WITH YOU

WITH YOU
Dia Bertanggujawab


__ADS_3

Adelia diantar ke kamar yang pernah dihuninya selama belasan tahun dan nanti dia akan kembali lagi ke rumah suaminya. Itu karena permintaan papanya untuk memintanya menginap di rumahnya. Ketika dia masuk ke kamar, Adelia merasa terharu ketika dia masuk lagi ke sana.


Devan yang masih ada di bawah bersama dengan papanya. Sedangkan kali ini Adelia bersama dengan mamanya ke kamar. Devan bicara dengan sang nenek dan juga papanya di bawah. Entah itu adalah urusan mereka. Mungkin papanya akan meminta untuk menjaga dirinya dan juga anaknya nanti. Adelia tahu bagaimana sifat papanya yang memang keras kepala. Tapi dia juga tahu bahwa papanya itu sangat baik.


“Adel, Mama mau ngomong sama kamu,”


Adelia yang perlahan membuka lemarinya terkejut ketika melihat barang-barangnya kosong dan tidak ada pakaian sama sekali. Dia langsung berekspresi sendu saat dia melihat tak ada apa-apa di lemari itu.


Adelia yang melihat mamanya suduk dipinggiran ranjang langsung menghampiri mamanya ketika dia sudah memasukkan pakaian yang dibawa tadi dari rumah. Devan sengaja memintanya membawa pakaian karena barangkali nanti ada kejadian tak diinginkan. Tapi justru mereka berdua diminta menginap oleh papa Adelia.


Adelia langsung duduk dipinggir ranjang. “Tidur di sini, nak!” perintah mamanya. Adelia pun menuruti perintah mamanya dan langsung menjadikan paha mamanya sebagai bantalan.


Barangkali mamanya akan membahas mengenai pernikahannya dengan Devan yang berjalan lancar atau tidak. Tapi dilihat dari ekspresi khawatir yang ditunjukkan mamanya tadi, Adelia bisa membaca raut wajah mamanya ketika dia baru saja datang.


“Gimana?”


“Gimana apanya, Ma?”


“Gimana kamu sama Devan,”


Benar seperti yang ditebak oleh Adelia, mamanya benar-benar menanyakan tentang rumah tangganya dengan Devan. tapi, Adelia tidak munafik. Dia sudah mencintai pria itu. Sekalipun terbilang masih awal, tapi dia sudah nyaman dengan suaminya. Sekalipun Devan adalah pria yang paling menyebalkan yang pernah dia kenal. Bahkan romantisnya Farrel kalah oleh Devan jika pria itu menampilkan sisi lembutnya. Apapun yang dilakukan oleh Devan pasti disukai oleh Adelia.


“Ma, Mama jangan khawatir tentang aku sama Devan. Jujur, awalnya semuanya begitu canggung, Ma. Tapi lama kelamaan Devan itu ternyata baik banget,”


“Dia nggak pernah marahin kamu?”


“Jangan marah, Ma. Masakan aku nggak enak aja dia tetap makan, dan justru mengelak kalau itu sangat enak. Padahal aku ngerasa ada yang kurang. Dia nggak pernah ngeluh, Ma. Devan itu baik banget, setiap pagi juga kalau aku sering mual, Devan nggak bolehin aku siapin sarapan buat dia. Maka dari itu dia yang akan buat sendiri, tentang pekerjaan rumah juga aku bagi tugas,”


“Kalian nggak ada asisten?”


“Nggak, Ma. Rumahnya sederhana. Aku masih bisa lakuin semuanya kok,”

__ADS_1


“Maksud kamu, kamu hidup kekurangan?”


“Nggak, Ma. Aku sama Devan nggak pernah kekurangan,”


“Tadi kamu bilang rumahnya sederhana,”


“Iya sederhana bukan berarti hidup juga kekurangan, kan? Ma, bilang sama papa juga kalau sebenarnya Devan ninggalin orang tuanya demi aku sama anak aku,”


Fania yang merasa miris dengan ucapan anaknya mengenai Devan meninggalkan orang tuanya dan memilih Adelia. “Maksud kamu? Kalian nggak direstui?”


“Apa yang aku rasain sama Devan itu sama, Ma. Papa sama Mama tolak aku, begitupun juga aku yang ditolak oleh keluarga besar Devan. kecuali tantenya, tantenya itu baik baik. Devan juga sekarang kerja sama omnya,”


“Bukannya Devan dulu waktu kemari bilang kalau dia punya perusahaan?”


