WITH YOU

WITH YOU
Memandang Dari Jauh


__ADS_3

Geraldyn terdiam beberapa saat sambil membeliakkan matanya. Sejurus kemudian keningnya tampak sedikit berkerut, seakan sedang menimbang-nimbang untuk mempercayai apa yang di dengarnya tadi atau tidak.


"Suami Carissa?" Tanya Geraldyn kemudian dengan nada agak tak percaya.


"Benar. Saya suami Carissa. Saat ini saya sedang berada di sebuah kafe yang ada di seberang tempat Carissa berlatih. Apa Nona ada waktu untuk menemui saya sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan." Ujar Evan lagi dengan sopan.


Geraldyn kembali membeliakkan matanya tanpa menjawab kata-kata Evan.


"Saya tidak akan menyita waktu Nona terlalu lama, saya mohon. Saya benar-benar harus membicarakan ini dengan Nona. Ini tentang Carissa." Sekali lagi Evan meminta pada Geraldyn.


Setelah terdiam agak lama, Geraldyn menghela nafasnya.


"Baiklah." Ujar Geraldyn akhirnya.


"Terima kasih sebelumnya. Tapi jangan sampai Carissa tahu. Dia pasti akan merasa tidak nyaman kalau tahu saat ini saya ada di sini."


Sekali lagi Geraldyn menghela nafasnya.


"Oke, Carissa tidak akan tahu. Tapi saya tidak punya banyak waktu. Saya harap Tuan benar-benar hanya sebentar saja bertemu dengan saya." Ujar Geraldyn lagi.


Evan mengiyakan, lalu memutus sambungan telfon. Geraldyn pun kembali masuk ke dalam ruangan tempat Carissa berlatih.


"Ada masalah?" Tanya Carissa yang melihat raut wajah manajernya itu agak berubah setelah menerima panggilan tadi


Cepat-cepat Geraldyn menggeleng dan tersenyum.


"Tidak ada, hanya pemberitahuan beberapa pembaruan jadwal." Kilah Geraldyn. Carissa pun mengangguk tanpa curiga. Lalu kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


Geraldyn terdiam beberapa saat, tampak sedang berpikir untuk mengatakan sesuatu pada Carissa.


"Ngomong-ngomong, aku selalu penasaran tentang sesuatu sejak kita bertemu lagi, tapi aku merasa tidak enak untuk bertanya." Ujar Geraldyn akhirnya.


Carissa mengangkat wajahnya.


"Apa yang membuatmu merasa sangat penasaran?" Tanya Carissa.


Geraldyn kembali terdiam beberapa saat.


"Emm....itu, sejak pertama kali datang, kamu tidak pernah menyebut nama suamimu. Terkadang aku bertanya-tanya, sebenarnya kamu menikah dengan siapa."


Carissa tampak agak tertegun.


"Aku tidak pernah menyebut namanya, ya..." Gumam Carissa.


"Mungkin karena aku takut untuk menyebut namanya. Aku takut dengan perasaanku yang tak terkendali setiap kali menyebut namany." Ujar Carissa lagi.


Suasana hening beberapa saat.


"Evan..." Akhirnya Carissa mengeluarkan suaranya lagi.


Geraldyn mengangkat wajahnya.


'Evan?'

__ADS_1


"Nama suamiku adalah Evan." Sekali lagi Carissa mengatakannya.


Tanpa sadar Geraldyn menelan salivanya.


'Ternyata benar dia suami Carissa.'


"Memangnya kenapa kamu ingin tahu?" Tanya Carissa tiba-tiba.


Sontak Geraldyn langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Aku hanya merasa penasaran." Kilahnya.


"Oh iya, aku mau membeli kopi di kafe yang ada di depan sana. Kamu mau titip sesuatu." Ujar Gelaldyn lagi sambil meraih tas tangannya yang tergeletak di atas meja.


"Kamu mau minum kopi sekarang? Bukankah sebentar lagi kita mau makan siang?" Tanya Carissa agak heran.


"Tiba-tiba aku ingin minum kopi. Kalau kamu mau sesuatu, sekalian aku belikan."


Carissa menggeleng.


"Kalau aku ngemil sekarang, nanti jadi tidak ingin makan. Beli buat kamu sendiri saja." Tolak Carissa.


Geraldyn mengangguk sambil tersenyum. Dia pun berlalu dari hadapan Carissa dan pergi ke kafe yang terletak di seberang jalan, tempat Evan sedang menunggunya.


Setelah mencari beberapa saat sambil menelfon balik nomor yang menghubunginya tadi, Geraldyn pun berhasil bertemu dengan sosok Evan.


"Terima kasih sudah mau datang." Ujar Evan sesaat setelah Geraldyn duduk di hadapannya.


Geraldyn mengangguk.


Evan tampak terdiam sejenak.


"Saya ingin memastikan bagaimana keadaan Carissa sekarang." Jawab Evan.


"Kenapa Anda tidak langsung menemui Carissa saja dan bisa menilai sendiri bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Geraldyn dengan agak sarkas. Dia tidak mengerti kenapa Evan tidak langsung datang pada Carissa, malah menanyakan keadaan istrinya itu padanya.


"Situasi yang kami hadapi saat ini cukup rumit. Saya tidak bisa menemuinya begitu saja meskipun saya ingin." Jawab Evan.


