WITH YOU

WITH YOU
Tidak Dekat


__ADS_3

“Mama bilang apa sama kakak?” tanya Keano ketika Adelia keluar dari kamar dan membiarkan suaminya bicara dengan sang mama. Barangkali ada hal penting yang ingin disampaikan hingga mamanya meminta waktu berdua dengan Devan untuk membicarakan sesuatu. Maka dari itu dia harus keluar dari kamar memberi waktu sejenak. Adelia percaya bahwa mamanya akan berkata yang baik-baik untuk Devan, tidak mungkin akan memarahi ataupun meminta hal-hal aneh kepada suaminya itu. Terlebih lagi Devan yang pemikirannya dewasa, bisa mengimbangi apa yang dikatakan oleh mama Adelia nantinya.


Adelia langsung membuka kue nastar yang ada di salah satu kotak yang dibawakan oleh Keano sambil mencicipinya. “Mama cuman nanyain kandungan kakak kok,” jawabnya dengan tenang kemudian ketika memakan kue itu dia begitu ingat setiap kali mamanya mengajak dia membuat kue itu. “Sabina cobain dong!”


Sabina menggeleng, “Nggak kak, nggak enak mau makan apa-apa,” jawab Sabina yang terlihat pucat. Adelia tahu bahwa setiap kali Sabina datang bulan pasti akan sakit seperti sekarang ini. Bahkan Sabina tidak akan sekolah jika tamu bulanannya datang.


Keano mencoba terlihat biasa saja tapi sebenarnya Adelia tahu bahwa adiknya ini sedang gugup karena adanya Sabina di dekatnya. Sejak dia keluar, Sabina pindah tempat duduk dan sekarang ada disebelah Keano.


“Kamu udah putuskan mau kuliah di mana?” tanya Adelia tiba-tiba ketika Keano yang tadi berusaha tenang langsung tersadar dari lamunannya.


“Udah, kak. Tapi kata Papa aku harus kuliah di sini,”


“Nggak jadi ke luar negeri?”


“Nggak, kan sambil bantuin Papa,”


Adelia mengerti jika adiknya memang sering diajari oleh sang papa untuk menjalankan bisnisnya. Kadang ketika libur sekolah, Keano pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis papanya. Kadang juga Keano melakukan banyak hal untuk perusahaan.


“Kamu yang rajin ya bantuin Papa!”


“Ya mau gimana lagi coba kak? Nenek juga nggak ngasih aku pergi ke luar negeri. Aku nggak tahu harus gimana,”


“Sabar aja dek. Kakak pasti doain yang terbaik buat kamu. Terlebih ketika kamu melakukan semuanya demi orang tua. Pasti kakak juga akan bangga sama kamu karena kamu berusaha untuk buat Papa sama Mama bangga, nggak seperti kakak,”


Sekalipun Keano tahu bahwa kakaknya melakukan kesalahan. Tapi tidak ingin jika kakaknya terlarut dalam kesedihan yang terus merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi ini. Sejujurnya Keano juga tidak menyangka akan ditinggal oleh kakaknya malam itu. Rasanya dia begitu sulit percaya dengan kakak yang selama ini dia jaga dengan baik dari tangan jahat Farrel. Tapi justru mendapatkan pria lain. Akan tetapi Keano bersyukur jika kakaknya mendapatkan pria seperti Devan yang dari tanggung jawabnya saja sudah luar biasa. Apalagi sifatnya yang selama ini berusaha mengimbangi kakaknya yang terbilang manja itu.


Keano tidak pernah tahu bagaiama kakaknya menjalani hubungan rumah tangga itu sehingga mereka nampak baik-baik saja walaupun keduanya menikah secara terpaksa. Tapi hubungan baik itu membuat Keano senang, karena kakaknya tidak mendapat perlakuan buruk dari Devan selama ini. Kadang dia mendapatkan cerita mengenai Devan yang terlalu mengekang apa yang dilakukan oleh Adelia.

__ADS_1


“Kok bengong?” tanya Adelia yang membuyarkan lamunan Keano.


Anak laki-laki itu menggeleng, “Kakak sehat-sehat aja, kan?”


“Hmmm, kakak sehat kok. Tapi pengin pulang,”


Sabina yang melirik langsung kearah kakak iparnya begitu mendengar kata pulang. Sebenarnya dia juga rindu kepada kedua orang tuanya. Sudah beberapa bulan dia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Karena dia benar-benar kesal dengan orang tua yang selalu mengekang.


Semakin lama, semakin ia rindu dengan orang tuanya. Pasti rindu itu akan terobati, tapi entah dia tidak tahu kapan. Yang jelas Sabina hanya ingin jika orang tuanya itu mengerti dengan apa yang dia inginkan. Sabina bukanlah anak yang menentang apa yang dikatakan oleh orang tua. Tapi kesal karena orang tuanya selalu mengatur hidup kedua kakaknya. Apalagi nanti jika dia dewasa. Sudah dipastikan bahwa mama dan juga papanya akan melakukan hal yang sama. Atau bahkan menjodohkan Sabina dengan laki-laki yang tidak disukainya sama sekali.


