WITH YOU

WITH YOU
Kabar Yang mengejutkan


__ADS_3

Sekembalinya dari berjalan-jalan di pantai, Carissa kembali mendapatkan sebuah kejutan manis. Tampak sebuah piano telah berada di kamar mereka, di letakkan di sisi kolam renang, tak jauh dari tempat mereka menyantap sarapan tadi pagi.


Carissa langsung menyegarkan dirinya, bergantian dengan Evan. Karena lelah, mereka berdua memutuskan untuk tidak keluar dan menyantap makan malam mereka di resort saja.


Alhasil, tepian kolam renang pun di sulap menjadi tempat makan malam yang romantis oleh pihak pengelola resort. Tampak beberapa lampu hias dan lilin menyemarakkan acara makan malam Evan dan Carissa. Keduanya pun akhirnya kembali menikmati momen syahdu meski tetap di kamar mereka.


Carissa tampak menyantap makan malamnya dengan senyum yang mengembang. Entah sudah berapa banyak dia tersenyum sejak tadi pagi. Yang jelas, meski terus tersenyum bibirnya tidak merasa lelah sedikit pun. Carissa seakan selalu ingin dan ingin lagi mengulas senyumannya tanpa pernah bosan melakukan hal itu. Kehadiran Evan memang punya dampak yang sangat besar baginya, hingga hal-hal kecil pun kini terasa begitu menyenangkan untuk di lakukan.


Evan benar-benar sebuah anugerah tak terhingga yang Tuhan kirimkan untuknya, hingga Carissa tak tahu harus dengan bagaimana lagi mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran Evan dalam hidupnya.


"Pipi kamu tidak pegal, ya, dari tadi tersenyum terus seperti itu?" Ledek Evan sambil ikut menahan senyum.


Carissa mengangkat wajahnya dengan pipi bersemu merah. Meski sudah sering di goda Evan seperti ini, tetap saja Carissa merasa dadanya berdebar dan pipinya memanas.


"Astaga..., bagaimana wajahmu bisa menggemaskan seperti ini?" Evan tak bisa menahan diri lagi untuk tidak mencubit hidung Carissa, hingga istrinya itu meringis sembari memegangi hidungnya.


"Evan...sakit, tahu!" Sungut Carissa sebal. Tapi bukannya merasa bersalah, Evan malah tertawa dengan renyahnya. Di teguknya air putih di hadapannya, menandakan jika dia telah menyelesaikan makan malamnya. Dan Carissa pun melakukan hal yang sama.


Evan bangkit dari tampat duduknya, lalu mendekati Carissa. Keduanya saling memandang dengan posisi Evan berdiri dan Carissa menengadah sambil masih duduk di tempatnya duduknya semula.


Evan menyentuh pipi Carissa lembut, lalu mengusapnya dengan penuh perasaan, hingga menimbulkan gelenyar aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Carissa. Tanpa sadar Carissa memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan itu.


Evan tersenyum, lalu berlutut di hadapan Carissa dengan satu kaki bertumpu di lantai. Di dekatkannya bibirnya ke telinga istrinya itu dengan perlahan.


"Boleh aku minta layanan eksklusif malam ini?" Bisik Evan dengan nada sensual.


Carissa membuka matanya dan sontak terkejut melihat wajah Evan yang sudah ada di hadapannya. Di pandangnya suaminya itu dengan raut wajah yang sulit di lukiskan.


"La-layanan eksklusif bagaimana maksudnya?" Tanya Carissa dengan sedikit terbata. Pikirannya mulai melalang buana, membayangkan jika Evan punya fantasi melakukan hubungan suami istri yang agak di luar nalar.

__ADS_1


Tanpa sadar Carissa pun menelan salivanya dengan agak kesusahan.


"Aku ingin kamu memberiku kesempatan untuk merasakan hal istimewa yang tidak di dapatkan orang lain selain aku." Ujar Evan lagi sembari mengusap pipi dan sebagian leher Carissa.


"Yang bagaimana itu? Aku tidak mengerti." Carissa tampak berjuang untuk tidak menggeliat geli saat merasakan sentuhan Evan.


"Kamu tidak mengerti?" Tanya Evan sembari mengecupi bagian wajah Carissa satu persatu, hingga sampai ke belakang telinganya.


"Ya, aku tidak mengerti. Katakan saja agar aku tahu dan tidak salah paham dengan maksudmu."


"Hm, baiklah." Evan masih menjelajahi setiap jengkal wajah Carissa, lalu menjalar ke leher juga, hingga Carissa jadi agak tersengal di buatnya.


