskan untukku." Ujar Carissa lembut.


Evan tersenyum dan balik membelai wajah Carissa.


"Berarti kita sama-sama beruntung." Gumam Evan.


Carissa kembali tertawa dengan renyahnya hingga wajah cantiknya menjadi agak kemerahan. Evan yang melihat tawa Carissa tertegun sejenak, lalu di belainya lagi wajah Carissa hingga istrinya itu menghentikan tawanya dan ikut tertegun.


Semakin lama, wajah Evan semakin mengarah pada wajah Carissa. Keduanya sama-sama saling mendekat seiring dengan jantung mereka yang juga berdegup semakin kencang. Dan detik berikutnya, bibir keduanya pun bertemu. Keduanya saling memagut sambil sama-sama memejamkan mata. Tanpa sadar Carissa mengalungkan kedua tangannya ke leher Evan, sedangkan tangan Evan menahan tengkuk Carissa untuk memperdalam ciumannya.


Ciuman mereka begitu lembut dan penuh perasaan, seakan keduanya ingin saling menyalurkan rasa cinta masing-masing melalui ciuman itu. Tangan Evan yang satunya juga mulai naik dan membelai wajah Carissa, semakin menghanyutkan Carissa ke dalam rasa yang selama ini tak pernah dia kecap.


Carissa tenggelam semakin dalam, hingga rasanya tak sanggup lagi dia berpaling dari seorang Evan Bramasta, lelaki yang belum terlalu lama ini menikahinya. Detik itu Carissa menyadari jika dia sudah jatuh cinta sepenuhnya pada suaminya ini. Tak ada yang sampai menyentuh hatinya sedalam ini sebelumnya, bahkan saat dulu dia masih mengejar Aaron sekalipun. Hanya Evan yang mampu melakukannya, dan tampaknya tetap hanya Evan meski waktu berlalu nanti.


Tiba-tiba layanan kamar datang, menginterupsi apa yang Carissa dan Evan lakukan. Rupanya pihak resort tempat mereka menginap membawakan menu sarapan spesial untuk Keduanya. Tampak beberapa macam makanan di bawa oleh dua orang pelayan dan di tata sedemikian rupa di sebuah meja yang terletak di pinggir kolam renang privat, salah satu fasilitas yang ada di kamar Evan dan Carissa.



Carissa tampak beranjak dengan enggan.


"Bisa tidak kita sarapannya nanti saja?" Tanya Carissa dengan sedikit malu-malu.


Evan menoleh kearah Carissa dan tersenyum.


"Kenapa?" Tanya Evan dengan nada agak menggoda.


"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya masih belum terlalu lapar." Kilah Carissa sembari membuang muka kearah lain. Wajahnya mendadak jadi merona karena kedapatan menginginkan hal lain dari Evan.

__ADS_1


Evan berusaha menahan senyumnya sambil meraih dagu Carissa agar istrinya itu kembali melihat kearahnya.


"Semalam kita baru sampai dan tidak makan dengan benar. Bagaimana bisa pagi ini kamu masih belum terlalu lapar? Apa karena ada hal lain yang kamu inginkan?" Tanya Evan lagi, kali ini bahkan satu tangannya ikut menggoda Carissa dengan memberikan sentuhan lembut di beberapa titik sensitif perempuan itu.


Carissa menggeleng cepat, hingga membuat Evan tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Di peluknya Carissa sekali lagi, lalu di pagutnya bibir istrinya itu dengan penuh hasrat.


"Kamu belum mau sarapan karena menginginkan ini, kan?" Tanya Evan sembari terus mencumbu Carissa. Carissa yang telah semakin merona tidak menjawab. Hanya desahan yang mampu lolos dari bibirnya, dan itu sudah cukup untuk menyatakan jika apa yang di katakan Evan memang benar. Carissa telah terhanyut dan menginginkan sentuhan suaminya lebih banyak lagi hingga dirinya tak berselera untuk mengisi perutnya.


Evan pun mengerti. Di cumbunya Carissa dengan semakin dalam. Di sentuhnya setiap lekuk tubuh istrinya itu dengan penuh perasaan. Kasih sayang yang berpadu dengan hasrat membuat sentuhan Evan terasa tak hanya pada tubuh Carissa, tapi juga dapat di rasakan hingga ke dalam hati. kemudian kedua orang yang sedang saling jatuh cinta ini pun kembali menyatu dengan penuh gairah.


Evan dan Carissa kembali saling memuaskan satu sama lain hingga keduanya mencapai puncak bersama-sama.


"Sekarang sudah merasa lapar?" Tanya Evan pada Carissa yang masih betah berada dalam pelukannya.


Carissa tak menjawab. Tapi suara gemuruh dari perutnya sudah bisa menjadi jawaban dari pertanyaan Evan. Sontak Evan kembali tertawa dan langsung mengangkat tubuh Carissa dari tempat tidur.


Carissa terpekik. Dengan tubuh yang hanya berbalut selimut, keduanya akhirnya mendekati meja di sisi kolam renang yang sedari tadi telah terhidang makanan. Sejurus kemudian seulas senyuman hadir di wajah Carissa. Di kalungkannya kedua tangannya di leher Evan sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya itu.


Carissa memejamkan matanya dengan perasaan yang membuncah.


'I love Maldives...'


Bersambung...


Yang doyan manis, nih emak kasih yang manis2. Tapi kalo gula darah pada naik jangan salahin emak yak😆


Nikmatilah kemanisan ini sebelum emak kasih konflik yg sesungguhnya. Plis...jgn minta pelakor, karena emak ga bakal kasih pelakor buat setiap cerita emak. Di dunia nyata udah banyak gaesss, ngapain di bawa sampe ke novel😅

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2