WITH YOU

WITH YOU
Tunggu Aku...


__ADS_3

Evan duduk di hadapan Dokter Melissa yang tampak sedang menganalisa kondisi terkini dari dirinya. Selama beberapa minggu belakangan, Evan giat menjalani terapi dan juga konseling. Keadaannya sudah jauh lebih baik, sudah sangat jarang merasakan sakit di kepalanya. Meski terasa sakit sekali pun masih di ambang batas wajar, tidak sampai membuat Evan harus mengkonsumsi obat.


Emosinya pun sudah mulai stabil, sudah tidak sering teringat dengan hal-hal buruk tentang masa kecilnya lagi, meski tentu saja dia tak bisa menutupi kesedihannya dan begitu kehilangan sosok Carissa.


Kondisi kejiwaan Evan membaik, tapi tubuhnya menjadi ringkih. Kepergian Carissa seperti dua mata pisau yang mengakibatkan dua dampak sekaligus. Di satu sisi Evan mengalami kemajuan dalam pengobatannya, tapi di sisi lain hidupnya jadi terasa begitu hampa. Evan seperti kehilangan sebuah arti dari hidupnya itu sendiri.


"Beberapa minggu terakhir, sudah dua kali aku menurunkan dosis obatnya. Sekarang aku akan turunkan kembali. Sepertinya dalam waktu dekat ini kamu tidak akan membutuhkan obat lagi, Evan." Ujar Dokter Melissa tersenyum simpul pada Evan, di balas dengan senyuman tipis dari Evan.


Kondisi Evan memang maju pesat. