WITH YOU

WITH YOU
Dilema


__ADS_3

Pemakaman Arga di lakukan keesokan harinya. Tak banyak kolega yang hadir, hanya kerabat yang terhitung dekat saja.


Tampak Ginna dan Carlson yang merupakan sahabat Alya dan Arga hadir untuk mengantarkan Arga ke peristirahatannya yang terakhir. Zaya dan Aaron juga hadir dan memberikan support mereka pada Carissa. Lalu beberapa saat sebelum upacara pemakaman di mulai, kedua orang tua angkat Evan pun datang dari Singapura untuk ikut memberikan salam perpisahan untuk besan mereka itu.


Pemakaman di lakukan dalam suasana yang syahdu. Alya menangis pilu dalam pelukan Ginna sambil tak henti memanggil-manggil nama suaminya. Clara dan Carissa juga masih tak bisa menghentikan airmata mereka. Kedua putri Arga itu tersedu sambil saling memeluk satu sama lain.


Arga telah pergi untuk selama-lamanya dan tak akan kembali lagi. Dia pergi dengan membawa banyak kesalahan dan segudang penyesalan ke dalam kuburnya. Dan cerita tetang dirinya di dunia ini pun berakhir sudah.


Dengan meninggalnya Arga, penyidikan terhadap kasus yang kini tengah menjeratnya otomatis berhenti karena tak ada lagi yang akan di adili, tapi tentu saja setiap kerugian yang di sebabkan oleh Arga tetap harus di bayar dengan menggunakan aset-aset yang di tinggalkan Arga. Perusahaan Nugraha pun terancam bangkrut dan harta peninggalan Arga terancam di sita.


Alya hanya bisa pasrah. Sejujurnya dia tidak terlalu merasa sedih karena harus kehilangan harta. Yang membuat hatinya hancur adalah fakta jika sekarang dia sudah di tinggalkan suami yang sangat di cintainya selama ini. Alya tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya setelah ini tanpa Arga.


Dan fakta yang terkuak jika Arga adalah penyebab kematian orang tua Evan tampaknya telah tersebar. Entah mereka mendapat informasi dari mana, tapi yang jelas para pelayat yang hadir tampak prihatin melihat kearah Carissa. Belum lagi Evan yang tak terlihat mendampingi Carissa seperti halnya Dave mendampingi Clara. Hal itu semakin memperkuat asumsi mereka tentang hubungan Evan dan Carissa yang memburuk setelah Evan tahu jika Arga yang telah membuat orang tua kandungnya bangkrut dan meninggal.


Sebagian besar dari mereka bahkan hampir yakin jika Evan akan menceraikan Carissa setelah ini. Sungguh pemikiran yang kejam di saat orang yang bersangkutan sedang sangat berduka.


Selesai pemakaman, Carissa tampak duduk di sebuah bangku di salah satu sudut taman rumahnya. Rumah yang penuh kenangan dirinya bersama sang papa. Tapi tampaknya rumah ini dalam waktu dekat tidak akan menjadi milik keluarganya lagi, karena kemungkinan besar rumah ini akan segera di sita.


Airmata Carissa kembali menetes. Begitu sedih rasanya membayangkan dirinya akan segera kehilangan semua kenangan bersama sang papa di rumahnya ini.


"Carissa..." Tiba-tiba suara lembut terdengar membuyarkan lamunan Carissa. Carissa pun cepat-cepat menghapus airmatanya dan menoleh kearah sumber suara itu.


"Zaya..." Gumam Carissa saat mendapati orang yang sedang menyapanya adalah Zaya, istri Aaron.

__ADS_1


Zaya mendekati Carissa, lalu ikut duduk di sebelahnya. Keduanya sama-sama hening untuk beberapa saat.


"Aku turut berduka cita atas kepergian Papamu." Ujar Zaya akhirnya.


Carissa mengangguk menanggapi.


"Terima kasih..." Jawab Carissa lirih.


"Dimana Kak Evan? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?" Tanya Zaya lagi.


Carissa tak langsung menjawab. Dia menundukkan wajahnya sembari menghela nafas untuk meredam gejolak di dadanya.


