WITH YOU

WITH YOU
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Setelah mengganti penampilannya menjadi lebih biasa dan mendapatkan pinjaman mobil dari salah satu pegawainya, Jonathan akhirnya bisa melihat senyum puas di bibir Geraldyn. Mereka berdua lalu berangkat menuju ke kediaman orang tua Geraldyn tanpa diantar oleh sopir.


"Ada sedikit yang kurang pas." Geraldyn tampak memperhatikan Jonathan yang sedang fokus menyetir.


Jonathan menoleh sekilas dan kepalanya refleks menghindar saat Geraldyn akan mengacak-acak rambutnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya tidak senang.


"Rambutmu terlalu rapi, aku benahi sedikit supaya terlihat lebih manusiawi." Geraldyn masih berusaha untuk meraih kepala Jonathan.


"Tidak! Aku perlu waktu lebih dari satu jam untuk menata rambutku. Jangan coba-coba menyentuhnya!" Ujar Jonathan dengan lantang. Tampaknya dia kelepasan bicara tentang rambutnya.


"Benarkah?" Tanya Geraldyn dengan ekspresi terkejut.


Jonathan langsung terdiam dan kembali fokus melihat kearah depan. Tiba-tiba wajahnya jadi agak memerah karena tanpa sengaja telah mengakui hal konyol yang dia lakukan.


"Ternyata kamu cukup bersemangat untuk bertemu dengan calon mertua, ya?" Seloroh Geraldyn sambil agak menahan tawa.


Jonathan bergeming. Dia tampak diam dan terlihat tak berminat untuk menanggapi selorohan Geraldyn. Andai saja Geraldyn tahu jika sejak siang tadi Jonathan sudah banyak melakukan hal tak masuk akal karena akan bertemu dengan orang tuanya, pasti Geraldyn tak akan berhenti tertawa.


Melihat Jonathan yang lebih pendiam dari biasanya, Geraldyn akhirnya tidak menggoda lelaki itu lagi. Keduanya akhirnya sama-sama hening sampai tiba di tempat tujuan.


"Ini rumah orang tuamu?" Tanya Jonathan saat melihat rumah sederhana yang ada di hadapannya kini.


Geraldyn mengangguk.


"Sudah aku bilang, orang tuaku adalah orang yang sederhana." Jawab Geraldyn.


"Ayo." Ajaknya kemudian sambil melangkah memasuki pekarangan rumah terlebih dahulu. Jonathan pun mengikuti gadis itu dari belakang.


Geraldyn dan Jonathan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang makan, di sana terlihat seorang lelaki paruh baya sedang duduk menghadap meja makan, serta seorang perempuan paruh baya yang tampak sedang menghidangkan makanan di atas meja makan.


"Ayah, Ibu." Geraldyn menyapa mereka berdua.


"Gege, kamu sudah datang?" Lelaki paruh baya yang disapa ayah itu tersenyum sambil melihat kearah Geraldyn. Dan ternyata dia duduk menghadap ke meja makan dengan menggunakan kursi roda.

__ADS_1


"Kamu terlambat, Ge. Supnya jadi dingin karena kami terlalu lama menunggumu. Ibu sampai harus memanaskannya kembali." Kali ini ibu Geraldyn yang berbicara.


"Maaf, Bu. Carissa sudah kembali, jadi sekarang aku agak sibuk." Ujar Geraldyn sambil memeluk ibunya. Setelah beberapa saat, ia juga beralih pada ayahnya.


"Bagaimana kabar Ayah?" Tanya Geraldyn.


"Seperti yang kamu lihat, Ayah sehat." Jawab ayah Geraldyn sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong, siapa yang kamu bawa ini?" Ayah Geraldyn melihat kearah Jonathan yang seakan terlupakan oleh Geraldyn.


Geraldyn menoleh dan kembali mendekati Jonathan.


"Ayah, Ibu, kenalkan ini Jonathan. Pacarku..." Geraldyn memperkenalkan Jonathan dengan agak malu-malu.


Ibu Geraldyn tersenyum pada Jonathan.


"Jadi ini pacarmu yang kamu bilang tempo hari? Ibu kira dia sejenis lelaki pemakai lipstik seperti yang kamu gandrungi selama ini." Gumamnya.


Jonathan terlihat agak bingung dengan apa yang di dengarnya tadi. Tidak terpikirkan olehnya jika yang disebut oleh ibu Geraldyn itu adalah para aktor korea dan personil boyband yang disukai Geraldyn sejak dulu.


"H-hai, Paman, Tante. Saya Jonathan." Jonathan tampak berbicara dengan sedikit terbata karena agak terkejut.


Ayah Geraldyn tersenyum menanggapi.


