WITH YOU

WITH YOU
Memandang Dengan Perasaan Yang Hancur


__ADS_3

Jonathan tertegun selama beberapa saat. Sebelum akhirnya tersenyum pada Aaron.


"Jika memang semudah itu melupakan seseorang, mungkin tidak akan ada yang namanya patah hati, Tuan Aaron. Meski saya ingin, tapi rasanya sangat sulit melupakan seseorang yang telah menggerakkan hati saya ini. Dia banyak menyalahpahami tentang diri saya. Ya, saya memang bukan lelaki yang baik. Tapi berusaha berubah menjadi lebih baik sejak mengenalnya. Dan dia ternyata memilih untuk menikah dengan lelaki yang baru di kenalnya hanya karena tak ingin bersama saya. Dia benar-benar telah menghempaskan saya dengan sangat kuat hingga ke titik terendah dalam hidup saya. Saya pikir saya bisa merelakannya, tapi kenyataannya, saya tidak bisa melupakannya begitu saja." Jonathan tampak bergumam dengan nada bicara yang terdengar berbeda dari sebelumnya. Seperti ada luka yang teramat dalam di hatinya saat ini.


Carissa tertegun mendengar kata-kata Jonathan. Entah kenapa, saat ini dia merasa telah menjadi tokoh antagonis dari cerita Jonathan tadi.


"Dia tidak pernah memberi saya kesempatan untuk membuktikan diri saya, tapi dia justru menyerahkan hidupnya pada lelaki yang baru dikenalnya. Bukankah menurut Anda dia tidak adil, Tuan Aaron?" Tanya Jonathan lagi.


Carissa menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya. Setiap kata-kata Jonathan begitu membuatnya tertohok, hingga dadanya mulai terasa sesak.


"Benar, itu tidak adil." Jawab Aaron.


Nafas Carissa semakin memburu saat mendengar jawaban Aaron. Terasa seperti Aaron sedang memojokkannya juga. Evan yang melihat kegelisahan Carissa segera menenangkan istrinya itu dengan mengusap lembut punggung tangannya. Evan sangat tahu jika saat ini Carissa sudah merasa sangat tidak nyaman. Jika bisa, dia ingin segera membawa Carissa pergi dari tempat itu, tapi jika dia melakukannya, kemungkinan akan terjadi kesalahpahaman antara Carissa dan keluarga Brylee, dan tentu hal itu tidak akan baik bagi Carissa ke depannya.


"Tapi hidup ini memang seringkali tidak adil, Tuan Jonathan. Anda harus terbiasa dengan ketidakadilan jika tidak ingin kalah. Harusnya Anda juga mencari perempuan hebat untuk dinikahi. Buktikan pada mantan calon tunangan Anda itu jika dia adalah perempuan bodoh yang menyia-nyiakan lelaki sesempurna Anda. Hidup Anda harus lebih bahagia tanpa dia." Tambah Aaron lagi.


Jonathan kembali menoleh kearah Aaron. Carissa juga melihat Aaron dengan mata yang agak melebar.


"Lagi pula, apa bagusnya perempuan itu. Dia sengaja lari dengan lelaki lain saat akan bertunangan dengan Anda. Bukankah sudah sangat jelas jika dia itu tidak pantas untuk Anda? Untung saja Anda tidak jadi menikah dengannya." Sekali lagi Aaron menambahkan dengan entengnya.


"Jangan keterlaluan, Aaron. Apa kamu ingin aku menghabisimu saat ini juga?"


Carissa yang telah sangat kesal mendengar kata-kata Aaron tadi tampak tak bisa menahan diri lagi. Dia sangat ingin menerkam suami Zaya itu dan menarik rambutnya dengan sekuat tenaga hingga kepalanya menjadi botak.


Aaron menoleh dan melihat kearah Carissa dengan memasang wajah tanpa dosa.


"Apa masalahmu? Kami sedang membicarakan mantan calon tunangan Tuan Jonathan, tidak ada hubungannya denganmu." Ujar Aaron sembari mengibas-ngibaskan tangannya.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan kau mengenal perempuan itu?" Tanya Aaron tiba-tiba dengan wajah yang dibuat seakan terkejut.


Carissa terdiam dan tak tahu harus menjawab apa.


"Apa dia temanmu?" Tanya Aaron lagi.


"Tidak! Aku tidak mengenalnya. Aku hanya kesal denganmu. Bagaimana di dunia ini ada manusia yang sangat menyebalkan seperti dirimu?" Carissa menjawab dengan setengah histeris karena marah.


"Sayang..." Tiba-tiba Carissa terkesiap mendengar suara yang memanggilnya tadi. Suara yang sangat akrab di telinga Carissa, tapi dengan panggilan yang berbeda.


