WITH YOU

WITH YOU
Berpisah Sementara


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya, Carissa masih terus mengalami morning sickness. Setiap terbangun di pagi hari, tubuhnya selalu terasa tidak enak dengan perut yang terasa seperti di aduk-aduk. Kepalanya juga terasa sangat pusing sehingga setelah memuntahkan semua isi perutnya, Carissa hanya bisa terbaring lemah.


Atas saran dari Dokter Grace, Evan bahkan harus menginfus Carissa untuk memberi tubuh istrinya itu nutisi, pasalnya Carissa terus saja memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Hampir seminggu Evan harus pergi ke rumah sakit lebih siang dari jadwal biasanya karena harus mengurus Carissa terlebih dahulu. Hingga akhirnya Sonya datang untuk membantu.


Pagi itu, seperti hari sebelum-sebelumnya, Evan sibuk mengurus Carissa yang baru saja muntah-muntah setelah mengkonsumsi susu hamilnya. Istri Evan itu terlihat tak berdaya setelah mengeluarkan semua yang telah di konsumsinya tadi.


Carissa berbaring di tempat tidurnya saat Sonya tiba di apartemen mereka.


"Sudah berapa lama dia muntah-muntah seperti ini?" Tanya Sonya cemas. Dia sudah mendapat kabar jika Carissa hamil, tapi dia tidak menduga menantunya ini mengalami masa ngidam yang cukup berat.


"Sudah sekitar seminggu " Jawab Evan.


"Dan kamu sama sekali tidak memberi tahu Mama kalau keadaan Carissa seperti ini?" Tanya Sonya dengan nada agak marah.


"Maaf, Ma. Aku tidak mau membuat Mama merasa khawatir. Aku masih bisa mengurus Carissa. Lagipula Dokter Grace juga mengatakan jika gejala ngidam yang di alami Carissa masih dalam batas normal." Jawab Evan lagi.


Sonya menghela nafasnya dengan raut wajah agak tak terima.


"Jangan mentang-mentang kamu seorang dokter jadi merasa bisa mengurus istrimu sendiri. Ingat Evan, kamu itu dokter spesialis jantung, bukan spesialis kandungan. Harusnya jika keadaan Carissa seperti ini sebaiknya dia itu di rawat di rumah sakit." Sonya protes keras pada Evan.


"Carissa sendiri yang tidak mau di rawat di rumah sakit, Ma. Dia bilang aroma rumah sakit membuatnya merasa mau muntah sepanjang hari. Aku juga sudah berkonsultasi dengan Dokter Grace sebelumnya, dan dia bilang tidak masalah jika mau di rawat di rumah saja." Ujar Evan menjelaskan.


Sonya tampak tak terlalu menerima penjelasan dari Evan, tapi dia tak mengatakan apa-apa lagi. Dengan raut wajah prihatin, di dekatinya Carissa yang sedang memejamkan matanya.


"Carissa, Sayang..." Sonya mengusap lembut kepala Carissa


Mendapatkan sentuhan di kepalanya, Carissa yang awalnya terlelap kembali membuka matanya.


"Mama..." Lirihnya. Dia sedikit terkejut mendapati ibu mertuanya ini sudah ada di hadapannya.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Sonya lembut.

__ADS_1


Buru-buru Carissa bangkit dan bersandar di tempat tidur.


"Sekarang sudah lebih baik, Ma. Biasanya juga seperti ini, kalau sudah muntah rasanya jauh lebih lega. Hanya saja..." Carissa tampak ragu melanjutkan kata-katanya.


"Hanya saja apa?" Tanya Sonya.


Carissa terdiam sesaat.


"Evan jadi tidak bisa pergi ke rumah sakit tepat waktu karena harus mengurusku. Aku takut nanti pekerjaannya jadi terbengkalai." Ujar Carissa akhirnya.


"Tidak usah mengkhawatirkan hal itu. Tidak ada pekerjaanku yang terbengkalai. Semuanya baik-baik saja." Evan menimpali dengan cepat.


Sonya terdiam dan terlihat sedang berpikir.


"Tapi apa yang di khawatirkan Carissa benar juga, Evan. Jangan sampai pekerjaanmu di rumah sakit jadi terganggu." Guman Sonya.