"Aku tidak tahu dia di mana. Sejak tadi pagi aku juga tidak melihatnya. Kamu pasti sudah mendengar kabar tentang Papaku yang menyebabkan kedua orang tua kandung Evan meninggal?"


"Iya. Papa sendiri yang mengakui hal itu sebelum beliau meninggal. Hanya saja, Papa tidak menyadari jika orang yang pernah di rugikannya itu adalah orang tua kandung Evan. Hingga Papa mengakuinya semua itu tepat di hadapan Evan."


Carissa terdiam sesaat dan menatap kosong kearah depan.


"Sejak kemarin Evan tidak lagi berbicara padaku. Aku tahu dia pasti merasa terkejut dan marah dengan kenyataan ini. Aku sendiri juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi Evan. Mungkinkah setelah ini dia akan membenciku?"


"Carissa..." Zaya menyentuh punggung tangan Carissa dan mengenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan kehangatan dan memberi kekuatan pada istri Evan itu.


"Saat ini Kak Evan pasti dalam suasana hati yang tidak baik, jadi biarkan saja dia menenangkan diri dulu. Dia adalah orang yang pengertian dan penyayang, jadi aku yakin dia tidak akan membencimu, Carissa. Dia hanya perlu waktu untuk sendirian saja saat ini, setelah tenang dia pasti akan langsung mencarimu." Ujar Zaya lembut sembari mengulas senyuman tipis.

__ADS_1


Carissa melihat Zaya sekilas, lalu mengangguk mengiyakan. Dalam hati dia sungguh berharap semuanya seperti apa yang Zaya katakan.


"Saat ini kalian sedang di uji, jadi bersabarlah. Jika sekarang Kak Evan sedang marah, maka kamu harus bisa menjadi sosok yang mampu meredam amarahnya. Setiap pernikahan akan punya ujiannya masing-masing. Asalkan kalian saling memahami satu sama lain, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Cobalah untuk memahami posisi Kak Evan saat ini." Ujar Zaya lagi.


Lagi-lagi Carissa hanya mengangguk mengiyakan. Dan sekali lagi dia juga setuju dengan kata-kata Zaya. Perlahan dia merasa sedikit tenang setelah mendengar kata-kata Zaya. Hatinya tidak lagi secemas sebelumnya. Carissa pun menoleh kearah Zaya dan berusaha tersenyum.


"Terima kasih, Zaya. Aku akan mengingat kata-katamu." Ujar Carissa tulus.


Zaya juga tersenyum dan mengusap pundak Carissa lembut. Mereka akhirnya kembali membicarakan tentang Evan sebelum akhirnya Zaya dan Aaron pamit untuk pulang.


Sementara itu, di sebuah pemakaman yang letaknya agak di pinggiran kota. Evan duduk sambil melihat kearah dua batu nisan. Matanya tampak memerah dengan wajah yang sayu. Semalaman Evan tak bisa memejamkan matanya, dan pagi-pagi sekali dia pergi ke makan kedua orang tua kandungnya tanpa sedikit pun berniat menghadiri pemakaman Arga.


Evan duduk di depan makam kedua orang tuanya tanpa bergerak sedikit pun. Tak di pedulikannya tubuhnya yang mulai lemas karena tak makan dan minum seharian. Evan seakan kehilangan semangat hidupnya. Kehidupannya yang terasa sempurna belakangan ini tiba-tiba saja jadi hancur berantakan.


Carissa, istri yang sangat di cintainya, bagaimana bisa jika dia adalah putri dari orang yang telah membuat Evan kehilangan segalanya. Ingin sekali Evan berteriak, melampiaskan kemarahannya untuk takdir yang seperti sedang mempermainkannya saat ini.


Evan sungguh tak ingin mendendam, tapi rasa sakit itu terus saja memenuhi rongga dadanya saat mengingat bagaimana dulu dia di tinggalkan kedua orang tuanya. Dan Arga, orang yang bertanggung jawab atas itu semua justru tampil sebagai seorang penyelamat dan menipu Evan selama hampir dua puluh lima tahun lamanya.


Kini Evan bingung dan tak tahu harus bagaimana terhadap Carissa. Dia sungguh merasa dilema.


Bersambung...


Semoga ga bosen buat nungguin kelanjutannya ya zeyenk2 emak...cium dulu lah satu2😙😙😙

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2