WITH YOU

WITH YOU
Semua Itu Ada Masanya


__ADS_3

Disebuah pemakaman yang sangat lama sekali tak dikunjungi oleh Raka maupun Fania semenjak menikahnya Adelia bersama dengan Devan. keduanya lebih fokus pada rumah tangga anak itu. Tidak pernah lagi berkunjung ke pemakaman mertuanya dan juga anak dari istrinya. Keduanya ziarah secara terpisah. Fania yang pergi ke pemakaman papa Raka bersama dengan mamanya. Tapi, kali ini dia pergi ke pemakaman tempat anak istrinya dan juga keluarga istrinya dikubur.


Rasanay begitu singkat kepergian Rania yang sudah dua puluh tahun pergi meninggalkan mereka. Akan tetapi meninggalkan luka yang begitu mendalam bagi Raka juga. Pasalnya, dia begitu menginginkan anak itu dulu, sekalipun Reza tak pernah menganggapnya ada, tapi dia yang bersedia untuk merawat anaknya. Tuhan berkata lain, sehingga anak itu pergi meninggalkan mereka berdua dengan begitu cepat.


Dari jarak beberapa meter juga dari tempat Raka, ada sosok perempuan masa lalu yang juga pernah mengisi hati Raka. Dia sadar jika kesalahannya itu membuat dirinya kehilangan perempuan yang pernah begitu berharga di dalam hidupnya. Trauma itulah yang membuat Raka begitu ingin tahu mengenai menantunya, karena dia tidak mau jika menantunya pengecut seperti dirinya yang mengorbankan Adelia dan juga buah hati anaknya itu nanti.


Tempat mereka memang begitu jauh, tapi Raka tak bisa berkata apa-apa kepada perempuan yang pernah ada di dalam hidupnya. Anaknya, dan juga perempuan itu pergi secara bersamaan karena dia yang tidak pernah mau bertanggung jawab dulu. Jika waktu bisa diputar, Raka ingin jika semuanya baik-baik saja. Anaknya, dan juga perempuan itu kembali. Tapi, jika semua itu kembali, tentu saja dia tak akan pernah bertemu dengan Fania.


Sejenak dia menunduk di pemakaman ayah mertua dan juga ibu mertuanya, hingga detik ini Raka masih merasa bersalah pada kakak istrinya itu. “Dia udah aku jaga dengan baik, maaf atas kejadian dulu, adik kamu baik-baik saja. Sekalipun dia pernah kehilangan juga dan barangkali kamu udah memeluk anaknya terlebih dahulu, pasti Tuhan menempatkan kamu di tempat terbaiknya,” sapa Raka dengan senyuman saat dia berpindah ke pemakaman Fandy—kakak istrinya.


Masa lalu itu memang sangat menyedihkan, saat di mana dia juga merasakan sakit itu benar-benar nyata. Ketika dirinya berusaha untuk bahagia, sosok bayangan perempuan masa lalunya datang begitu saja dan mengingatkannya dengan kesalahannya dulu yang kabur begitu saja dari tanggung jawab, sekarang ini yang dia takutkan adalah Adelia bernasib sama dengan perempuan yang terbaring beberapa meter dari tempat Fandy.


Ketika melihat istrinya masih duduk di sana bersama dengan mamanya, setiap kali ke pemakaman, pasti mereka akan lama. Dan kali ini karena dia tidak bisa lagi menahannya, Raka berdiri dari tempat duduknya dan langsung menemui perempuan yang ada beberapa meter dari tempat Fandy dimakamkan.


Di sana terlihat ada bunga yang ditaruh dan sepertinya bunga itu masih baru dan terlihat baru beberapa jam. Jika itu ditaruh kemarin, sudah pastinya akan basah. Karena tadi malam sempat hujan deras dan pasti akan kotor. Tapi bunga itu masih terlihat segar dan bersih. Barangkali keluarga mendiang perempuan tersebut datang.


“Apa kabar?” tanya Raka yang sebenarnya sangat konyol jika dia bertanya demikian. Karena tak akan pernah ada jawaban dari perempuan itu. Sudah lama sekali kejadian itu, bahkan ketika Fandy masih hidup. “Nak, Papa datang kunjungi Mama dan juga kamu,” jika Raka bisa mengembalikan itu semua. Dia ingin bahwa dia bisa menemani anaknya tumbuh.


Dia menundukkan kepalanya sambil memegang batu nisan. Inikah hukuman terberatnya atas apa yang dia lakukan selama ini? Dia yang telah menghamili perempuan hingga akhirnya perempuan itu mengakhiri hidupnya karena kebodohannya yang tak ingin bertanggung jawab. Anak yang dia jaga dengan baik justru hamil di luar nikah, dan itu dia anggap sebagai hal yang paling berat di dalam hidupnya. Tapi, dia lupa jika perempuan yang ada dibawah sana adalah korban dari kebodohannya dulu.