"Kami orang tua Geraldyn. Aku senang akhirnya putriku membawa pacarnya untuk bertemu dengan kami. Kami sudah lama menantikan peristiwa bersejarah ini." Ujar Ayah Geraldyn menanggapi.


"Ayah berlebihan sekali." Geraldyn terlihat malu dan salah tingkah.


"Silahkan duduk, Jonathan. Mari kita makan malam dulu, baru kemudian mengobrol dengan santai." Ibu Geraldyn menyela.


Jonathan dan Geraldyn pun duduk di hadapan orang tua Geraldyn. Mereka akhirnya makan malam dengan diselingi pembicaraan ringan.


Setelah selesai makan malam, mereka lalu melanjutkan obrolan di ruang keluarga.


"Gege, ayo ikut Ibu ke kamar. Beberapa hari yang lalu Ibu membeli sesuatu untukmu." Ibu Geraldyn memberi isyarat pada Geraldyn untuk ikut dengannya.

__ADS_1


Geraldyn menurut. Dia melangkah mengikuti Ibunya, meninggalkan Jonathan berdua saja dengan ayahnya. Entah apa yang akan ayahnya sampaikan pada Jonathan, Geraldyn harap lelaki itu bisa mengatasinya.


"Sudah lama kenal dengan Geraldyn?" Tanya ayah Geraldyn setelah terdiam agak lama.


"Sudah beberapa bulan ini, Tuan...eh, maksud saya Paman." Jonathan tampak menjawab dengan agak gugup. Entah kenapa dia bisa merasa gugup berhadapan dengan lelaki di atas kursi roda ini. Bahkan dulu, saat melamar Carissa pada seorang Arga Nugraha saja dia benar-benar merasa sangat percaya diri. Tak tahu kemana perginya rasa percaya diri itu sekarang.


Ayah Geraldyn tertawa kecil.


"Santai saja, Jonathan. Aku tidak akan menekan lelaki pertama yang dibawa putriku pulang ke rumah ini." Ujarnya kemudian.


Jonathan tertegun mendengarnya. Ternyata dia adalah satu-satunya lelaki yang dikenalkan Geraldyn pada orang tuanya. Tiba-tiba saja hatinya jadi berbunga.


"Putriku, Geraldyn. Dia sudah sangat bekerja keras sejak kecil..." Suara ayah Geraldyn kembali terdengar. Tampaknya lelaki paruh baya itu hendak bercerita tentang Geradyn.


"Dia adalah anak sulung. Saat umurnya baru delapan tahun, ibunya sakit-sakitan setelah melahirkan putri ketiga kami. Sejak saat itu dia membantuku merawat ibu dan adik-adiknya sambil bersekolah. Dia mengambil tanggung jawab yang harusnya di kerjakan oleh ibunya hingga tidak pernah bermain bersama teman-teman sebayanya."


Ayah Geraldyn terdiam sesaat, kemudian kembali melanjutkan ceritanya.


"Kemudian saat remaja, kesehatan ibunya sudah berangsur pulih. Akhirnya dia bisa menjalani kehidupan seperti remaja pada umumnya, tapi lalu aku mengalami kecelakaan dan harus menghabiskan hari-hariku di atas kursi roda seperti ini. Sekali lagi, Geraldyn harus mengambil tanggung jawab orang tuanya. Kali ini dia harus menggantikanku menjadi tulang punggung keluarga. Dia kuliah sambil bekerja untuk membantu ibunya membiayai sekolah adik-adiknya. Hingga akhirnya dia mendapatkan pekerjaannya yang sekarang dan kehidupan kami sekeluarga juga perlahan membaik."


Ayah Geraldyn tampak menghela nafasnya.


"Aku seringkali merasa sedih melihat dia bekerja keras siang dan malam demi untuk orang tua dan adik-adiknya. Dia bahkan tidak pernah memikirkan kehidupannya sendiri. Dia telah mengantarkan kedua adiknya menikah dan punya keluarga masing-masing, tapi dia sendiri justru tak terpikirkan untuk berkeluarga. Karena hal itu, aku seringkali merasa bersalah padanya. Jika saja dia punya ayah yang bisa diandalkan, mungkin hidupnya akan lebih bahagia..."


Mata ayah Geraldyn tampak mulai berkaca-kaca.


"Jonathan..." Lelaki paruh baya itu menoleh kearah Jonathan yang sedari tadi mematung mendengar ceritanya.


"Jangan sakiti Geraldyn. Jika kamu tidak benar-benar menyayanginya, tinggalkan saja dia sekarang, sebelum dia benar-benar menggantungkan hidupnya padamu..."


Bersambung...


Kalo banyak yang vote, emak bakal kebut satu part lagi.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2