WITH YOU

WITH YOU
Hanya Dengan Memeluk


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya, setelah berhasil menemui Geraldyn dan memberikan kartu kreditnya pada manajer Carissa itu, Evan sebenarnya akan langsung kembali ke Singapura karena ada jadwal konsultasi dengan Dokter Melissa. Tapi kemudian dia mendapatkan kabar jika Carissa akan tampil perdana sebagai seorang pianis di sebuah pesta perusahaan.


Pengusaha yang mengadakan pesta tersebut rupanya juga salah satu sponsor Carissa. Dan yang membuat Evan agak terkejut adalah saat mengetahui jika Pengusaha tersebut adalah Jonathan Hansen, seorang pengusaha real estate yang juga mantan calon tunangan Carissa.


Tampaknya lelaki itu sengaja menjadi sponsor untuk Carissa agar bisa kembali mendekati Carissa, entah dengan tujuan apa.


Evan kemudian memutuskan untuk tidak kembali ke Singapura dan berencana menghadiri pesta perusahaan tersebut. Hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang saat mengingat Carissa dan Jonathan punya kenangan yang tidak bagus satu sama lain.


Dengan bantuan Papanya yang juga seorang pengusaha, akhirnya Evan berhasil mendapatkan undangan ke pesta tersebut dan datang ke sana.


Dari jarak yang agak jauh, Evan dapat melihat Carissa tiba di pesta bersama Geraldyn dan seorang lelaki paruh baya yang Evan tebak adalah bosnya. Carissa tampak sangat cantik dengan balutan gaun pesta berwarna hitam dengan sedikit aksen emas di bagian dadanya. Perutnya sudah agak membesar, tapi gaun yang dia kenakan agak longgar di bagian perut, hingga orang-orang tidak akan menyadari jika saat ini Carissa sedang hamil hanya dengan sekali pandang.


Carissa tampil dengan sangat memukau. Dia seakan menjelma menjadi seorang dewi saat tampil bersama permainan pianonya. Mata Evan lekat menatap istrinya itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Sekuat tenaga Evan menahan diri untuk tidak naik keatas panggung dan memeluk Carissa dari belakang, seperti yang selalu dia lakukan saat istrinya itu sedang memainkan piano.


Dan tak lama kemudian, permainan piano Carissa pun selesai. Semua tamu undangan yang hadir bertepuk tangan dengan riuh untuk memberikan penghargaan atas penampilan Carissa yang luar biasa. Tak terkecuali Evan. Lelaki itu bertepuk tangan dengan sambil menyungging senyuman tipis, tapi dengan mata yang tampak sedikit mengembun.


Evan benar-benar harus berjuang untuk tidak terbawa perasaannya. Semua emosi yang di rasakannya secara bersamaan membuat hatinya berkecamuk. Bahagia, bangga, rindu dan juga sedih. Semua rasa itu bercampur menjadi satu hingga dada Evan terasa hampir meledak.


Dia sangat ingin memeluk Carissa, tapi tentu saja tidak bisa, mengingat saat ini mereka ada di sebuah pesta. Bahkan jika mereka ada di tempat yang penghuninya hanya mereka berdua sekalipun, Evan tidak yakin saat ini Carissa akan mengijinkan dirinya untuk memeluk. Entah bagaimana reaksi Carissa jika tahu saat ini Evan ada di dekatnya dan sedang memperhatikannya dengan sangat lekat meski dengan jarak yang agak jauh.


Tak lama kemudian, Evan melihat Carissa duduk di sebuah kursi dan menyandarkan punggungnya. Tampaknya dia sangat kelelahan dan ingin beristirahat. Tak lama kemudian manajernya pergi menjauh dari Carissa. Mungkin dia pergi mengambil sesuatu yang Carissa butuhkan.

__ADS_1


Evan mengikuti Carissa.


Tapi tak berselang lama, bos Carissa datang untuk membawa istri Evan itu untuk menyapa Seseorang. Dan seperti dugaan Evan sebelumnya, yang di temui Carissa adalah Jonathan Hansen, mantan calon tunangan Carissa dulu.


Evan kembali harus menahan dirinya sekuat tenaga saat melihat bos Carissa pergi meninggalkan Carissa berbicara berdua saja dengan Jonathan. Dapat Evan lihat senyum Jonathan yang tampak menyerupai seringai seekor srigala yang melihat mangsa di hadapannya.


