
Sore itu, Carissa tampak sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Meski Evan telah melarangnya memasak, tapi kelihatannya Carissa sedikit membandel dan tetap ingin membuatkan makanan untuk suaminya itu dengan menggunakan tangannya sendiri, hingga dia tetap belajar memasak secara diam-diam.
Kini setelah banyak belajar dari Sonya, Carissa pun sudah mulai pandai memasak beberapa menu sederhana, meskipun tentu saja masih belum sesempurna masakan ibu mertuanya itu.
Setelah selesai merajang sayuran, Carissa mulai membumbui ikan yang sudah di ambil dagingnya saja dengan beberapa rempah dan garam, lalu di balur juga dengan tepung dan langsung di goreng. Kali ini tidak ada lagi adegan api menyambar ke dalam wajan. Carissa benar-benar telah belajar dengan baik belakangan ini.
"Masak apa?"
Evan yang baru pulang kerja tiba-tiba muncul dengan memegang kedua bahu Carissa, hingga membuat Carissa sedikit terkejut.
"Kamu bikin kaget saja. Untung jantungku tidak sampai copot." Gerutu Carissa sambil masih tidak beralih dari panci penggorengannya.
Evan terkekeh. Lalu di ciumnya pipi Carissa hingga istrinya itu menjadi sedikit kesal.
"Jangan cium sembarangan, Evan. Di depanku ini minyak panas." Sergah Carissa. Tapi bukannya menyingkir, Evan justru semakin merapatkan tubuhnya pada Carissa karena gemas saat melihat reaksi istrinya itu.
Terlihat jelas saat ini dia sedang berusaha untuk berkonsentrasi dan tidak ingin Evan mengacau.
"Aku tanya kamu sedang masak apa?" Tanya Evan lagi.
"Masak udang." Jawab Carissa sekenanya.
Evan menautkan kedua alisnya.
"Bukannya yang kamu goreng itu ikan?" Tanya Evan.
"Kan kamu sudah tahu, kenapa masih tanya?" Carissa malah balik bertanya.
Evan tersenyum dan memeluk Carissa dari belakang. Di ciumnya pipi Carissa dengan gemas.
"Evan..., nanti ikannya gosong." Ujar Carissa agak putus asa.
Evan hanya mengulum senyumnya. Entah kenapa rasanya sangat menyenangkan saat menggoda istrinya ini, apalagi jika sampai mendengarnya sedikit merengek. Dieratkannya pelukan pada istrinya itu hingga Carissa agak menggeliatkan tubuhnya.
"Evan..." Rengekan itu akhirnya keluar dari mulut Carissa. Evan pun puas dan kembali terkekeh sembari mengecupi pipi Carissa berulang kali.
__ADS_1
"Biar aku bantu." Ujar Evan akhirnya sembari melepaskan pelukannya. Di gulungnya lengan kemejanya hingga sampai ke siku. Lalu Evan pun mengambil alih spatula yang ada di tangan Carissa.
"Eh, kamu mau apa?" Tanya Carissa.
"Biar aku saja yang goreng ikannya. Kamu siapkan bumbunya." Jawab Evan.
"Tapi..."
"Sudah, kamu kerjakan yang lain supaya masakannya cepat selesai. Aku sudah lapar."
Carissa tak lagi membantah. Mendengar Evan berkata lapar membuatnya langsung menerima bantuan Evan tanpa banyak protes. Dia langsung meninggalkan panci penggorengan dan beralih mengerjakan yang lain. Sepertinya dia sangat tidak ingin suaminya itu sampai kelaparan.
Sekali lagi Evan tersenyum. Istrinya ini sangat penurut jika di minta melakukan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Terlihat jelas jika Carissa bersedia melakukan apa saja untuk Evan asalkan Evan merasa senang. Tak bisa di lukiskan bagaimana bersyukurnya Evan di pertemukan dengan Carissa dan bisa menjadi suaminya. Sekarang Evan benar-benar yakin jika Carissa memang telah membuatnya jatuh cinta setiap harinya.
Tak butuh waktu lama. Masakan untuk makan malam mereka pun selesai di buat. Carissa memasukkan masakan tersebut ke piring saji dan menatanya ke atas meja makan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Carissa saat melihat Evan yang hendak meninggalkan dapur.
