
Makan siang di kediaman orang tua Evan hari itu terasa sangat istimewa. Kebahagiaan tampak terpancar dari raut wajah semua orang. Bahkan Lily yang usianya belum genap dua bulan pun tampak banyak tersenyum memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.
Setelah makan siang, Zacky tak langsung kembali ke kantornya. Mereka semua tampak berkumpul di ruang keluarga sambil mengobrol ringan.
"Jadi, apa kalian benar-benar akan pindah ke Indonesia?" Zacky akhirnya membuka obrolan yang lebih serius.
"Ya, seperti yang sebelumnya aku sampaikan pada Mama dan Papa." Jawab Evan.
"Sebenarnya kita bisa tetap tinggal di sini supaya kamu bisa tetap mengurus rumah sakit. Aku tidak keberatan jika harus bolak-balik." Carissa menyela.
"Tidak. Itu terlalu melelahkan. Kamu tidak akan fokus pada latihan pianomu." Evan menolak saran Carissa.
Semuanya hening sesaat.
"Sepertinya aku telah melakukan kesalahan karena sudah terburu-buru bergabung di manajemenku saat pergi tempo hari. Waktu itu hanya itulah yang terlintas di dalam pikiranku untuk bertahan diluar sana." Ujar Carissa sembari menundukkan kepalanya.
"Kehidupan rumah tangga kalian, Papa tidak akan ikut campur. Kalian bebas menentukan langkah apapun selama kalian bisa mempertanggungjawabkan langkah yang kalian ambil itu." Zacky kembali mengeluarkan suaranya.
Carissa masih menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia agak merasa bersalah jika Evan sampai meninggalkan rumah sakit dan juga orang tuanya demi untuk mengikutinya ke Indonesia. Tapi kontrak selama dua tahun sudah ditanda tangani. Carissa tak bisa lari dari tanggung jawabnya. Saat ini persiapan sebuah konser besar sedang menunggunya.
"Aku bisa memantau rumah sakit dari jauh. Dan untuk Papa dan Mama, kalian bisa mengunjungi kami setiap merindukan Lily. Atau jika kami sedang tidak sibuk, kami yang akan berkunjung kesini." Ujar Evan kemudian.
"Jika kamu sudah mengatakan seperti itu, berarti tidak ada masalah lagi." Zacky mrnanggapi.
"Tentu saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya sudah kuatur." Jawab Evan lagi.
Zacky mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu pandangannya beralih kearah Sonya yang sejak tadi hanya terdiam dan tak mengatakan apapun.
"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Zacky.
"Hah?" Sonya tampak baru tersadar dari lamunannya.
Carissa semakin merasa bersalah saat melihat ekspresi Sonya. Pasti ibu mertuanya itu merasa sedih karena harus jauh dari cucu yang sangat disayanginya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Zacky lagi pada Sonya.
__ADS_1
"Tidak ada." Jawab Sonya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, Ma. Karena aku, Mama harus jauh dari Lily. Aku benar-benar menyesal membuat Mama sedih seperti ini." Carissa akhirnya membuka suaranya lagi. Kali ini dia bicara dengan nada menyesal.
"Kenapa mesti meminta maaf?" Tanya Sonya dengan agak terkejut.
"Mama hanya sedang membayangkan bagaimana nanti penampilanmu diatas panggung, pasti sangat mengagumkan. Kamu tahu kan, Mama adalah salah satu penggemar beratmu. Membayangkan kamu kembali bermain piano diatas panggung membuat Mama tak bisa berkata-kata." Tambahnya lagi.
Carissa mengangkat wajahnya dan melihat kearah Sonya dengan tatapan tak percaya. Dia pikir mertuanya ini merasa sedih karena harus tinggal jauh dari anak dan cucunya, tak disangka ternyata dia sedang bersemangat akan sesuatu.
"Jadi Mama tidak sedih karena kami akan pindah?" Tanya Carissa.
Sonya pun tertawa.
"Memangnya seberapa jauh Indonesia. Aku hanya akan naik pesawat selama dua jam lebih dan sudah bisa menemui cucuku. Bila perlu aku akan berkunjung kesana setiap akhir pekan." Jawab Sonya dengan santainya.
"Ah, tentu saja." Gumam Carissa sambil ikut tertawa.
