
"Evan..." Tangan Carissa terulur ingin menyentuh wajah Evan. Tapi sesaat sebelum jemarinya benar-benar dapat bersentuhan dengan wajah suaminya itu, tiba-tiba saja kening Evan berkerut dengan mata yang masih terpejam. Mulut Evan kembali mengeluarkan erangan tertahan, seolah dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Evan?" Carissa panik dan langsung menangkup wajah kesakitan itu.
"Evan, bangun, Evan! Kamu kenapa?" Tanya Carissa sambil menepuk-nepuk pelan pipi Evan dengan tujuan membuat lelaki itu membuka matanya.
Perlahan mata Evan terbuka. Terlihat jelas jika manik yang biasanya punya tatapan menyejukkan itu kini sangat sayu dan tak bercahaya. Mata Evan tampak tak berbinar seperti biasanya.
"Carissa?" Gumam Evan dengan raut wajah yang sulit di jabarkan.
"Kamu kenapa, Evan?" Tanya Carissa dengan nada sedih.
"Tidak apa-apa..." Jawab Evan sambil berusaha untuk bangkit. Tapi belum sempat tubuhnya berdiri dengan tegak, tiba-tiba saja dia kembali limbung dan luruh ke lantai. Kedua tangannya terlihat berusaha menggapai apapun yang bisa di jadikan pegangan, sedangkan mulutkan kembali mengerang menahan sakit.
"Evan!" Carissa histeris sembari berhambur memeluk tubuh tak berdaya suaminya itu. Airmatanya kembali tumpah tanpa bisa di cegah.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Evan? Kenapa kamu seperti ini? Apa ini yang berusaha kamu tutupi dariku belakangan ini?" Carissa terisak sambil masih memeluk tubuh Evan.
Evan berusaha menahan rintihannya. Dia tidak ingin Carissa melihatnya kesakitan. Dia kembali membuka matanya dan menggeleng pada Carissa.
"Aku tidak apa-apa, jangan menangis seperti ini..." Ujarnya menenangkan Carissa.
"Aku hanya kelelahan." Tambah Evan lagi sambil mengurai pelukan Carissa dan berusaha untuk berdiri lagi.
Carissa memandang Evan dengan sedih. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya ini, yang jelas itu pasti bukan kelelahan seperti yang di katakannya barusan.
Evan melangkahkan kakinya dan berusaha untuk menuju tempat tidur. Tapi belum sampai kesana, sekali lagi mulutnya mengeluarkan rintihan menahan sakit, bersamaan tubuhnya yang kembali limbung. Evan kembali tersungkur ke lantai hingga Carissa kembali terpekik di buatnya. Sontak Carissa langsung menghampiri tubuh Evan yang tergeletak tak berdaya dan sebisa mungkin membawanya ke tempat tidur.
Mata Evan kembali terpejam dan bibirnya mendesis menahan sakit. Hati Carissa benar-benar hancur melihat Evan yang saat ini tampak sangat tersiksa. Dengan berderai airmata, Carissa mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Terlihat di layar ponsel beberapa panggilan tak terjawab dari Sonya. Tampaknya tadi ponsel Carissa dalam mode diam, hingga tidak terdengar jika ada yang menelfonnya.
Cepat-cepat Carissa mendial nomor kontak ibu mertuanya itu. Dan tak butuh waktu lama untuk Sonya menjawab panggilan Carissa.
"Carissa." Suara Sonya terdengar panik.
"Mama..." Carissa terisak dan tak mampu meneruskan kata-katanya karena terlalu panik.
__ADS_1
"Carissa, kamu kemana? Tadi Mama dan Papa dengar suara mobil keluar dari garasi, dan petugas keamanan bilang kamu pergi ke apartemen dengan membawa mobil karena di minta Evan. Memangnya kenapa Evan malah menyuruh kamu datang ke apartemen, bukan dia yang menjemput?" Sonya langsung memberondong Carissa dengan lebih dari satu pertanyaan.
"Ma, Evan sakit. Tolong datanglah ke sini dan bantu aku. Dia sedang sangat kesakitan sekarang, aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit..." Carissa terisak.
"Sakit?" Sonya terdengar tak percaya.
"Iya, Ma..."
Belum sempat Carissa meneruskan kata-katanya, terdengar Evan kembali mengerang sambil memegangi kepalanya.
"Evan.." Carissa semakin tersedu-sedu melihat Evan yang terlihat semakin kesakitan.
"Ma, tolong cepatlah, Evan sangat kesakitan." Pinta Carissa lagi dengan beruraian airmata.
"Apa kamu sudah menelfon ambulan?" Tanya Sonya pada Carissa.
"Be-belum, Ma." Jawab Carissa dengan agak terbata. Karena panik dia sampai tidak terpikir untuk menelfon ambulan.
