
Siang itu, Adelia sedang menyuapi anaknya makan dia ruang keluarga. Arsyila yang memang lebih leluasa di sana karena bisa bermain juga dengan anak kakaknya. Di sana ada kakak ipar dan juga keponakannya yang sedang disuapi juga. Arsyila tidak pernah kesepian. Selalu ada teman ketika dia berada di rumah orang tua Adelia.
Adelia yang hamil anak kedua harusnya ditemani oleh sang suami. Papanya pernah menawarkan jika dia memilih Devan, maka dia harus keluar dari rumah ini. Bukan berarti di usir. Itu karena haknya sebagai seorang istri memang harus menurut kepada suaminya. Sementara itu, Adelia sedang memikirkan bagaimana nasib sang mama yang harus dia pikirkan juga. Bukan karena Adelia tidak mau berbakti kepada sang mama. Melainkan dia juga sedang memikirkan bagaimana agar keduanya bisa akrab lagi. Begitu dia tahu jika Devan adalah anak dari mantan suami mamanya, Adelia bingung harus membela yang mana. satu sisi dia begitu mencintai Devan. satu sisi lagi dia begitu menyayangi mamanya. Adelia tidak tahu harus memilih siapa. Maka dari itu, dia tetap tinggal di rumah orang tua sebagai jalan terbaik.
Namun, semenjak Devan pergi dari rumah dan tidak pernah lagi ia dengar kabar dari suaminya. “Kamu melamun? Anak kamu dari tadi minta disuapi lho!” tegur kakak iparnya.
Adelia mengangguk kemudian menyuapi Arsyila lagi. Dia memang merindukan Devan. tidak pernah direspons oleh Devan selama beberapa hari ini. Bahkan setiap pagi dia mengirim pesan mengingatkan suaminya untuk sarapan. Tapi tetap saja Devan tidak merensponsnya.
“Adek, kamu pikirin Devan?” tanya kakak iparnya. Dia langsung menoleh ke arah kakak iparnya. Dia melamun sedari tadi karena ingat betapa baiknya suaminya selama ini yang selalu menemaninya setiap kali dia mengalami masalah. Tapi justru dia merasa berjuang sendiri kali ini untuk membesarkan Arsyila. “Kamu kalau memang kangen sama dia, samperin ke kantor! Kamu berhak, dek,”
“Takut Mama marah,”
“Kenapa? Apa nggak ada perasaan lagi kamu sama suami kamu? Adek, kakak nggak pernah maksa kamu untuk cari dia. Tapi kakak lihat kamu beberapa hari ini melamun terus, kasihan kandungan kamu kalau kamu seperti itu, kakak nggak mau lihat kamu menderita hanya karena dia. Papa juga pasti mikirin kamu, Adelia. Papa nggak mau kamu seperti ini terus. Apalagi kamu tuh ya sekarang agak kurusan. Ingat kamu juga lagi hamil. Belum lagi harus mikirin Arsyila,”
“Apa aku harus ke sana? aku takut kalau mama itu marahin aku,”
“Mama pernah ngasih pilihan juga bukan ke kamu? Kalau kamu pilih Devan, kamu harus keluar dari rumah ini. Mama cuman nggak mau bareng sama Devan. itu aja yang Mama hindari. Kalau memang kamu ingin kumpul, Mama udah persilakan,”
“Tapi aku lihat dari ekspresi Mama yag bilang aku harus keluar, itu terpaksa banget, kak. Aku nggak mau Mama maksain dirinya buat terima Devan,”
__ADS_1
“Mama nggak terima dia. Tapi dia mikirin kamu dan juga anak kamu. Mama nggak pernah egois ya. Mama itu mikirin kamu banget, sekarang pilihan ada ditangan kamu. Kalau memang kamu pengin kumpul, ya udah kamu cari dia. Dia memang nggak respons kamu. Itu artinya Devan pengin sendiri dulu. Dia nggak mau kan buat kamu menderita karena beban pikiran kayak gitu,”
Dia sadar jika memang beberapa hari ini dia selalu memikirkan suaminya apakah baik-baik saja atau tidak. Devan tidak pernah membalas pesannya sekalipun. Devan tidak pernah mau menjawab teleponnya juga. Bahkan ketika Arsyila demam, Devan juga tidak merespons apa pun. Apakah kali ini Devan sudah menyerah dan mengingkari janjinya mengenai dia yang tidak pernah mau berhenti berjuang. Tapi kali ini sepertinya Devan sudah benar-benar lelah.