"Jadi aku akan sering ditinggal sendirian?" Tanya Zacky tiba-tiba.
Sonya menoleh sejenak pada suaminya itu.
Zacky terdiam, seakan baru menyadari sesuatu. Kemudian dia tersenyum pada Sonya sambil meraih punggung tangan istrinya itu.
"Aku tahu, kamu tidak akan bisa pergi tanpa bersamaku." Gumam Zacky.
Carissa yang melihat hal itu agak tertegun.
"Mama buta arah, jadi dia selalu pergi dengan Papa, bahkan sekedar ke swalayan sekalipun." Evan berbisik memberi penjelasan.
Carissa terperangah selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk tanda mengerti. Senyum pun tersungging di bibir Carissa sambil memandang kearah Mama dan Papa mertuanya. Interaksi antara pasangan yang tak muda lagi itu terlihat sangat manis, hingga Carissa seakan tak bisa menghentikan senyumannya. Dalam hari Carissa berharap, ia dan Evan kelak akan langgeng seperti itu juga. Selalu bersama untuk saling mencintai dan menjaga, sampai maut nanti yang memisahkan.
Percakapan keluarga itu pun berlanjut. Sonya dan Zacky tak keberatan dengan keputusan yang Evan dan Carissa ambil, asal mereka bahagia menjalaninya. Karena semua dokumen yang di perlukan sudah diurus, Evan dan Carissa sudah bisa pindah kapan saja. Tapi tampaknya Evan masih belum memboyong keluarga kecilnya itu ke Indonesia dalam kurun waktu sehari atau dua hari ini, karena saat ini Evan tengah mencari rumah yang nyaman untuk tempat tinggal mereka. Dan rencananya rumah itu akan menjadi surprise untuk Carissa. Evan berharap akan segera mendapatkan rumah yang cocok.
Malam kembali merambat. Carissa membaringkan Lily di tempat tidur setelah cukup lama bayi menggemaskan itu menyusu dalam keadaan tidur. Nafsu makan Lily memang terbilang besar untuk ukuran bayi perempuan. Dia bahkan bisa menyusu begitu lama meskipun sudah terlelap.
__ADS_1
Setelah Lily tidur di tempatnya, Carissa langsung merebahkan tubuhnya sambil meghela nafas lega. Tampaknya Carissa kelelahan setelah menyusui Lily dalam waktu yang cukup lama.
Evan mendekat pada Carissa, lalu membimbing istrinya itu untuk kembali duduk. Dengan lembut Evan memijat bahu dan punggung Carissa hingga otot-otot Carissa yang menegang kembali rileks. Carissa tersenyum sembari memejamkan matanya. Pijatan Evan benar-benar terasa nyaman dan membuat lelahnya berangsur hilang.
Setelah beberapa saat, Evan menyudahi pijatannya, lalu memeluk Carissa dari belakang. Ditenggelamkannya wajahnya di ceruk leher istrinya itu.
"Sayang, apa kita telah membuat keputusan yang benar?" Tanya Carissa kemudian.
"Tentu saja." Gumam Evan sambil masih tak beralih dari leher Carissa.
"Kamu sudah mengorbankan pekerjaanmu demi untuk mendukung karirku. Aku takut jika itu bukan hal yang bagus."
Evan mengangkat wajahnya, lalu mencium kilas pipi Carissa.
"Kenapa aku mengorbankan pekerjaanku. Disana aku tetap akan menjadi dokter spesialis jantung. Sudah banyak rumah sakit yang menginginkanku. Tentu saja aku tidak akan menjadi suami yang dinafkahi istri "
Carissa tertawa.
"Bukan itu maksudku." Ujar Carissa.
"Aku tahu. Kamu khawatir rumah sakit terbengkalai karena aku tinggalkan. Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, saat ini rumah sakit sudah di pimpin oleh orang yang tepat."
Carissa terdiam selama beberapa saat.
"Baiklah, kalau begitu." Gumamnya kemudian.
Evan mengeratkan pelukannya, lalu kembali mencium pipi Carissa.
"Sejujurnya, aku juga ingin melihatmu tampil diatas panggung, mengagumimu, lalu mengatakan pada orang-orang jika sosok yang mengagumkan itu adalah istriku."
Evan terdiam beberapa saat.
"Gapailah kembali kejayaanmu, Carissa. Jadilah bersinar sekali lagi."
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