
Menjadi anak tiri? Menjadi keluarga yang tiba-tiba muncul pada keluarga besar papanya adalah hal yang paling mengasingkan bagi kedua saudara itu. mereka memang baru tahu jika papa mereka masih hidup. Tapi, ketika mengetahui papa mereka yang bukanlah orang sembarangan juga membuat Aksa dan juga Argi menjadi manusia yang sedikit canggung jika berhadapan dengan orang tuanya langsung. Bukan hanya itu saja, tapi ketika berada di kantor pun, mereka berdua sangatlah asing.
Mungkin orang akan menganggap bahwa mereka ini hanya halusinasi mengenai orang tua itu. tapi, tidak dengan mama tiri dan juga papa kandung mereka. Diterima baik oleh keluarga besar itu juga merupakan suatu kebahagiaan bagi mereka. Karena tidak ada yang dibandingkan sama sekali.
Argi lebih dekat dengan Keano sedangkan Aksa lebih akur dengan Devan—adik iparnya sendiri. Sedangkan Adelia yang sampai sekarang ini sulit membedakan keduanya karena mereka berdua itu sangat mirip dan nyaris tidak ada tanda untuk membedakan keduanya.
Yang membuat Adelia bisa membandingkan jika ingin menyapa salah satunya, yaitu dengan menanyakan siapa yang dia ajak bicara itu. tinggal dua bulan bersama mereka itu cukuplah menyenangkan apalagi ketika kakaknya menceritakan mengenai pertemuan pertama dengan papanya. Dan juga Adelia merasa kedua kakaknya itu sangatlah baik. Apa pun yang dia inginkan akan selalu dituruti. Berbeda halnya dengan Keano yang kembali cuek kepada dirinya sejak dia kembali ke rumah ini. Bukan karena adiknya tidak menerima kakak kembarnya itu. melainkan karena Keano memang memiliki sifat seperti itu.
“Adel, mau ke mana?”
Dia menoleh ketika kakaknya memanggil. Dia baru saja hendak pergi ke suatu tempat, “Mau keluar jalan-jalan, Kak,”
“Mau ditemani?”
Adelia memang rutin jalan-jalan pagi ataupun sore karena usia kandungannya yang memasuki bulan ke sembilan. Jadi dia harus banyak bergerak untuk membantu proses persalinan nanti. Berhubung Devan tidak di rumah karena perjalanan ke luar kota, Adelia tersenyum kepada kakaknya. “Boleh, kakak nggak ke kantor?”
“Enggak, disuruh di rumah aja sama, Papa,”
“Bentar, ini Kak siapa?”
“Argi,” kata pria itu sembari mendekatinya. “Kamu udah lama tinggal sama kakak kok nggak bisa bedain?”
“Abisnya aku lihatnya sama persis,”
“Bedain dari tinggi badan, Adelia. Kalau aku lebih tinggi dibandingkan kak Aksa. Kalau dia juga kan nggak terlalu kurus, agak berisi gitu badannya,”
“Hehehe,” Adelia terkekeh sembari dirangkul oleh kakaknya, “Kakak kenapa nggak ke kantor?”
“Di suruh awasi nenek. Sementara waktu kan harus di rumah dulu, nenek sakit-sakitan,”
“Kak, apa kakak nggak marah ketemu sama Papa sekarang? Tiga puluh tahun lebih nggak pernah lihat bagaimana wajah Papa, gimana kasih sayang Papa,”
“Andai waktu bisa diputar Adelia. Kakak juga pengin ketemu sama Papa dari dulu. Tapi sayangnya baru bisa ketemu sekarang ‘kan. Tapi ya bersyukur kalau Papa itu masih sehat,”
“Tentang Mama? Kakak nggak ngerasa benci gitu? Biasanya ‘kan Mama tiri itu sering dibenci oleh anak tiri,”
Argi terkekeh, “Adelia, kenapa harus benci? Umur bukan muda lagi loh. Kakak juga sebenarnya mau menikah. Tapi ya gitu, masih nunggu dulu,”
“Oh iya iya. Kakak kenapa belum menikah?”
“Nunggu waktu yang tepat, Adelia. Kakak nggak mau menyesal. Kakak juga belum punya rumah sendiri,”
“Kenapa nggak minta dibeliin, Papa?”
