WITH YOU

WITH YOU
Teman Lama


__ADS_3

“Bagaimana kalau seandainya Adelia tahu kalau kamu itu adalah anak dari mantan suami mama mertua kamu sendiri?” ucapan itu terngiang ditelinga Devan ketika Bianca mengatakan semuanya dengan jelas ketika dia mengusir perempuan itu. Pengakuan Bianca mengenai informasi yang dia dapatkan dari orang tuanya sendiri, kemudian menyelidiki siapa sebenarnya orang tua Adelia dan kali ini dia mendapatkannya dengan sangat baik.


Perempuan itu sekarang bersama dengan dirinya. Terpaksa dia harus berbohong kepada Adelia bahwa dia sedang menjalankan tugas papanya ke luar kota. Tapi, dia sedang diancam oleh Bianca mengenai status dirinya yang memang anak dari mantan suami mama mertuanya. Mamanya juga mengancam akan memberitahu mama mertuanya jika dia menolak untuk berkencan dengan Bianca. Masih seperti biasa, padahal dia pernah mengatakan bahwa dia sudah mencintai Adelia dengan sangat. Maka apa pun usaha yang dilakukan oleh Bianca, semua akan sia-sia. Tapi, usaha mamanya untuk menyatukan dia dengan Bianca tak pernah sampai di sana. sampai papanya juga yang mengancam untuk menceraikan pun tak diindahkan oleh mamanya.


Devan memang tidak ingin jika orang tuanya bercerai mengingat Sabina yang butuh kasih sayang keduanya. Tapi, jika seperti ini. Rasanya dia sangat terbebani. Apalagi ketika Bianca mengatakan dengan jelas bahwa dia akan melaporkan dengan bukti yang mereka punya yaitu foto keluarga Devan yang ada di ponsel Bianca.


Suatu waktu perempuan itu pasti akan mengirim foto tersebut kepada Adelia. Yang berakhir kecewa dan kemungkinan besar memang akan berpisah. Baru saja dia begitu bahagia bisa berdamai dengan istrinya, apalagi mendengar kabar bahagia bahwa Adelia punya kakak yang baik menggantikan dirinya ketika dia sedang bekerja di luar kota. Maka kakak iparnya itu akan membantunya menjaga Adelia dengan sangat baik.


Kali ini, dia menghela napas panjang ketika sedang berada di bioskop bersama dengan Bianca. Ingin rasanya dia membunuh perempuan yang ada di sebelahnya bersandar pada dirinya dengan begitu nyaman. Sedangkan dia sendiri begitu kesal dengan perempuan ini.


“Sayang, kita ke mana setelah ini?”


Sialan, ya perempuan ini memang sangat sialan. bisa-bisanya dia terjebak dalam permainan mamanya juga. Devan tidak ingin jika dia melihat orang tuanya bercerai. Ancaman papanya tidak pernah main-main.


“Bisakah kita pulang? Aku mau kembali ke apartemen,”


“Kamu nginap di apartemen aku aja!”


“Bianca, aku adalah pria bersitri. Kamu tahu kan kalau pria itu punya nafsu juga,”


Dengan pencahayaan yang remang-remang di ruang bioskop itu. Bianca mengelus dadanya dan berbisik, “Kamu mau ngelakuin itu juga nggak apa-apa,”


Jangan harap! Karena sedikitpun nafsu Devan tidak ada untuk menyentuh perempuan licik ini. Dia tidak tergoda sama sekali. Berbeda halnya dengan Adelia, ketika istrinya baru saja mengelus dadanya, maka dia akan melakukan hal lebih. Sekalipun Bianca mengelus dadanya dan juga memegang pipi Devan. sama sekali tidak merasakan gairah untuk menyentuh perempuan sialan ini.


“Ayo keluar! aku bosan,” ajak Devan kemudian dia berdiri.


Devan keluar terlebih dahulu kemudian memasang lagi maskernya untuk menutupi wajah. Takut jika Keano ataupun kedua kakak kembar Adelia bertemu dengan dirinya yang sedang berkencan dengan perempuan ini.


