
Carissa menghentikan permainan pianonya sejenak. Sedari tadi dia mendengar Lily merengek di ruang isirahat yang khusus disiapkan untuk putrinya itu. Saat Carissa memeriksanya, tampak Sesha sedang menimang Lily dengsn raut wajah yang sedikit bingung
"Lily kenapa?" Tanya Carissa.
Sesha menoleh.
"Tidak tahu, Nyonya. Dari tadi Nona Lily tidak mau tidur dan terus merengek seperti ini." Jawab Sesha dengan agak panik.
Carissa meraba kening Lily.
"Tidak panas. Mungkin dia sedang kelelahan." Carissa meraih Lily dan menggendongnya. Seketika bayi lucu itu menjadi tenang.
"Anak Mama yang cantik, kenapa tidak mau tidur?" Tanya Carissa pada Lily. Lily hanya menjawab dengan tatapan seperti akan menangis lagi. Dia terlihat seakan sedang ingin mengadu pada Carissa.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Carissa lagi.
Seketika Lily kembali merengek. Cepat-cepat Carissa menimang putrinya itu sambil agak mendekapnya.
"Dia tidak demam, tapi kenapa rewel begini, ya?" Gumam Carissa.
"Mungkin ada bagian tubuh Nona Lily yang terasa tidak nyaman, Nyonya. Dari tadi Nona Lily juga tidak mau minum asi dengan botol susunya." Sesha menanggapi.
Carissa kembali menimang Lily, lalu meyusui putrinya itu langsung dari payud*ranya. Biasanya Carissa memang telah menyetok asi di tempat khusus penyimpan asi, lalu asi tersebut diberikan pada Lily dengan menggunakan botol susu saat Carissa sedang konsentrasi berlatih. Tapi sepertinya saat ini Lily sedang ingin lebih diperhatikan oleh Carissa dan menolak botol susu yang diberikan Sesha padanya.
Dan setelah menyusu langsung selama beberapa saat, bayi mungil itu pun tertidur. Carissa membenahi pakaiannya, tapi tetap membiarkan Lily terlelap di pelukannya.
"Carissa." Geraldyn yang baru kembali dari mengurus sesuatu memanggil Carissa.
"Ada perubahan jadwal secara mendadak. Setelah dari sini kamu belum bisa pulang, tiba-tiba ada acara yang mengharuskan kamu untuk hadir." Ujar Geraldyn lagi.
Carissa melihat penunjuk waktu di ponselnya. Hari sudah sore. Biasanya di jam segini dia sudah membawa Lily pulang dan Evan juga telah menunggunya di rumah. Jika ada acara yang mengharuskan Carissa pulang malam, hal itu akan mereka bicarakan terlebih dahulu dan Evan sendiri yang akan menjemput Carissa pulang. Tapi kali ini acaranya sangat mendadak, belum lagi Lily yang terlihat sedang tidak sehat dan ingin menempel padanya.
Carissa menghela nafasnya sembari terlihat berpikir.
__ADS_1
"Apa aku benar-benar harus datang, Ge? Tidak bisakah acaranya diundur atau kehadiranku diwakilkan saja?" Tanya Carissa kemudian.
Geraldyn juga menghela nafasnya.
"Sayangnya tidak. Kali ini bukan hanya Bu Zenith, tapi Mr. Edd sendiri yang memintaku untuk membawamu keacara itu."
Carissa memandangi Lily yang kini sedang terlelap. Sekali lagi dia meraba dahi putrinya itu. Suhu tubuh Lily terasa normal, tapi entah kenapa dia merasa jika putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Apa aku akan pulang larut?" Tanya Carissa lagi.
"Sepertinya tidak, kehadiranmu disana hanya sekedar formalitas saja. Setelah mereka melihat kamu hadir, aku akan mengusahakan agar kamu cepat pulang." Jawab Geraldyn. Dia tahu jika saat ini Carissa sedang mengkhawatirkan putrinya.
"Baiklah, aku akan memberi kabar Evan dulu jika aku akan pulang terlambat. " Ujar Carisaa akhirnya. Meski agak berat, dia terpaksa harus menghadiri acaŕa yang di maksud Geraldyn tadi. Itu adalah resiko pekerjaan setelah dia menandatangani kontrak.
Setelah menghubungi Evan, Carissa pergi bersama Geraldyn untuk bersiap menuju acara yang akan dihadirinya, sedangkan Sesha membawa Lily pulang.
