WITH YOU

WITH YOU
Tak Ingin Menyesal


__ADS_3

Kedua muda-mudi baru saja bangun dengan keadaan tak mengenakan pakaian sama sekali. Kali ini tubuh keduanya hanya ditutupi dengan selimut yang ada di kamar Raka. Keduanya telah melakukan hubungan terlarang itu, akan tetapi Raka sama sekali tak merasa bersalah karena telah melakukan hal itu dengan Nabila. Baginya, perempuan itu adalah perempuan istimewa untuknya. Apalagi perempuan itu adalah perempuan pertama dan juga itu merupakan pengalaman pertama Nabila yang melakukan hubungan itu dengannya.


Raka membuka matanya dan melihat perempuan yang ada disebelahnya masih tidur dengan begitu nyenyak. Dia langsung menyibak rambut Nabila yang menutupi mata perempuan itu. Semalam tangis Nabila pecah ketika mereka melakukan hal itu. Raka juga sedikit kasihan kepada Nabila, tapi dia tidak bisa berbuat banyak ketika Nabila meminta untuk menetap sampai kapanpun. Maka dari itu dia tidak akan pernah meninggalkan perempuan ini sampai kapanpun.


Air mata yang mengering, terlihat begitu jelas. Perlahan perempuan itu membuka matanya dan menarik selimut agar tubuhnya tertutupi dengan selimut. “Aku udah lihat semuanya,” ucap Raka dengan suara seraknya khas baru bangun.


“Raka, kamu janji nggak bakalan pergi?”


“Harus berapa kali lagi aku bilang kalau aku bakalan tetap di sini sama kamu,” jawab Raka yang saat itu mendekat dan langsung memeluk perempuan itu dengan sangat erat.


Nabila meletakkan tangannya di pipi Raka dan mengelusnya dengan pelan. “Aku lakuin itu karena aku sayang sama kamu,” itulah kata yang keluar dari mulut Nabila. “Agar kamu juga nggak mikir yang nggak-nggak mengenai Fandy. Aku nggak ada perasaan apapun sama dia,” lanjut Nabila. Kali ini Raka percaya dengan ucapan kekasihnya bahwa keduanya tak memiki hubungan apapun lagi.


“Aku tahu, kamu lakuin itu sebagai bukti kalau kamu cinta sama aku. Aku juga nggak bakalan pergi dari kamu setelah ini, Nabila,” kata Raka meyakikan. Karena dia memang menyayangi perempuan ini.


Nabila menarik selimut dan menutupi bibirnya. “Raka, aku nggak mau kenapa-kenapa,”


“Hmm, kamu jangan khawatir tentang hal ini Nabila! Aku bakalan tanggung jawab,”


Nabila seperti perempuan yang begitu menyesal telah memberikan hal yang paling berharga dalam hidupnya kepada Raka. “Aku mau mandi dulu,”


Perempuan itu bangun dari tempat tidur sembari meringis dan menahan sakit dibagian bawahnya. “Kamu mau mandi duluan?” tanya Raka.


“Iya, setelah itu mau bikin sarapan,”


“Iya udah. Kamu duluan,” jawab Raka dengan lembut. Setelah itu Nabila pergi begitu saja. Dia sempat melihat begitu banyak jejak percintaan di leher dan juga dada Nabila akibat perbuatan dirinya semalam yang tak menyentuh satu kali saja. Raka memang tak punya pengalaman mengenai hal itu.


Raka menyingkap selimut tempat Nabila tidur tadi. “Kamu nyerahin perawan kamu buat aku,” ucap Raka pelan dan melihat bercak darah karena percintaan mereka semalam. Jujur saja jika Raka memang sedikit merasa miris dengan semua ini. Tapi sudah terlanjur terjadi. Tidak mungkin dia menyesali apa yang sudah lewat.


Raka meraih ponselnya yang ada diatas meja dan langsung mengisi daya dan bangun dari tempat tidur begitu saja. Raka tak bisa menyalahkan Nabila dengan hal ini. Karena dialah sumber dari masalah besar ini. Ketika dia meraih ponsel Nabila. Ada dua puluh lebih panggilan tak terjawab dari Fandy. Dia tahu bahwa temannya itu sangat mencintai Nabila, tapi dia tetap tidak mau membiarkan perempuan itu jatuh ke tangan temannya sendiri. Karena dia juga sudah terlanjur sayang kepada Nabila.


