WITH YOU

WITH YOU
Permintaan Mama


__ADS_3

Mereka berdua keluar dari kamar ketika mendengar Sabina bahwa Keano sudah datang. Adelia dan juga Devan saling tatap ketika melihat Sabina yang masih setia menemani Keano di ruang tamu ketika mereka baru datang. Sabina memang tahu bagaimana cara menghargai tamu itu seperti apa.


Ketika mereka mendekat ke sofa yang di mana di sana sudah ada sebuah kotak yang ditaruh diatas meja.


Keano berdiri kemudian bersalaman kepada mereka berdua. Sedangkan Sabina berpindah tempat duduk ke sofa tunggal yang ada di sebelahnya Keano.


“Kak, itu ada kue dari Mama,”


“Nastar?”


“Iya, tadi Mama nyuruh aku buat antarin kakak. Jadi ya mau nggak mau harus ikuti apa yang Mama bilang,”


Adelia tersenyum mendengar penuturan adiknya. Dia tahu secuek apapun Keano, tapi dia tidak pernah menolak perintah dari orang tua apapun yang akan coba dia lakukan agar bisa menuruti keinginan orang tuanya. Sama halnya dengan Adelia yang selalu berusha untuk menuruti semua perintah yang disuruh oleh orang tuanya. Tapi, justru Adelia mengecewakan orang tuanya dan kali ini dia benar-benar sudah membuat kesedihan kepada orang tuanya.


Sepertinya Adelia harus terus berusaha untuk terus meluluhkan hati sang mama untuk bisa membantunya meluluhkan hati papanya yang keras. Sulit baginya meminta maaf pada papanya. Padahal Adelia dan juga Devan sudah meninggalkan orang tua masing-masing untuk mempertahankan rumah tangga mereka berdua. Tapi, orang tua mereka masing-masing belum tahu perjuangan mereka untuk bisa terus bertahan demi si buah hati nantinya. Baik Devan yang selalu menenangkan hati Adelia ketika dia memaksa untuk pulang. Tapi Devan selalu memberinya penjelasan agar dia tidak terlalu mendesak suaminya meminta pulang.


“Ohya, kak. Tadi Mama pesan ke aku kalau sudah sampai dia mau ngomong sama kakak,” Keano langsung menyerahkan ponselnya kepada Adelia. “Kakak telpon pakai video ya. Mama pengin lihat kakak,”


Adelia mengambil ponsel yang diberikan oleh Keano. “Kalau gitu kakak pamit bentar ya! Kamu di sini sebentar,”


Sedangkan Devan masih menyiapkan minuman untuk Keano. Cuaca dingin seperti ini adik iparnya bahkan rela disuruh untuk datang ke rumahnya oleh mama mertuanya. Dia begitu beruntung memiliki adik ipar sebaik Keano. Tapi seperti yang dikatakan oleh Adelia tadi, bahwa Keano sepertinya canggung pada Sabina.


Ketika Devan membawa cokelat panas dan juga chocochips untuk Keano, tak disangka bahwa adiknya yang memulai pembicaraan. “Kakak kan sering juara di sekolah. Kasih tips buat belajar efektif dong! Aku soalnya mau masuk SMA,” Devan tak ingin mengganggu keduanya berbicara. Tapi melihat ekpresi kaku Keano membuatnya ingin menyumpahi Keano, karena dia tahu bahwa adik iparnya ini selalu saja sok dewasa. Tapi ciut ketika berhadapan dengan Sabina.


“Ah ja-jadi se-sebenarnya aku nggak terlalu banyak belajar sih. Kalau ada waktu aja, yang jelas jangan belajar saat kita hendak mau ujian dan sebagainya. Itu mendadak banget soalnya,” jelas Keano.


“Ngomong-ngomong Adel ke mana?” potong Devan yang sengaja bertanya dan akan membiarkan keduanya bicara sepuasnya nanti.


“Kak Adel telpon Mama, tadi sih pergi ke kamar kak,” jawab Sabina.


Kemudian Devan beranjak dari tempat duduknya. “Ya udah kalian ngobrol dulu ya! Keano ajarin tuh Sabina biar dia bisa belajar dengan rajin. Belajar yang asyik itu kayak gimana, kakak mau cari Adelia dulu,” ucapnya sengaja. Tapi padahal dia mau mengerjai Keano yang terlihat gugup dan sedari tadi mengelap keringatnya dengan tisu. Padahal cuaca kali ini benar-benar dingin. Tapi justru Keano keringatan karena adanya Sabina.


Devan membuka pintu kamar dan melihat istrinya sedang melakukan panggilan video dengan sang mama. “Devan ke mana?”

__ADS_1


“Ini, Devan baru aja datang, Ma,”


Adelia menyodorkan ponsel itu kepada Devan yang kemudian di mana Devan langsung mengucap salam kepada mama mertuanya. Siapa sangka bahwa mama mertuanya justru terlihat masih sangat segar dan sangat cantik tapi sebentar lagi akan memiliki cucu.


“Apa kabar, Ma?”


“Baik, kamu sendiri sama Adelia nggak ada masalah apa-apa?”


“Kalau masalah sih nggak ada, Ma. Tapi semenjak kandungannya mulai terlihat, Adelia sering sakit-sakitan. Tapi Mama nggak usah khawatir, aku tetap jagain dia kok,” ucapnya.


“Adelia, Mama boleh lihat perut kamu?”


Devan langsung menggunakan kamera belakang saat Adelia mengangkat bajunya dan berdiri di depan Devan. Ia mengelus perut istrinya dengan pelan. “Perutnya udah kelihatan kok, Ma. Bentar lagi mau USG pengin lihat jenis kelaminnya,” jawab Devan dengan santai.