“Kamu benar, apa yang aku lakukan di masa lalu bisa buat aku hancur di masa depan. Semua orang lihat aku kuat, tapi di dalam hati aku. Semuanya masih terasa begitu jelas, kamu juga masih ada. Mencintai kamu dan dia secara bersamaan itu memang sulit. Satu sisi aku mencintai kamu, satu sisi aku juga mencintai istriku. Aku mencintai dua perempuan dengan dunia yang berbeda. Hal itu begitu terasa saat ini, aku nggak bisa bayangin kalau dulu kamu pasti sangat malu karena perbuatan aku,” dia masih tidak bisa berdiri dari tempatnya.


“Kamu selalu ingetin aku kalau semuanya bakalan ada masa di mana semua itu akan dibalas. Cepat atau lambat karma bakalan datang. Dan aku mikirnya nggak ada karma di dunia ini. Tapi ini nyata sekali, kamu pergi bersama sumpah kamu. Dan juga pergi bersama anak kita. Sekalipun aku pindah, aku tetap pulang untuk bisa bertemu sama kamu, andai saja istri aku tahu mengenai hal ini, tentu dia bakalan ngerasa sakit banget. Aku masih menaruh kamu dengan baik, tanpa ada orang yang tahu. Bahwa kamu dan juga anak kita masih ada pada hati aku sayang,”


Dadanya begitu sesak mengapa dulu dia begitu bodoh dan kabur dari masalah. Dia yang menghamili perempuan itu, dia juga yang kabur dari masalah besar itu. Harusnya dia bertanggung jawab, harusnya dia bisa memberi kebahagiaan kepada kedua orang yang meninggal secara bersamaan.


“Raka!” panggil seseorang yang membuat Raka berbalik dan melihat pria tua yang sudah keriput di sana.


“Om,” Raka langsung bersalaman dan dibalas dengan senyuman oleh ayah dari perempuan itu. Mereka memang dekat dulu, tapi dia tidak pernah tahu jika perempuan itu akan pergi untuk selamanya dari dalam hidupnya dan masih meninggalkan duka kepada orang tua perempuan itu.

__ADS_1


“Kamu masih sering ke sini?”


“Nggak Om. Kebetulan pergi kunjungi Papa dan juga mertua,”


Pria tua itu tersenyum. “Kamu enak ya bisa hidup bahagia sampai sekarang. Punya mertua, punya istri, pasti kamu juga punya anak?”


“Iya, aku punya dua anak, satunya sudah menikah,”


“Lalu? Bagaimana sama dia?”


Raka tahu bahwa kepergian kekasihnya itu memang masih menyimpan duka bagi siapa saja yang datang. “Tentang itu, saya minta maaf,”


“Apa artinya? Anak kamu berapa?”


“Dua, yang pertama perempuan. Yang kedua laki-laki masih SMA,”


Pria itu mengangguk, “Saya dari tadi perhatiin kamu, saya pergi ke sana untuk ambil air untuk disiramin ke kuburan dia. Tapi saya nggak mau dekati kamu, tapi kamu justru datang kemari. Anak kamu ada empat, Raka. Di sana terbaring dua bersama dengan ibunya. Dan dua lagi ada sama kamu dan istri kamu,”


“Iya, Raka. Anak kamu kembar, tapi sayangnya saat saya mau nerima dia dan juga anaknya. Tapi justru kamu buang dia begitu saja. Saya nggak habis pikir dengan hal itu, Raka. Saat saya berharap kamu jadi menantu dan juga pria yang bertanggung jawab. Justru kamu campakkan dia, dunia ini rasanya nggka adil banget buat dia. Kamu hidup bahagia, sedangkan dia mati dengan kebodohannya,”


Raka tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan dia tidak tahu jika anaknya dari perempuan itu kembar. “Raka, kenapa dunia ini berpihak pada kamu yang brengsek itu? Kenapa nggak ada kebahagiaan untuk anak Om?”


“Saya tahu saya salah, Om,”


“Sekalipun kamu sadar dengan kesalahan kamu itu. Nggak bakalan bisa buat dia hidup lagi, Raka. Nggak bakalan bisa buat dia hidup bersama dengan anak-anaknya. Dulu, waktu dia mengakui dirinya hamil, Om suruh dia bawa kamu ke rumah. Itu karena anak yang dia kandung memang anak kamu. Dia nggak pernah selingkuh, dia pernah begitu disayangi oleh Fandy, tapi dia milih kamu karena dia lebih sayang sama kamu. Dia abaikan orang yang mencintainya hanya untuk pria brengsek seperti kamu. Tapi kenapa? Kenapa justru dia yang nggak bisa bahagia? Kenapa juga kamu minta hak untuk dia yang belum sah jadi istri kamu? Dan sekarang, hidupnya sia-sia seperti sampah,”


“Dia nggak pernah jadi sampah. Dia itu berharga,”


“Berharga karena kamu menyesali semua itu setelah kehilangan dia, Raka. Bukan berharga ketika dia masih hidup, kalau dia masih hidup. Sudah dipastikan kamu dan dia sudah punya cucu kan untuk saat ini?”

