
"Evan!!! Sakiittt!!!!" Carissa mencengkram kerah baju yang Evan kenakan sambil menjerit kesakitan. Peluh dan airmatanya mengalir bersamaan dan bercampur menjadi satu. Sudah satu jam lebih dia merasakan kontraksi sejak kedatangannya ke rumah sakit. Semakin lama rasa sakitnya semakin intens. Carissa benar-benar semakin tak bisa menahannya lagi.
"Tahan sebentar lagi, Sayang. Tidak lama lagi anak kita akan segera lahir." Evan menyeka keringat yang membasahi dahi Carissa sambil berusaha menenangkan.
"Sakiit.... Arrghhh.... Aku tidak kuat lagi, Evan...!!! Sakit sekali...Huu...huu..." Jeritan bercampur dengan tangisan Carissa menggema memenuhi ruang bersalin.
"Sedikit lagi pembukaannya akan lengkap, Nyonya. Bayi Anda akan lahir setelah itu. Anda pasti bisa melewatinya." Dokter Grace juga memberikan semangat.
Carissa terus menjerit tertahan. Nafasnya memburu bersamaan dengan peluhnya yang kembali mengalir membasahi dahinya.
"Aaarrgghh....sakiiittt...." Tangis Carissa terdengar sangat memilukan.
"Tahan sedikit lagi, Sayang. Kamu adalah perempuan yang kuat, kamu pasti bisa mengatasi rasa sakitnya. Sedikit lagi anak kita akan lahir. Jangan menyerah." Evan menggenggam tangan Carissa dan terus menyeka keringat di dahinya.
"Aku tidak kuat lagi....aku benar-benar tidak kuat lagi...huu..uu..." Carissa terus menangis.
"Kamu kuat, kamu pasti bisa. Sudah tinggal sedikit lagi, kamu pasti bisa, Sayang." Evan terus menyemangati Carissa.
"Aaarrgghh...Evan!!!" Tangis Carissa semakin menjadi. Kali ini bukan hanya kerah baju Evan yang ditariknya, tapi rambut suaminya itu juga tak lepas dari jambakan tangannya.
"Saakiiittt....!!!" Semakin keras Carissa menjerit, semakin kuat pula cengkraman tangannya pada rambut Evan, hingga suaminya itu tampak sedikit meringis karena menahan sakit. Dokter Grace yang melihat hal itu agak membeliakkan matanya.
"Nyonya, maaf, Anda menarik..." Dokter Grace ingin mengingatkan Carissa jika saat ini dia sedang menarik kuat rambut Evan, tapi Evan langsung memberi isyarat agar Dokter Grace tidak melanjutkan kata-katanya.
"Berjuanglah sebentar lagi, Sayang. Setelah ini kita akan segera melihat anak kita lahir ke dunia. Aku tahu rasanya sangat sakit, maaf karena kamu harus merasakannya sendirian." Evan menciumi kening Carissa berulangkali.
"Evan...Hiks...hiks..." Carissa menangis tersedu-sedu.
"Ya, Sayang."
"Kenapa rasanya sakit sekali? Rasanya aku seperti mau mati...hiks...hiks..." Ujar Carissa disela tangisannya.
"Ssttt...jangan berkata seperti itu. Melahirkan memang sakit, itulah sebabnya seorang anak harus berbakti pada ibunya. Kelak aku akan menghukum anak kita dengan kedua tanganku sendiri jika dia sampai tak mematuhimu." Ujar Evan dengan lembut.
Carissa terlihat agak tenang selama beberapa saat. Tapi sejurus kemudian raut wajahnya berubah lagi.
"Aaarrggghhh!!!! Sakittt, Evan, Sakiiiittt!!!!" Jeritannya lebih kuat dari yang terakhir, dan cengkramannya pada rambut Evan juga semakin kuat. Bahkan tanpa sadar Evan sampai meringis sambil memicingkan satu matanya karena menahan sakit.
"Sakiiittt....." Tangis Carissa terdengar semakin memilukan.
Dokter Grace memeriksa kembali pembukaan Carissa. Tanpa sadar Carissa sedikit mengejan.
__ADS_1
"Ditahan dulu, Nyonya. Jangan mengejan dulu. Ini baru pembukaan delapan. Kita harus menunggu pembukaan lengkap dulu baru boleh mengejan." Ujar Dokter Grace mengingatkan.
"Itu datang sendiri. Aku tidak sengaja...Aarrrgghhh..." Carissa tampak menahan rasa sakitnya sekuat tenaga.
"Ya, keinginan untuk mengejan memang datang dengan sendirinya, tapi Anda harus menahannya dulu sebelum instruksi dari saya."
Carissa tampak memejamkan matanya sesaat sambil menahan sakit. Nafasnya terlihat telah semakin memburu.
"Saya tidak kuat lagi, Dokter...!!!! Cepat keluarkan dia!!! Aaarrggghhh!!!!" Carissa berteriak dengan nada putus asa. Sumpah demi apapun, rasa sakitnya benar-benar sudah tak bisa ditoleransi lagi. Mulai dari perut, punggung sampai ke paha Carissa terasa seperti di hantam benda keras hingga hancur tak berbentuk.
