WITH YOU

WITH YOU
Pulang


__ADS_3

Siang harinya, Carissa dan Evan akhirnya tiba di Singapura. Sudah ada Zacky dan Sonya yang menjemput di bandara. Tampaknya kedua orang tua Evan itu sudah tidak sabar untuk segera bertemu anak dan menantu mereka.


"Carissa." Sonya memeluk Carissa erat dengan mata berkaca-kaca.


"Mama..." Carissa tak bisa menahan haru mendapatkan sambutan hangat dari ibu mertuanya ini.


Sonya mengurai pelukannya dan memperhatikan Carissa dengan seksama.


"Kamu sehat, kan?" Tanya Sonya.


Carissa tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


"Aku sehat, Ma. Mama dan Papa sendiri bagaimana?"


"Kami sehat, Carissa. Tapi setiap hari tidak bisa tenang karena terus memikirkanmu sendirian diluar sana. Lain kali jangan pergi seperti ini lagi." Ujar Sonya lagi sambil kembali memeluk Carissa.


"Maaf karena telah membuat Mama dan Papa khawatir." Ujar Carissa dengan penuh penyesalan.


Melihat Mama dan Papa mertuanya begitu mengkhawatirkan dirinya, rasa bersalah pun menyusup kedalam hati Carissa. Sedih rasanya karena telah membuat orang-orang yang menyayanginya ikut merasakan penderitaan yang ia rasakan.


"Sudahlah, yang penting sekarang Evan sudah membawa Carissa kembali. Lebih baik kita langsung mengantar mereka pulang. Mereka pasti merasa lelah." Zacky menginterupsi.


"Ah, iya. Baiklah." Sonya kembali mengurai pelukannya dan membimbing Carissa menuju mobil mereka. Lalu Zacky dan Evan mengikuti dari belakang.


Evan tersenyum sambil memandang kearah Carissa dan Sonya. Akhirnya dia bisa membawa pulang istrinya dan berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya seperti dulu. Dia berharap setelah ini mereka tidak akan pernah berpisah lagi, dalam keadaan apapun.


Ternyata Zacky mengemudikan mobil sendiri untuk menjemput Evan dan Carissa. Mereka lalu langsung meluncur menuju ke aparteman Evan.


Tak lama kemudian mereka sampai. Zacky dan Sonya juga ikut ke apartemen. Sonya bahkan berbelanja bahan masakan di supermarket yang terletak tak jauh dari sana. Dia ingin memasak makan siang untuk anak serta menantunya dan makan siang bersama mereka.


"Biar aku bantu, Ma." Carissa mengikat rambutnya dan menggunakan apron, bersiap-siap untuk membantu Sonya memasak.


"Oh, tidak. Kamu baru sampai dan harus istirahat." Ujar Sonya sambil mengisyaratkan Carissa untuk pergi dari dapur.


"Aku tidak terlalu lelah. Biar aku yang mengupas bumbu dan memotong sayuran." Carissa bersikeras.


"Tidak, tidak. Biar Mama saja yang melakukannya. Jika ingin membantu, cukup jaga cucu Mama yang saat ini ada dalam perutmu." Ujar Sonya lagi.


"Tapi, Ma..."


Belum sempat Carissa membantah lagi, Sonya sudah memberikan tatapan jika dia sedang tak ingin di bantah.


"Evan!" Sonya memanggil Evan yang saat ini sedang berbicara dengan Papanya di ruang keluarga.

__ADS_1


Mendengar teriakan Sonya yang tak biasa, cepat-cepat Evan pergi ke dapur.


"Ada apa, Ma?" Tanya Evan dengan agak panik. Dia mengira ada sesuatu yang terjadi di dapur. Bahkan Zacky pun ikut menyusul ke dapur karena teriakan Sonya tadi.


"Bawa istrimu ini ke kamar dan ajak dia istirahat. Nanti kalau makan siangnya sudah siap, Mama akan memanggil kalian." Perintah Sonya dengan nada tak ingin di bantah.


Evan menautkan kedua alisnya dan melirik Carissa, seakan bertanya apa yang terjadi.


"Aku hanya ingin membantu Mama. Aku lihat bahan masakanya cukup banyak, Mama pasti memerlukan bantuan supaya masakannya cepat selesai." Ujar Carissa.


"Mama tidak memerlukan bantuanmu. Ada Papa yang akan membantu Mama." Jawab Sonya sambil melihat kearah Zacky.


"Aku?" Zacky bertanya seakan bergumam pada dirinya sendiri.


"Perut Carissa sudah cukup besar, dia perlu banyak istirahat. Sekali-kali aku rasa tidak masalah kamu membantuku memasak."