__ADS_1


Raka akui jika itu adalah kesalahannya, dia memang pernah menjadi pengecut. Dia yang pernah menyia-nyiakan perempuan dan juga calon anaknya. Jika dia menyalahkan Reza, dia jauh lebih brengsek dibandingkan Reza. Karena dia melakukan hal itu dengan pacarnya sendiri. Dan justru dia mencampakkan perempuan itu.


“Raka, apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada sedikit saja perasaan menyesal kamu? Mama dia pergi juga waktu itu. Sekarang tinggal Om dan juga kakaknya dia. Raka, kamu beruntung banget punya kehidupan yang sempurna. Tidak seperti putri Om satu-satunya yang Om punya, kakaknya itu laki-laki, dan ini adalah putri kesayangan Om. Nggak ada penolakan waktu Om tahu dia hamil, ketika dia jujur kalau dia melakukannya sama kamu. Kecewa sudah pasti ada, tapi ketika Om suruh dia bawa kamu. Tapi kamu justru abaikan dia, sekarang apalagi yang Om punya? Ketika dua wanita yang begitu berharga pergi untuk selamanya. Sedangkan kamu? Kamu bahagia sama hidup kamu,”


Tidak ada yang tahu bagaimana hancurnya hati Raka, apalagi ketika dia tahu bahwa putri kesayangannya juga hamil diluar nikah. Seperti inilah yang dirasakan oleh papa kekasihnya dulu ketika mendengar kabar kehamilan itu. Beruntungnya Adelia masih ditanggungjawabi oleh Devan. tidak seperti dirinya yang justru membiarkan perempuan itu melakukan hal bodoh. Tapi dia tahu bahwa frustrasi itu membuat dirinya kehilangan tiga nyawa sekaligus. Raka pikir, anak yang dikandung oleh perempuan itu dulu adalah satu. Tapi baru kali ini dia tahu jika dua anaknya sudah tiada.


“Kamu bakalan ngerasain apa yang dia rasain, Raka. Tentang kehilangan, dan juga tentang mencintai apa yang paling berharga di dalam hidup kamu. Justru apa yang kamu anggap berharga itu yang membuat kamu merasakan sakit yang teramat luar biasa. Bahkan, itu juga yang membuat kamu mengerti dengan arti hidup ini. Jika suatu waktu Tuhan memberikan keburukan bagi hidup kamu. Jangan pernah kamu salahkan! Karena dulu, ketika kamu diberikan kesempatan memperbaiki. Harusnya kamu perbaiki, bukan egois dan menghilangkan tiga nyawa sekaligus karena kamu tinggalkan. Bukan kamu rangkul,”


Raka tak bisa berkata apapun. Apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar. “Pergilah! Istri kamu sebentar lagi kembali. Dia sudah bangun dari sana,” tunjuk pria itu yang membawa botol minuman.


Melihat mata yang penuh kesedihan itu. Raka tidak tahu lagi harus berkata apa dengan penyesalan dan juga hidupnya yang hancur kali ini. “Saya pamit om,”


Dia langsung berjongkok sejenak. “Aku pergi, Papa pergi, Nak! Maafin Papa,” ucapnya di dalam hati.


Ketika dia pergi, sungguh Raka tak bisa membendung kesedihannya. Mamanya benar, jika Raka pernah melakukan kesalahan itu yang juga membuat dirinya kecewa dengan kehamilan Adelia. Andai saja dulu dia tak menjadi pengecut. Adelia tak akan mengalami hal yang sama.


Setiap langkahnya ketika meninggalkan makam. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Raka langsung menyekanya dengan sebaik mungkin dan langsung menghampiri kedua perempuan itu.


Setibanya di sana. “Kamu nangis, Raka?” tanya mamanya.


Raka tersenyum, “Mama tunggu aja di makam orang tua Fania. Raka mau ke makam Papa,” ucapnya dan langsung pergi begitu saja ketika dia berpapasan dengan mama dan juga istrinya.


 


 


Ketika keduanya pergi, “Semoga Keano tak menjadi pengecut yang sama seperti aku,” ucapnya sambil menekan dadanya. Sungguh, Raka tak bisa memaafkan dirinya sendiri ketika hari di mana dia tiba-tiba diberitahukan mengenai anaknya yang kembar pergi untuk selamanya bersama dengan perempuan itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2