WITH YOU

WITH YOU
Membuang Perasaan


__ADS_3

Evan bangkit dari duduknya dengan mata yang agak melebar. Dilihatnya Albern sudah menarik wajahnya dari wajah Lily. Tapi yang membuat dada Evan bergemuruh adalah ekspresi wajah bocah itu. Albern tampak melihat Lily dengan mata yang berbinar dan bibir yang mengulas senyuman tipis. Sesuatu yang sangat jarang ada di wajahnya.


"Oeekkk...oeekk...oeekkk..." Tiba-tiba Lily menangis dengan sangat kencang hingga membuat Albern terkejut.


Evan langsung mendekati kereta bayi Lily dan menggendong putrinya itu.


"Cup..cup...jangan menangis, Sayang. Tenanglah..." Evan menimang Lily sambil berusaha menenangkannya, tapi tangis Lily tak juga berhenti. Sekilas Evan melihat kearah Albern dengan tatapan tak suka. Hal yang sangat tak patut dia lakukan pada bocah yang usianya bahkan belum genap sepuluh tahun.


Albern yang sebelumnya telah terlihat panik karena mendengar tangisan Lily, tampak jadi semakin takut saat melihat tatapan mata Evan padanya tadi. Tanpa sadar bocah itu mundur beberapa langkah dengan raut wajah yang agak tegang.


"Ada apa?" Carissa yang mendengar suara tangisan Lily langsung mendekat. Begitu pula dengan Zaya.


Evan langsung menyerahkan Lily pada Carissa.


"Lily terbangun dan langsung menangis." Jawab Evan.


"Biasanya dia terbangun saat sudah merasa lapar saja." Gumam Carissa sambil menimang Lily. Tangis bayi mungil itu pun mulai mereda.


"Mungkin dia merasa terkejut." Jawab Evan sambil melirik sekilas kearah Albern.


Albern langsung menundukkan kepalanya dan semakin merasa bersalah.


"Kenapa Lily bisa sampai terkejut? Apa Zi yang menganggu Lily?" Tanya Zaya.


Zivanna yang disebut namanya langsung menggeleng dengan cepat.


"Tatak Al tium dedek." Seru Zivanna sambil menunjuk kearah Albern.


Sontak Albern mengangkat wajahnya dengan agak cemas.


"Kakak Al cium adik Lily?" Tanya Zaya pada Zivanna.


Zivanna mengangguk-anggukkan kepalanya.


Zaya tampak tertegun selama beberapa saat. Dilihatnya Evan yang terlihat agak marah, dan Carissa yang menggendong Lily dengan ekspresi sedikit bingung.

__ADS_1


Zaya melangkah mendekati Albern yang terdiam membeku. Putranya itu terlihat cemas seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan.


"Apa benar adik Lily terbangun karena Al menciumnya?" Tanya Zaya pada Albern. Sebenarnya Zaya tidak percaya akan menanyakan hal seperti ini pada Albern. Sejak baru lahir putranya ini sudah mendapatkan didikan sedemikian rupa hingga membuatnya punya tata krama yang sangat baik. Bocah itu juga selalu tenang layaknya orang dewasa. Tidak pernah sekalipun Albern melakukan sesuatu yang bersifat lancang sebelumnya.


Albern melihat kearah Zaya dengan agak takut. Dia tampak seperti sedang menahan nafasnya karena cemas.


"Sayang, apa Al tadi mencium adik Lily?" Tanya Zaya sekali lagi.


Kali ini Albern mengangguk. Ia menatap Zaya seolah sedang memohon untuk tidak dihukum karena kelancangannya itu.


"Kenapa Al melakukan itu?" kali ini suara Zaya terdengar agak marah. Dia sungguh tak habis pikir kenapa putranya ini bisa bersikap lancang saat menghadiri pesta seseorang.


"Al...Al lihat Lily seperti Zi dulu waktu masih bayi...jadi..." Albern tampak berbicara dengan agak terbata.


Zaya kembali tertegun. Melihat gelagat Albern, dia sangat tahu jika bocah ini tidak sedang mengatakan yang sebenarnya.


"Zaya." Carissa mendekat sambil masih menggendong Lily yang kini sudah tak menangis lagi.


