WITH YOU

WITH YOU
Sebuah Solusi


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Sesha akhirnya masuk dan memberikan makan siang milik Carissa. Mereka akhirnya makan siang bersama dengan Evan juga. Setelah itu Evan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Hasil tes darah Lily menunjukkan jika bayi mungil itu hanya demam biasa. Tidak ada yang seruis. Hal itu membuat Carissa merasa sangat lega.


Kondisi Lily juga semakin membaik. Dia bahkan sudah kembali mau minum asi dengan menggunakan botol susu. Sepertinya tingkahnya kemarin hanya karena dia merasa tidak enak badan saja.


Geraldyn pun datang membesuk Lily. Dia juga mengatakan pada Carissa jika jadwal Carissa sudah di kosongkan sampai besok. Tapi tentu saja hal itu justru akan semakin memperpadat jadwal di hari-hari selanjutnya. Sebenarnya Carissa sendiri merasa sedikit cemas bagaimana nanti dia harus membagi waktunya. Tapi saat ini, dia hanya fokus pada penyembuhan demam Lily dulu. Mungkin setelah itu dia baru akan mendiskusikannya lebih lanjut pada Evan.


Setelah Geraldyn pulang, Carissa meminta Sesha untuk menjaga Lily. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Carissa ingin memejamkan matanya sebentar agar bisa mengisi ulang energinya. Tidak tidur sama sekali sejak semalam membuat tubuhnya terasa agak lemas.


Setelah beberapa saat, Carissa pun akhirnya terlelap. Sayup-sayup telinganya mendengar ada suara seorang perempuan menyebut namanya. Tapi karena sangat mengantuk, Carissa pun tak terjaga dari tidurnya.


Setelah tertidur entah berapa lama, Carissa akhirnya menggeliatkan tubuhnya. Perlahan ia membuka mata sembari kembali merenggangkan tubuhnya. Dan Carissa agak terkesiap saat melihat sosok yang saat ini sedang duduk sambil memangku Lily.


"Mama?" Gumam Carissa tak percaya. Dia agak terkejut karena mendapati Alya ada di hadapannya.


"Mama datang untuk mengunjungi rumah baru kalian. Tadinya Mama ingin memberikan kalian kejutan dengan tidak mengabari terlebih dahulu. Tapi ternyata Mama sendiri yang mendapatkan kejutan begitu sampai di rumah kalian. Mama langsung mendapat kabar jika Lily masuk rumah sakit." Ujar Alya sambil membelai lembut wajah Lily.


"Sudah, cuci mukamu dulu sana. Kamu tidur lama sekali sampai hampir melewatkan jam makan malam." Ujar Alya lagi pada Carissa yang terlihat agak termangu.


"Benarkah?" Carissa bergumam tak percaya. Dia tidak menyangka jika sudah tertidur selama itu. Bergegas Carissa masuk ke dalam toilet ruang perawatan Lily dan membasuh wajahnya. Tubuhnya kini terasa jauh lebih segar karena sudah tertidur tadi.


Setelah itu, Carissa pun kembali menemui Alya.


"Pengasuh Lily pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang." Alya kembali mengeluarkan suaranya saat melihat Carissa yang tampak sedang celingukan mencari seseorang.


"Oh..." Akhirnya Carissa duduk di samping Alya.


"Kapan Mama sampai?" Tanya Carissa kemudian.


"Sore tadi. Mama langsung kemari saat pelayan di rumah kalian mengatakan jika Lily di rawat di rumah sakit."


Carissa terdiam lagi beberapa saat.


"Sudah bertemu dengan Evan?" Tanya Carissa lagi.


Alya mengangguk.


"Mama sudah mengobrol dengan Evan tadi. Sekarang dia sedang keluar untuk membeli makan malam." Jawab Alya lagi.

__ADS_1


Mereka berdua pun hening selama beberapa saat.


Tak lama kemudian, Lily merengek. Tampaknya bayi mungil itu merasa lapar karena selama Carissa tertidur tadi dia minum asi dengan menggunakan botol hanya sekali.


Carissa segera mengambil Lily dari gendongan Alya, lalu menyusui putrinya itu. Lily langsung menyusu dengan lahap dan kembali tenang. Suhu tubuhnya juga sudah normal seperti biasanya.


"Carissa..." Panggil Alya kemudian.


Carissa mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Mamanya itu.


"Ya, Ma?"


"Tampaknya kamu dan suamimu sedang memerlukan bantuan."


Carissa tampak menautkan kedua alisnya.


"Maksud Mama?" Tanyanya.


