
Tubuh Carissa agak terdorong oleh para gadis belia itu, tapi untung saja dengan sigap Evan memeluknya. Seketika mereka semua terdiam dan mundur beberapa langkah karena melihat wajah Evan yang berubah menjadi tidak bersahabat.
"Kalian hampir membuat istri saya terjatuh." Ujar Evan dengan nada tidak suka.
Para gadis remaja itu tampak agak terkejut dan terlihat ketakutan. Mereka buru-buru membungkukkan badan secara bersamaan sebagai permintaan maaf.
"Maaf, Kak, kami tidak sengaja. Kami cuma mau minta foto bareng dengan Kakak." Ujar salah seorang gadis yang tadi telah sempat merapat pada Evan.
"Istri saya sedang hamil, kalau tadi dia sampai terjatuh dan sampai terjadi apa-apa pada istri saya, kalian mau tanggung jawab?" Tanya Evan lagi masih dengan nada tidak suka.
Para gadis itu tampak saling pandang dengan raut wajah risau.
"Maaf, Kak." Ujar Mereka lagi secara bersamaan.
"Evan, sudahlah. Mereka tidak sengaja. Lagipula aku juga tidak apa-apa." Carissa mengusap dada Evan lembut untuk menenangkan suaminya itu.
Sekilas Carissa melihat para gadis remaja yang tampak ketakutan di hadapannya. Entah kenapa, mereka semua mengingatkan Carissa pada dirinya sendiri saat dia remaja dulu, hingga dia tidak bisa marah dengan apa yang telah mereka lakukan. Saat itu, Carissa juga termasuk gadis remaja bandel dan sering melakukan hal tidak tahu malu, apalagi jika itu menyangkut Aaron.
Evan tampak menghela nafasnya.
"Baiklah, karena istri saya tidak apa-apa, kalian boleh pergi. Lain kali jangan melakukan hal semacam tadi. Kalian ini anak perempuan, harusnya jangan bertingkah seperti itu. Apalagi dengan orang yang tidak di kenal." Ujar Evan akhirnya.
Carissa agak sedikit meringis mendengar kata-kata suaminya itu. Tidak tahu akan seperti apa reaksi Evan jika tahu saat remaja dulu Carissa juga termasuk gadis yang agak bar-bar.
"Baik, Kak. Sekali lagi maaf." Jawab para gadis remaja itu.
"Kalian harus meminta maaf pada istri saya." Ujar Evan.
Para gadis itu pun beralih pada Carissa.
"Maaf, ya, Tante. Tadi kami tidak sengaja." Ujar salah satu dari mereka.
Seketika Carissa membeliakkan matanya karena mendengar panggilan Tante dari para gadis itu.
"I-iya, tidak apa-apa." Jawab Carissa dengan agak terbata.
Para gadis itu kembali membungkukkan badan pada Evan dan Carissa sebelum akhirnya berhambur pergi.
"Mereka memanggilmu Kakak, tapi memanggilku Tante. Jahat sekali." Gumam Carissa dengan nada putus asa.
Evan yang mendengar itu tampak menoleh kearah Carissa.
__ADS_1
"Aku cukup memaklumi jika mereka tidak mengenaliku, karena mungkin mereka bukan penyuka piano. Tapi masa mereka panggil aku Tante, sih. Memangnya aku sudah setua itu apa?" Carissa menengadahkan wajahnya kearah Evan seolah sedang meminta penilaian.
Evan tersenyum sambil merangkum wajah Carissa.
"Tentu saja tidak. Bagiku kamu terlihat seperti berumur delapan belas tahun." Ujar Evan lembut.
"Bohong." Carissa melengoskan wajahnya kearah lain.
"Ini semua gara-gara kamu. Kenapa juga kamu memakai pakaian seperti ini, kamu jadi kelihatan tambah tampan dan tambah muda. Tidak adil!" Carissa memukul dada Evan dengan kesal.
Evan tertawa dan meraih Carissa ke dalam pelukannya.
"Oke, kalau begitu setelah ini aku tidak akan pernah pakai pakaian seperti ini lagi. Mungkin aku juga harus mengecat rambutku jadi warna putih supaya terlihat tua." Ujar Evan dengan nada menggoda.