Geraldyn menautkan alisnya dengan agak bingung.


"Saya mengidap penyakit yang cukup serius, dan Carissa terpaksa harus pergi menjauhi saya agar saya bisa sembuh. Saya tidak ingin tiba-tiba muncul menyia-nyiakan pengorbanannya. Dia pasti akan merasa sangat kecewa." Ujar Evan dengan nada sendu.


Geraldyn semakin tidak mengerti dengan apa yang Evan katakan. Lelaki ini menderita sebuah penyakit, dan Carissa harus menjauh agar dia bisa sembuh. Penyakit apa kiranya yang mengharuskan seorang istri pergi agar suaminya bisa sembuh? Ah entahlah. Geraldyn jadi semakin bingung.


"Maaf, Nona, saya tidak bisa menjelaskannya pada Nona lebih jauh lagi. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan Carissa saat ini. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Evan lagi.


Geraldyn menatap Evan sesaat, sebelum akhirnya mengangguk.


"Dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Geraldyn.


"Bagaimana dengan kehamilannya? Apa saat ini dia masih mengalami morning sickness?" Evan bertanya sekali lagi.


Kali ini Geraldyn menjawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Dia tidak pernah mengalami mual dan muntah selama di sini. Keadaan Carissa dan calon bayinya sangat baik. Dia juga rutin memeriksakan kandungannya."


Evan terlihat nenghela nafas lega. Setiap mengingat Carissa yang selalu muntah-muntah di awal kehamilannya tempo hari, Evan selalu merasa khawatir. Dia takut jika tidak ada yang mengurus Carissa di sini. Tapi tampaknya Carissa jauh lebih kuat dari yang di bayangkannya.


"Baguslah kalau begitu..." Lirih Evan.


Kemudian Evan mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan memberikannya pada Geraldyn.


"Apa ini, Tuan?" Tanya Geraldyn bingung.


"Itu adalah kartu kredit saya. Tolong Nona simpan dan gunakanlah untuk keperluan Carissa." Jawab Evan.


Geraldyn kembali menautkan kedua alisnya.


"Tolong terima, Nona. Semenjak pergi ke sini, Carissa menutup semua rekening banknya, sehingga saya bahkan tidak bisa mentransfer uang untuknya. Jadi tolong gunakanlah kartu itu untuk memenuhi kebutuhan Carissa selama dia tinggal di sini."


Geraldyn tertegun. Pantas saja saat mengurus kontraknya tempo hari Carissa memakai rekening baru, ternyata itu karena semua rekening lamanya sudah dia tutup.


"Sebagai suami, saya merasa sangat buruk saat tahu dia tidak mau lagi menerima uang dari saya. Walau bagaimana pun, saat ini Carissa adalah istri saya, saya berkewajiban untuk memenuhi semua keperluannya. Jadi tolong simpanlah kartu ini, Nona Geraldyn."


Geraldyn terdiam beberapa saat, lalu mengangguk ragu.


"Tolong jangan katakan padanya tentang pertemuan kita pada Carissa, juga tentang kartu pemberian saya ini. Saya tidak mau dia merasa tidak nyaman dan terbebani." Pinta Evan kemudian.


"Itu saja yang mau saya bicarakan dengan Nona. Sekarang Nona boleh kembali."


Geraldyn masih bergeming. Lalu tak lama kemudian dia pun mengambil kartu yang di berikan Evan tadi.


"Saya akan memenuhi kebutuhan sehari-hari Carissa dengan kartu ini, Anda tidak perlu khawatir." Ujar Geraldyn sambil memasukkan kartu tersebut ke dalam tas tangannya.


"Terima kasih." Jawab Evan.


Geraldyn mengangguk dan beranjak dari duduknya.


"Nona Geraldyn." Panggil Evan saat Geraldyn baru saja pergi beberapa langkah.


Geraldyn menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Siang ini, ajaklah Carissa makan di tempat yang bagus, dan tanyakan dia ingin makan apa..."


Geraldyn tertegun. Dapat dia rasakan ada kesedihan dari kata-kata yang Evan ucapkan barusan. Terdengar sekali jika dia sangat mengkhawatirkan Carissa, tapi tidak berdaya untuk melindunginya.


"Anda jangan khawatir, Tuan Evan. Saya akan menjaga Carissa dan memastikan dia tidak kekurangan apapun. Semoga Anda lekas sembuh." Ujar Geraldyn sambil berlalu.


Evan pun hanya bisa mengangguk dan memandangi kepergian Geraldyn dengan raut wajah yang sulit di lukiskan. Dia ikut keluar dari kafe tersebut dan duduk di salah satu bangku di sudut jalan sambil mengamati gedung tempat Carissa berlatih. Tak lama kemudian, Evan melihat istri yang sangat di rindukannya itu keluar bersama Geraldyn dan memasuki sebuah mobil, lalu pergi dari sana.


Mungkin Geraldyn menuruti kata-kata Evan tadi untuk membawa Carissa makan di tempat yang bagus.


Evan menatap mobil yang di tumpangi Carissa hingga menghilang di ujung jalan. Hanya inilah yang bisa di lakukannya sekarang, melepaskan rasa rindunya hanya dengan memandang dari jauh sosok Carissa, dan berharap semua ini akan cepat berlalu.


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2