“Sab, kamu kenapa?” tanya Adelia ketika melihat raut wajah sendu dari adik iparnya itu.


Sabina tersenyum kemudian melirik kearah Keano sejenak lalu melirik kearah Adelia. “Aku nggak apa-apa, kak,”


Beberapa saat kemudian Devan keluar dari kamar dan mendekat kearah sofa yang di mana ketiga orang itu sedang duduk di sana dan berbincang.


“Udah selesai ngomong sama Mama?” tanya Adelia.


“Cuih, sial. Malah dengar orang tua ngomongin sayang,” protes Keano.


“Bodo amat, kalau kamu mau bilang sayang sama Sabina kakak nggak masalah tuh. Kamu mau pacaran juga sama Sabina kakak setuju, lagian kamu itu baik. Cowok bertanggung jawab, sok dewasa, tapi depan Sabina aja gelagapan,” skak Devan yang membuat Adelia menahan tawanya ketika melihat adiknya yang melotot kearah Devan ketika Sabina melirik Keano.


Ingin rasanya Adelia tertawa, tapi dia tahan itu semua karena tidak mau jika adiknya merasa terpojokkan. “Gini nih kalau ke rumah orang tua yang bawelnya minta ampun. Kalau bukan karena perintah Mama. Aku nggak bakalan mau,”


Devan menyeringai dan justru melemparkan bantalan sofa kearah Keano. “Jagoan nggak boleh lemah. Masa baru di depan cewek udah kayak gitu,”


“Udah ah, kayak kakak nggak pernah ciut aja sama cewek. Buktinya waktu kakak sekolah sampai kakak kerja di perusahaan, Papa. Kakak nggak pernah pacaran tuh, selain dijodohkan,” skak balik Sabina yang membuat Devan terdiam.

__ADS_1


“Nah kan, seorang calon Papa yang udah gayanya selangit sok gimana gitu. Tahunya nyalinya cuman sebatas mi kuah yang di mana mi tersebut cepat putus, alias lembek,” ledek Keano.


“Sialan, kalian berdua mau balas dendam?”


“Karena kakak yang duluan,” jawab keduanya serentak yang membuat Adelia berhenti memakan nastarnya dan langsung menatap suaminya yang juga memperlihatkan ekspresi sama.


“Nah kan, jodoh nih kayaknya yang dua,” ledek Devan.


“Kakak ih nyebelin,” Sabina bangun dari tempat duduknya tadi dan menjambak rambut Devan kemudian pergi dari ruang tamu menuju kamarnya. Baru saja dia masuk, gadis itu membanting pintu kamarnya.


“Kamu sih, udah tahu adiknya lagi datang bulan, malah diledekin terus. Sabina tuh kasihan tahu,” protes Adelia ketika melihat adik iparnya ngambek karena diledek oleh Devan barusan. Sebenarnya bukan itu maksud Devan, dia hanya ingin membuat Keano dan Sabina dekat agar tidak canggung lagi ketika Devan meminta adik iparnya main ke rumahnya. Seperti yang diceritakan oleh Adelia jika sebenarnya Keano itu paling anti dekat-dekat dengan perempuan. Tapi, tidak tahu kalau nanti. Maka dari itu dia berusaha membuat keduanya akrab. Tidak masalah juga jika sebenarnya Sabina dan juga Keano dekat, toh Keano juga laki-laki yang baik, walaupun kadang dingin. Percuma jika diajak bicara dan kebanyakan diam, itu yang sering dirasakan oleh Devan ketika adik iparnya itu berkunjung. Tapi kali ini justru adik kandungnya yang ngambek.


“Makanya kak kalau punya mulut itu dijaga! Sabina tadi nanyain tentang sekolah aku lho. Dia mau lanjut ke sana,”


Devan menyeringai, “Ya maaf,”


“Maafnya sama Sabina dong! Bukan sama aku,”


“Nah kan bocah mulai belain Sabina lagi, jangan-jangan ada sesuatu,”


Keano menggeleng, “Kita baru duduk di sini aja kok. Malah dituduh yang enggak-enggak,” protes Keano.


 


 


Adelia membiarkan keduanya berdebat. Karena Devan yang memang punya sifat paling menyebalkan itulah yang membuat Adelia semakin sayang. Sekalipun menyebalkan, tapi Devan juga orang yang sangat romantis, tahu di mana ketika dia harus bercanda. Tahu di mana ketika dia harus benar-benar dekat dengan siapapun juga.

__ADS_1


 


 


__ADS_2