Ia menghela napas panjang ketika Bianca menggandengnya. Apalagi terasa gundukkan kenyal disikutnya yang terasa sangat menjijikkan.


“Aku menginap di apartemenmu, boleh?” tanya Devan.


Demi apa pun, dia tidak akan pernah melakukan perselingkuhan. Dia hanya ingin menghapus foto yang ada diponsel Bianca agar tidak memberitahu Adelia dan juga mama mertuanya. Perempuan ini memang sangat licik, tak pernah menyerah. Seperti yang dikatakan oleh papanya bahwa keluarga Bianca pasti akan melakukan segala cara agar Bianca menikah dengan Devan. dia yang memang kali ini hidupnya jauh lebih baik lagi. Dia bisa memberikan hadiah apa pun untuk Adelia. Tidak seperti dulu, maka dari itu Devan ingin melakukan semuanya untuk Adelia. Dia tidak ingin mengkhianati, sekalipun dia bersama Bianca. Sudah dipastikan bahwa dia hanya ingin menghancurkan hidup perempuan ini.


Ketika mereka telah tiba di parkiran mal. “Devan, temani aku ke kelab yuk!”


“Kamu sering minum?”


“Sedikit,”


Dia mengingat apa yang dikatakan oleh Jesse waktu itu bahwa mama dan juga Bianca akan menjebaknya untuk menghamili Bianca agar dia dan perempuan itu bisa menikah. Tidak semudah yang dibayangkan. Maka, Devan akan mengikuti permainan mamanya. Dia juga akan memperlakukan perempuan ini dengan baik sampai permainan itu selesai.


“Oke, seperti janji kamu. Kamu kan tadi ngebolehin kalau kita ngelakuin itu ‘kan? Bukankah lebih baik kita lakukan saat mabuk. Sudah pasti itu sangat menggairahkan.”


Devan tersenyum tipis kepada Bianca. Dia tidak akan pernah mengkhianati istrinya hanya demi perempuan licik yang ada di sampingnya. Devan akan mengikuti ke mana permainan ini akan berlangsung. Devan tidak akan pernah berhenti untuk melakukan ini dengan. Dia akan tetap menyerang perempuan ini dengan perlahan.


Dia melajukan mobilnya ke salah satu kelab langganan dia dengan teman-temannya dulu.


Baru keluar dari mobil, perempuan itu bermanja. Devan pun tetap memperlakukan Bianca dengan baik agar perempuan ular itu juga merasa baik dengan apa yang akan dilakukannya.


Bianca lebih dulu memesan minuman, dia menawari Devan minuman itu. Kali ini Devan akan berusaha minum sedikit, tidak ingin mabuk berat karena dia takut jika nanti lepas kendali ketika dia mabuk berat.


Dua gelas, mungkin itu tak seberapa. Sedangkan Bianca sudah menghabiskan empat gelas dan masih belum mabuk juga. “Ck, sialan. dia benar-benar akan melakukan jebakan itu,” kata Devan di dalam hati.


“Aku ke sana dulu,” tunjuk Bianca ke Dance floor. Devan tak menanggapi dan membiarkan Bianca ke sana.

__ADS_1


Baru saja Bianca pergi, pundak Devan ditepuk oleh seseorang. Ketika dia berbalik, sosok Ben berdiri di belakangnya. “Hey, apa kabar bro?”


“Brengsek juga lo ya! Bawa Bianca ke kelab gini,” kata temannya yang memesan minuman juga.


“Kenal?”


“Siapa yang nggak kenal sih? Kamu nggak tahu kalau dia mantan model di tempatku?” Ben adalah seorang produser dan juga pengusaha terkenal. Perempuan pasti akan datang dan menjajakan diri kepada pria yang sangat loyal untuk urusan keungan. “Bukannya kamu sudah nikah?”


“Ceritanya panjang, Ben. Bukan niat selingkuh, tapi tuh cewek emang sialan ngejebak aku,”


Ben tertawa dan memukul pundak Devan. “Dia memang licik bro, jadi bukan hal yang baru lagi kalau dia itu mau jebak kamu. Tapi, butuh bantuan?”


“Maksudnya?”