Alya tampak mengatur kalimat yang tepat untuk dia ucapkan.


"Mama bertanya pada Evan kenapa Lily bisa sampai dirawat di rumah sakit. Dan Evan sudah menceritakan pada Mama permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini."


"Carissa, kali ini biarkan Mama membantu kalian." Ujar Alya kemudian.


Carissa kembali mengangkat wajahnya dan melihat kearah Alya dengan penuh tanda tanya.


"Selama kamu sibuk untuk mempersiapkan konsermu, biarkan Mama yang merawat Lily." Ujar Alya lagi.


"A-apa?" Carissa agak terkejut mendengar penuturan Alya.


"Lily masih sangat rentan, Carissa. Umurnya masih di bawah enam bulan. Dia pasti kelelahan karena kamu bawa kesana-kemari. Jika setelah ini dia masih ikut kemana pun kamu pergi, bukan tidak mungkin jika dia akan masuk rumah sakit lagi."


Carissa masih tertegun dan tak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu harus menanggapi perkataan Alya seperti apa.


"Hanya selama kamu mempersiapkan konsermu, percayakanlah Lily pada Mama. Mama akan tinggal sementara di rumahmu dan merawat Lily di rumah bersama pengasuh Lily. Tinggalkan saja stok asi yang cukup untuk Lily selama kamu pergi. Dengan begitu Lily tidak perlu ikut kamu kemana-mana dan lebih terjaga kesehatannya."


Carissa masih terdiam dan tetap tidak bisa mengatakan apapun.


"Mama sudah menyampaikan hal ini pada Evan, dan dia mengatakan jika semuanya tergantung padamu." Tambah Alya lagi.

__ADS_1


Carissa melihat kearah Alya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Bagaimana bisa...aku membiarkan Mama merawat Lily..." Akhirnya Carissa mengeluarkan suaranya.


Berganti Alya yang menautkan kedua alisnya.


"Kamu tidak mempercayai Mama?" Tanya Alya.


Carissa menggeleng cepat.


"Justru Mama adalah orang yang paling aku percayai di dunia ini. Tapi membiarkan Mama marawat Lily, bagaimana bisa aku seperti itu?"


Alya terlihat agak bingung.


"Memang apa masalahnya?"


Carissa kembali melihat kearah Alya. Kali ini dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Mama sudah merawat dan membesarkanku, bagaimana mungkin sekarang Mama akan merawat putriku juga? Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Ma. Bagaimana bisa aku menjadi begitu durhaka..." Airmata Carissa tiba-tiba menetes tak tertahankan. Dia tidak tahu dari apa sebenarnya hati Alya diciptakan. Mengapa Mamanya ini selalu sangat baik. Tidakkah terbesit sekali saja diingatannya jika Carissa adalah putri dari selingkuhan suaminya.


Alya pun tersenyum dengan mata yang juga mengembun.


"Carissa, apa kamu tahu kenapa Mama tidak pernah membencimu dan menganggapmu seolah berasal dari rahim Mama sendiri?"


Carissa tertegun, kemudian menggeleng pelan.


"Karena kamu adalah bagian dari Arga, lelaki yang sangat Mama cintai. Mama bisa melihat bayangan Papamu di dalam dirimu. Setiap melihat wajahmu, Mama akan langsung teringat pada Papamu. Bahkan senyummu sama persis dengan senyum Papamu. Hal itu akhirnya membuat Mama tidak peduli dari mana kamu berasal. Yang Mama tahu hanyalah Mama menyayangimu seakan kamu adalah bagian dari diri Mama sendiri."


Carissa masih membeku dengan airmata yang mengalir semakin deras.


"Dan entah bagaimana, Lily pun seperti itu. Memandang wajah Lily, seakan menjadi obat akan kerinduan Mama terhadap Papamu. Jadi Carissa, biarkan Mama merawat Lily, setidaknya sampai tubuhnya telah jauh lebih kuat, karena dengan begitu Mama juga merasa seakan berada di dekat Papamu lagi."


Tangis Carissa akhirnya pecah. Dia terisak sambil memandang kearah Alya dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Andai saja saat ini dia tidak sedang menyusui Lily, pasti dia sudah berhambur ke dalam pelukan Alya seperti anak kecil.


"Terima kasih, Ma..." Hanya kata itu yang bisa Carissa ucapkan pada sosok di hadapannya kini. Sosok malaikat tak bersayap yang memiliki tempat paling berharga dalam hidup Carissa.


Bersambung...


Kalo banyak yang vote, emak bakal up satu lagi part Gege Jojo (modus)😁😁😁

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2