Pria itu tersenyum. “Adelia, cowok sama cewek itu beda ya. Kalau cowok lebih milih berusaha sendiri, kalau mikirnya minta sama Papa ya nggak mungkin. Toh kakak nggak mau juga,”
__ADS_1
“Oh gitu. Ya juga sih, Devan juga dulu gitu. Milih tinggal berdua sama aku waktu baru nikah,”
“Itu gimana ceritanya dia ngikut kamu? Nggak lagi bertengkar ‘kan?”
“Nenek yang minta. Devan nggak enak tinggal bareng sebenarnya. Tapi nggak mungkin juga nentang kan? Jadi mau nggak mau aku sama dia itu harus tinggal di sini. Lagian Papa juga yang maksa,”
“Kamu sama Devan nikah muda sih menurutku. Tapi nggak apa-apa, kakak lihat dia itu bertanggungjawab sama kamu. Sekarang itu tinggal kamunya aja, Adelia. Nggak boleh ngambekkan, kakak lihat kamu sering ngambek kok ke Devan,”
“Iya, habisnya kan dia itu nyebelin,”
“Itu karena kamu hamil aja sih. Jadi sensitif gitu. Sebenarnya dia bersikap berlebihan nggak bolehin kamu lakuin ini itu juga karena kandungan kamu,”
“Tapi nggak harus ngambek juga ‘kan?”
“Yang ngambek itu kamu, bukan Devan,” terang Argi. Adelia memang beberapa kali ini memang sering ngambek. Dia juga sering memarahi Devan ketika berada di rumah saat Devan melarangnya melakukan banyak aktivitas. Tapi satupun keluarga tidak ada yang ikut campur mengenai rumah tangga mereka. “Kamu sayang sama dia?”
“Memangnya ada istri yang nggak sayang suaminya?”
“Banyak. maka dari itu ketika kita mencari pasangan kita harus memilih dengan cara yang baik. Nggak salah loh kita itu minta dia jujur, bukan berarti ketika dia melakukan kesalahan atau dia punya kekurangan kita justru tinggalin dia. Nggak gitu Adelia. Tapi kita butuh kejujuran dia kalau misal terjadi apa-apa di masa mendatang, kita bisa saling mengerti. Kita bisa saling memperbaiki,”
“Devan juga begitu kak. Dia selalu jujur sama aku, tapi kadang ada yang disembunyikan juga dan pada akhirnya aku sama dia bertengkar kalau misalnya dia nggak mau jujur. Keano juga sering marahin dia kok dulu waktu aku sama dia baru nikah. Terlebih Papa,”
“Pernikahan itu nggak usah diikut campuri sama orang. Nggak baik Adelia. Kecuali kalau kita nggak bisa selesaikan masalah itu harus dipertemukan dengan kedua orang tua si laki dan perempuan. Nggak bisa ya misal sekarang kamu bertengkar sama dia, terus Papa sama Mama ikut campur. Dalam pertengkaran itu yang salah adalah kamu, tapi Papa sama Mama nyalahin Devan. ketika dia berusaha untuk mencari pembenaran dan mencoba menjelaskan tapi nggak dipercayai juga. Ya nggak baik dong! Karena harus dipertemukan keduanya. Biar salah satunya bisa mengimbangi. Jadi orang tua dia sama orang tua kita bisa saling mengerti satu sama lain,”
“Tapi sayangnya aku nggak pernah ketemu sama orang tua, Devan,”
“Aku nggak mau, karena orang tua Devan nggak pernah setuju kalau aku sama Devan nikah,”
“Terus gimana ceritanya kamu sama Devan nikah?”
Adelia menunduk, “Hamil, kak,”
Argi terdiam sejenak. Jadi ini alasan kenapa orang tua Devan tidak pernah setuju dengan pernikahan itu. ini juga alasan orang tua mereka meminta agar menjaga Adelia dengan baik karena takut suatu waktu Devan pergi begitu saja dan meninggalkan Adelia. “Kamu nggak keberatan cerita masalah kamu sama Kakak?”
“Nggak, kak. Dan juga ini sebenarnya ada kesalahpahaman ya. Aku sama sekali waktu itu nggak tahu kalau di minuman itu ada obat perangsang waktu ulang tahun pacar aku. Dia campurin ke minuman aku dengan niat mau celakai aku. Terus Devan mabuk waktu itu, karena aku nggak berani pulang kan dan juga ngerasa aku kepanasan karena obat perangsang itu, alhasil aku pesan kamar. Kebetulan juga Devan ada di hotel itu menginap,”
“Ini acaranya di hotel ya?”