Ben meneguk minumannya begitu saja. Sedangkan Devan untuk urusan minuman keras dia harus menutup hidungnya atau kadang memaksakan diri. “Masalah kamu apa?”


“Dia ngancam aku bakalan ngehancurin rumah tangga aku,”


“Terus?”


“Entah, dia maksa buat nikah. Memang hampir nikah sih,”


“Ngancam? Memangnya kamu dulu pacaran sama dia sebelum nikah sama yang sekarang?”


“Dipaksa sama orang tua. Orang tua dia juga maksa, sering neror,”


Ben mengangguk pelan, “Istri kamu lagi hamil. Berhentilah untuk keluar sama perempuan ini, jangan sampai kamu benar-benar hancur dengan istri kamu hanya karena perbuatan dia, Devan. jujur, aku sudah mengenal dia itu sangat lama,” penjelasan Ben membuat Devan memang sadar jika dia memang sebentar lagi menjadi seorang ayah untuk anaknya. “Devan, jangan sampai tidur sama dia!”


Dia mengerutkan dahinya, “Nggak pernah berminat, tapi dia memang ngajak tadi,”


“Bianca pernah sama aku,”


“Bianca bukan perawan, Van. Kalau kamu nggak bisa kontrol diri ya tuh anak nanti bisa hamil. Lagian apa sih yang dilihat sama orang tua kamu? Tuh perempuan memang dekati cowok-cowok tajir, aku termasuk. Tapi kalau aku nggak sampai ke jenjang yang serius. Cuman ya dia memang suka aja gitu dibeliin barang, ya otomatis bisa tidur,”


“Jangan ngaco deh, Ben,”


“Demi apa pun, kalau aku bohong. Buktikan saja malam ini, silakan ajak tidur! Cuma ya hati-hati jangan sampai hamil!”


“Kamu lagi nggak bohong kan?”


“Sumpah, nggak ada niat untuk bohong. Bianca ada tatto dipunggungnya, itu gambar bunga Azalea, dan nama dia. Dia buatnya waktu sama aku,” kekeh Ben.


Kenapa Devan merasa perempuan itu sangat menjijikkan. Bahkan dia mengenal Ben adalah pria yang memang sepuas hati ganti pasangan. “Istri aku di rumah aku bohongi cuman karena ancaman dia,”


“Kamu takut sama dia? Dia waktu itu baru umur dua puluh, dia pengin kan tuh jadi model. Dia ngedeketin kok. Terus tadi waktu waktu ngajak ke sini? Kamu bilang apa sama dia?”


“Dia yang ngajak, karena memang rencana dia itu sudah aku ketahui. Dia mau rencanain kalau dirinya ditiduri aku terus hamil, maksa nikah,”


“Bangsat memang. Licik juga,”


“Mama aku senang karena dia itu pintar. Belum lagi karena dia lulusan luar negeri sih katanya,”


“Luar negeri? Hey, Bianca itu model ya. Baru setahun ini keluar dari tempat aku,”


“Setahun? Bentar, kayaknya ini anak memang di setting banget untuk ngedeketin aku,”

__ADS_1


“Iyalah. Makanya waktu dia keluar, dia putuskan kontrak dan sebagainya. Sampai aku juga dijauhi,”


Devan tertawa, “Dia memang sudah atur ini semua,”


“Pulanglah! Urusan Bianca aku yang urus,”


“Di Hpnya ada foto aku sama dia, terus dia punya foto keluarga aku juga. Dia bakalan kirim itu ke istri aku. Dia pernah ngirim foto juga ke Adelia dulu, tapi aku bisa yakinkan dia,”


“Oke, nanti aku bantu,”


“Ini serius? Sumpah, aku juga nggak ngerti lagi sama Mama aku yang maksa aku buat nikahi dia,”


“Udah, urus aja istri kamu! Nggak usah pedulikan apa yang dia bilang,”


Mereka berdua pun bersulang untuk merayakan terima kasih Devan kepada pria itu. “Ben?” panggil Bianca dengan ekspresi yang begitu terkejut ketika melihat pria itu dekat dengan Devan.


