
Ciuman Evan terasa begitu lembut dan penuh perasaan, hingga Carissa jadi terhanyut di buatnya. Tanpa sadar perempuan itu membuka mulutnya agar Evan bisa semakin leluasa menjelajahi setiap rongga mulutnya.
Evan menahan tengkuk Carissa untuk memperdalam ciuman mereka, lalu mata Carissa tiba-tiba membeliak saat Evan mengangkat tubuhnya dan menggedongnya ala bridal style.
Dengan tidak melepaskan pertautan bibir mereka, Evan membopong Carissa menuju tempat tidur. Lalu dengan lembut di baringkannya tubuh istrinya itu di tempat tidur. Evan semakin bersemangat memagut bibir Carissa hingga Carissa pun mulai masuk ke dalam permainannya. Meski dengan sedikit canggung dan kaku, Carissa mulai merespon dan membalas pagutan Evan.
Evan dan Carissa tenggelam dalam ciuman yang menggairahkan hingga keduanya mulai kehabisan nafas. Evan pun menyudahi ciuman itu. Keduanya saling memandang dengan nafas yang agak terengah.
Senyum Evan terbit saat melihat bibir bagian bawah Carissa yang agak membengkak karena ulahnya, lalu di usapnya bibir itu dengan ibu jarinya, dan di kecupnya sekali lagi.
Carissa semakin membeku dengan semua perlakuan Evan. Rasanya jantungnya sudah berhenti berdetak sedari tadi. Ia tak tahu harus mendeskripsikan perasaannya saat ini seperti apa. Yang jelas hati dan tubuhnya saat ini bergetar dengan sangat hebat.
"Evan..." Sekali lagi hanya itu yang bisa keluar dari mulut Carissa.
"Kita sedang melakukan step pertama dari hubungan suami istri. Mulai sekarang kita akan sering melakukannya agar terbiasa." Ujar Evan menjelaskan.
Mata Carissa kembali melebar.
'Step pertama katanya? Kalau step pertama sudah seperti ini, lalu step selanjutnya yang seperti apa?'
Carissa menelan salivanya tanpa sadar.
"Kenapa kamu kelihatan tegang? Tubuhmu juga gemetaran?" Tanya Evan saat menyadari reaksi Carissa yang tak biasa.
"Ti-tidak, kok..." Kilah Carissa dengan agak terbata.
Evan mengulum senyumnya melihat wajah Carissa yang tampak memerah. Sepertinya sekarang istrinya ini sedang menahan malu. Tiba-tiba saja ide jahil singgah di otaknya. Di rendahkannya lagi posisi tubuhnya sehingga semakin merapat ke tubuh Carissa. Tak lupa tangannya juga terulur membelai lembut kepala perempuan itu, lalu beralih ke pipinya juga.
Nafas Carissa terlihat semakin tersengal menahan gelenyar aneh yang timbul karena belaian tangan Evan, membuat Evan semakin mengulum senyumnya. Entah kenapa dia merasa senang menjahili Carissa seperti ini, padahal pada dasarnya Evan bukanlah orang yang suka berbuat jahil.
Sepertinya setelah ini menggoda Carissa akan menjadi hal yang masuk ke dalam daftar hobinya.
"Jangan tegang, Carissa. Rileks..." Bisik Evan. Tapi bukannya menjadi rileks, tubuh Carissa semakin menegang saat Evan berbisik di telinganya. Ingin rasanya Carissa lari, tapi tentu saja itu tidak mungkin dia lakukan, mengingat yang ada di hadapannya saat ini adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
"Kalau kamu memang mau melakukannya sekarang, lakukan saja. Tidak perlu menundanya lagi." Ujar Carissa akhirnya. Suaranya terdengar agak putus asa. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang di berikan Evan, dan berharap Evan menuntaskannya agar semuanya segera selesai.
Evan menautkan alisnya.
"Bukankah tadi kamu bilang step by step?" Tanya Evan.
Carissa mendesah.
'Aku tidak mau kamu menyiksaku sepanjang malam seperti ini. Aku bisa mati.'
"Aku berubah pikiran." Lirihnya.
Evan kembali menahan senyumnya.
"Kenapa?" Tanya Evan tanpa rasa bersalah.
"Tidak kenapa-napa. Aku berubah pikiran saja." Jawab Carissa.
Akhirnya Evan tak bisa menahan senyumnya lagi.
