
Jangan lupa jadikan favorit ya. Karena bulan ini InsyaAllah ceritanya akan selesai. Begitupun dengan Rich man. InsyaAllah pertengahan Juni mulai di update. Kali ini With You dulu.
Kematian adalah hal yang pasti, akan tetapi hal itu tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya kapan ia akan datang. Yang jelas, kematian itu pasti akan datang ketika jatah manusia di bumi ini sudah habis untuk diberi kesempatan hidup selama di dunia. Semua akan kembali lagi kepada sang pencipta dalam keadaan apapun.
Uang, dan semua yang telah dicari pada dunia ini hanyalah sebuah titipan dari yang maha kuasa. Ketika Tuhan mengambilnya, maka manusia tak akan memiliki kuasa untuk menahan itu semua dan akan benar-benar pergi dan tak tahu kapan Tuhan akan mengizinkannya untuk kembali lagi.
Sejenak Keano termenung dengan ucapan neneknya ketika membahas mengenai kematian yang sama sekali sangat ditakutkan oleh Keano. Bisa saja yang lebih muda pergi terlebih dahulu, tidak mesti mati itu menunggu yang tua terlebih dahulu. Kadang maut datang kepada siapapun tanpa menunggu siap dan tidaknya manusia.
Di kamar yang berukuran empat kali lima meter tersebut, Keano duduk sambil merenungi setiap ucapan neneknya tadi. Jujur saja jika dirinya memang terkejut dengan ucapan neneknya, apalagi ketika meminta untuk tinggal bersama dengan Adelia. Barangkali itu adalah permintaan dari neneknya untuk tinggal bersama dengan Adelia yang terakhir. Tapi, dia tidak ingin beranggapan seperti itu, neneknya akan tetap bersama dengan dirinya. Dan juga, kakaknya akan tetap bahagia bersama dengan Devan. Begitulah yang dipikirkan oleh Keano.
Anak laki-laki itu menurunkan kakinya dari ranjang dan bersiap untuk pergi dari kamar utnuk bertemu dengan mamanya yang ada di luar. Biasanya jam segini, mamanya selalu berada di luar bersama dengan papanya. Tapi, jika papanya masih berada di sana. tidak mungkin Keano menceritakan mengenai kakaknya yang sudah pergi dari kota ini meninggalkan kota ini hanya karena takut dengan papanya.
Keano juga sadar jika papanya tak pernah bermain-main dengan ucapannya untuk membongkar siapa Devan sebenarnya. Kali ini Devan merupakan kakak yang begitu dia anggap seperti kakak sendiri tapi selalu berpikiran negative kepadanya semenjak dia dekat dengan Sabina. Bukan berarti dia ingin balas dendam terhadap perempuan itu, Keano hanya ingin jika dia bisa berguna bagi orang lain ketika dibutuhkan. Hanya saja kakak iparnya terlalu sensitive mengenai kedekatannya dengan Sabina. Maka dari itu Keano harus menjauhi gadis itu demi kebaikannya dan juga kebaikan Devan sendiri.
Ketika dia turun dari kamarnya melewati anak tangga dengan langkah yang begitu pelan saat melihat papanya sedang bersantai di sofa ruang keluarga bersama dengan neneknya juga. Barangkali ada obrolan serius yang kali ini sedang mereka obrolkan sehingga terlihat begitu tegang.
“Keano, sini nak!” panggil mamanya.
Dia yang langsung menghampiri ketiga orang yang sedang bicara di ruang kaluarga itu. Begitu tiba di sana, Keano langsung mendaratkan bokongnya di sofa sebelah mamanya. Rambutnya yang lebat dan juga dipotong pendek, perlahan tangan kanan mamanya mengelus kepalanya dengan sangat lembut. Merasakan kasih sayang begitu melekat pada sang mama. Keano tak ingin jika bersikap berlebihan dan merasa justru berkuasa setelah kakaknya menikah. Bagaimanapun juga kakaknya telah berumah tangga dan memiliki kehidupan yang sangat luar biasa, apalagi memiliki suami seperti Devan yang di mana kakaknya justru ditanggung jawabi dengan sangat baik.
“Papa mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap papanya yang waktu itu langsung memperbaiki posisi duduknya dan langsung menyatukan kedua tangannya hingga menjadi sebuah genggaman. Ujung mata Keano melirik kearah papanya dan penasaran dengan apa yang dilakukan oleh papanya nanti.
“Papa mau ngomong apa memangnya?” tanya Keano yang ingin tetap terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
“Kamu lihat kalau Farrel tadi ke rumah ‘kan?” tanya papanya yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Keano yang berarti itu adalah jawaban iya akan tetapi diwakili oleh gerak tubuhnya.
Sifatnya yang memang seperti itu, tak banyak bicara. Melainkan banyak bertindak, semua itu juga diturunkan dari papanya. Keano yang memang memiliki sifat tidak jauh dari papanya, tapi papanya mungkin jauh lebih ramah dibandingkan dengan Keano yang diam, cuek tapi dia termasuk anak laki-laki yang begitu penyayang terhadap keluarganya. Jadi, apapun yang terjadi dia akan menyelamatkan keluarganya agar tidak hancur dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
“Memangnya dia ngomong apa aja sama Papa tadi?” tanyanya kepada sang papa.
Papanya menarik napas dan mengembuskannya dengan kasar yang seolah sedang menyimpan emosi papanya dengan begitu baik. Keano memang sangat peka dengan hal itu, dia bisa membaca ekspresi papanya dengan sangat mudah.
“Dia minta maaf atas dia yang nggak ngantarin kakak kamu,”
“Hmm, lalu?”
“Papa nggak bisa maafin dia dengan begitu mudah, Keano. Dia yang sudah menyebabkan kakak kamu seperti ini, jadi dia harus terima pembalasan yang setimpal bukan?”
Sejenak dia langsung mencerna setiap kata yang diucapkan oleh papanya. “Kalau Papa mau balas dia, tentu saja Papa juga harus punya orang yang terpercaya dan bisa membantu papa dengan sangat baik. Jangan sampai nanti Papa justru kalah sama dia karena orang-orang yang bantuin Papa justru berkhianat terhadap Papa,”
“Maka dari itu Papa minta bantuan sama kamu. Apa kamu nggak keberatan?”
“Memangnya aku pernah menolak untuk dimintai bantuan sama Papa kalau itu menyangkut mengenai kakak aku sendiri? Rencana Papa apa?”
“Kamu kan dekat sama Farrel.”
“Hmm, terus?”
__ADS_1
“Ajak kerjasama!”
“Dia mana percaya sih Pa kalau aku ini ngerti sama urusan bisnis,”
“Kamu kapan Ujian?”
“Bentar lagi sih, Pa,”
“Urus ujian kamu dulu Keano. Papa nggak mau beratkan kamu. Jadi nanti kalau sudah waktunya, Papa pasti bakalan kasih tahu tugas kamu, yang terpenting adalah kamu rajin sekolahnya. Biar kamu bisa lindungi kakak kamu, dan juga mama kamu. Terlebih calon keponakan kamu yang katanya perempuan, nggak mau kan kalau kamu ngerasa nggak berguna nanti?” ucap papanya.
Keano mengerti dan dia masih merasakan tangan mamanya mengelus kepalanya. “Tidur ya, Nak! Mama mau bicara hal lain sama Papa dan juga Nenek. Nanti kalau ada apa-apa pasti bakalan Mama kasih tau kok, kamu jangan pikirkan ini dulu!” perintah mamanya.
Keano sadar jika di keluarga ini mamanya yang selalu memanjakan dia. Berbeda halnya dengan papanya yang terlihat begitu jelas memanjakan Adelia semenjak menikah. Dulu, padahal dia begitu merasakan bahwa mamanya lebih peduli terhadap Adelia, tapi sekarang ini rasanya sangat berbeda dan terbalik. Papanya selalu membicarakan Adelia, tak pernah sekalipun papanya menanyakan kabar dirinya. Begitupun dengan sekolahnya yang sebentar lagi akan lulus. Mungkin tadi, itu adalah hal terakhir yang ditanyakan mengenai ujian oleh papanya.
Rasanya dia begitu asing setelah ini. Keano merasa papanya terlalu khawatir dan juga penasaran dengan sosok Devan. padahal, jika tak terlalu dipikirkan, tentu saja kakaknya akan hidup bahagia. Tapi dia tidak seperti papanya yang mengerti dengan perasaan mamanya. Barangkali papanya melakukan hal itu juga demi kebaikan semuanya. Apalagi neneknya, Keano selalu berdoa kepada Tuhan agar kakak dan juga kakak iparnya merasa baik-baik saja. Apalagi sekarang ini dia tahu jika kakaknya sudah berada di Australia dan itu semua dia ketahui dari neneknya langsung. Keano memang bangga terhadap neneknya yang begitu dengan mudahnya mendapatkan informasi mengenai Adelia.
__ADS_1