"Sabar, Nyonya. Coba hirup nafas dalam, lalu hembuskan. Lakukan berulangkali agar rasa sakitnya berkurang." Dokter Grace memberikan istruksi.
Carissa pun menuruti apa yang dikatakan Dokter Grace tadi. Untuk sesaat wajahnya terlihat rileks, tapi kemudian berubah kembali menjadi raut wajah penuh rasa sakit.
"Aaarrrggghhh!!! Anda bohong, Dokter!!! Rasanya masih sakit seperti tadi!!!" Teriak Carissa lagi pada Dokter Grace.
Dokter itu sampai agak terkejut mendengar bentakan Carissa. Istri direktur rumah sakit yang selalu terlihat anggun ini telah berteriak hampir satu jam lamanya, dan kali ini Dokter Grace yang mejadi sasaran teriakannya.
"Maaf, Nyonya. Rasanya memang sangat sakit, apalagi mendekati pembukaan sempurna. Tapi yakinlah, rasa sakitnya akan terbayar saat melihat wajah anak Anda nanti. Jadi Anda harus bertahan sampai anak Anda lahir, agar Anda bisa melihat seperti apa wajahnya." Ujar Dokter Grace menenangkan.
"Benar, Sayang. Bertahanlah, tidak akan lama lagi anak kita pasti akan segera lahir." Evan juga terus memberi semangat.
Carissa semakin tersedu sambil sesekali menjerit saat rasa sakit di perutnya benar-benar tak tertahankan lagi. Rasanya waktu berlalu dengan begitu lambat. Entah berapa lama lagi dia harus bertahan dengan rasa sakit ini.
Carissa terus menjerit kesakitan sambil mencengkram kuat apa saja yabg bisa dicengkramnya. Dan tentu saja rambut Evan kembali menjadi sasaran empuk cengkraman tangannya.
Tak lama kemudian, Dokter Grace kembali memeriksa pembukaan di jalan lahir Carissa.
"Oke, pembukaannya sudah sempurna, Nyonya. Mari kita jemput calon anak Anda untuk segera datang pada kita." Dokter Grace dan beberapa perawat yang membantunya bersiap.
"Tekuk kedua kaki Anda dan buka selebar-lebarnya, lalu taruh kedua tangan Anda dibawah paha." Dokter Grace mulai memberi arahan.
Carissa pun melakukan seperti apa yang Dokter Grace arahkan.
"Oke, sekarang angkat punggung Anda sampai dagu menyentuh dada, jika saya bilang dorong, Anda harus mengejan sekuat yang Anda mampu. Mengerti, Nyonya?" Dokter Grace memberi arahan lagi.
Carissa mengiyakan dengan nafas turun naik.
"Atur nafas, Nyonya. Hirup, hembuskan dan sekarang, dorong."
Carissa mengejan sekuat tenaganya hingga kontraksi di perutnya dirasa mereda.
__ADS_1
"Oke, bagus. Sekarang atur nafas lagi."
Carissa menuruti Dokter Grace untuk mengatur nafasnya.
"Sekarang, Nyonya, dorong lagi."
Sekali lagi Carissa mengejan dengan sekuat tenaganya. Peluhnya mengalir lagi dengan lebih deras di dahinya.
"Hirup udara, langsung dorong lagi, Nyonya."
Carissa kembali mengejan. Kali ini bahkan airmatanya ikut jatuh tanpa sadar. Melihat hal itu Evan mengusap wajahnya sembari menghela nafas. Mata suami Carissa itu tampak berkaca-kaca. Tidak tega rasanya dia menyaksikan perjuangan Carissa untuk menghadirkan anak mereka lebih lama lagi.
"Hirup udara lagi, Nyonya, lalu dorong lagi."
Sekali lagi Carissa mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mendorong anaknya lahir kedunia. Peluh dan airmatanya kembali berbaur menjadi satu di wajahnya.
"Terus, Nyonya, terus. Sedikit lagi, kepalanya sudah keluar sebagian." Ujar Dokter Grace menyemangati.
Carissa menghirup udara sekali lagi, lalu kembali mengejan dengan segenap tenaganya.
"Terus, Nyonya, sedikit lagi. Ya, terus..."
"Oeekkk... Oeekk... Oekkk..." Suara tangis bayi menggema memenuhi ruang bersalin, bersamaan dengan Carissa yang terkulai kembali di brankarnya karena kehabisan tenaga.
Dokter Grace berdiri dengan menbawa bayi merah yang baru lahir di tangannya.
"Selamat, Nyonya. Putri Anda telah lahir." Ujar Dokter Grace sambil tersenyum.
Evan melihat bayi merah itu dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Lalu di pandangnya Carissa yang saat ini telah tergolek lemas.
"Sudah lahir, putri kita sudah lahir, Sayang. Kamu sudah membawanya ke dunia ini dengan selamat." Evan membawa Carissa ke dalam pelukannya.
"Terima kasih..." Evan tak bisa membendung airmatanya. Dia menangis dengan penuh rasa haru.
Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, Carissa mengangkat tangannya dan membalas pelukan Evan.
"Iya, putri kita sudah lahir. Sekarang kita sudah menjadi orang tua." Carissa juga terisak. Suami istri itu tampak tenggelam dalam keharuan dan sama-sama tak bisa membendung airmata.
Bersambung...
Tetap like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