"Bukan seperti itu juga, Evan." Carissa protes. Di lepasnya tangan Evan yang memeluknya, tapi Evan justru memeluknya lagi.
"Jangan di lepas. Kalau begini kan orang-orang akan tahu jika aku sedang bersama istriku." Ujar Evan.
"Tidak mau. Malu, orang-orang melihat kita dengan tatapan aneh." Carissa kembali mengurai pelukan Evan.
Evan kembali tertawa. Di bimbingnya Carissa menuju ke sebuah bangku yang ada di taman itu. Keduanya pun lalu duduk di sana.
Evan langsung bangkit dari duduknya.
"Tunggu di sini." Ujar Evan sambil mencium. kening Carissa Carissa pun mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian, Evan kembali dengan membawa es krim yang diinginkan Carissa, juga beberapa makanan kecil lain serta dua botol air mineral.
"Kenapa kamu beli camilan juga? Nanti aku kalap dan makan semuanya." Protes Carissa.
"Makan saja, asal cuma sesekali dan tidak terlalu sering." Jawab Evan.
Tidak menunggu lama, Carissa langsung membuka kemasan es krim cone yang di belikan Evan, dan langsung memakannya. Dia juga membuka bungkus keripik kentang dan memakannya bersamaan dengan memakan es krim.
Evan hanya melihat Carissa dengan tersenyum tipis. Tanpa sadar tangannya terulur dan membelai kepala Carissa dengan lembut.
"Setelah tidak pernah mual dan muntah lagi, sekarang aku jadi sangat suka makan." Gumam Carissa sambil mengunyah keripik kentang.
"Itu bagus. Artinya calon anak kita tidak akan kekurangan nutrisi." Jawab Evan menanggapi.
"Tapi bagaimana kalau nanti aku menjadi semakin gemuk? Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Carissa sambil melihat kearah Evan.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Kamu mau sebesar apapun tidak jadi masalah." Jawab Evan lagi.
"Bohong. Kalau aku gemuk dan tidak cantik lagi, kamu pasti cari perempuan yang lebih muda, lebih langsing dan lebih cantik. Lelaki kan suka begitu." Carissa menggerutu sambil terus mengunyah keripik kentangnya.
Evan tak menjawab. Dia hanya menatap lekat pada Carissa sambil tersenyum tipis.
Merasa Evan tak menanggapi kata-katanya, Carissa pun menoleh kearah Evan. Seketika Carissa terkesiap saat mendapati Evan yang tersenyum padanya.
"Kenapa kamu melihatku sambil tersenyum begitu?" Tanya Carissa.
"Karena kamu lucu." Jawab Evan sambil masih tersenyum.
"Kamu mengejekku, ya? Jahat." Sekali lagi Carissa memukul dada Evan. Kali ini Evan menangkap tangan Carissa dan langsung menarik istrinya itu kembali masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu lucu, seperti gadis kecil yang suka mengoceh lalu merajuk. Mungkin putri kita nanti akan terlihat seperti ini." Ujar Evan sambil mencium kening Carissa.
"Asal tidak seperti anak-anak remaja tadi saja. Aku tidak bisa membayangkan putriku nanti seperti itu. Bagaimana bisa mereka langsung mendekati lelaki asing dan meminta untuk foto bersama." Gumam Evan lagi.
Carissa mengangkat wajahnya.
"Tapi dulu aku juga agak nakal..." Ujar Carissa dengan agak lirih.
Sekali lagi Evan tak bisa menahan tawanya.
"Baiklah, mungkin tidak apa-apa kalau putri kita nanti sedikit nakal. Itu menunjukkan jika dia adalah perempuan yang berani." Ujar Evan akhirnya.
Carissa tersenyum.
"Kamu selalu mengatakan tidak apa-apa jika itu menyangkut aku." Gumam Carissa.
"Karena kamu adalah sebuah pengecualian. Aku akan menerima dan memaklumi segala hal yang berkaitan denganmu." Jawab Evan.
Carissa terdiam dan tak dapat berkata-kata lagi. Rasa haru menyeruak ke dalam setiap sudut hatinya.
"Putri kita sangat beruntung memiliki seorang ayah sepertimu, Evan. Karena kamu adalah ayah paling penyayang sedunia." Ujarnya sembari memeluk Evan dengan erat.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤
__ADS_1