"Sudahlah, tidak perlu seperti itu pada Albern. Dia pasti menganggap Lily seperti adiknya sendiri, jadi tidak sungkan untuk mencium Lily meskipun baru pertama kali melihatnya." Ujar Carissa sembari tersenyum pada Zaya. Carissa merasa tidak enak jika Zaya sampai harus memarahi putranya hanya karena membuat Lily terjaga.


Dengan sedikit menunduk, Albern melangkah maju dan berhenti tepat di hadapan Evan. Ia membungkukkan tubuhnya dengan sangat dalam hingga membuat Carissa dan Zaya terpana.


"Om Evan, maafkan saya karena sudah lancang." Ujarnya pada Evan.


Evan terdiam dan tampak tak bisa berkata-kata.


"Sayang, tidak perlu begitu." Carissa membantu Albern menegakkan tubuhnya.


"Lily juga adiknya Al, jadi tidak apa-apa." Ujar Carissa sambil mengulas senyumannya.


"Jangan diulangi lagi." Ujar Evan akhirnya.


Carissa sedikit melebarkan matanya dan melihat kearah Evan dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin suaminya ini bisa berkata seperti itu pada anak dari seseorang yang telah dia anggap sebagai adik sendiri.


Albern terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Saya berjanji tidak akan bersikap lancang lagi pada Lily." Albern membungkukkan badannya sekali lagi pada Evan, lalu kembali mendekat pada Zaya.


Zaya masih tertegun dan terlihat masih agak sulit mencerna apa yang baru saja terjadi. Putranya tiba-tiba mencium anak Evan yang masih bayi, dan Evan terlihat marah sampai Albern harus meminta maaf padanya. Mendadak dia jadi merasa tidak nyaman dibuatnya.


"Kak Evan, saya minta maaf atas sikap Albern hari ini. Sepertinya setelah ini saya harus mendidiknya dengan lebih serius lagi." Ujar Zaya dengan nada menyesal.


"Sudahlah, tidak apa-apa." Ujar Evan akhirnya. Dia mulai menyadari jika reaksinya terhadap Albern tadi sudah agak berlebihan. Evan sediri tidak mengerti kenapa dia sampai merasa marah melihat Albern mencium Lily. Bukankah yang dicium juga hanya pipinya? Jadi masih dalam batas wajar, kan?


"Mama." Albern menyentuh lengan Zaya.


"Bisakah kita sekarang kembali ke hotel? Al merasa tidak enak badan." Ujar Albern dengan nada memohon.


Zaya kembali melihat kearah Albern. Ia menyadari jika Albern sedang tidak berkata jujur.


"Kembali? Bukankah kalian baru sampai?" Tanya Carissa.


"Al ingin istirahat, Ma..." Kali ini Albern terlihat sangat memohon untuk segera di bawa pergi dari sana.


Zaya akhirnya mengulas senyumnya pada Albern.


"Baiklah, kita akan langsung kembali ke hotel setelah ini." Ujar Zaya.


Albern terlihat lega. Setelah berpamitan pada orang tua Evan, dan sempat menyapa Mama Carissa juga sebentar, Zaya pun pamit undur diri pada Evan dan Carissa.


"Aku sungguh merasa tidak enak kamu langsung pergi seperti ini." Ujar Carissa.


"Tidak perlu merasa seperti itu. Tampaknya Albern memang butuh istirahat. Mungkin aku membuatnya belajar terlalu banyak akhir-akhir ini." Balas Zaya.


Carissa pun hanya bisa pasrah menatap kepergian Zaya bersama kedua anaknya. Sebelum masuk kedalam mobil, Albern sempat menoleh dan melihat kearah bayi mungil yang saat ini ada dalam gendongan Carissa. Entah perasaan aneh apa yang membuat Albern tanpa sadar sampai mencium pipi bayi mungil itu tadi. Tapi jelas bukan karena Albern menganggapnya sama seperti Zivanna, adiknya.


Tampaknya dimasa depan Albern harus membuang jauh-jauh perasaan apapun yang ia rasakan terhadap bayi mungil itu, jika kelak dia tak ingin mendapatkan masalah seperti halnya hari ini.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2