
Setelah makan malam selesai, Ginna dan Carlson selaku tuan rumah belum memperbolehkan para tamunya untuk pulang. Nyonya dan Tuan Besar Brylee itu mengajak ketiga pasangan tadi untuk beralih ke ruangan lain.
Dan kali ini, sudut lain dari rumah keluarga Brylee yang didatangi adalah sebuah ruangan kedap udara yang menyerupai tempat karaoke keluarga. Ruangan tersebut cukup luas dan di lengkapi dengan peralatan untuk berkaraoke ria. Belum lagi sofanya yang terasa super empuk hingga sangat nyaman untuk diduduki sambil bersandar.
Makanan kecil dan minuman ringan juga telah tersedia di sana.
"kita sudah cukup membicarakan bisnis. Sekarang saatnya bersantai dulu." Carlson mempersilakan Jonathan dan Geraldyn untuk masuk dan duduk di sana.
"Dan kamu Carissa, ajak suamimu juga untuk sedikit bersantai. Jika sedang di rumah sakit, dia pasti tidak bisa melakukan itu." Ujar Carlson lagi, kali ini pada Carissa.
Mau tidak mau mereka semua pun akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Ada tiga sofa besar yang di susun dengan membentuk setengan lingkaran. Aaron dan Zaya duduk di sofa paling tengah, seakan mereka berdua adalah penengah yang akan menjaga dua pasangan lainnya agar tak saling berseteru. Sedangkan Evan dan Carissa serta Jonathan dan Geraldyn duduk di sofa lainnya yang agak saling berhadapan.
Carlson berpamitan untuk beristirahat sambil mengajak Albern untuk beristirahat di kamarnya juga. Sedangkan Ginna membawa Zivanna yang telah terlelap untuk di tidurkan ke tempat tidurnya.
Kini tinggal ketiga pasangan itu saja di ruangan karaoke keluarga Brylee. Ruangan yang bahkan lebih bagus dari tempat karaoke elit di kota itu.
"Honey, aku baru tahu di rumah Mama dan Papa ada ruangan ini." Ujar Zaya pada Aaron.
"Papa baru membuatnya sekitar seminggu ini. Mereka berdua sedang suka menyanyi bersama." Jawab Aaron.
Zaya agak melebarkan matanya.
"Benarkah?" Tanyanya surprise.
"Memangnya kenapa?' Aaron balik bertanya.
"Ah, tidak ada." Jawab Zaya cepat. Sebenarnya dia tidak aneh membayangkan Carlson sedang berkaraoke ria, karena pribadinya yang hangat dan juga suka bergurau. Tapi Ginna? Entahlah, Zaya agak sulit membayangkan ibu mertuanya itu bernyanyi.
"Apa yang kau pikirkan? Suara Mama bahkan lebih merdu daripada suara penyanyi yang mendapatkan penghargaan tahun ini." Ujar Aaron saat melihat Zaya tampak tertegun.
Zaya menoleh kearah Aaron cepat. Suaminya ini selalu saja bisa menebak yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
"Jadi, siapa kira-kira yang akan menyanyikan lagu pembuka?" Tiba-tiba terdengar suara Geraldyn bertanya. Karena suasananya sudah jauh lebih santai, perempuan itu akhirnya membuka suaranya
Suasana hening sejenak. Lalu tanpa diduga, Evan dan Carissa menunjuk kearah Aaron, begitu pula dengan Zaya.
"Apa-apaan?" Tanya Aaron pada ketiganya.
"Suaramu bagus." Ujar Carissa. Evan mengangguk membenarkan pernyataan istrinya itu.
Zaya pun bangkit dan mengambil mikrofon, lalu menyerahkannya pada Aaron.
"Aku ingin dengar lagi kamu bernyanyi, Honey." Pinta Zaya sambil menyungging senyuman mautnya. Melihat itu Aaron kalah. Dia meleleh sampai ketulang-tulang hingga tak kuasa untuk menolak.
Dengan bantuan seorang pemandu lagu yang juga telah di persiapkan Ginna, melodi lagu yang ingin Aaron nyanyikan pun di putar.
Mengenai pemandu lagu yang ada di ruangan itu. Jangan kira jika dia adalah seorang gadis cantik, pemandu lagunya justru seorang lelaki usia awal empat puluhan yang punya pengetahuan cukup luas tentang banyak lagu dari berbagai genre musik. Mungkin hanya di keluarga Brylee saja yang pemandu lagunya tidak diperbolehkan seorang gadis, apalagi gadis cantik. Kelihatannya pengalaman Nyonya Ginna yang terhormat membuatnya menjadi sangat berhati-hati.