Carissa tak bisa mengimbangi yang Evan lakukan kali ini. Rasanya ini berbeda dari yang sebelumnya. Jika tadi ciuman Evan sangat lembut meski menggairahkan, sekarang rasanya ciuman Evan terasa begitu bernafsu, seakan lelaki itu ingin melahapnya tak bersisa.
Selang beberapa waktu, Evan kembali melepaskan ciumannya dan kembali memandang wajah Carissa yang kini lebih merah dari sebelumnya.
Mata Carissa agak berkabut. Sepertinya saat ini istri Evan itu sudah mulai terpancing hasratnya.
"Sungguh tidak apa-apa kalau kita lakukan sekarang?" Tanya Evan meyakinkan.
Carissa tak menjawab. Ia hanya mengangguk samar mengiyakan pertanyaan Evan.
Evan kembali tersenyum dan kembali mencium bibir Carissa, kemudian bibirnya turun menjelajahi leher jenjang istrinya itu, hingga akhirnya turun lagi ke area dada.
Evan menelan salivanya. Bagian ini tadi yang memenuhi otaknya hingga dia harus menenangkan adik kecilnya di kamar mandi. Di sentuhnya dada Carissa itu dengan lembut hingga Carissa menggeliat karena merasa geli.
__ADS_1
di bukanya kancing piama yang di kenakan Carissa satu persatu, dan saat semua kancingnya telah terbuka, Evan menyingkap piama tersebut dan tampaklah apa yang memenuhi kepala Evan sedari tadi.
Kali ini wajah Evan yang memerah. Dadanya jadi bergemuruh tak karuan saat melihat pemadangan di hadapannya saat ini. Sedangkan Carissa sendiri tampak membuang wajahnya kearah lain dengan mata terpejam. Tak bisa di jelaskan lagi telah seberapa merah wajahnya saat ini.
Setelah terpaku beberapa saat, akhirnya Evan mulai mencumbu Carissa lagi. Kali ini tak hanya di wajah dan leher, tapi area dada Carissa pun tak luput dari cumbuannya. Kemudian Evan membuka atasan piama yang di kenakannya juga, hingga memperlihatkan pada Carissa tubuh liatnya.
Keduanya tampak telah di selimuti gairah dan tak bisa mundur lagi. Tangan Carissa bahkan tanpa sadar terulur membelai dada berotot milik Evan hingga membuat Evan semakin merasa berhasrat.
Evan tampak telah terbakar gairah sepenuhnya. Di cekalnya kedua tangan carissa dengan kedua tangannya, hingga Carissa semakin tak berdaya di bawah kungkungannya.
"Aku tanya sekali lagi, apa aku benar-benar boleh melakukannya?" Tanya Evan lagi.
Carissa hanya mengangguk seperti sebelumnya. Matanya sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi karena telah terpancing sepenuhnya ke dalam permainan Evan. Tak di hiraukannya lagi aturan step by step yang sebelumnya terucap oleh dirinya sendiri.
Carissa kalah. Sepertinya ia akan meyerahkan dirinya pada Evan malam ini. Dan anehnya, saat ini dia tak terlalu mempedulikannya lagi.
"Kalau begitu, mari kita lakukan step selanjutnya." Bisik Evan dengan nada sensual. Lalu kembali di pagutnya bibir istrinya itu dengan penuh hasrat. Tangannya juga tak tinggal diam dan ikut bergerilya.
Kali ini Carissa mulai membalas apa yang di lakukan Evan. Dengan tanpa malu lagi perempuan itu ikut menjelajahi tubuh Evan dengan tangannya, hingga tanpa mereka sadari, pakaian yang mereka kenakan telah berserakan di lantai.
Mereka terus saling mencumbu hingga akhirnya Evan mulai masuk ke inti permainan. Di arahkannya inti tubuhnya ke milik Carissa, dan saat kepunyaannya itu mulai akan menembus pertahanan Carissa, ekspresi Carissa mulai berubah.
"Aww!!!" Pekik Carissa. Wajahnya menunjukkan jika saat ini dia sedang kesakitan.
Evan menyadari hal itu, tapi karena telah terlanjur bergairah, dia masih berusaha untuk menyatukan dirinya dengan Carissa.
Mata Carissa membeliak merasakan sakit yang tak terhingga dari tubuh bagian bawahnya.
"Evan, stop! Sakit!!!"
Bersambung...
Malah di suruh stop😂😂😂
__ADS_1
Jgn lupa like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