Di rumah, Evan sudah pulang sejak tadi. Begitu sampai Sesha langsung memandikan Lily. Seperti sudah menjadi kebiasaan, Lily akan merengek lapar setiap kali selesai dipakaikan baju. Sesha langsung mengambil stok asi yang ditinggalkab Carissa dan langsung menghangatkannya. Tapi seperti sebelumnya, Lily sedang tidak ingin minum asi dengan menggunakan botol susu.
"Kenapa Lily?" Tanya Evan saat mendengar Lily tak berhenti merengek.
Evan langsung membawa Lily ke dalam gendongannya. Meski telah ditimang, bayi mungil itu tetap merengek dengan sedihnya.
"Badannya agak panas." Gumam Evan lagi. Dia mengambil termometer dan mengukur suhu tubuh Lily.
Evan menghela nafasnya saat melihat hasil dari alat itu.
"Lily demam." Ujar Evan kemudian.
"Saat di tempat Nyonya berlatih tadi suhu tubuh Nona Lily belum naik, Tuan. Tapi memang sedari siang Nona Lily sudah rewel dan hanya mau menyusu langsung pada Nyonya saja." Sesha menjelaskan.
"Jika Lily sudah rewel dari siang tadi, kenapa dia tidak pulang dan malah akan menghadiri acara sampai malam hari." Evan mulai terlihat marah. Masih dengan menggendong putrinya itu, segera Evan mengambil plaster kompres dan obat penurun panas.
Setelah mendapatkan penanganan untuk demamnya, Lily akhirnya menjadi lebih tenang dan tertidur. Evan memandangi wajah Lily dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan. Mata Evan kemudian tertuju pada botol susu berisi asi yang ditaruh Sesha diatas nakas. Sejak tadi Lily menolak minum asi dengan menggunakan botol susu itu, yang artinya perut mungil Lily belum terisi makanan saat ia minum obat.
__ADS_1
Hati Evan benar-benar merasa sedih. Berulang kali dia menghubungi Carissa, tapi nomor Carissa tiba-tiba berada di luar jangkauan. Evan coba mengirim pesan pun tidak berhasil. Carissa tidak bisa dihubungi. Dan saat Evan berusaha untuk menghubungi Geraldyn pun, manajer Carissa itu tak kunjung menjawab panggilan di ponselnya.
"Sebenarnya acara apa yang kalian hadiri?" Gumam Evan dengan geram. Hampir saja Evan melempar ponselnya karena marah. Tapi yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menunggu.
Lily kemudian kembali terbangun dan terus saja rewel, hingga Evan dan Sesha bergantian membujuk serta menimangnya, hingga setelah beberapa saat, bayi mungil itu kembali tertidur.
Saat hampir ikut tertidur, Evan mendengar seseorang masuk dari pintu utama rumahnya. Tampaknya Carissa sudah kembali.
Evan bangkit dan memeriksa jam. Ternyata sudah hampir dini hari. Langsung saja Evan menghampiri Carissa yang baru saja masuk ke kamar mereka.
"Dimana Lily?" Tanya Carissa saat melihat Lily tak ada di box bayinya.
"Dia ada di kamarnya." Jawab Evan dengan nada tak bersahabat.
Carissa menoleh dan langsung menyadari jika Evan sedang marah. Mungkin karena dia pulang terlalu malam.
"Kamu bilang acaranya hanya sebentar, kenapa baru pulang sekarang?" Tanya Evan tidak senang.
"Maaf, ini diluar prediksi. Tidak disangka ada pihak sponsor dari luar negeri yang datang, jadi aku tidak bisa pergi begitu saja..."
"Dan membiarkan putrimu yang demam kelaparan di rumah?" Potong Evan dengan tajam.
Carissa agak membeliakkan matanya.
"A-apa maksudmu? Lily demam?" Tanya Carissa dengan wajah terkejut.
Evan membuang nafasnya kasar.
"Carissa, aku tidak pernah melarang kamu melakukan apapun yang menurut kamu baik. Kamu bisa melangkah sejauh yang kamu mau dan terbang tinggi layaknya burung. Aku memberimu kebebasan untuk itu, tapi jangan pernah kamu melupakan satu hal terpenting dalam hidupmu...kamu seorang ibu!"
Bersambung...
Jgn lupa like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