"Carissa, aku ingin malam ini kamu memuaskanku dengan..." Evan tak meneruskan kalimatnya dan memeluk Carissa lembut, sebelum akhirnya mencium bibirnya sekilas.


"Dengan melakukan sebuah konser tunggal untukku." Sambung Evan sambil mengarahkan dagunya pada sebuah piano yang ada tak jauh dari mereka.


"A-apa?" Tanya Carissa agak terbata. Yang di dengarnya barusan tampak tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Carissa yang merasa jika dirinya telah di permainkan suaminya sendiri memilih bangkit dan langsung duduk di belakang piano, membuat Evan harus berjuang untuk tidak tertawa karena melihat raut malu wajah istrinya itu.


Setelah diam beberapa saat, Carissa akhirnya mulai menekan tuts demi tuts piano dengan jemarinya hingga menciptakan suara dentingan yang begitu indah. Jemari Carissa seakan menari di atas tuts-tuts piano, membuat suara dentingan itu semakin enak terdengar.


Semakin lama, suara alunan musik yang tercipta terdengar semakin syahdu dan menghanyutkan. Carissa pun tanpa sadar memejamkan matanya, terhanyut dengan permainan pianonya sendiri. Sedangkan Evan tampak tertegun dengan raut wajah takjub. Dia pun bangkit dan melangkah pelan mendekati Carissa.


Begitu Evan telah berada tepat di belakang Carissa, Evan sejenak terpaku. Permainan piano Carissa tiba-riba terdengar lebih lembut, hingga rasanya menyentuh sampai ke hati Evan. Tanpa sadar Evan membungkukkan badannya dan memeluk Carissa dari belakang. Di kecupnya pucuk kepala istrinya itu dengan penuh perasaan.


Carissa membuka matanya dan tersenyum. Jemarinya masih menekan tuts-tuts piano, dan kali ini Carissa melakukannya dengan mencurahkan segenap perasaan yang ada. Permainan pianonya kali ini adalah permainan piano paling berkesan sepanjang dia pernah memainkan benda tersebut. Rasanya begitu indah dan berharga, tak pernah Carissa bayangkan sebelumnya jika berada dalam pelukan seseorang bisa terasa seindah ini. Carissa akhirnya tahu rasanya di cintai.


"Aku mencintaimu, Evan..." Bisik Carissa sesaat setelah permainan pianonya selesai.

__ADS_1


Carissa memutar tubuhnya hingga berubah menghadap Evan. Kini mereka saling memandang dengan perasaan yang sama-sama sulit di lukiskan. Tanpa bisa di tahan lagi, Carissa pun berhambur ke dalam pelukan Evan, hingga Evan kembali tersenyum di buatnya.


Carissa mendekap Evan erat, sedangkan Evan membelai kepala Carissa dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Terima kasih untuk permainan pianonya, dan terima kasih juga untuk waktuku yang sudah kamu isi belakangan ini." Gumam Evan di sela belaian tangannya.


"Aku juga mencintaimu, Carissa." Bisik Evan sembari mengurai pelukannya. Di tatapnya Carissa dalam sembari mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu. Detik berikutnya, Evan kembali mencium Carissa dengan lembut namun menghanyutkan.


Carissa memejamkan matanya dan membalas pagutan bibir Evan. Keduanya pun saling menyesap dengan bertukar saliva dengan begitu bergairah. Evan menahan tengkuk Carissa dan semakin memperdalam ciumannya, hingga akhirnya suara deringan ponsel menginterupsi apa yang mereka lakukan.


Carissa dan Evan berhenti sejenak, tapi saat deringan ponsel tersebut berhenti, mereka pun kembali melanjutkan ciuman tersebut hingga deringan ponsel milik Carissa berbunyi lagi.


Evan dan Carissa kembali berhenti. Dan kali ini Carissa beranjak dan menerima panggilan dari ponselnya itu.


Setelah mendengar seseorang berbicara dari seberang sana, seketika raut wajah Carissa berubah. Ponsel di tangannya tiba-tiba saja terjatuh hingga membuat Evan terkejut.


"Evan, Papaku..." Carissa tercekat dan tak mampu meneruskan kata-katanya.


"Papamu kenapa?" Tanya Evan ikut khawatir.


Carissa terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali membuka mulutnya.


"Papaku di tangkap pihak kepolisian. Sepertinya kita harus melihatnya..."


Bersambung...


Mari kita mulai konfliknya dan melihat sebesar apa cinta mereka.


Tetep like, koment dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2