WITH YOU

WITH YOU
Dia Pergi


__ADS_3

Evan datang ke rumah kedua orang tuanya tepat setelah Sonya dan Zacky selesai makan malam. Penampilannya tampak rapi. Terlihat seperti lelaki yang akan mengajak kencan seorang perempuan.


Evan melihat ke ruang keluarga, tempat kedua orangtuanya sedang duduk sembari membicarakan obrolan ringan. Tak tampak Carissa di sana. Evan berpikir mungkin saat in istrinya itu sedang di kamar.


"Ma, Pa." Sapa Evan.


Sonya dan Zacky menghentikan pembicaraan mereka, lalu sama-sama menoleh pada Evan.


"Evan? Baru sampai?" Tanya Sonya.


"Iya, Ma." Jawab Evan.


"Kenapa sendirian, di mana Carissa?" Kali ini Zacky yang bertanya.


"Carissa? Ini aku baru mau menjemputnya untuk makan malam di luar."


Zacky dan Sonya tampak saling pandang dengan wajah terkejut.


"Carissa tidak sedang bersamamu?" Tanya Sonya pada Evan.


Evan terlihat menautkan kedua alisnya.


"Bukankah Carissa di sini, bersama Mama dan Papa?" Evan balik bertanya.


"Astaga..." Sonya tampak agak terkejut dan sedikit panik.


"Dimana dia?" Sonya bergumam seakan bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa maksud Mama? Carissa di sini, kan?" Tanya Evan tak mengerti.


Sonya terdiam sesaat masih dengan wajah paniknya.


"Tadi pagi setelah kamu pergi ke rumah sakit, Carissa bilang mau mengambil sesuatu di apartemen. Mama mau menemani, tapi dia menolak dan bilang tidak akan lama. Akhirnya Mama izinkan dia pergi ke apartemen sendirian dengan menggunakan taksi. Lalu dia mengabari Mama jika dia akan menunggumu di apartemen. Mama pikir dia bersamamu." Sonya menjelaskan.


Evan membeku dengan wajah yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.


"Dia tidak ada di apartemen, Ma. Aku sudah pulang ke apartemen untuk mandi dan berganti pakaian sebelum datang ke sini. Tidak ada Carissa di sana." Ujar Evan mulai panik.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?" Zacky kembali bertanya.


Evan terdiam beberapa saat dan tampak mengingat-ingat. Saat pulang tadi dia langsung masuk ke kamar yang belakangan ini di tempatinya, bukan ke kamarnya bersama Carissa. Mungkinkah Carissa ada di kamar mereka dan Evan tidak menyadarinya?


"Aku memang tidak ke kamar yang biasa kami tempati. Tapi saat aku masuk, tidak terdengar ada orang lain di sana." Ujar Evan dengan agak ragu.


"Mungkin saja saat ini Carisaa sedang ketiduran karena bosan menunggumu terlalu lama." Ujar Zacky.


Evan kembali terdiam beberapa saat.


"Papa benar. Mungkin aku yang tidak menyadari jika saat ini dia sedang berada di apartemen karena ingin buru-buru ke sini." Evan mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mencoba menghubungi Carissa, tapi nomor itu justru tidak aktif.


Beberapa kali Evan berusaha menghubungi istrinya itu, tapi tetap tak membuahkan hasil. Nomor Carissa tetap tidak bisa di hubungi, hingga rasa khawatir pun perlahan merayap di dalam hati Evan.


"Carissa tidak bisa di hubungi, aku harus kembali ke apartemen dan memeriksa apakah benar dia ada di sana." Ujar Evan sembari berlalu meninggalkan Sonya dan Zacky. Evan langsung mengendarai mobilnya kembali menuju apartemen.


Sepanjang perjalanan, Evan benar-benar merasa gelisah. Tiba-tiba terbayang olehnya sikap Carissa tadi pagi yang terasa agak lain, seakan saat itu Carissa akan melepas kepergian Evan dalam waktu yang lama.


Evan menghela nafasnya berulang kali. Sebisa mungkin Evan membuang pikiran-pikiran buruk di dalam otaknya. Meski belakangan hubungannya dengan Carissa memang memburuk, tapi Evan telah sebisa mungkin untuk bersikap seperti biasanya pada Carissa. Itu artinya mereka harusnya baik-baik saja, kan? Tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Sesampainya di apartemen, Evan langsung masuk dan buru-buru memeriksa kamar yang di tempatinya bersama Carissa. Tidak ada siapa-siapa di sana. Evan juga masuk ke dalam kamar mandi, berharap Carissa berada di sana. Tapi di sana juga tidak ada siapa-siapa, hingga Evan menjadi sedikit panik.


"Carissa, sebenarnya kamu dimana?" Evan bergumam dengan nada khawatir sembari kembali mengeluarkan ponselnya dan kembali berusaha menghubungi Carissa. Dan untuk kesekian kalinya Evan mendengarkan operator memberi keterangan jika nomor kontak Carissa sedang berada di luar jangkuan.


