
"Carissa." Suara seseorang membuyarkan lamunan Carissa. Cepat-cepat dia menghapus airmata yang membasahi pipinya, lalu menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya tadi.
"Hai, Ge." Carissa melambaikan tangannya dan memasang wajah ceria pada seorang gadis yang saat ini tengah berjalan menghampirinya.
Geraldyn, seorang gadis dewasa berusia awal tiga puluhan, yang merupakan mantan manajer Carissa sewaktu dia menjadi seorang pianis dulu. Baru-baru ini Carissa beberapa kali mendapat tawaran untuk kembali bergabung di manajemen yang menaunginya selama menjadi seorang pianis. Dan saat ini Carissa membuat janji bertemu dengan Geraldyn untuk menanyakan apakah tawaran tempo hari masih berlaku untuknya.
"Wah, aku sangat kaget saat kamu menelfon dan mengajak bertemu. Aku kira cuma prank." Geraldyn duduk di hadapan Carissa sambil tertawa kecil. Dia terlihat senang karena Carissa mengajaknya bertemu lagi.
"Mocha latte dan strawberry cheese cake?" Tanya Carissa pada Geraldyn. Sontak gadis itu melebarkan matanya sambil kembali terkekeh.
"Omo..., kamu masih ingat rupanya. Kukira kamu sudah lupa denganku, tapi ternyata kamu masih ingat kopi kesukaanku. Aku jadi terharu, Carissa." Geraldyn berekspresi seolah sedang menangis haru.
Mau tak mau Carissa mencebikkan bibirnya. Geraldyn ternyata masih suka lebay, dan juga masih menjadi penggemar drama Korea, sama seperti saat masih bekerja bersama Carissa.
"Bagaimana aku tidak ingat, setiap kali datang ke kafe pesanan kamu tidak pernah berubah, selalu mocha latte dan strawberry cheese cake." Ujar Carissa.
Geraldyn kembali tertawa renyah, lalu memesan apa yang di sebut Carissa tadi pada pelayan kafe. Setelah pesanan datang, barulah mereka mulai berbicara serius.
"Jadi, apa yang sebenarnya membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku? Tidak mungkin hanya karena kamu kangen, kan?" Tanya Geraldyn kemudian.
Carissa tersenyum tipis, lalu menyesap sedikit kopi di hadapannya.
"Aku ingin tahu, apa tawaran manajemen yang memintaku untuk kembali bergabung masih berlaku." Jawab Carissa to the point.
Geraldiyn tampak menautkan kedua alisnya. Dia agak tidak mengerti apa yang sedang Carissa bicarakan saat ini. Mungkinkah Carissa ingin kembali menjadi seorang pianis? Tapi bukankah terakhir kali Carissa masih menolak dengan tegas tawaran dari pimpinan manajemen yang memintanya untuk kembali bergabung dan berkarir lagi sebagai seorang pianis. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba bertanya tentang tawaran itu?
"Aku ingin kembali bergabung dan menjadi pianis lagi." Ujar Carissa lagi seakan ingin menjawab pertanyaan dalam benak Geraldyn.
Sontak Geraldyn terbelalak mendengarnya.
"Apa?" Tanya Geraldyn tak percaya.
__ADS_1
"Oh, ayolah, Ge. Tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu. Aku pernah menjadi pianis terbaik, apa salahnya kalau aku ingin bermain piano lagi." Ujar Carissa sambil membuang pandangannya kearah lain. Geraldyn masih saja suka mengeluarkan ekspresi yang berlebihan seperti dulu. Terkadang Carissa merasa kesal di buatnya.
"Oke, sekarang cubit aku dulu. Rasanya aku seperti sedang bermimpi. Dua bulan yang lalu kamu masih bersikeras ingin menjadi ibu rumah tangga saja dan mengandalkan suamimu sepenuhnya. Sekarang apa yang terjadi? Kenapa kamu berubah pikiran? Jangan bilang kalau suamimu tiba-tiba bangkrut dan kamu jadi jatuh miskin?" Sekali lagi Geraldyn bereaksi berlebihan.
Carissa terdiam sesaat, sebelum akhirnya menghela nafas dalam.
"Anggap saja begitu. Sekarang aku miskin dan tak punya pemasukan, makanya ingin menjadi pianis lagi." Jawab Carissa akhirnya.
Geraldyn semakin membeliakkan matanya.
"Eh, kok sungguhan? Aku tadi, kan, cuma bercanda." Ujar Geraldyn kaget.
Carissa menghela nafasnya sekali lagi.
