
Geraldyn terdiam agak lama sebelum akhirnya menghela nafas panjang. Entah bagaimana dia akan menolak lelaki di hadapannya ini. Gila dan memiliki banyak uang, itu adalah perpaduan mengerikan yang memungkinkan seseorang dapat melakukan apa saja. Jika sampai orang tidak waras ini bekerjasama dengan orang lain, hal itu justru akan menyulitkan Geraldyn untuk mengetahui apa yang sedang dia rencanakan.
Di masa lalu, hubungan Geraldyn dan Carissa bisa di bilang selalu harmonis. Carissa selalu memperlakukan Geraldyn dengan sangat baik, layaknya Geraldyn adalah keluarganya sendiri. Hal itu membuat Geraldyn sangat menghormati Carissa dan tak ingin terjadi hal buruk padanya. Meski tidak tahu bagaimana cerita awal pernikahan Carissa dan Evan, tapi Geraldyn bisa melihat jika saat ini keduanya saling mencintai. Dia tidak ingin rumah tangga yang harmonis itu di kacaukan oleh pihak ke tiga. Dan tampaknya lelaki gila di hadapannya ini sangat terobsesi pada Carissa.
Geraldyn harus melakukan sesuatu untuk mencegah Jonathan merusak hubungan Carissa dengan suaminya, terlebih saat ini mereka akan segera memiliki seorang anak. Dan hal itu hanya dapat Geraldyn lakukan jika dia tahu apa yang di rencanakan lelaki di hadapannya ini.
"Baiklah, saya bersedia bekerja sama dengan Tuan, tapi dengan satu syarat." Geraldyn akhirnya membuka suara.
Jonathan tersenyum penuh kemenangan.
"Apa syaratnya?" Tanya Jonathan.
"Syaratnya adalah Anda harus menganggap saya sebagai partner, bukan bawahan." Ujar Geraldyn.
Jonathan tampak menautkan kedua alisnya.
"Jika kita bekerjasama, saya ingin Anda mengatakan dengan jelas setiap rencana yang akan Anda jalankan tanpa ada yang di tutupi. Saya tidak suka bekerja atas perintah orang tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang di kerjakan. Jika ingin merekrut saya sebagai partner Anda, Anda harus terbuka pada saya." Ujar Geraldyn lagi menjelaskan.
Jonathan masih menatap Geraldyn sembari berpikir. Dia tampak sedang menimbang-nimbang untuk menerima syarat dari Geraldyn atau tidak
"Kalau Anda keberatan juga tidak apa-apa, Anda bisa mencari orang lain untuk di ajak bekerja sama. Tolong beri nomor rekening Anda pada saya, saya akan mentrasfer uang yang Anda berikan tadi." Geraldyn pura-pura akan beranjak dari duduknya.
"Tunggu dulu, Nona!" Jonathan langsung menahan Geraldyn, sesuai dengan yang di perkirakan.
Geraldyn mengurungkan niatnya untuk bangkit.
"Baiklah, Nona adalah partner saya. Setiap hal yang ingin saya rencanakan terhadap Carissa, saya akan mendiskusikannya pada Nona. Tapi tentu saja, sebagai partner, Nona harus berpihak pada saya." Ujar Jonathan akhirnya.
"Tergantung." Balas Geraldyn dengan santai.
__ADS_1
Jonathan kembali menautkan alisnya.
"Tergantung Tuan Jonathan menguntungkan untuk saya atau tidak. Terus terang, hubungan saya dan Carissa cukup baik. Jika dia sampai tahu saya bekerjasama dengan Tuan untuk memisahkan dia dan suaminya, saya yakin dia pasti akan sangat membenci saya. Jadi selain uang tadi, apa yang bisa Tuan tawarkan untuk saya?" Tanya Geraldyn. Dia ingin tahu sejauh mana Jonathan ingin berusaha untuk mendekati Carissa lewat dirinya.
"Akan saya berikan Nona posisi penting di perusahaan saya, dan saya juga akan memberikan Nona sebagian saham yang saya miliki." Ujar Jonathan tanpa ragu.
Mata Geraldyn membeliak dan hampir saja tersedak liurnya sendiri karena terkejut. Lelaki ini benar-benar Gila. Bagaimana bisa dia rela memberikan hal yang begitu berharga hanya untuk mendapatkan seorang perempuan yang sudah bersuami.
"Apa Tuan yakin? Mungkinkah saat ini Tuan sedang berusaha untuk menipu saya?" Tanya Geraldyn meyakinkan.