"Biar Mama yang telfon. Kamu jaga Evan, Mama dan Papa akan langsung ke sana, dan ambulan juga segera datang. Jangan panik." Ujar Sonya dari seberang sana. Kemudian sambungan telfon terputus.
Dan sejurus kemudian, beberapa pertanyaan muncul di benak Carissa. Inikah alasan Evan tak memperbolehkannya pulang ke apartemen mereka? Apakan Evan ingin menyembunyikan apa yang sedang Carissa lihat saat ini, kondisi Evan yang sebenarnya? Lalu, sakit apakah Evan sebenarnya?
Pikiran Carissa terus mengembara sembari menatap Evan dengan pandangan yang sendu.
Tak lama kemudian, Zacky dan Sonya datang bersamaan dengan datangnya mobil ambulan. Evan pun akhirnya di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan.
Carissa bernafas lega saat melihat Evan telah tidak lagi mengerang kesakitan dan telah tertidur dengan lelap setelah di beri suntikan lewat infusnya. Di pandangnya wajah suaminya itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Direktur sudah tidak apa-apa, Nyonya. Tidak perlu khawatir. Anda bisa ikut beristirahat sekarang." Ujar dokter yang memberi pertolongan pada Evan tadi.
Carissa mengangguk.
"Terima kasih, Dokter." Lirih Carissa sambil menoleh, di tanggapi dengan anggukan kepala dari dokter tersebut.
"Saya permisi dulu, Nyonya." Dokter tersebut hendak beranjak dari hadapan Carissa, tapi tiba-tiba Carissa menahannya.
__ADS_1
"Anda belum mengatakan pada saya, apa yang terjadi pada suami saya tadi." Ujar Carissa.
Dokter tersebut agak serba salah, hingga Carissa menjadi agak curiga di buatnya.
"Direktur hanya kelelahan, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ujar dokter itu akhirnya.
"Hanya kelelahan? Apa Anda yakin, Dokter?" Tanya Carissa.
"Benar, Nyonya. Direktur hanya kelelahan. Setelah istirahat kondisinya akan baik-baik saja."
Carissa tak menyanggah lagi perkataan dokter itu. Tapi dia tak mempercayai begitu saja jika Evan hanya kelelahan. Bagaimana bisa orang kelelahan terlihat sangat kesakitan. Pasti ada yang ingin di tutupi darinya, dan Carisaa tidak akan mendapatkan jawaban atas kondisi Evan yang sesungguhnya dari para bawahan Evan.
Carissa harus mencari tahu sendiri.
Segera setelah dokter yang menangani Evan tadi pergi, Carissa berpamitan pada mertuanya untuk kembali ke apartemen. Carissa beralasan untuk mengambil beberapa barang keperluan Evan.
Awalnya Sonya ingin menemani, tapi setelah Carissa meyakinkan dia baik-baik saja pulang sendiri, Sonya dan Zacky pun akhirnya setuju untuk menjaga Evan di rumah sakit saja.
Carissa segera pulang ke apartemennya menggunakan taksi. Sesampainya di sana, Carissa langsung kembali masuk ke kamar yang di tempati Evan belakangan ini. Carissa menyalakan lampu kamar, lalu memperhatikan sekitarnya.
Dia memungut botol obat yang tergetak di lantai kamar. Dia mengenali obat itu adalah obat penghilang rasa nyeri. Obat umum yang biasa di gunakan untuk meredakan sakit di beberapa bagian tubuh.
Carissa kembali mencari-cari di beberapa tempat yang sekiranya bisa untuk menyimpan sesuatu. Dan akhirnya, tangan Carissa terhenti saat membuka laci di salah satu lemari kamar tersebut.
Tampak beberapa botol obat lain yang Carissa tidak tahu itu obat apa, dan kemudian perhatian Carissa tertuju pada sebuah kartu nama yang juga ada di sana. Carissa mengambil kartu nama tersebut dan membacanya. Mata Carissa seketika membeliak saat membaca nama yang tertulis di sana. Kartu tersebut adalah milik seorang dokter yang tidak tergabung di rumah sakit Evan. Dan yang membuat Carisaa terkejut adalah spesialisasi dokter tersebut.
Melissa Wang, dokter ahli kejiwaan.
Nafas Carissa langsung memburu, dan airmatanya kembali jatuh tanpa sadar. Sebuah pertanyaan kembali memenuhi seluruh kepalanya, benarkah jika akhir-akhir ini Evan menemui seorang psikiater?
Bersambung...
Ibu-ibu komplek kesayangan emak othor, maafkanlah diriku karena suka telat up belakangan ini. Udah 2 minggu ini ada aja yg mesti di urusin, sampe terakhir asam lambung kambuh😳
Mudah2an segera bisa up normal lagi, dan kalo luang bakal up lebih dari satu buat nyicil utang absen kmren. Tetep tungguin kelanjutannya ya kesayangan emak.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