WITH YOU

WITH YOU
Kondisi Evan


__ADS_3

Hari itu, Evan kembali melakukan pemeriksaan. Setelah jadwal temunya dengan Dokter Melissa diundur beberapa kali karena belum bisa kembali ke Singapura, akhirnya sekarang dia baru bisa bertemu dengan dokter yang menanganinya itu.


Jika selama ini Evan selalu datang sendirian, kali ini dia datang dengan didampingi oleh Carissa. Kini mereka berdua sudah berjanji untuk tidak saling menutupi hal sekecil apapun. Setiap detail kondisi Evan, sekarang Carissa ingin tahu dengan sangat jelas. Mereka sepakat untuk menghadapi semuanya bersama, dan mencari jalan keluar bersama dari setiap permasalahan yang ada.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kini Evan dan Carissa duduk berhadapan dengan Dokter Melissa, bersiap untuk mendengarkan diagnosa tentang kondisi Evan saat ini.


"Kondisimu terus membaik, Evan. Sejauh ini kamu sudah tidak memerlukan obat penenang dan pereda nyeri lagi. Tapi aku masih akan tetap meresepkannya, hanya untuk berjaga-jaga jika nanti dibutuhkan." Ujar Dokter Melissa sambil menuliskan resep dan memberikannya pada Evan.


"Ingat, konsumsi hanya disaat rasa sakit atau emosimu benar-benar sudah tidak tertahankan lagi." Ujarnya lagi saat Evan menerima resep itu.


"Saya mengerti." Jawab Evan.


"Apa itu artinya kondisi suami saya sudah jauh lebih baik, Dokter?" Tanya Carissa yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.


Dokter Melissa beralih pada Carissa.


"Kondisi Evan memang sudah jauh lebih baik jika dibandingkan saat pertama dia datang dulu, tapi dia belum sembuh secara total. Traumanya masih ada dan masih berpotensi memicu rasa sakit di kepalanya kapan saja. Tapi tampaknya Evan sudah bisa mengatur emosinya hingga rasa sakitnya bisa lebih terkendali. Saya yakin pelan-pelan Evan akan terlepas sepenuhnya dari trauma itu. Anda harus bersabar, Nyonya Carissa." Dokter Melissa menjelaskan.


Carissa mengangguk sambil mengulas sebuah senyuman.


"Terima kasih, Dokter Melissa. Saya pasti akan membantu suami saya sekuat tenaga saya agar dia bisa bisa segera sembuh total." Ujar Carissa. Suaranya terdengar mantap dan penuh keyakinan.


Evan menoleh kearah Carissa sambil ikut tersenyum. Digenggamnya tangan istrinya itu dengan erat, seolah ingin menyampaikan betapa bersyukurnya dia saat ini.


Dokter Melissa melihat kearah Evan dan Carissa secara bergantian, lalu tersenyum juga.


Setelah berbasa-basi sejenak, Evan dan Carissa pun pamit undur diri. Evan pergi menebus obatnya, sedangkan Carissa menunggu di dalam mobil mereka.


Tak lama kemudian, Evan telah selesai menebus obatnya dan masuk juga ke dalam mobil.


"Kita langsung pulang?" Tanya Evan.


"Apa ada yang mau kamu kerjakan di rumah?" Carissa malah balik bertanya.


Evan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Untuk sementara ini aku pengangguran, jadi bisa melayanimu sepenuhnya." Jawab Evan.


Carissa tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di bahu Evan.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa kamu tidak keberatan kalau kita jalan-jalan sebentar?" Tanya Carissa.


"Jalan-jalan?" Evan menoleh kearah Carissa


Carissa mengangguk sambil masih menyandarkan kepalanya di bahu Evan.


"Mau jalan-jalan kemana?" Tanya Evan lagi.


"Ke taman. Aku ingin duduk di taman sambil makan es krim seperti yang pernah kita lakukan waktu itu." Ujar Carissa.


Evan menatap istrinya itu, lalu tersenyum.


"Kenapa permintaanmu selalu sederhana? Apa kamu merasa jika suamimu ini tidak akan mampu memenuhi permintaan yang lebih berarti?" Tanya Evan kemudian.


"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja aku sangat yakin kamu bisa memenuhi apa saja yang aku inginkan. Hanya saja, hal sederhana saja sudah membuatku sangat bahagia jika itu dilakukan bersamamu. Aku tidak membutuhkan yang lain lagi."


Evan tertegun sambil menatap Carissa dalam. Sesaat kemudian, dia sedikit membalik tubuhnya dan meraih Carissa ke dalam pelukannya.


"Sayang..." Guman Evan lirih.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku menjalani hidupku jika kamu memilih untuk meninggalkanku selamanya..." Evan membelai rambut Carissa dan mengecup pucuk kepala istrinya itu.