“Semuanya diambil sama orang tuanya, Ma. Bahkan sekarang Devan nggak mau ambil apapun dari orang tuanya. Makanya waktu disuruh milih, dia pilih perusahaan atau aku. Dia langsung ngajak aku pindah dan nggak mau nikmati apapun hasil dari orang tuanya,”


Fania bersyukur jika memang Devan seperti apa yang dikatakan oleh anaknya. Fania takut jika anaknya justru kenapa-kenapa. Apalagi sekarang ini Adelia sedang hamil.


“Mengenai anak kamu?”


“Tujuh bulanan juga?”


“Sekalian sih katanya,”


“Adel, kamu tahu kan kalau pernikahan itu nggak seperti apa yang kamu bayangkan dulu?


adelia mendongakan kepalanya sejenak. “Ma, jika memang itu sebuah kesalahan. Aku minta maaf sama Mama. Aku sama Devan sudah sepakat buat nebus kesalahan ini pada Tuhan. Aku tahu kalau aku salah sama dia, tapi Mama jangan pernah khawatir. Aku juga tahu diri, Ma kalau aku banyak dosa. Tapi semuanya udah terlanjur. Aku juga nikah sama Devan karena keadaan, tapi sekarang beda Ma. Aku udah terlanjur sayang sama dia,”


“Bagaimana sama perasaan Mama yang waktu itu kamu sakiti? Kamu nggak pulang,” isak mamanya.


Adelia langsung bangun dari tempat tidurnya ketika itu dan langsung memeluk sang mama. “Ma, aku tahu kalau aku salah. Tapi bisa kan kalau kita tetap jadi anak dan mama? Mama nggak benci sama aku seperti aku yang nggak pernah bisa lupain mama sama Papa selama berada di sana. bahkan aku sering maksa Devan untuk pulang. Tapi dia bilang sabar dan sabar. Sampai pada hari ini dia berani ngajakin aku pulang. Yang harus Mama hargai adalah, aku sama dia sampai buang rasa malu ketika di hina sama Mama dan juga Papa waktu itu. Kami berdua tebal muka dihadapan kalian karena perasaan aku, Ma. Devan apalagi, aku yakin nggak semua laki-laki mau berusaha seperti apa yang dilakukan oleh Devan,”

__ADS_1


“Mama tahu, tapi kamu tahu kan kalau kamu salah karena apa yang kamu lakukan justru buat Mama sedih. Mama pengin ketemu kamu, tapi Papa ancam mau pisah sama Mama kalau Mama sampai cari kamu,”


Adelia menunduk, “Maaf kalau Adelia buat masalah sampai sebesar itu, Ma.”


“Adel, sesakit apapun perasaan Mama. Mama tetap berusaha terima kamu sama Devan. kamu lihat apa yang dilakukan Papa? Papa juga berusaha nerima Devan sekalipun omongannya seperti itu. Tapi percayalah kalau Mama sama Papa sedang berusaha merangkul kalian berdua. Karena papa dan juga mama nggak mau buang kamu. Bagaimanapun juga kamu adalah anak Mama dan Papa,”


“Terima kasih sebelumnya, Ma,”


“Yang penting anak mama bahagia, itu saja sudah cukup Adelia. Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa,”


“Iya, Ma. Pasti Adeli baik-baik aja,”


“Adel, kamu serius Devan tetap berusaha untuk kamu?”


“Ma, Devan buat tabungan khusus buat aku sama anak aku. Devan yang awalnya cuek, tapi sebenarnya dia itu baik, Ma. Bahkan dia rela malam-malam cari makanan yang aku inginkan,”


“Mama harap Devan tetap seperti itu. Nanti kalau ada tempat kosong di kantor, Mama usahakan ngomong sama Papa,”


“Ma, Devan nggak bakalan mau. Dia tipe yang mau berusaha sendiri tanpa mau bebani orang lain,”


“Orang tua kamu sendiri kamu bilang orang lain?”


“Bukan gitu, Ma. Tapi kerja di perusahan Om aja Devan mikir-mikir dan pernah bilang sama aku kalau dia mau cari yang lain. Tapi karena itu paksaan dari Om. Akhirnya Devan tetap kerja di sana. mama jangan khawatir, aku nggak kekurangan apapun kok, Mama jangan khawatir. Gaji Devan juga banyak, Ma,”


“Mama nggak mau kamu hidup menderita di sana. Sedangkan di sini kamu justru hidup enak,”


 


 


“Rotasi kehidupan, Ma. Devan juga hidupnya mewah kok sebelum sama aku, tapi karena dia milih aku, jadi dia berusaha sendiri untuk aku dan calon anak kami,” jelas Adelia agar tidak menimbulkan kekhawatiran kepada sang mama. Sesungguhnya Adelia bangga terhadap Devan yang meninggalkan semuanya hanya untuk mempertahankan dirinya dan juga anaknya.

__ADS_1


 


**Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya.


__ADS_2