"Tentu saja tidak. Jika Nona berhasil membantu saya mendapatkan Carissa, Nona akan mendapatkan semua itu. Saya pastikan jika kehidupan Nona akan sangat sejahtera." Jawab Jonathan tanpa ragu.
Geraldyn mrngangguk-anggukkan kepalanya. Sungguh sebuah penawaran yang sangat menggiurkan. Tapi untung saja dia adalah tipe orang yang menganggap pertemanan dan hubungan baik di atas segalanya, sehingga tawaran Jonathan tadi tidak begitu membuatnya goyah.
"Oke, Deal." Geraldyn tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk mengajak Jonathan berjabat tangan.
"Kalau tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, saya permisi dulu. Hari ini adalah hari libur saya." Ujar Geraldyn mengakhiri pembicaraan mereka.
"Tunggu dulu, Nona." Sekali lagi Jonathan menahan Geraldyn.
Geraldyn kembali mengurungkan niatnya untuk bangkit. Dilihatnya Jonathan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan meletakkannya tepat di hadapan Geraldyn. Sebuah kartu berwarna hitam, black card yang sangat legendaris. Sebuah kartu yang bisa di gunakan untuk membelanjakan apa saja tanpa adanya batasan nominal. Hanya orang-orang tertentu saja di dunia ini yang memilikinya, dan lelaki gila ini sedang menyodorkan benda sakti itu pada Geraldyn.
Dalam hati Geraldyn merasa kasihan. Jika ada hal yang harus di lakukan oleh lelaki di hadapannya ini, itu tak lain adalah pergi ke rumah sakit jiwa. Dia benar-benar sudah tidak waras dan butuh pertolongan.
"Nona bisa menggunakan kartu ini sesuai kebutuhan selama kita bekerjasama."
Kata-kata Jonathan membuyarkan lamunan Geraldyn.
Geraldyn memandang Jonathan selama beberapa saat sebelum akhirnya tangannya terulur mengambil black card yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Saya sungguh boleh menggunakannya?" Tanya Geraldyn lagi.
Jonathan mengangguk.
"Anggap saja sebagai salah satu keuntungan bekerjasama dengan saya. Setelah ini saya akan banyak merepotkan Nona. Dan malam ini tampaknya Nona akan mulai menjadi partner saya." Gumam Jonathan.
"Malam ini?" Geraldyn menautkan kedua alisnya.
"Benar. Saya tahu malam ini juga sedang tidak ada pekerjaan. Jadi saya akan meminta Nona untuk menemani saya menghadiri sebuah undangan makan malam. Anggap saja sebagai awal dari kerjasama kita."
Geraldyn tampak terdiam beberapa saat. Entah yang dia lakukan ini benar atau tidak, yang jelas tujuannya adalah ingin menghalangi Jonathan mengganggu kehidupan rumah tangga Carissa. Tapi tampaknya dia akan terlibat semakin jauh dengan lelaki gila ini.
"Baiklah." Ujar Gelaldyn akhirnya.
"Tapi di lain waktu saya harap Tuan tidak membuat kerjasama kita berbenturan dengan pekerjaan saya. Saya masih membutuhkan pekerjaan saya sampai hadiah yang Tuan janjikan itu benar-benar menjadi milik saya." Tambah Geraldyn lagi.
"Tidak masalah." Jawab Jonathan dengan santai. Dia pun akhirnya mempersilahkan Geraldyn untuk meninggalkan tempat itu.
Geraldyn beranjak dari duduknya dan membalikan badan untuk pergi. Di pandangnya kartu yang di berikan Jonathan tadi sebelum benar-benar melangkah pergi. Senyum tipis dan agak miring tersungging di bibir Geraldyn.
Sepanjang dia melangkah menuju mobil yang tadi di kendarainya, Geraldyn terus membolak-balikkan black card yang saat ini ada di tangannya sembari menimbang-nimbang.
'Baiklah, Tuan Jonathan Hansen. Jangan salahkan aku jika setelah ini kau akan bangkrut. Aku pastikan kau akan sangat menyesal karena telah menjadikanku sebagai partnermu.'
Bersambung...
Enak bener yak jadi Geraldyn, tempo hari di kasih Evan kartu kredit, trus sekarang di kasih juga sama si Jonathan kartu tanpa limit. Bagi satu dong, Ge...😁😅
Happy reading❤❤❤
__ADS_1