WITH YOU

WITH YOU
Orang Tua Posesif


__ADS_3

"Nyonya Alya, mari kita makan siang dulu." Suara Sonya tiba-tiba terdengar.


Carissa dan Alya sontak menoleh. Ibu mertua Carissa itu sudah muncul dengan membawa nampan berisi makan siang untuk Carissa.


"Carissa, Mama membawakan makan siangmu ke kamar supaya kamu tidak perlu naik turun tangga. Cepatlah makan, sebelum Lily terbangun." Ujar Sonya lagi sambil meletakkan nampan yang dibawanya keatas nakas.


Carissa tersenyum pada Sonya.


"Baik, Ma." Jawab Carissa sambil berlalu ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


"Mari, Nyonya Alya, kita makan siang di ruang makan. Suami saya juga sudah ada di meja makan dan menunggu Anda untuk bergabung." Ajak Sonya lagi.


"Ah, baiklah. Sekali lagi maaf, karena sudah banyak merepotkan." Jawab Alya dengan agak sungkan.


Sonya tersenyum.


"Jangan sungkan seperti itu, Nyonya. Ini juga rumah Carissa, anggap saja seperti rumah sendiri."


Alya ikut tersenyum, meski masih dengan sedikit canggung.


"Baiklah kalau begitu." Gumamnya.


"Carissa, Mama kebawah dulu, ya. " Ujar Alya lagi pada Carissa yang baru keluar dari kamar mandi.


"Setelah makan siang, Mama istirahat saja dulu. Pasti Mama lelah setelah menempuh penerbangan berjam-jam." Carissa menanggapi.


Alya mengangguk mengiyakan.


"Baiklah." Gumamnya lagi.


Alya dan Sonya pun berlalu dari kamar Carissa untuk makan siang di lantai bawah. Carissa memandangi punggung Mamanya hingga menghilang di balik pintu. Meski keadaan Alya sudah terlihat baik, tapi Carissa tahu jika Mama itu masih menyimpan luka dan kesedihan karena kehilangan Papanya. Semoga saja setelah kehadiran cucu-cucunya, Alya bisa kembali merasa kebahagiaan lagi.


Carissa segera menyantap makan siangnya dengan lahap. Perutnya memang sudah keroncongan sejak tadi. Mungkin karena saat ini dia sedang menyusui, sebentar-sebentar dia akan merasa lapar dan melahap makanan apa saja yang tersedia. Masa bodoh dengan berat badan, yang terpenting bagi Carissa saat ini adalah putrinya bisa mendapatkan asupan asi yang cukup.


Tepat setelah Carissa menghabiskan makan siangnya, Lily terbangung dan merengek.


"Oeekk..." Suara tangisan Lily terdengar begitu menyenangkan di telinga Carissa. Tapi meski begitu, Carissa cepat-cepat mengangkat putrinya itu dari tempat tidur.


"Kenapa, Sayang? Lily lapar?" Tanya Carissa sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oeekkk...ooeeekkk...." Lily menjawab dengan rengekan yang semakin keras.


"Oh, oke, Tuan Putri. Mama akan menyusui Lily sekarang." Carissa buru-buru membuka kancing bajunya dan segera menyusui putri kecilnya itu.


Lily menghisap susu dari Mamanya dengan sangat rakus. Tampaknya bayi mungil itu benar-benar kelaparan setelah tertidur agak lama tadi.


"Pelan-pelan saja, Sayang. Tidak ada yang akan meminta itu dari Lily." Gumam Carissa sambil tersenyum melihat Lily yang terlihat begitu lapar dan haus.


Tidak butuh waktu lama bagi Lily untuk membuat pay*dara Carissa terasa kosong, tapi bayi mungil itu masih belum puas dan merengek pelan. Carissa pun kembali menyusui Lily dengan pay* dara yang satunya. Terlepas dari wajahnya yang cantik, nafsu makan Lily tidak seperti bayi perempuan pada umumnya. Putri Carissa itu lebih mirip seperti bayi laki-laki.


"Sekarang sudah kenyang?" Tanya Carissa saat Lily melepaskan sendiri put*ng susu Carissa dari hisapannya.


Lily menjawab dengan menunjukkan mimik wajah yang terlihat sangat lucu.