Entah apa yang mereka berdua bicarakan. Yang jelas Carissa tampak sangat tidak nyaman dan memperlihatkan ekspresi yang tidak bagus. Evan pun benar-benar tak bisa menahan diri lagi saat melihat Carissa yang seperti terintimadasi hingga mundur beberapa langkah. Dan yang membuat Evan semakin marah adalah saat Jonathan masih melangkah mendekati Carissa meski Carissa sudah mundur untuk menjauhinya.


Tepat saat Evan akan mendekat, tubuh Carissa tanpa sengaja bersinggungan dengan tubuh orang lain, dan ternyata orang itu adalah Geraldyn yang saat itu sedang kebingungan mencari Carissa. Gadis itu muncul di saat yang tepat, hingga Evan pun akhirnya mengurungkan niatnya mendekati Carissa.


Jonathan akhirnya pergi meninggalkan Carissa dan Geraldyn. Hingga Carissa bisa kembali beristirahat di sebuah kursi dengan di bimbing oleh manajernya itu.


Evan melihat Carissa sedikit syok karena kemunculan Jonathan tadi. Hal itu membuat Evan tak bisa menahan diri lagi untuk tidak menemui Carissa. Tapi tentu tidak di sini, melainkan di tempat tinggal Carissa sekarang.


Sebelumnya Evan memang telah berhasil menemukan apartemen tempat Carissa tinggal, dan beberapa kali datang ke sana meski hanya sebatas berdiri di luar gedung saja, tanpa ada keberanian untuk menemui Carissa secara langsung. Kali ini Evan sangat yakin untuk menunggu Carissa dan menemui istrinya itu. Persetan dengan rasa sakit yang mungkin akan datang lagi di kepalanya saat bersama Carissa. Yang terpenting untuk Evan saat ini adalah memeluk istrinya itu dan mengatakan pada Carissa jika dia punya suami yang akan selalu ada untuk melindunginya.


Ya. Itulah yang harus Evan lakukan sekarang.


Setelah menepuh perjalanan beberapa saat dengan menggunakan taksi, Evan akhirnya sampai di apartemen Carissa. Dia berdiri di depan pintu apartemen dan berpikir angka berapa kira-kira passwoard yang di gunakan Carissa.


Evan menekan angka tanggal lahir Carissa, tapi ternyata bukan itu yang Carissa jadikan sebagai passwoard apartemennya. Dan setelah terdiam agak lama, Evan kembali menekan tombol kunci digital apartemen itu. Kali ini angka yang Evan gunakan sesuai dengan tanggal pernikahannya dengan Carissa, passwoard yang sama dengan yang dia gunakan pada apartemennya di Singapura.

__ADS_1


Dan ternyata pintunya terbuka. Evan tersenyum tipis dengan perasaan yang sulit di lukiskan. Ternyata tanggal pernikahan mereka tetap menjadi sesuatu yang penting dan istimewa bagi Carissa. Benar-benar mengharukan.


Evan pun melangkah masuk dan menutup pintu apartemen kembali.


Lampu di dalam apartemen Carissa tidak menyala hingga ruangannya sangat gelap. Evan tidak menyalakan lampu, melainkan langsung duduk di sebuah sofa yang berhasil dia temukan setelah melangkah beberapa langkah sambil agak meraba-raba.


Evan memilih untuk menunggu Carissa dalam keheningan dan kegelapan. Dan tak lama kemudian, Evan beranjak bangkit saat mendengar pintu apartemen itu kembali terbuka. Tampak seseorang masuk sambil menyalakan lampu.


Ruangan menjadi terang. Terlihat jelas kini seseorang yang telah Evan tunggu kedatangannya sejak tadi.


Carissa tampak membeku dengan tatapan tak percaya saat melihat Evan berada di dalam apartemennya. Dia menatap Evan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Evan..." Suara yang sangat Evan rindukan itu akhirnya terdengar juga, hingga Evan semakin tak bisa membandung kerinduannya. Dengan perlahan Evan melangkah mendekati Carissa. Mereka akhirnya berdiri berhadapan dengan mata yang terkunci satu sama lain.


Evan kalah. Dia tidak bisa lagi menahan perasaannya yang kini terasa semakin membuncah. Di rengkuhnya tubuh Carissa masuk ke dalam pelukannya. Di ciumnya berulang kali pucuk kepala istrinya itu dengan perasaan yang sulit di lukiskan, hingga airmatanya menetes tanpa di sadarinya.


Evan memeluk Carissa erat, seakan tak ingin melepasnya lagi. Dia berharap Carissa tidak merasa keberatan ataupun marah dengan apa yang di lakukannya saat ini. Evan seakan ingin mencurahkan semua rasa rindunya, meski hanya dengan memeluk.


Bersambung...


Jgn lupa like, komen dan vote ya zeyenk...

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2