“Kamu jaga dia baik-baik ya!”


“Pastinya, Ma,”


Adelia duduk kembali dan kemudian menampilkan keromantisannya kepada sang Mama saat dia bersandar di bahu Devan dan juga suaminya langsung mencium keningnya. “Adel, Mama mau ngomong dulu sama Devan. boleh kasih waktu berdua?”


Begitu Adelia keluar, Devan langsung mematikan video tersebut dan menggantinya dengan panggilan suara biasa. “Adel udah keluar, Ma,”


“Devan, kamu serius nggak ada masalah apapun sama dia?”


“Nggak, Ma. Adelia itu baik banget, dia nggak pernah ngeluh sama sekali,”


“Karena Mama tahu kalau dia itu manja banget. Adelia cepet banget nangis, Mama takut kalau hal itu bisa bikin kamu nggak nyaman sama dia. Karena Mama tahu anak Mama seperti apa,”


“Ma, semanja apapun seorang perempuan sebelum menikah. Pasti akan berubah ketika mereka menikah seiring berjalannya keadaan, dia selama ini nggak pernah aneh-aneh kok. Adelia juga nggak pernah belanja barang-barang mahal seperti yang Mama takutkan. Adelia justru lebih fokus ke kandungannya. Dan aku juga yang minta kalau dia harus fokus urus calon bayinya,”


“Devan, ini bukan sekadar tanggung jawab semata? Kamu nggak bakalan pisah kalau Adelia melahirkan dan buat anak kamu jadi korban?”


Devan justru merasa bahwa mertuanya takut akan hal itu terjadi pada anak perempuan mereka satu-satunya. Bagaimana mungkin Devan bisa berpikiran jahat seperti itu dan menjadikan anaknya sendiri menjadi korban perpisahan. Saat dia sudah yakin jika Tuhan mempertemukan mereka berdua sekalipun dengan cara seperti itu. Hanya mereka yang bisa memperbaiki apa yang salah itu.

__ADS_1


“Ma, kalau memang niat aku seperti itu. Harusnya aku nggak datang kan ke rumah Mama sama Papa dan minta Adelia buat jadi istri aku. Kenapa aku nggak biarin dia rawat sendiri kalau memang aku maunya seperti itu? Aku udah janji sama diri aku sendiri biar aku sama Adelia yang belajar tebus semua kesalahan ini. Aku sama dia memang nggak pernah ada perasaan kan. Tapi pelan-pelan pasti ada perasaan dan seperti sekarang ini aku udah terlanjur sayang sama dia. Ma, jangan pernah khawatir perihal aku sama Adelia kedepannya. Aku sama dia udah sepakat nikah satu kali dalam seumur hidup. Tapi cuman satu keinginan aku, Ma. Mama sama Papa restuin biar aku sama dia bisa hidup tenang. Jujur, Ma aku ninggalin orang tuaku juga demi ini. Dan aku tetap milih anak Mama sebagai istri aku dan juga perempuan pendamping aku,”


“Devan, kamu nggak mau berusaha buat ajakin dia pulang?”


“Mama kasih?”


“Pulang, Nak! Mama kangen, Mama nggak bisa cariin kalian berdua karena risikonya besar. Tapi Mama yakin kalau Papa bisa luluh selama kalian berusaha,”


“Aku beberapa waktu yang lalu nggak mau ngajakin Adelia pulang bukan karena nggak niat dan sebagainya. Tapi kandungan Adelia masih terlalu muda, kalau dia banyak beban pikiran sudah dipastikan kalau dia bakalan keguguran. Dokter pernah ingatin aku kalau dia nggak boleh ada beban sama sekali, makanya aku nggak pernah ngajakin dia pulang. Takut kalau emosi Papa nggak bisa dikontrol,”


“Mama ngerti maksud kamu baik untuk jaga kandungan dia, tapi Mama kangen,”


“Minggu depan semoga nggak ada halangan apa-apa, aku bakalan pulang, Ma. Tapi jangan kasih tahu Adelia dulu ya! Aku masih berusaha pikirkan dulu, takut kalau Papa tiba-tiba emosi lagi kayak waktu itu,”


“Iya, Mama juga bakalan bantu,”


Devan tahu bahwa mama mertuanya ini sangat baik. Adelia beruntung terlahir dari rahim perempuan sebaik mama mertuanya ini. Apalagi Keano, dan juga Rania, sudah dipastikan juga pasti senang berada di rahim perempuan sebaik mama mertuanya sekalipun itu hanya sesaat.


“Ma, terima kasih ya,”


Tahu jika perasaan Mama mertuanya juga pasti hancur karena perbuatan dirinya. Tapi apa yang  mau disesali lagi sekarang ini? Tidak ada yang bisa disesali diantara mereka berdua jika sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. “Devan, selama kamu jaga Adelia dengan baik, Mama pasti bantu. Sekalipun Mama sebenarnya sulit buat lepasin anak Mama,”


“Aku ngerti, Ma,”


“Pulang ya, Nak! Kalau kamu nggak sibuk, Mama pengin ngobrol sama dia,”


 


 


Devan berjanji akan membawa Adelia pulang apapun risikonya jika mama mertuanya meminta apalagi sambil menangis seperti itu. Suara isakan itu membuat Devan luluh. Hati Mama sebaik itu pasti sangat dia hargai. Apalagi mengenai Adelia yang dia bawa seperti itu. “Aku janji, Ma. Janji bakalan ajak dia pulang,” ucap Devan kemudian mama mertuanya berpamitan dan menutup teleponnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2