
Alya menginap di kediaman orang tua Evan tidak terlalu lama, hanya tiga hari saja. Setelah itu dia sudah kembali lagi ke Amerika karena di sana Clara juga sedang sangat membutuhkannya.
Satu bulan kemudian, Sonya dan Zacky mengadakan pesta keluarga untuk merayakan kelahiran Lily. Bukan sebuah pesta yang megah, tapi semua rekan bisnis Zacky diundang. Teman-teman dan rekan kerja Evan juga diundang semua. Bahkan kali ini Alya kembali datang bersama Clara dan Dave, suami Clara. Untuk teman-teman Carissa, dia hanya mengundang Geraldyn dan beberapa rekan yang tergabung di manajemennya saja. Namun tampaknya mereka akan datang sedikit terlambat.
Pesta berlangsung cukup meriah. Semuanya tampak larut dalam kebahagiaan. Tapi Lily yang notabenenya adalah bintang utama hari itu tampak tertidur pulas di gendongan Carissa setelah sebelumnya ia puas menyusu. Bayi menggemaskan itu memang akan selalu tidur jika perutnya sudah terisi, itulah sebabnya dalam kurun waktu sebulan saja berat badannya sudah naik secara signifikan. Tubuh Lily sudah mulai gempal dengan pipi yang membulat.
"Dia tidur lagi?" Tanya Sonya pada Carissa.
"Iya, Ma." Jawab Carissa.
Sonya sedikit menggelengkan kepalanya sambil melihat kearah cucunya itu.
"Putrimu ini benar-benar sesuatu. Jika dia sedang ingin tidur, mau suasana di sekitarnya sebising apapun, tetap saja dia akan tidur." Gumam Sonya.
Carissa tersenyum.
"Benar, Ma. Sepertinya kelak dia tidak akan terlalu mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Mau keadaan seperti apapun, dia akan tetap melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan." Timpal Carissa.
"Jika saat besar nanti dia punya keinginan yang kuat dan teguh, tampaknya kamu harus benar-benar menjaganya dengan baik. Jangan sampai dia mempunyai keinginan yang kuat terhadap sesuatu yang salah." Sonya terdengar seperti sedang menasehati.
Carissa tersenyum lagi, kali ini sambil memandang lekat wajah Lily.
"Tentu saja. Sekarang prioritas kami adalah memastikan semua yang terbaik untuk Lily. Kami tidak akan membiarkan hal buruk sampai terjadi padanya." Ujar Carissa.
Sonya ikut tersenyum dan memgangguk.
"Akan ada banyak orang yang akan mencintai Lily. Dia akan tumbuh dengan berlimpah kasih sayang. Lilyku ini pasti akan menjadi sosok yang mengagumkan." Tambah Carissa lagi.
Sonya kembali mengangguk setuju. Dia lalu mengajak Carissa untuk kembali menyapa para tamu yang datang. Merasa lelah menngendong, Carissa kemudian membawa Lily dengan memggunakam kereta bayi. Tentu saja kereta bayi itu sudah dihias sebelumnya untuk membuatnya selaras dengan semarak suasana pesta.
"Dia tidur lagi?" Evan yang sedari tadi menyapa para koleganya datang mendekat kearah Carissa. Dilihatnya Lily terlelap lagi di dalam kereta bayinya.
"Anak gadismu ini adalah seorang putri tidur. Mungkin akan terbangun kalau nanti ada pangeran yang datang menciumnya." Seloroh Carissa.
Evan tertawa kecil sambil mengamati Lily.
"Oh, iya. Tempo hari saat aku mengundang Zaya dan Aaron, mereka bilang mungkin tidak bisa datang. Tapi ternyata kebetulan hari ini Aaron ada meeting penting dengan seorang klien di dekat sini, jadi Zaya ikut juga supaya bisa datang ke pesta Lily." Ujar Evan kemudian.
Carissa terlihat agak surprise mendengar apa yang di katakan Evan.
"Zaya akan datang kesini?" Tanya Carissa meyakinkan
Evan mengangguk.
"Iya, tadi baru saja dia memberi kabar jika saat ini dia sudah dalam perjalanan menuju kemari." Jawabnya lagi.
Belum sempat Carissa kembali menanggapi, salah seorang pelayan datang menghampiri Evan.
__ADS_1
"Tuan Muda, Nyonya Muda Brylee sudah datang." Ujar pelayan itu.
Evan tersenyum sambil menoleh kearah Carissa.
"Ternyata dia menghubungi saat sudah hampir sampai." Gumam Evan.
"Kalau begitu, sambut dia di depan. Aku akan menunggu di sini bersama Lily." Ujar Carissa.
Evan mengangguk mengiyakan, kemudian berlalu dari hadapan Carissa. Tak lama kemudian, Evan kembali bersama Zaya yang datang bersama dengan dua anaknya.
"Carissa, selamat, ya." Zaya langsung memeluk hangat Carissa.
"Terima kasih, Zaya. Aku pikir kamu dan Aaron tidak akan datang." Carissa membalas pelukan Zaya.
Keduanya kemudian saling mengurai pelukan.
"Maaf, Aaron harus menyelesaikan urusannya, jadi hanya aku dan anak-anak yang datang kesini."