Adelia mengusap kepala Arsyila yang duduk di dekatnya. Adelia akui jika dia memang merindukan Devan. namun, pria itu mengabaikannya sekarang.
“Kak, apa ini artinya bercerai? Sudah dua bulan Devan nggak pernah kabari aku,”
“Kasih dia waktu, Adelia. Jangan berpikir yang nggak-nggak. Dia juga butuh waktu untuk mikirin masa depan kalian. Kasihan juga dia kalau terus diterpa masalah kayak gitu,”
“Aku juga kadang capek harus maksain diri aku kak. Aku nggak tahu lagi harus bagaimana sama Mama dan juga Papa. Mereka kadang ngasih solusi terbaik, tapi aku nggak bisa milih antara Devan dan juga Mama. Keduanya aku sayang, Devan suami aku. Sedangkan Mama dia yang ngandung dan ngerawat aku,”
“Aku bisa tinggal sama Devan?”
“Bisa. Bisa banget, tinggal sama keluarga kecil kamu. Jadi, bicarakan sama Devan mengenai kamu yang dibolehin untuk tinggal di luar. Kakak juga nggak tega lihat kamu merenung terus. Kamu melamun terus, kasihan kandungan kamu. Belum lagi Arsyila yang terus perhatiin kamu,”
Adelia menundukkan kepalanya karena dia tidak kuasa menahan air matanya. “Papa selalu dukung aku, Mama juga dukung aku. Tapi satu sisi aku nggak bisa tinggalin mereka berdua,”
“Adek, tolong. Ini bukan karena kamu di usir dari rumah, ini untuk kamu bisa hidup di luar,”
__ADS_1
Adelia mengangguk. Sedari tadi kakak iparnya mencoba untuk menjelaskan. Tapi karena beban pikirannya mengenai saran orang tuanya yang mengatakan jika dia harus keluar dari rumah ini. Sungguh, dia juga ingin tinggal dengan suaminya dan juga anaknya. Tapi karena luka mamanya, dia harus mengikuti apa pun yang dikatakan oleh mamanya.
“Kamu cari Devan ke kantornya ya!”
Adelia menganggukkan kepalanya sambil mengusap air mata. “Mama nangis?” tanya Arsyila.
“Kita cari Papa ya,” ucap Adelia yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh anaknya. Sudah lama sekali Devan tidak pernah muncul dihadapan mereka semenjak pertengkaran itu. dia pikir kabar baik mengenai kehamilannya akan disambut dengan begitu baik oleh Devan juga.
Masalah yang tidak pernah berakhir dengan baik justru menimbulkan masalah baru lagi bagi keluarga mereka. Devan yang harusnya tetap berada di sisi mereka terpaksa harus mengasingkan diri dari hadapan keluarganya.
“Harusnya kamu putuskan sejak awal. Ketika Papa waktu itu ngasih kamu pilihan antara menetap atau justru pergi dengan dia. Toh niat Papa sama Mama baik. lagian ya apa pun yang Mama lakukan itu pasti yang terbaik juga buat kamu, Adelia. Jadi jangan pernah merasa dikekang atau sebagainya ya! Kakak kamu juga mikirin kamu banget tahu, sekalipun dia nggak pernah ngomong begitu ke kamu. Tapi tetap aja dia khawatir sama kamu. Sekalipun dia nggak bilang misal, tapi kalau sama kakak dia sering nanyain gimana keseharian kamu selama di rumah,”
Adelia takut mengganggu Devan jika dia meminta Devan datang. Karena dia pasti tahu bahwa suaminya tidak akan pernah datang. Jika dia membanjiri Devan dengan pesan lagi. Sudah dipastikan dia tidak akan pernah bisa melihat suaminya.
Adelia menghela napas panjang ketika dia mencium anaknya yang sekarang berada dipangkuannya. Hatinya sudah terlalu sering hancur hanya karena dia tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Mengapa juga harus dia yang merasakan semua ini. Mengorbankan kebahagiaan Arsyila pada masalah mereka semua.
__ADS_1