“Apa kabar sayang?” sapa Ben kemudian berdiri dan menyambar bibir Bianca. Perempuan itu langsung mendorong tubuh Ben. “Kenapa nolak sih sayang? Nggak kangen sama aku? Kamu biasanya dulu tidur sama aku kok. Kamu kan sering nginap juga di apartemen aku,”


“Beeeeen!” teriak Bianca.


Devan tertawa sinis, “Lucu ya kamu. Kamu seolah perempuan baik-baik. Kamu bilang istri aku ini itu, tapi kelakuan kamu seperti sampah,”


“Devan, aku nggak kenal pria ini,”


Devan tersenyum dan melirik ke arah Ben. Pria itu telah sepakat untuk membantunya. “Nggak kenal tapi kamu panggil nama dia, itu gimana ceritanya, Bianca?” kata Devan kemudian mengeluarkan uang untuk membayar minumannya. Dia memang tidak mabuk, dia bersyukur bertemu dengan Ben di tempat ini.


Dia punya alasan untuk meninggalkan dan tidak ada alasan lagi untuk Bianca mendekat kepadanya.


“Devan, aku bisa jelasin,” kata Bianca.


Baru saja Bianca menarik tangan Devan. Ben sudah menarik tangannya terlebih dahulu, “Sayangku, ayolah. Kamu nggak kangen ke apartemen aku? Ini adalah waktunya untuk bersenang-senang sayang,”


Devan pergi meninggalkan keduanya saat Ben sudah berhasil menahan tangan Bianca. “Kamu kenal Devan dari mana?”


“Aku sama dia baru kenalan di sini. Jadi, itu alasan kamu ninggalin aku? Nggak sayang sama perawan kamu yang sudah pernah dijamah sama pria yang ada didepan kamu? Bianca, jangan sok suci di depan pria lain. Kamu nggak tahu aja kalau aku punya rahasia terbesarmu, punya foto dan juga video kita bercinta, bukan?” mata Bianca melotot melihat Ben.


“Kamu brengsek,”


“Kamu murahan,” jawab Ben dengan singkat.


Bianca mengangkat tangannya hendak menampar Ben. Tapi tangannya sudah ditahan oleh pria itu. “Kamu berani lakukan ini, lihat saja pria tadi bakalan lihat kelakuan kamu yang bahkan punya foto telanjang, lupa kamu sama kelakuan kamu yang dulu? Lupa sama tatto yang kamu buat waktu itu sama aku? Kamu ngasih perawan kamu gitu aja,” ledek Ben.


“Kamu benar-benar sialan, Ben,”


“Ayolah sayang. Jangan jual mahal seperti itu, kamu kenapa ganggu pria yang sudah punya istri? Kamu sendiri yang nggak tahu diri. Sekarang pilihan ada di tangan kamu, pilih temani aku di apartemen malam ini, atau justru video kamu bakalan aku kasih ke pria tadi? Biar dia tahu kelakuan kamu selama ini. Biar dia juga nggak kejebak sama permainan licik kamu. Ketahuilah Bianca, kalau kamu itu bukan tandingan pria tadi. Kamu juga nggak bisa rebut suami orang lain. Kenapa nggak sama aku aja, toh kamu pernah keguguran anak kita,”


Mata Bianca tiba-tiba melotot dan meneteskan air mata. “Sialan,”


“Kamu yang gugurin, kamu mau nyalahin aku? Ayolah kita ke apartemen sekarang! Aku rindu tubuh dan juga rindu kamu yang liar, bahkan aku rindu,” Ben menggantungkan ucapannya, “Rindu kamu yang liar dan mendesah, yang memohon agar tidak berhenti melakukan itu sama kamu. Rindu juga kamu yang mulai percintaan kita, ingat Bianca kamu dua kali gugurin kandungan kamu, itu karena kamu yang lakukan tanpa aku tahu kamu hamil,”


 


 


“Ben,” air mata Bianca semakin deras. Tapi Ben tidak peduli. Kemudian dia langsung mengeluarkan uang dan mengajak Bianca pergi. “Kamu licik,”

__ADS_1


 


 


__ADS_2