Carissa menoleh. Dilihatnya Evan sedang tersenyum padanya. Suami Carissa itu mengulurkan tangannya dan membelai wajah Carissa lembut, sebelum akhirnya merengkuh tubuh Carissa kedalam pelukannya.


"Tidak boleh marah dan terbawa emosi, nanti berpengaruh buruk pada calon anak kita." Bisik Evan sembari mengusap punggung dan rambut Carissa. Diciumnya kening istrinya itu dengan lembut.


Emosi Carissa seketika mereda. Dibalasnya pelukan Evan dan ditenggelamkan kepalanya ke dalam dada suaminya itu. Aroma tubuh Evan seolah menjadi penenang buat Carissa hingga dia langsung melupakan kekesalannya pada Aaron tadi.


Geraldyn melirik Jonathan. Wajah lelaki itu mengeras menyaksikan kemesraan Evan bersama Carissa. Jonathan yang awalnya sangat yakin jika pasangan itu sedang berpura-pura, kini mulai berpikir lain. Carissa terlihat begitu nyaman berada dalam pelukan suaminya itu, padahal setahu Jonathan, Carissa sangat tidak nyaman bersentuhan dengan lelaki manapun selama ini. Benarkah jika Carissa memang mencintai Evan?


"Carissa itu seorang pianis, Tuan Jonathan, bukan seorang aktris. Dia tidak bisa berakting sebagus itu jika Anda masih berpikir mereka sedang berpura-pura. Dia sungguh mencintai suaminya, begitu pun sebaliknya. Jadi, lebih baik urungkan saja niat Anda untuk mendapatkannya." Geraldyn bergumam lirih pada Jonathan.


Jonathan menoleh kearah Geraldyn. Ah, beberapa saat tadi dia lupa jika dia datang kemari dengan membawa seorang gadis sebagai pasangannya.


"Lihatlah, Tuan Jonathan. Bahkan seorang Carissa Nugraha yang suka meledak-ledak dapat tenang dengan cepat saat sudah di peluk suaminya. Luar biasa sekali. Sekarang aku bisa bernafas lega karena tidak perlu menerima amukannya. Untung ada pawangnya di sini." Aaron tertawa kecil sambil mengambil segelas minuman ringan dan menyesapnya.


"Aaron! Kamu pikir aku hewan buas apa? Keterlaluan!" Carissa hendak keluar dari pelukan Evan, tapi dengan sigap Evan menahan tubuh Carissa hingga istrinya itu tetap berada dalam pelukannya.


"Honey, kenapa kamu terus mengganggu Carissa seperti itu? Dia sedang hamil, tidak baik jika kamu terus membuatnya merasa kesal." Zaya tampak protes dengan kelakuan Aaron. Dia sendiri agak bingung, pasalnya selama ini suaminya itu bukanlah orang yang suka iseng atau suka bercanda.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, Sayang. Kenapa dia harus kesal? Sebagai temannya, aku merasa ikut senang karena sekarang dia sudah bahagia bersama suaminya. Lagipula, jika memang aku menganggunya, ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan dia yang menggangguku dulu. Dia jauh lebih nenyebalkan." Aaron terlihat seperti seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya.


"Siapa yang suka menganggumu? Memangnya aku tidak punya kerjaan apa? Kamu saja yang suka berpikir berlebihan." Carissa jadi semakin kesal.


"Kau tidak mau mengakuinya, ya? Haruskah aku menceritakan semua kelakuanmu itu pada suamimu?" Tanya Aaron lagi tanpa beban.


Carissa melebarkan matanya.


"Sialan kamu, Aaron! Aku benar-benar akan menghajarmu!" Ujar Carissa geram.


Aaron justru terkekeh sambil kembali menyesap minumannya.


Evan merangkum wajah Carissa dan mengarahkan istrinya itu untuk menatapnya.


"Bisakah kamu hanya melihat padaku saja? Tidak usah hiraukan apapun selain aku." Gumam Evan sambil menatap Carissa.


Carissa terdiam. Dia terkesiap melihat tatapan mata Evan yang seakan ingin menenggelamkannya


Dan tanpa diduga, Evan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Carissa. Dipagutnya bibir istrinya itu dengan segenap perasaan yang ada hingga tanpa sadar Carissa terhanyut dan membalas ciuman tersebut sembari memejamkan mata.


Carissa dan Evan seakan tak menyadari jika ada empat pasang mata yang tengah melihat kearah mereka berdua, dan salah satunya tampak memandang dengan perasaan yang hancur.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Maaf telat, mudah2an bisa up satu lagi ntar

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2