Saat itu juga, Raka memungut celananya dan langsung memasangnya begitu saja. Beberapa menit kemudian ketika dia sedang bersandar diujung sofa yang ada dikamarnya itu. Nabila keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


“Masih sakit?” tanya Raka dan mendekati perempuan itu dengan pelan.


Perempuan itu menggeleng, ketika melihat mata perempuan itu. Raka melihat bahwa mata perempuan itu merah. Dia yakin bahwa Nabila menangis tadi.


“Kamu nyesel?”


Perempuan itu menunduk dan menggeleng. “Aku nggak bisa nyesel,”


“Nabila, kamu yakin kan sama aku?”


Nabila menganggukkan kepalanya. “Kalau aku ragu sama kamu, nggak mungkin kan kita lakuin hal itu,”


“Yakin sama aku kalau semuanya akan baik-baik saja!”


Raka pun memeluk perempuan itu. Kini dia hanya bisa menguatkan dan meyakinkan perempuan itu dengan apapun yang dia miliki saat ini. “Aku mandi dulu. Setelah itu kita buat sarapan, dan kamu pengin ke mana,”


Perempuan itu mendongakan kepalanya. “Kalau kita jalan-jalan seharian apa kamu nggak keberatan?”


Raka menggelengkan kepalanya. “Nggak bakalan, aku bakalan nemenin kamu ke manapun kamu mau sayang. Aku janji bakalan nemenin kamu pergi,” ucap Raka dan dibalas dengan senyuman oleh Nabila.


“Kamu cari aku!”


“Janji?”


“Iya, lagian ya orang tua kamu kan sudah tahu mengenai hubungan kita. Jadi, nggak ada alasan lagi untuk kita berpisah,” ucapnya.


Hubungan keduanya memang sudah diketahui oleh orang tua Nabila. Raka yang sering mengantar Nabila pulang, dia juga yang sering mengajak perempuan itu pergi ke rumahnya. Bahkan mama Raka juga sangat kenal dengan Nabila.


“Jangan pernah berpikir apapun lagi ya sayang!”


Nabila mengangguk, “Iya, Raka.”

__ADS_1


“Kamu cuman milik aku,”


“Kamu juga milik aku, Raka,”


Pria itu mengangguk dan mencium kening Nabila begitu saja.


Raka pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah dia memerintahkan kekasihnya untuk mengenakan baju terlebih dahulu. Raka memang pria yang begitu romantis, dia juga yang sudah bisa meluluhkan hati gadis itu hingga mau menyerahkan miliknya yang paling berharga di dalam hidupnya.


Ketika dia sudah selesai membersihkan tubuhnya dan berpakaian rapi. Dia mendekati Nabila yang masih duduk dipinggiran ranjang. Seketika Raka memeluk perempuan itu yang langsung membalas pelukannya. Perempuan itu memeluknya tepat diperutnya. “Aku sayang kamu, Raka,” perempuan mana yang tak menjadi sayang ketika sudah melakukan hubungan suami istri saat masih pacaran. Semua itu memang salah. Memang seharusnya Raka tak melakukan itu dengan Nabila. Tapi semua sudah terjadi. Dia tak ingin menyesali semuanya. Dia hanya bisa melanjutkan kisah mereka berdua tanpa ada kesalahan lagi.


Raka mengelus rambut panjang perempuan itu dan yakin jika dia akan menikah dengan Nabila nantinya. Raka tak akan menyesali perbuatannya semalam yang sudah menyentuh Nabila dengan sangat intim. Kali ini dia percaya bahwa Nabila memang sayang kepadanya.


“Raka,”


“Hmmm?”


“Mau nikah kan sama aku?”


“Iya. Kapanpun kamu sanggup. Jadi aku nggak bakalan nolak,”


“Raka, jangan pergi ke manapun. Kalau kamu pergi, lihat saja. Kamu nggak bakalan lihat aku lagi,”


“Kenapa sayang ngomongnya gitu?”


“Iya, aku bakalan pergi dari hidup kamu untuk selamanya kalau kamu pergi dari hidup aku.”


 


 


Hanya itu yang diucapkan oleh Nabila untuk dirinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2