WITH YOU

WITH YOU
Pulanglah...


__ADS_3

Carissa membeku di dalam pelukan Evan, antara percaya dan tidak dengan apa yang di rasakannya saat ini. Suami yang begitu di rindukannya kini datang dan memeluknya dengan erat.


Tanpa sadar Carissa memejamkan matanya. Tidak hanya tubuhnya yang merasa hangat dan nyaman, tapi hatinya juga. Seketika rasa gelisah dan gundahnya saat berada di pesta tadi hilang tak berbekas. Carissa merasa aman dan tidak khawatir lagi.


Tapi sejurus kemudian Carissa membuka kembali matanya. Pertanyaan pun muncul di benaknya. Apakah saat ini dia sedang berhalusinasi? Mungkinkah karena terlalu merindukan sosok Evan membuat Carissa mengkhayal sedang berada dalam pelukan suaminya itu?


"Evan...?" Sekali lagi Carissa memanggil nama Evan, berharap pemilik nama itu menjawab panggilannya dan memastikan jika saat ini Carissa tidak sedang berkhayal.


Perlahan Evan mengurai pelukannya dan menatap kearah Carissa lekat.


"Maaf, aku tidak bisa menahan diri." Ujar Evan sambil terlihat berusaha menguasai dirinya.


Carissa tertegun. Ternyata ini benar-benar Evan, suaminya. Dia tidak sedang berhalusinasi. Di pandangnya wajah Evan dengan pandangan yang tak dapat di lukiskan.


"Kamu pasti lelah." Ujar Evan lagi sambil membimbing Carissa untuk duduk di sofa.


Carissa menurut. Dia duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa tanpa berkata apa-apa. Matanya masih terus melihat kearah Evan dengan tatapan tak percaya.


Evan berlutut di hadapan Carissa, lalu melepaskan high heels yang Carissa kenakan dengan lembut dan hati-hati.


"Jangan terlalu sering memakai ini, tidak baik untuk perempuan hamil. Kaki dan perutmu bisa kram, dan akan berpengaruh pada anak kita juga." Ujar Evan lagi sambil menyingkirkan high heels yang di kenakan Carissa tadi ke sampingnya.


Carissa masih tak mengatakan apapun. Matanya masih terus melihat Evan, dan kali ini dengan semakin berkaca-kaca. Terlihat dadanya naik turun karena menahan gejolak di dalam dadanya.


"Evan..." Sekali lagi Carissa menyebut nama suaminya itu. Kali ini Airmatanya mengalir tanpa bisa dia cegah. Segera dia berhambur kedalam pelukan Evan dan mendekap suaminya itu dengan erat. Carissa menangis tersedu-sedu sambil menyembunyikan wajahnya di dada Evan.


"Evan...hiks...hiks..." Carissa menangis sejadi-jadinya sambil terus menyebut nama Evan. Jemarinya kuat nencengkram pakaian yang Evan kenakan, seakan takut jika saat ini Evan hanyalah khayalannya dan tiba-tiba menghilang.


"Tenanglah, aku di sini..." Evan mengusap lembut kepala dan punggung Carissa, mencoba menenangkan Carissa sebisanya.


Carissa masih tersedu dan tak bisa menghentikan tangisnya. Dia menumpahkan semua kesedihan dan kerinduannya dengan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Evan, hingga pakaian di bagian dada Evan basah karena airmata Carissa.

__ADS_1


Evan mengurai pelukan Carissa dan merangkum wajah istrinya itu dengan kedua tangannya. Carissa menengadah masih dengan terisak dan beruraian airmata.


Hati Evan benar-benar sakit melihatnya. Dia menatap Carissa dengan sendu sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan di dahi Carissa. Dengan lembut Evan menghapus airmata yang membanjiri pipi istrinya itu, lalu mengecup kedua pipi itu juga.


"Jangan menangis lagi. Aku sudah di sini, jadi semuanya akan baik-baik saja." Ujar Evan lagi sambil membelai wajah Carissa lembut.


Carissa berusaha menahan tangisnya meski sesekali dia masih sesegukan.


Evan tersenyum sambil terus membelai wajah Carissa. Lalu di ciumnya juga kedua mata Carissa yang basah.