"Aku mau mandi dulu." Jawab Evan.
"Katanya tadi kamu sudah lapar? Nanti saja mandinya, kita makan dulu." Ajak Carissa.
Evan pun mengalah dan kembali mendekat. Lalu dia duduk di kursi yang di geser Carissa tadi. Dia tak bisa menolak permintaan Carissa yang menyuruhnya segera makan meski sebenarnya perutnya belum terlalu lapar.
Dengan mengulas senyum manisnya, Carissa mengisi piring Evan dengan makanan dan menuangkan juga air minum untuk suaminya itu. Mereka pun menyantap makan malam dengan perasaan bahagia yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
Selesai makan malam, kekompakan kembali terlihat saat keduanya membereskan bekas makan mereka. Carissa yang membersihkan kembali meja makan, dan Evan yang mencuci piring kotor. Pasangan suami istri ini tampak sudah saling mengerti satu sama lain tanpa saling mengucapkan kata. Keduanya hanya saling melempar senyum saat mata mereka tak sengaja bertemu.
Pemandangan yang benar-benar indah sekaligus membuat iri bagi siapapun yang melihatnya.
Setelah semuanya selesai, keduanya pun masuk ke kamar tidur mereka. Evan segera menyegarkan diri di kamar mandi, kemudian keluar dengan tubuh yang lebih segar hanya dengan mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Melihat Carissa yang tampak sedang memilihkan pakaian untuknya, Evan tak bisa menahan diri untuk kembali tersenyum. Lalu tanpa bisa dia cegah, di peluknya Carissa dengan erat dari arah belakang. Hal itu tentu saja membuat Carissa sedikit terkejut. Tapi sejurus kemudian, Carissa mengulas senyumnya dan berbalik kearah suaminya itu.
"Kenakan dulu pakaianmu, Tuan." Ujar Carissa sambil berusaha menahan senyumnya.
__ADS_1
Evan menatap Carissa dalam. Lalu bibirnya juga kembali mengulas senyuman tipis.
"Rasanya saat ini aku tidak membutuhkan pakaian. Lebih baik seperti ini saja." Goda Evan tanpa mengalihkan pandangan dari Carissa. Semakin di rapatkannya tubuh liatnya pada Carissa, hingga dapat Carissa rasakan sesuatu di bawah sana yang mulai bangkit dan berhasrat.
"Evan..." Protes Carissa sambil hendak melepaskan diri, tapi tentu Evan tidak membiarkan hal itu terjadi. Di tahannya tubuh Carissa dengan lengan kekarnya, hingga Carissa tak berdaya dalam pelukan Evan.
"Mau lari kemana? Kamu harus bertanggung jawab karena sudah menggodaku." Bisik Evan di telinga Carissa.
Mata Carissa sontak melebar dan memukul dada Evan dengan gemas.
"Siapa yang menggodamu? Dasar dokter cabul."
Evan tergelak mendengar Carissa menyebutnya dokter cabul. Tanpa sadar dia merenggangkan pelukannya hingga Carissa mengambil celah itu untuk melepaskan diri dari pelukan Evan.
Carissa beranjak menjauh, lalu diletakkannya pakaian Evan yang di ambilnya tadi di atas tempat tidur.
"Cepat kenakan pakaianmu, Evan. Nanti pakai handuk saja seperti itu, kamu bisa masuk angin." Ujar Carissa lagi. Kali ini ada nada khawatir terdengar dari kata-katanya, hingga Evan pun tak kuasa untuk menolak lagi.
"Baiklah, Nyonya. Sesuai keinginanmu." Mau tak mau Evan meraih pakaian tersebut dari atas tempat tidur dan mengenakannya.
"Aku sudah berpakaian. Sekarang giliranmu menuruti kata-kataku. Ambil koper dan siapkan pakaian yang akan di bawa." Ujar Evan.
Carissa tampak menoleh.
"Pakaian siapa?" Tanyanya polos.
"Tentu saja pakaianku dan pakaianmu, memang pakaian siapa lagi?"
Carissa terdiam sesaat sambil masih melihat kearah Evan.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Carissa lagi.
"Kita akan pergi ke suatu tempat. Untuk melakukan bulan madu kita yang tertunda..."
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like koment dan vote
Happy reading❤❤❤