"Astaga, bagaimana Tuan Putri Mama bisa terlihat sangat menggemaskan seperti ini?" Carissa mencium kedua pipi Lily dengan gemas.


"Siapa yang terlihat sangat menggemaskan?" Suara Evan tiba-tiba terdengar. Tampak suami Carissa itu sudah berdiri di ambang pintu sambil melihat kearah anak dan istrinya.


"Wah, Papa sudah pulang rupanya." Ujar Carissa seolah-olah dia adalah Lily.


Evan tersenyum sambil mendekat pada Carissa.


"Lihatlah putrimu. Kerjanya cuma tidur, menyusu, lalu tidur lagi." Ujar Carissa pada Evan sambil menatap wajah Lily. Carissa tak bisa menahan senyumnya setiap kali melihat wajah lucu itu.


"Begitu dia sudah lebih besar, kamu akan kewalahan dengan apa yang bisa dia lakukan." Jawab Evan.


"Benar. Aku mungkin akan kewalahan dan berharap dia cepat menikah. Tapi saat dia dewasa, lalu menikah dan punya keluarga sendiri, aku akan merasa kesepian dan sangat merindukannya." Gumam Carissa menimpali. Diciumnya Lily sekali lagi.


"Jangan terlalu cepat dewasa, Sayang. Mama belum siap melepasmu hidup bersama orang lain." Ujar Carissa lagi pada Lily.


Sontak Evan tertawa kecil mendengar kata-kata istrinya itu.


"Lily baru lahir beberapa hari yang lalu, dan kamu sudah memusingkan tentang pernikahannya." Ujar Evan disela tawanya.


Mau tidak mau Carissa juga ikut tertawa.


"Terdengar konyol memang. Tapi itulah kenyataannya, aku tidak rela membayangkan suatu hari dia pergi meninggalkan kita."


Evan menghentikan tawanya dan menyentuh pipi Carissa lembut. Dipandangnya istrinya itu dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Jangan terlalu khawatir, kita masih punya banyak waktu. Setidaknya selama dua puluh tahun kedepan dia akan tetap bersama kita. Mungkin nanti aku tidak akan mengizinkan dia berpacaran supaya dia hanya melihat kearah kita saja."


Kali ini Carissa yang menertawakan kata-kata Evan.


"Sepertinya kita terlalu posesif." Gumam Carissa.


"Iya, benar. Jika nanti dia sudah lebih mengerti, dia pasti akan protes keras." Evan menimpali sambil kembali tertawa.


"Haruskah kita tidak mengizinkannya menikah agar dia bisa terus bersama kita?" Carissa kembali mengeluarkan pertanyaan ajaib.


Evan menggelengkan kepalanya sambil masih tertawa.


"Mana boleh begitu. Biarpun berat, kita tetap harus melepaskan dia jika memang nanti dia telah menemukan seseorang yang tepat. Bagaimanapun, ada kebahagiaan yang hanya bisa didapat dari pasangan. Pada akhirnya, peran orang tua hanyalah membantu mengantarkan seorang anak untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya bersama pasangannya. Kelak dia akan bahagia bersama keluarganya sendiri."


Carissa terdiam selama beberapa saat.


"Benar... Suatu hari nanti putri kita akan bahagia bersama keluarganya sendiri, seperti halnya kita saat ini. Aku harap dia tidak terlalu melupakan kita."


Evan tersenyum sambil mengusap lembut pundak Carissa.


"Sudah aku katakan, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal seperti itu saat ini. Lily masih bayi, jadi kita masih punya banyak waktu."


Carissa tersenyum.


"Aku juga sebenarnya merasa lucu. Ternyata seperti ini rasanya menjadi orang tua."


Evan juga ikut tersenyum sambil melihat kearah Lily yang telah kembali terlelap.


"Rasanya benar-benar luar biasa melihat ada makhluk kecil yang mewarisi genetik kita berdua. Ternyata seistimewa ini menjadi orang tua." Ujar Evan menimpali.


"Evan, jangan izinkan Lily berpacaran sebelum dia benar-benar dewasa, ya." Carissa bergumam sekali lagi.


Evan menahan senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tunggu sampai Lily lebih besar dan mengerti, dia pasti akan marah kalau mendengar kita berbicara seperti ini."


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2