WITH YOU

WITH YOU
Hadiah


__ADS_3

Adelia keluar dari kamarnya sambil mengikat rambutnya. Sedangkan dia membiarkan Devan di kamarnya. Adelia dengan gamblangnya keluar dari kamar dan tidak menutup lehernya sama sekali, padahal di sana Devan meninggalkan bekas ciumannya tadi membuat Adelia.


Dia membuatkan sarapan untuk suaminya, “Lho, kamu kan tinggal turun aja, sarapan sudah Mama buatin kok,” kata Mamanya ketika dia sedang menunggu roti keluar dari mesin pemanggang.


Adelia berbalik, “Nggak cukup, Ma,” jawab Adelia dengan singkat. Padahal itu untuk mereka berdua.


Fania senang melihat anaknya langsung turun untuk sarapan. “Kamu makan di sini atau di kamar?”


“Nanti di kamar aja, Ma. Devan lagi istirahat, kecapean katanya,”


“Iyalah, gimana nggak kecapean. Tuh di teras barang-barang untuk calon bayi kamu udah dibeliin sama dia,”


“Aiiih, yang benar aja, Ma?”


Adelia kemudian keluar dari dapur untuk melihat apa yang dikatakan oleh mamanya barusan. Papanya di sana juga sedang berdiri di ambang pintu sambil melihat apa saja yang dibeli oleh Devan untuk persiapan persalinan.


“Tuh, kelakuan suami kamu. Makanya kecapean, dia beli sendiri untuk keperluan anaknya. Tempat tidur dan sebagainya udah disediain ternyata. Baju-baju juga lucu banget,”


“Kan masih belum, Pa. kenapa dia ngelakuin ini?”


Raka mendekati putrinya dan mengambil salah satu mainan anak kecil yang kemudian diberikan kepada Adelia. “Anak pertama, jadi nggak salah kalau dia bereaksi seperti ini. Lagian beruntung banget kamu menikah sama pria sialan itu. tanggung jawabnya ke kamu nggak tanggung-tanggung. Semua keperluan kamu sama si kecil di penuhi,”


Adelia melihat baju yang ada di dalam kotak itu kemudian tersenyum ketika melihat suaminya melakukan semua itu untuk dirinya. “Nanti ditaruh di kamar aku, Pa!”


“Nggak, Adel. Untuk sementara waktu kamu tidur di kamar bawah di dekat kamar nenek kamu. Papa kasihan lihat kamu turun naik tangga terus tiap hari. Mama juga dulu gitu, dia tidurnya di kamar bawah setiap kali hamil,”


“Sebenarnya aku nggak masalah tidur di kamar atas juga kok, Pa,”


“Tapi kasihan kamu yang turun naik tangga, Adelia. Papa nggak mau lihat kamu capek kayak gitu. Lagian ya, Papa itu khawatir kalau kamu jatuh atau gimana. Jadi nggak usah ngeyel di kasih tahu. Dan juga Devan bilang mau adain tujuh bulanan nanti,”


“Iya, dia bilang gitu juga tadi, Pa. Tapi kapan?”


“Tunggu aja waktunya, nanti Papa bantu siapin semuanya,”


“Makasih, Pa,”


“Devan bakalan tinggal di sini sama kita,”


“Iya, dia bilang begitu juga, Pa. tapi aku bersyukur kok kalau kita bakalan tinggal bareng,”


“Suami kamu udah ngalah gitu, jadi jangan buat masalah lagi ya! Papa nggak mau kalau kamu berantem lagi, Adelia. Papa udah capek mikir,”


Adelia menyeringai kemudian memeluk papanya. “Makasih pokoknya, Pa.”


Bibi kemudian datang, “Mbak, rotinya udah siap. Saya udah pindahin ke piring,”


“Bi, nanti buatin kroket ya!”


“Mau isian apa?”


“Daging ayam aja deh, soalnya Devan nggak suka daging sapi. Terus pakai kentang, wortel sama seledri juga ya!”

__ADS_1


“Oke, Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap asistennya.


“Devan suka emang?”


“Iya, Ma. Tapi kalau Devan itu lebih suka dimasakin di rumah dibandingkan beli sih. Kalau ke kantor juga sering minta dibuatin bekal. Nggak terlalu suka makanan di luar,”


“Iyalah kalau suami kan emang begitu. Sukanya masakan istri, Adel. Papa juga dulu gitu kok. Tapi kalau Papa makan siangnya nggak ribet, yang penting nggak ada makanan pedas,” timpal mamanya.


Dia mengakhiri percakapan dan langsung ke dapur untuk melanjutkan membuat sarapan tadi untuk suaminya. Adelia memang tidak ingin ketahuan jika itu juga sarapan untuk Devan. karena suaminya sudah berpesan tadi bahwa dia tidak mau ketahuan masak.


“Adel, itu kamu kenapa?” papanya menahan Adelia ketika hendak pergi.


Perempuan itu berhenti, “Adel kenapa, Pa? nggak ada apa-apa,”


Raka memutar bola matanya, dia pikir anaknya disengat hingga merah seperti itu. taunya itu adalah bekas ciuman. “Lain kali kalau suami pulang usahakan lihat cermin dulu ya Adel! Itu lihat buktinya di leher kamu!” Adelia meraba lehernya.


Dia menyeringai dan menahan malu karena dia tidak tahu jika Devan meninggalkan bekas di leher kirinya. “Hehehe,”


“Jangan kebiasaan! Dilihat Keano nanti ya habis kamu diledek, tahu sendiri adik kamu itu kayak apa, tapi suami kamu kayaknya lagi senang banget. Tadi Keano di kasih uang sama dia,”


“Serius?”