Aaron mulai bernyanyi. Suaranya yang merdu terdengar, membuat Zaya tersenyum dengan wajah yang agak merona. Istri Aaron itu tampak terbawa suasana karena Aaron sedang menyanyikan lagu yang dulu dia nyanyikan juga di hari pernikahannya. Melihat hal itu, Aaron menarik Zaya kedalam pelukannya. Lagu pun diselesaikan dengan manis sambil dibubuhi adegan romantis.
"Jangan tertipu, Zaya. Dia menyanyikan lagu itu bukan karena mengingat hari pernikahan kalian, tapi karena itu saja lagu yang dia tahu." Carissa menginterupsi kemesraan di sebelahnya itu.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Aaron sambil tertawa kecil.
"Tentu saja aku tahu. Semua rahasiamu ada disini." Carissa menunjukkan genggaman tangannya.
"Jadi baik-baiklah padaku jika tidak ingin istrimu tahu semua keburukanmu." Ujar Carissa pura-pura mengancam.
"Katakan saja, akhir-akhir ini Zaya merasa jika aku terlalu sempurna, jadi mungkin dia perlu tahu sedikit keburukanku agar aku terlihat lebih manusiawi." Aaron menanggapi dengan entengnya.
"Astaga, mengerikan sekali. Kenapa sekarang dia juga menjadi narsis?" Gumam Carissa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aaron tertawa dan kembali memeluk Zaya dengan mesra, seolah di sana tidak ada orang lain.
__ADS_1
"Tuan Aaron dan Nyonya Zaya terlihat begitu saling mencintai. Pernikahan kalian pasti sangat membahagiakan." Jonathan mengeluarkan suaranya setelah melihat kemesraan Aaron dan Zaya sejak tadi.
Aaron menoleh kearah Jonathan dan tersenyum.
"Sebenarnya dalam sebuah pernikahan, rasanya tak selalu bahagia. Terkadang ada kalanya sedih, bahkan pernah juga terasa sangat menyakitkan. Tapi selama kita masih bisa bersama orang yang dicintai, penderitaan sebesar apapun pasti akan dengan mudah dilalui begitu saja." Aaron berujar sembari mencium kening Zaya dan memeluknya lagi. Zaya yang menerima perlakuan itu hanya tersenyum dan tampak tidak protes karena malu. Dia sudah mulai terbiasa dan terlihat menikmati.
"Anda tidak akan bisa membayangkannya jika tidak mengalaminya sendiri, Tuan Jonathan. Pernikahan adalah sebuah keajaiban, Anda benar-benar rugi jika tidak punya niat untuk menikah." Ujar Aaron lagi dengan agak berseloroh.
Jonathan tersenyum tipis.
"Siapa bilang saya tidak punya niat untuk menikah. Dulu saya sudah pernah hampir menuju gerbang pernikahan bersama seorang gadis yang sangat saya dambakan. Tapi tepat sebelum kami bertunangan, gadis itu justru lari bersama lelaki lain dan menikahi lelaki itu." Ujar Jonathan lagi dengan suara yang penuh dengan getaran emosi.
Aaron sedikit tertegun. Dan saat tanpa sengaja dia menoleh kearah Carissa, Aaron tersenyum meski sangat tipis.
Dapat!
Aaron mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ekspresi wajah Carissa yang sangat tidak bagus membuat Aaron dapat memahami situasinya dengan mudah. Rupanya mitra bisnisnya ini pernah akan bertunangan dengan Carissa, tapi Carissa malah menikah dengan Evan. Ternyata memang ada sedikit dendam disini.
"Kalau dia sudah menikah, lupakan saja dia, Tuan Jonathan. Terus mengingatnya hanya akan membuang-buang waktu Anda saja. Apalagi jika dia sudah punya anak." Aaron tampak memberi saran.
Jonathan kembali melihat kearah Aaron.
"Maaf jika aku terkesan lancang. Tapi dulu aku punya seorang teman yang cinta mati dengan seorang perempuan yang telah memiliki anak. Temanku itu berusaha mengejarnya, meski tahu perempuan itu tidak mencintainya. Dan akhirnya dia merasa sangat patah hati, karena perempuan idamannya memilih untuk kembali bersama dengan ayah dari anaknya."
Evan dan Zaya melebarkan matanya secara bersamaan. Keduanya bertanya-tanya, apa saat ini Aaron sedang membicarakan mereka berdua?
"Ada begitu banyak gadis cantik di luar sana, Tuan Jonathan. Jika Anda hanya terpaku pada perempuan yang bahkan tidak pernah melihat kearah Anda, sungguh sangat disayangkan karena Anda telah menyia-yiakan waktu Anda yang berharga."
Bersambung...
__ADS_1
Tetap like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