"Tidak apa-apa, dia memang sibuk dan banyak yang harus di kerjakan." Jawab Carissa.
Carissa melihat kearah Zivanna yang di gandeng oleh Albern, sang kakak. Albern sudah semakin besar, sedangkan Zivanna juga tampaknya tidak lagi suka minta digendong seperti saat terakhir Carissa melihatnya.
"Hai Albern, Hai Zivanna. Selamat datang." Carissa menyapa anak-anak Zaya.
"Hai, Tante Carissa." Albern membalas sapaan Carissa dengan sopan. Sedangkan Zivanna tampak terdiam sambil mengamati Carissa.
"Alo." Gadis kecil yang baru berusia dua tahun lebih itu akhirnya mengeluarkan suaranya sambil masih mengamati Carissa.
"Zi bilang halo pada Tante." Albern seolah sedang menerjemahkan kata-kata Zivanna.
"Oh, halo juga." Carissa tersenyum sambil berjongkok di hadapan Zivanna.
Zivanna sedikit merasa tidak nyaman dan merapatkan tubuhnya pada Albern dengan mata yang masih menatap Carissa lekat.
Melihat reaksi putrinya itu, Zaya tersenyum simpul.
"Tidak perlu takut, Sayang. Tante Carissa ini teman Mama dan Papa. Kita kesini untuk melihat adik bayi Tante Carissa." Ujar Zaya menenangkan Zivanna.
Evan juga ikut tersenyum dan berjongkok pula di depan Zivanna.
"Zi mau lihat adik bayi?" Tanya Evan lembut.
Mata Zivanna beralih pada Evan. Dilihatnya Evan lekat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
Evan kembali tersenyum, lalu bangkit dan menggandeng tangan bocah cantik itu. Dibimbingnya Zivanna untuk melihat kearah Lily yang tengah terlelap di dalam kereta bayinya.
"Zi, kenalkan, ini Lily." Ujar Evan.
__ADS_1
"Neka shi...neka shi..." Zivanna langsung berseru saat melihat Lily.
Carissa dan Evan tidak mengerti apa yang dikatakan bocah itu, keduanya tampak saling pandang dengan sedikit bingung. Sedangkan Zaya langsung tertawa kecil sambil mendekat kearah Zivanna.
"Ini bukan boneka Zi, Sayang. Ini adik bayi yang mau kita lihat. Bukankah tadi Zi juga sudah menyiapkan kado? Adik bayi inilah yang akan diberikan kado oleh Zi." Ujar Zaya menjelaskan.
"Dedek?" Gadis kecil itu kembali bertanya.
Zaya mengangguk mengiyakan.
"Dedek shi?" Tanya Zivanna lagi.
Zaya kembali tertawa.
"Iya, ini adiknya Zi. Apa Zi mau membawa pulang adik bayinya?" Zaya kembali bertanya dengan sedikit berseloroh.
Zivanna langsung mengangguk senang.
"Awa ulang, dedek aik cawat tama shi, tama Papa, tama Mama, tama tatak Al." Zivanna menjawab dengan celotehannya yang terdengar seperti bahasa alien di telinga Carissa dan Evan.
Sekali lagi Zaya tertawa.
"Tidak boleh." Tiba-tiba suara Albern menginterupsi, hingga Zaya, Evan dan Carissa agak terkejut mendengarnya.
"Kalau Zi bawa adik bayinya pulang, nanti Om dan Tante jadi sedih." Tambah Albern lagi.
Ekspresi wajah Zivanna langsung berubah seperti akan menangis.
"Kita lihat saja adik bayinya, nanti kalau dia sudah agak besar, kita datang lagi kesini dan ajak dia main." Albern tampak membujuk Zivanna. Zivanna pun terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Zaya tersenyum melihat putranya itu. Meski umurnya baru sembilan tahun lebih, tapi dia sudah terlihat sangat mengayomi adiknya.
"Sayang, kamu jaga Lily dulu, ya. Aku mau ajak Zaya untuk menyapa Mama dan Papa." Suara Carissa kemudian terdengar.
Evan mengangguk mengiyakan.
"Kak Evan, kelihatannya Zi juga masih mau melihat Lily. Aku titip anak-anak sebentar." Pinta Zaya juga.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga mereka." Jawab Evan.
Zaya dan Carissa pun berlalu untuk menemui orang tua Evan. Sedangkan Evan duduk di sebuah kursi sambil mengamati anak-anak Zaya yang tampak sedang memperhatikan Lily.
Zivanna asyik mengamati Lily yang sedang terlelap, sedangkan Albern juga terlihat membisu dengan mata yang menatap Lily lekat. Tak lama kemudian, Evan agak menegakkan punggungnya saat melihat Albern yang terlihat membungkukkan badannya untuk lebih condong kearah Lily.
Semakin lama, wajah Albern semakin dekat pada wajah Lily, dan selang beberapa detik kemudian, Evan membeku dengan apa yang dilihatnya saat ini. Putra adiknya itu tampak sedang mencium pipi putri kesayangannya!.
Bersambung...
__ADS_1
Selow, Van... Albern ga ada niat apa2, dia tuh cuma gumusshhh liat dedek bayi imut2 lagi bobo syantik.