“Iya kak. Terus waktu aku masuk kamar karena pengin buru-buru buka baju, akhirnya aku buka tanpa kunci pintu. Devan mabuk, dan karena efek obat itu juga. Akhirnya aku sama dia ya lakuin itu,”
“Berarti yang jadi sumber masalahnya itu pacar kamu dong?”
“Iya kak. Devan adalah orang pertama yang nyentuh aku,”
“Kalian baru sekali lakuin terus jadi?”
__ADS_1
“Iya, kak,”
“Hebat juga suami kamu,”
“Tapi buat dapat restu Papa itu ngeri, Kak. Nggak kayak sekarang, Papa itu memang baik banget. Papa itu paling ngerti ke anak-anaknya. Cuman waktu Devan lamar aku, dia dipukulin habis-habisan sama Papa. Belum lagi aku juga dipukul,”
“Papa nggak tahu sumber masalahnya emang?”
“Papa kan lagi emosi, jadi nggak mau dengar penjelasan aku,”
“Udah nggak usah diingat lagi ya! Lagian sekarang Devan tanggungjawab sama kamu. Laki-laki kalau udah bersikap seperti itu, itu artinya dia memang tanggungjawab sama kamu. Ngomong-ngomong nanti anaknya mau dinamain siapa?”
“Nggak tahu tuh si Devan,”
“Ya udah,” kata Argi menyerah. “Mama selalu pesan ke kakak kalau kakak harus jagain kamu,”
“Kenapa begitu? Kan aku udah ada suami,”
“Maksud Mama itu kalau ada masalah misal. Kamu harus tetap pulang, kalau kamu dan dia nggak bisa untuk nyelesein masalah ya pulang! Kakak bakalan ada buat kamu,”
“Dari dulu aku selalu pengin punya kakak. Mama cerita waktu tujuh bulanan aku kalau dia dulu pernah hamil, tapi anaknya meninggal di dalam kandungan karena Mama jatuh. Tapi anaknya perempuan,”
“Hmm, kakak pernah dengar dan kakak pernah ke makamnya dia waktu antarin Mama,”
“Kakak diceritain juga?”
“Iya, waktu itu kan kakak lagi temenin dia belanja beliin kamu perlengkapan buat hias kamar kamu nanti untuk si kecil. Maka dari itu Mama minta diantarin, dia bilang dia rindu anaknya,”
“Aku nangis waktu diceritain tentang Mama yang pernah kehilangan. Dia yang menahan sakitnya selama ini punya masa lalu yang buruk juga,”
“Kamu tahu penyebab Mama keguguran?”
Adelia menggeleng pelan. “Setahu aku Mama jatuh,”
“Mama di dorong, Adelia. Itu yang Papa bilang. Mama di dorong sama mantan suaminya dulu,”
“Kok jahat banget ya?”
“Kita nggak tahu masa lalu mereka dek. Jadi nggak boleh bilang begitu ya! Kakak nggak mau itu jadi beban pikiran kamu, jadi nggak usah dibahas. Nanti kamu stress, kasihan sama si dedek,”
Argi menenangkan Adelia karena takut nanti jika Adelia terus berpikiran mengenai anak mama tirinya yang meninggal itu justru menciptakan ketakutan tersendiri untuk Adelia. Sekalipun dia baru bertemu dengan adiknya, tapi tidak masalah karena dia memang ingin melindungi adiknya. Sama seperti yang dikatakan oleh mama tirinya bahwa tempat terbaik untuk kembali adalah keluarga. Jadi tidak ada yang asing lagi bagi mereka. Dia yang harus bisa melindungi adik perempuannya. Argi memang tidak ingi ikut campur mengenai rumah tangga adiknya. Tapi ketika dia tahu tentang Adelia yang ingin dijebak oleh pacar sendiri membuatnya geram dan tidak habis pikir tentang kelakuan pria tersebut.
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan dengan cara vote sebanyak-banyaknya dan juga like serta komentar dibawah ini ya. Terima kasih. Author bakalan crazy up untuk malam ini. Sisanya akhir bulan.