“Iyalah, dia kan udah balik ke kantor Papanya. Jadi papanya itu orang cukup kaya. Jadi nggak usah heran lagi kalau dia itu ngasih Keano uang,” ledek papanya.


“Aku belum di kasih, Pa,”


“Tuh!” tunjuk Raka ke salah satu tas kecil yang di mana ketika Adelia mendekat. Dia langsung mengambil tas kecil itu dan melihat ada kotak jam tangan merk ternama yang membuat senyumnya mengembang. “Udah kamu pura-pura nggak tahu aja, nanti minta aja tuh sama suami kamu,”


Adelia pergi dari teras depan untuk ke dapur mengambil sarapan yang sudah dibuatkan untuk suaminya.


Dia juga tidak lupa membawa susu juga karena dia tahu suaminya paling tidak bisa sarapan tanpa ada susu sebagai minumannya.


“Bi, nanti bisa bawain ke kamar?”


Dia memang kesulitan membawa barang jika ke atas karena perutnya yang sudah cukup besar. Jumlah tangga di rumahnya juga tidak sedikit. Maka dari itu dia harus hati-hati untuk naik dan turun tangga.


Begitu tiba di kamar, dia melihat suaminya sedang tengkurap sambil menonton televisi. “Devan, nggak istirahat?”


Pria itu segera bangun dan duduk bersila, “Nanti aja kalau udah selesai sarapan, jadi aku nggak mau tidur dengan perut kosong, yang ada aku nanti paksa kamu,”


“Paksa apa?”


“Paksa buat jadi sarapan aku dong,” ledek Devan.


Adelia menyeringai kemudian duduk dipangkuan suaminya, “Nggak bawa oleh-oleh buat aku?”


Devan mengangkat sebelah alisnya. “Hmmm, ada dong. Ada di mobil, bentar ya!”


Adelia tersenyum ketika suaminya memilih keluar dari kamar untuk mengambil hadiah itu. sedangkan asistennya membawakan sarapan ke kamar mereka. Adelia pura-pura tidak tahu dengan hadiah itu.


Dia pura-pura menonton televisi menunggu kejutan dari suaminya. Devan memang dingin kepada orang lain. Tapi, dengan dirinya. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Pria itu memang sangat hangat. Bahkan Devan juga sangat romantis. Pria itu memang sangat menyebalkan. Tapi, Devan tidak pernah sekalipun selingkuh dari dirinya. Sekalipun ada chat dari perempuan lain dia akan mengatakannya kepada Adelia. Bahkan Adelia juga akan mengambil ponsel Devan atas dasar permintaan pria itu.

__ADS_1


Terdengar suara pintu di buka. Dia melihat sosok suaminya masuk dengan sebelah tangan bersembunyi dibalik punggungnya. Adelia tersenyum dari jauh ketika Devan mendekatkan dirinya. Memang dia menunggu beberapa menit, menunggu suaminya kembali lagi.


Sejenak dia menghela napas untuk menerima itu dengan cara romantis. Devan yang sangat romantis kadang membuatnya sering luluh karena pria itu memang selalu memberikannya kejutan yang tidak pernah terduga.


Devan mencium kening Adelia kemudian memberikan kotak berwarna hitam. “Terima kasih karena sudah bertahan untuk aku,” kata Devan dan saat itu Adelia mengangkat alisnya melihat kotak yang isinya jauh beda dengan yang diberikan oleh papanya tadi.


“Devan, itu bukan kotak yang aku lihat tadi,”


“Maksud kamu jam tangan itu? itu memang bukan buat kamu Adelia. Itu untuk Mama,”


Adelia cemberut dan langsung membuka kotak itu dengan perasaan setengah hati. “Ya udah,”


“Kok cemberut? Kamu lihat dulu!”


Adelia membuka kotak itu dan melihat ada kunci mobil yang ada menjadi isi dari kotak tersebut. “Devaaaaan,” dia memeluk suaminya. “Jam tangan tadi untuk Mama beneran?”


“Harga mobil kamu jauh lebih mahal, Adelia. Itu jam harganya nggak seberapa, kamu tahu nggak itu mobil kamu sebanding harganya sama rumah yang pernah kita tempati dulu,”


“Kamu serius?”


“Iya, Papa yang nyuruh aku beliin kamu,”


“Papa aku?”


“Papa aku, Adel. Katanya harus ngasih hadiah buat istri,”


Adelia menyeringai, “Nanti undang Papa waktu tujuh bulanan ya!”


Devan terkekeh. “Papa mana ada waktu sih, Adel,”


“Papa sibuk banget?”


“Iya, dia sibuk banget ngurusin banyak hal. Jadi nanti yang datang cuman Jesse sama Sabina,”


“Nggak apa-apa. Mobilnya kapan datang?”


“Nanti malam sih. Aku memang rencananya mau ngasih malam, tapi karena kamu udah nagih. Ya udah aku kasih aja,”


“Jangan bilang ini cuman kunci aja,”


“Adel, kamu pikir aku sejahat itu ngasih kamu kunci mobil doang? Terus nggak ada barangnya gitu? Aku nggak sejahat itu ya!” kata Devan sembari mengusap puncak kepalanya. “Semoga lahirannya normal nanti ya!”


 


 


“Semoga aja, Devan. aku berharapnya juga normal.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2