"Kamu pasti dengar berita meninggalnya Papaku dan apa yang terjadi pada perusahaan keluarga kami. Sekarang tidak ada yang tersisa. Aku hanya punya sedikit tabungan untuk bertahan hidup dan sangat memerlukan pekerjaan. Karena keahlianku adalah bermain piano, aku pikir akan lebih baik jika aku kembali bermain piano." Ujar Carissa lagi.
Geraldyn kembali menautkan kedua alisnya.
Carissa terdiam sesaat.
"Saat ini aku tidak bersama suamiku lagi, tapi aku belum bisa menceritakan secara gamblang tentang permasalahan rumah tanggaku. Tapi yang pasti aku ingin kembali menjadi seorang pianis. Kamu hanya perlu menjawab apakah tawaran tempo hari masih berlaku atau tidak?"
Geraldyn tampak agak tertegun mendengar penuturan Carissa tadi. Kemudian menghela nafasnya.
"Untuk masalah tawaran bergabung di manajemen, tentu saja masih berlaku. Para penggemar setiamu sudah sangat menantikan kamu bermain piano lagi. Tapi..." Geraldyn tidak menyelesaikan kata-katanya.
"Tapi apa?" Tanya Carissa.
"Kamu berpisah dari suamimu, padahal pernikahan kalian belum terlalu lama. Aku jadi sedih mendengarnya." Gumam Geraldyn dengan nada lirih.
Carissa terdiam dan tak bisa mengatakan apa-apa. Apakah saat ini dia sudah terhitung berpisah dengan Evan? Entahlah. Meskipun belum bercerai, yang pasti sekarang Carissa telah meninggalkan Evan dan mungkin tidak akan pernah kembali pada suaminya itu lagi.
__ADS_1
"Pada saat mendengar berita kamu akan menikah, terus terang aku merasa sangat senang. Kamu akhirnya bisa melupakan Tuan Aaron dan menikah dengan lelaki lain. Aku pikir kamu sudah bisa melupakan Tuan Aaron." Ujar Geraldyn lagi masih dengan nada lirihnya.
Carissa masih terdiam. Dia jadi teringat bagaimana dulu dia menangis di pelukan Geraldyn saat mendengar berita pernikahan Aaron. Saat itu Carissa baru saja memulai karirnya sebagai seorang pianis profesional dan akan menggelar konser pertamanya. Berita pernikahan Aaron membuatnya sangat terpukul hingga hampir saja mengacaukan segalanya. Untung saja saat itu pihak manajemen menghadirkan sosok Geraldyn yang berhasil menghibur Carissa dan membuat konser pertama Carissa sukses. Lalu setelah itu, Geraldyn pun di angkat menjadi manajer Carissa hingga akhirnya Carissa berhasil mendapatkan penghargaan sebagai pianis terbaik.
Carissa tersenyum mengingat semua itu.
"Jangan bilang kamu berpikir jika aku tidak bersama suamiku lagi karena masih menginginkan Aaron." Ujar Carissa sambil sedikit mendelik.
Geraldyn menatap Carissa dengan raut wajah yang sulit di lukiskan.
"Bukan seperti itu, ya?" Tanyanya.
Carissa memutar bola matanya dengan malas.
"Ah, sudahlah. Aaron itu cuma masa lalu. Aku juga kadang heran kenapa dulu bisa sangat menyukai dia. Sekarang lebih baik kita membicarakan yang lain saja." Ujar Carissa mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, seandainya manajemen akan langsung mengatur kontrak untukku, aku mungkin bisa benar-benar kembali berkarir beberapa bulan lagi. Saat ini mungkin aku hanya bisa mengisi acara-acara tertentu saja."
Geraldyn tampak mencerna apa yang di katakan Carissa.
"Itu bisa di bicarakan lagi. Mengingat banyak yang merindukanmu, sepertinya tidak terlalu sulit untuk membuat kesepakatan dengan pihak manajemen. Aku yakin mereka akan memenuhi apapun yang kamu minta, asalkan kamu mau kembali." Jawab Geraldyn.
Carissa tersenyum dan mengangguk. Tanpa sadar dia mengusap perutnya dengan lembut. Demi calon anaknya ini, Carissa akan berjuang meski harus melakukan semuanya dari awal lagi.
Dia akan berusaha sekuat tenaganya untuk kembali mengepakkan sayap agar bisa membawa anaknya kelak untuk terbang tinggi.
Bersambung...
Yang kangen Evan, next part kita liat gimana keadaannya.
Tetep like, koment dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