"Jangan khawatir. Suamimu ada di sini dan tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu." Ujar Evan lagi dengan lembut.


Carissa terdiam dan menatap Evan juga sedang menatapnya. Mata yang punya tatapan teduh itu selalu bisa membuatnya tenang dan damai. Carissa pun mulai bisa menguasai dirinya dan tidak terisak lagi.


"Kamu datang mencariku?" Tanya Carissa dengan suara parau. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah jelas jawabannya dan tidak perlu di ucapkan lagi, tapi terlontar begitu saja dari mulut Carissa.


Evan mengangguk.


Carissa menatap Evan sambil menelan salivanya dengan agak kesusahan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Airmatanya kembali jatuh membasahi pipinya yang hampir mengering. Dia kembali masuk ke dalam pelukan Evan dan memeluk suaminya itu dengan erat. Evan membalas pelukan Carissa dan membiarkan Carissa kembali tersedu di dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu, Carissa." Lirih Evan dengan nada sendu.


"Tidak sehari pun aku lewati tanpa merindukanmu. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Tolong kembalilah, jangan tinggalkan aku." Ujar Evan lagi dengan nada memohon.


Carissa tak sanggup menjawab kata-kata Evan. Hatinya terasa begitu sakit hingga airmatanya tak henti mengalir.


"Setiap hari aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri jika aku bisa sembuh lebih cepat, dan segera menjemputmu. Aku selalu berharap kamu masih sudi untuk kembali bersamaku." Evan bergumam dengan nada yang sedih. Di ciumnya lagi pucuk kepala Carissa seolah dia tidak pernah puas melakukannya.


"Aku tidak sanggup lagi menjalani hidupku tanpamu, Carissa. Kembalilah ke rumah kita. Di sana sangat kosong tanpamu, rumah kita tidak bisa lagi di sebut sebagai rumah sejak kamu pergi. Aku sulit memejamkan mataku di sana, rasanya terlalu membuatku sesak."


Evan membelai wajah Carissa dan mencium keningnya sekali lagi.

__ADS_1


"Pulanglah..." Lirih Evan dengan penuh harap.


Carissa masih terdiam sambil memeluk Evan erat. Dia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Setiap kalimat yang Evan ucapkan benar-benar meremas hatinya hingga tak berbentuk lagi.


"Aku juga merindukanmu..." Carissa akhirnya mengeluarkan suaranya. Suaranya terdengar serak karena terlalu banyak menangis.


"Tapi aku takut setiap kali berpikir untuk kembali. Aku takut kamu tidak bisa sembuh. Aku takut mendorongmu jatuh ke dalam lubang yang sama setelah kamu bersusah payah keluar dari sana. Aku takut, Evan..."


Evan mengeratkan pelukannya mendengar kata-kata Carissa.


"Kehilanganmu rasanya justru jauh lebih sakit, Carissa. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Ujar Evan dengan sendu.


Carissa mengurai pelukannya, lalu mengamati wajah Evan dengan matanya yang masih basah. Senyumnya kemudian mengembang meski terlihat kelu.


"Kalau begitu, gendong aku." Pintanya kemudian.


"Aku lelah dan kakiku pegal. Gendong aku ke tempat tidur." Tambahnya lagi.


Evan ikut tersenyum dan melakukan apa yang di pinta Carissa tadi. Di angkatnya tubuh Carissa dan di bawanya menuju kamar tidur. Evan membaringkan tubuh istrinya itu ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.


"Aku bantu ganti pakaian dulu." Ujar Evan.


Carissa mengangguk mengiyakan. Di lihatnya Evan turun dari tempat tidur dan mengambil salah satu gaun tidurnya dari dalam lemari.


Evan membantu Carissa menanggalkan gaun pestanya dan menggantinya dengan gaun tidur. Kemudian dia juga melepaskan jas yang dia kenakan, dan melepaskan kancing teratas kemejanya. Kemudian Evan membaringkan dirinya di samping Carissa berbaring.


Keduanya saling memandang sebelum akhirnya kembali saling memeluk satu sama lain.


Bersambung...


Kira2 abis ini mereka bakal ngapain yak?😅

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2