Zacky tampak tak bisa berkata-kata. Selama ini Zacky tidak pernah masuk dapur karena Sonya tak pernah mengizinkannya. Kenapa sekarang Sonya malah memerintahkan Carissa istirahat dan Zacky yang harus membantu memasak?


Tampaknya karena akan segera memiliki cucu membuat cinta istrinya ini berkurang padanya.


Melihat semua orang yang tampak bengong, Sonya melepas apron yang di kenakan Carissa, lalu memakaikannya pada Zacky.


"Sekarang kalian boleh pergi." ujar Sonya pada Evan dan Carissa.


Carissa agak tertegun sesaat setelah berada di dalam kamar.


"Kamu sudah mengembalikan barang-barangmu kesini semua?" Tanya Carissa saat melihat suasana kamarnya yang telah cukup lama dia tinggalkan. Tampak barang-barang Evan yang sebelumnya Evan bawa ke kamar yang satunya, kini telah kembali ke tempatnya semula.


"Iya." Jawab Evan mengiyakan.


"Sekarang kamu akan tidur disini lagi, bersamaku?" Tanya Carissa lagi.


"Iya. Kenapa, kamu merasa keberatan? " Evan balik bertanya.


Carissa menggeleng cepat, lalu memeluk Evan erat.


"Tentu saja tidak. Aku senang akhirnya kita bisa seperti dulu lagi." Ujar Carissa dengan lirih.


Evan terdiam sejenak, lalu membalas pelukan istrinya itu. Diusapnya pucuk kepala Carissa dengan lembut dan penuh perasaan.


"Maaf kalau aku sempat menjauhimu." Gumam Evan juga dengan nada lirih.


Carissa mendongakkan wajahnya melihat kearah Evan sembari tersenyum dengan manis.

__ADS_1


"Bisakah kita menutup semua kesedihan tempo hari, dan memulai kehidupan bahagia kita lagi? Aku merindukan saat-saat awal pernikahan kita dulu. Bagaimana kita selalu bercanda, tertawa dan merasa bahagia setiap harinya. Meski saat itu tidak mengungkapkan jika kita saling mencintai, kita selalu membahagiakan satu sama lain."


Evan tertegun dan menatap Carissa dalam. Lalu tangannya terulur membelai dengan lembut pipi istrinya itu.


"Tentu saja." Jawab Evan lirih sambil masih menatap Carissa dengan segenap perasaannya.


"Asal kamu tidak pergi meninggalkanku lagi, kita pasti akan kembali saling membahagiakan seperti dulu." Tambah Evan lagi.


Berganti Carissa yang tertegun dengan mata yang mulai mengembun.


"Maafkan aku..." Ujar Carissa sambil kembali masuk kedalam pelukan Evan.


"Aku janji tidak akan pergi seperti itu lagi. Waktu itu aku hanya tidak tahu harus bagaimana, sebenarnya aku juga tidak ingin pergi. Aku juga tidak sanggup jauh darimu."


Evan tersenyum dan mengecup pucuk kepala Carissa berulang kali.


"Sudahlah, tidak usah membahas yang sedih-sedih lagi. Nanti putri kita akan ikut sedih." Evan mengusap perut Carissa sambil mencium kening istrinya sekali lagi.


"Mama tadi menyuruhku membawamu ke kamar supaya kamu bisa beristirahat. Sekarang naiklah ke tempat tidur dan istirahatlah. Kamu tidak ingin sampai dimarahi Mama, kan?"


Carissa tertawa.


"Aku kasihan dengan Papa. Waktu Mama memakaikan apron tadi, wajah Papa terlihat bingung dan juga syok. Papa pasti tidak pernah memasak sebelumnya." Tebak Carissa.


"Memang tidak pernah. Tapi bagus juga kalau sekarang Papa membantu Mama di dapur, bisa dapat pengalaman baru. Mungkin bisa sekalian belajar memasak juga. Kalau putri kita lahir nanti, aku tidak tahu apa Mama masih punya waktu memasak untuk Papa "


Carissa membeliakkan matanya.


"Tidak boleh begitu. Biarpun sudah punya cucu Mama tidak boleh sampai mengabaikan Papa." Seru Carissa dengan wajah serius.


Evan tertawa dan langsung menggendong Carissa menuju tempat tidur.


Meski sempat terpekik karena agak terkejut, Carissa tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Evan.


"Istirahatlah..." Ujar Evan sambil membaringkan tubuh Carissa ke tempat tidur.


Carissa mengangguk mengiyakan sambil menahan tangan Evan.


"Aku mencintaimu..." Bisiknya.


Bersambung...


Jgn lupa like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2