"Untuk sementara ini, biarkan Carissa tinggal bersama Mama. Biar Mama yang merawatnya." Ujar Sonya lagi.


Baik Evan maupun Carissa, keduanya agak terkejut mendengar penuturan Sonya.


Evan tampak mempertimbangkan kata-kata Sonya.


"Kalau di rumah akan ada banyak orang yang menjaga Carissa, Evan. Sedangkan di sini, saat kamu pergi ke rumah sakit, Carissa akan sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu, tidak akan ada yang akan memberitahumu. Terlalu berbahaya meninggalkan Carissa sendirian dalam kondisi seperti ini." Ujar Sonya lagi dengan nada serius.


Evan dan Carissa masih terdiam dan mempertimbangkan.


"Mama benar, untuk sementara kelihatannya memang lebih baik Carissa tinggal di rumah Mama saja dulu." Evan akhirnya setuju.


"Kalau begitu, aku siapkan dulu barang-barang keperluan Carissa dan pakaiannya." Ujar Evan lagi sambil berlalu.


Carissa tampak ingin mengatakan sesuatu pada Evan, tapi di urungkannya. Di lihatnya saja Evan yang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Entah kenapa ada semacam kesedihan di hati Carissa karena harus pergi dari apartemen ini, meski hanya untuk sementara.


Selang beberapa saat kemudian, semua keperluan carissa pun telah selesai di siapkan oleh Evan. Evan juga langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit bersamaan dengan Carissa yang akan pergi ke rumah Mamanya.

__ADS_1


Pagi itu, akhirnya Carissa di bawa Sonya untuk tinggal di rumah ibu mertuanya itu sementara waktu ini.


Semua orang yang bekerja di rumah Sonya menyambut Carissa dengan gembira. Tapi sayangnya karena masih merasa pusing, Carissa tidak bisa menyapa mereka terlalu lama. Dia langsung di bawa Sonya menuju kamar lama Evan.


Evan yang ikut mengantar Carissa pun membimbing istrinya itu untuk kembali berbaring di tempat tidur.


"Carissa, beristirahatlah dulu. Mama akan menyiapkan makanan untukmu di dapur. Tidak usah khawatir, Mama akan masak sesuatu yang tidak mempunyai rasa dan aroma yang tajam. Jadi kamu tidak akan merasa mual saat menyantapnya." Ujar Sonya sambil meninggalkan Carissa berdua saja dengan Evan di kamar.


Yang bisa di lakukan Carissa hanya mengangguk mengiyakan meski hal itu tidak sempat di lihat oleh Sonya.


"Aku juga akan pergi ke rumah sakit. Baik-baiklah di sini." Evan juga tampaknya sudah harus pergi.


"Evan..." Panggil Carissa.


Evan melihat kearah Carissa, lalu mendekati istrinya itu dan duduk di pinggiran tempat tidur.


"Kenapa?" Tanyanya lembut.


Perlahan Carissa bangkit dan memeluk Evan erat. Di hirupnya aroma tubuh Evan yang kini berubah menjadi aroma penenang untuknya. Aroma yang bisa membuat saraf ototnya yang tegang merasa jauh lebih rileks. Sangat berat rasanya bagi Carissa untuk melepas suaminya ini meski hanya pergi ke rumah sakit.


"Apa kamu tidak menginap di sini juga?" Tanya Carissa sambil masih memeluk Evan.


"Tidak. Sebenarnya memang ada beberapa pekerjaan yang belum sempat aku selesaikan belakangan ini. Jadi aku harus segera menyelesaikannya di apartemen selama kamu di sini." Jawab Evan sambil membalas pelukan Carissa.


Carissa terdiam di pelukan Evan untuk waktu yang cukup lama.


"Kamu bahkan belum pergi, tapi aku sudah merindukanmu." Gumam Carissa lirih.


Evan tersenyum dan mengurai pelukannya. Di pandangnya wajah istrinya itu agak lama, sebelum akhirnya bibir Evan mendarat pada bibir Carissa. Hal yang sudah agak lama tidak di lakukan Evan pada istrinya.


Bersambung...


Akankah berlanjut ke hal lain?😮

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2