"Bukankah kita tidak akan membicarakan yang sedih-sedih lagi?" Tanyanya.


"Cepatlah bawa aku ke taman. Aku mau duduk di bangku taman sambil makan es krim." Pinta Carissa lagi.


Evan tersenyum.


"Baiklah, Yang Mulia. Sesuai keinginanmu." Ujar Evan sambil membenahi posisi duduk Carissa dan memasangkannya safety belt. Lalu setelah menggunakan alat keamanan itu untuk dirinya juga, Evan pun menyalakan mesin mobil dan melaju menuju taman kota. Di perjalanan mereka juga sempat mampir ke sebuah supermarket untuk membeli es krim seperti yang diinginkan Carissa tadi.


Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di taman kota yang tampak lengang. Tak ada yang sedang bersantai seperti saat mereka di Indonesia tempo hari. Maklum saja, saat ini memang sedang hari kerja, bukan weekend. Hanya ada beberapa orang yang tampak sedang melakukan perawatan taman.


Carissa dan Evan memilih untuk duduk di salah satu bangku taman yang agak jauh dari orang-orang yang melakukan perawatan taman.


Carissa membuka es krim cone miliknya dan mulai menikmatinya.


"Bagaimana rasanya duduk berdua denganku saat ini?" Tanya Carissa kemudian.


Evan menoleh kearah istrinya itu dengan agak bingung.

__ADS_1


"Dokter Melissa tadi mengatakan jika kamu sebenarnya belum sembuh, melainkan hanya lebih mampu mengendalikan emosi dan perasaanmu saja. Jadi rasa sakit itu sebenarnya masih sering datang, kan?" Tanya Carissa lagi.


Evan terdiam dan terlihat kesulitan menjawab.


"Katakan saja sejujurnya. Bukankah kita sudah saling berjanji untuk tidak menyembunyikan apa-apa lagi. Aku perlu tahu agar bisa memahami kondisimu." Ujar Carissa meyakinkan.


Evan menghela nafasnya.


"Terkadang memang kepalaku masih terasa sakit, tapi sejauh ini masih dalam batas wajar. Dan aku tidak memerlukan obat untuk mengatasinya." Ujar Evsn akhirnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan saat rasa sakitmu itu datang? Haruskah aku menjauh dulu sebentar supaya rasa sakitnya mereda? Bagaimana pun sumber traumanya adalah aku."


Evan menggeleng dengan cepat.


"Saat rasa sakitnya datang, yang harus kamu lakukan adalah memelukku." Ujarnya kemudian.


Carissa tertegun sambil menatap kearah Evan dengan penuh tanda tanya.


"Setiap kali kamu memelukku, aku selalu merasa sangat tenang dan bahagia. Perasaan itu akan menutupi rasa sakit yang aku rasakan. Jadi jangan pernah menjauh dariku."


Carissa tertegun selama beberapa saat hingga es krimnya perlahan meleleh tanpa dia sadari. Senyumnya tersungging bersamaan dengan matanya yang sedikit mengembun.


"Baiklah, katakan saja jika kamu sudah mulai merasa tidak nyaman. Aku akan memelukmu kapanpun kamu butuh sebuah pelukan." Ujar Carissa sambil kembali menikmati es krimnya yang terlanjur meleleh.


Evan ikut tersenyum sambil merangkul bahu Carissa dan membawa tubuh istrinya itu untuk semakin merapat kearahnya. Dijilatnya sedikit es krim Carissa yang meleleh, hingga Carissa berteriak protes.


"Tidak boleh, ini rasa kesukaanku." Carissa agak menjauhkan es krim di tangannya, persis seperti anak kecil yang tidak mau berbagi makanan.


Evan tertawa dan mendekap Carissa dari samping. Hatinya terasa lega. Akhirnya semuanya berjalan menuju kearah yang lebih baik.


Bersambung...


Butuh hati yang besar dan dada yang lapang buat emak melanjutkan cerita Carissa dan Evan. Tadinya sempat sangat down karena pihak platfon tiba2 menurunkan level novel ini, padahal selama beberapa bulan ini emak sudah amat sangat bekerja keras. Saat emak minta penjelasan pun, penjelasannya sangat ga bisa di terima karena emak udah penuhi semua ketentuan yang diberikan sm pihak platfon.


Awalnya kecewa sampe ga pengen lanjutin lagi, tapi mengingat banyak reader yang nungguin kelanjutannya, akhirnya emak memutuskan untuk terusin cerita ini sampe tamat, agar ga ada reader yang merasa kecewa, karena kecewa seperti yg emak rasain rasanya itu ga enak...banget...!


Ya udahlah,


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2