Setelah berpikir beberapa saat, kemudian dia bergegas keluar apartemen dan menemui pihak keamanan apartemen. Evan meminta izin untuk mendapatkan akses melihat CCTV apartemennya. Dia ingin memastikan jika Carissa memang datang ke apartemen atau tidak.


Dan Carissa ternyata memang datang ke apartemen mereka. Evan sedikit menautkan kedua alisnya saat melihat Carissa berdiri cukup lama di depan pintu apartemen sebelum masuk ke dalam, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius. Tak berapa lama kemudian Carissa masuk, lalu keluar lagi sekitar dua puluh menit kemudian.


Evan terperangah saat melihat Carissa keluar dari apartemen mereka dengan membawa serta sebuah koper. Langsung saja Evan bangkit dan cepat-cepat kembali ke apartemennya. Sekali lagi Evan memeriksa kamar yang di tempatinya bersama Carissa selama ini. Di bukanya lemari pakaian Carissa, dan seketika tubuh Evan terasa lemas saat mendapati pakaian Carissa sudah tidak ada lagi di sana.


Sebelumnya Evan tidak terlalu menyadari jika ada yang hilang dari meja rias milik Carissa, karena sebagian kosmetik milik Carissa memang di bawanya saat menginap di rumah orang tua Evan. Dan Evan baru sadar sepenuhnya jika semua benda milik Carissa sudah tidak ada lagi di sana.


Evan membeku dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Dia bertanya-tanya, apakah saat ini Carissa pergi meninggalkannya?


Belum sempat otaknya berpikir lebih jauh lagi, mata Evan tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas yang di lipat dan di letakkan di atas nakas. Tampak seperti sebuah surat. Evan pun mengambilnya. Lalu dengan tangan yang sedikit gemetaran, Evan membuka lipatan surat tersebut dan membaca isinya.


Dear Evan

__ADS_1


Maaf jika aku pergi tanpa berpamitan padamu. Dan sampaikan juga permintaan maafku pada Mama dan Papa karena tidak mengatakan apapun pada mereka.


Jika kamu bertanya kenapa aku tiba-tiba pergi, jawabannya adalah karena aku menginginkan kesembuhanmu.


Aku sudah bertemu dengan Dokter Melissa, dan beliau sudah menceritakan padaku tentang kondisimu yang sebenarnya.


Evan, jujur saja, aku sangat sedih mengetahui penderitaan yang kamu alami selama ini karena semua perbuatan Papaku. Dan aku semakin sedih saat mendapati jika kamu ternyata sampai mengidap penyakit serius karena menahan penderitaan itu seorang diri. Maafkan aku, Evan. Maafkan Papaku. Maafkan kami karena telah membuatmu banyak menderita.


Aku pergi, karena aku tidak ingin menjadi racun untuk hidupmu lagi. Aku tidak ingin setiap kali melihatku kamu selalu teringat akan semua penderitaanmu dan merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Aku ingin kamu kembali sehat dan menjadi sosok yang mengagumkan seperti dulu.


Maaf jika aku harus membawa serta calon anak kita. Aku akan menjaga dan membesarkannya dengan sepenuh hatiku. Aku juga akan menceritakan padanya jika dia punya ayah yang sangat mengagumkan, baik dan juga penyayang. Suatu hari jika dia ingin bertemu denganmu, aku pasti akan membawanya untuk menemuimu.


Terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang selama ini telah kamu berikan padaku. Saat-saat bersamamu adalah saat-saat paling indah dalam hidupku. Aku akan menyimpannya sebagai kenangan yang tak akan pernah aku lupakan, sampai nanti aku tidak bernafas lagi.


Pada akhirnya, aku adalah orang yang mengingkari janji pernikahan kita. Maafkan aku, Evan. Andai kehidupan selanjutnya benar-benar ada, aku ingin kembali di pertemukan denganmu dan menjadi istrimu sekali lagi, dan aku berharap takdir tidak terlalu kejam pada kita seperti saat ini. Aku berharap di kehidupan itu kita benar-benar bersama sampai akhir.


Aku mencintaimu, Evan. Dan aku ingin kamu bahagia, meski tanpa aku.


Carissa.


Evan membaca kata demi kata dalam surat itu dengan airmata yang mengalir deras. Dia terisak dengan tubuh yang gemetaran. Di remasnya kertas di tangannya bersamaan dengan tubuhnya yang luruh ke lantai.


"Carissa..." Lirih Evan di sela isakannya.


Sonya dan Zacky yang baru sampai tampak terkejut melihat keadaan Evan. Buru-buru Sonya menghampiri putranya itu.


"Evan? Kamu kenapa?" Tanya Sonya dengan raut bingung.


"Carissa..." Hanya itu yang bisa Evan ucapkan. Dia tergugu sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Carissa? Dia tidak ada di sini? Di mana dia?" Sonya kembali bertanya tanpa sadar.


Evan tampak berusaha untuk menguasai dirinya. Dia menghela nafas sembari memejamkan matanya.


"Carissa...dia pergi."


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2