
Sabina sadar dengan posisi kali ini bahwa dia dan Keano hanya sebatas teman dan itu tidak lebih. Jika dia berharap lebih, maka itu sangat salah. Bisa saja di sekolahnya, Keano memiliki pacar. Dan itu akan melukai hati Sabina jika harapan yang dia bangun selama ini justru tidak menghasilkan apa-apa. Keano itu pintar, baik, tidak mungkin tidak memiliki pacar di sekolahnya. Sekalipun mereka sering bertukar kabar, tapi hubungan keduanya tidak lebih dari teman saja.
Keano juga merasakan hal yang sama. Tapi keduanya masih bisa saling menyembunyikan perasaan satu sama lain.
"Kak, apa kakak bakalan tetap temenan sama aku?"
Keano tertawa kecil. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Justru karena kakak kita itu menikah maka dari itu kita bisa bertemu kan," jawab Keano datar.
Sabina tak menimpali apapun. Yang dia inginkan adalah tetap bisa bersama. Mengingat jika keduanya dekat memang karena kakak mereka menikah. Keano tak ingin jika hubungan ini lebih dari teman, bukan karena dia tidak tertarik pada Sabina. terlebih karena dia tahu batasannya dengan Sabina. yang di mana kakaknya pun sedang berusaha mendapatkan restu, bagaimana dengan dirinya yang masih berusia belasan tahun tapi justru merasakan hal yang sama juga jika berharap lebih.
Sabina juga pasti belum mau pacaran. terleih jika mereka pacaran, maka belum tentu berjodoh juga. Begitu pikirnya hingga Keano tidak mau melanjutkan hubungan itu lebih dari teman. sekalipun dia merasakan kenyamanan dan juga ketika bertemu dengan gadis ini, rasanya dia begitu bahagia dan seolah enggan berpisah walaupun hanya sesaat. Barangkali inilah yang disebut dengan jatuh cinta, tapi Keano menepis itu semua. Karena dia dan gadis itu hanyalah teman.
"Sab, lusa aku jemput ke sekolah kamu,"
"Hmmm, iya,"
"Sekalian aku kasih catatan itu kan,"
"Iya kak,"
"Mengenai rahasia kita, kamu nggak cerita kan kalau kita sering bertukar kabar ke kakak?"
"Enggak kak. Aku bisa rahasiakan itu juga kok. Kalau mereka tahu, yang pasti aku pasti diledekin mereka berdua, kakak tahu sendiri kan kalau Kak Devan itu emang senang banget ngledek,"
Keano juga tahu kakak iparnya itu memang pria sialan yang pernah membuatnya keluar keringat panas dingin ketika berhadapan dengan Sabina pertama kali ketika mengantar kue ke rumah Devan. Ia yang merasa terpojokkan karena ulah kakak iparnya yang waktu itu ingin membuatnya menghajar kakaknya.
"Sab, ada yang ingin aku katakan sama kamu,"
__ADS_1
Sabina menunduk, barangkali ini adalah perpisahan yang ingin diungkapkan. tapi barusan Keano bilang bahwa dia akan menjemput Sabina lusa ke sekolah. "Kakak mau bilang apa?"
"Tapi, aku harap kita nggak retak setelah tahu ini,"
"Kakak, kenapa kakak bilang begitu?"
"Sab, jujur aku sulit mau bilang ini sama kamu. Tapi, mau nggak mau aku harus ngomong demi kita berdua. Dan juga demi kakak kita yang di mana aku nggak mau lihat kakak aku itu hancur hanya karena perpisahan. Aku juga mikirnya ke keponakan kita,"
"Maksud kakak?"
Keano menghela napas yang sebenarnya sulit untuk mengakui ini di depan Sabina. takut jika Sabina tahu hal ini justru akan jujur kepada orang tuanya. "Aku ngomong gini karena aku percaya sama kamu, Sab. Aku percaya banget sama kamu, Papa kamu pernah menikah dengan Mama aku dulu. Mereka berdua adalah mantan suami istri, tapi mereka pisah,"
Sabina menggeleng, tapi inilah kenyataannya. Keano tidak mengarang cerita. "Kak, jangan bercanda. Nggak mungkin kan kalau Kak Devan itu anak Mamanya kakak. Terus mereka bersaudara dan akhirnya menikah karena kak Adel hamil?"
"Bukan, Sab. Bukan begitu, mereka itu tidak ada anak. Sab, Papa sama Mama aku nggak tahu perihal ini. Sama dengan orang tua kamu juga yang nggak tahu tentang ini, tapi aku ngomong gini ke kamu karena percaya sama kamu kalau kamu nggak bakalan ngomong ke orang tua kamu. Yang di mana jika mereka tahu, salah satu diantara orang tua kita akan memisahkan kakak kita. jadi, aku ngomong gini dengan tujuan agar kamu bisa merahasiakan itu semua, Sab. Aku nggak mau kalau sampai informasi kakak aku terdengar sampai ke telinga orang tua kamu. Aku nggak mau mereka berdua pisah, mereka berdua saling menyayangi,"
"Buat apa? memangnya kamu tahu alasan kakak kamu pergi dari rumah dan milih kak Adel? Itu karena dia tahu, Sab. Karena Papa kamu pernah nyakitin Mama aku yang sampai sekarang ini bahkan Mama aku aku ataupun Papa aku nggak bisa maafin perbuatan Papa kamu,"
"Kak Keano bilang Papa aku jahat, kan?" Sabina berdiri dan hendak pergi. Tapi keano masih menahan diri tidak menyalahkan papa Sabina. Karena dia tahu jika itu terjadi, maka mereka berdua akan ribut.
Keano langsung memegang tangan kiri Sabina ketika hendak pergi. "Kalau kamu pergi, itu artinya kamu kabur dari penjelasan,"
Sabina melirik Keano dan melepaskan tangan Keano kemudian duduk. Tapi laki-laki ini tak mengatakan hal apapun. "Ngomong! Ngomong yang sebenarnya terjadi,"
"Sabina, kak Devan milih kak Adelia itu karena ada alasannya. Jadi, jangan pernah kamu berpikir jika kak Devan itu tidak taat sama orang tua kamu. Dia tahu kesalahan papa kamu. dia juga tahu bahwa ini semua adalah hal yang sangat salah,"
"Kak Keano nggak bohong?" isak Sabina.
__ADS_1
"Sulit bagi aku juga nerima semuanya, Sab. Sama seperti yang kamu rasain,"
Sabina menangis karena mendengar perkataan Keano barusan. Selama ini yang dia tahu bahwa kakaknya mencintai Adelia dengan baik. Tapi semua itu ada alasan tersendiri hingga membuat kakaknya melawan dan memilih pergi.
"Kak Adel tahu?"
"Nggak, yang tahu ini hanyalah aku, kamu, kak Devan dan juga tante kamu," jelas Keano. Karena Devan pernah mengatakan bahwa yang tahu masalah ini adalah tante Shita.
"Gimana kalau Mama tahu?"
"Kamu mau ngadu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Silakan, Sab. Kalau memang kamu mau ngadu dan mau lihat kakak kamu hancur karena kehilangan dua cinta sekaligus, dia kehilangan kak Adel, dan juga kehilangan anaknya. Dan satu lagi, kita nggak bakalan pernah ketemu sampai kapanpun. Kalau orang tua kamu tahu, itu dalangnya adalah kamu," jawab Keano dengan tegas.
Sabina menundukkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa percaya dengan hal ini. Pantas saja Keano bersikap baik kepadanya selama ini, jika hanya untuk mengatakan hal ini, harusnya Keano bicara dulu kepada dirinya melalui telepon jika ada hal penting.
"Kak," Sabina menyeka air matanya.
"Aku nggak suka perempuan cengeng, Sab,"
"Aku nggak nangis lagi kok,"
"Karena yang lebih terluka itu kakak kamu. Bukan kamu, jadi apa yang kamu tangisi? Kamu nggak terima? Kamu nggak terima kalau dalang ini semua adalah Papa kamu? tapi kenyataannya begitu, Sab. Kenyataannya adalah penghancur semua ini adalah Papa kamu. Sulit bagi aku buat percaya juga jika aku bertemu sama kakak kamu," Keano tak ingin mengungkit jika mereka punya saudara yang sudah meninggal. Dia tetap ingin jika kakakya istirahat dengan tenang.
Masa lalu terkadang menghancurkan masa depan. Kesalahan masa lalu memang banyak yang tak bisa dimaafkan. Akan tetapi ada banyak hati yang masih berbaik diri untuk memaafkan dan juga menerima itu semua dengan lapang dada.
__ADS_1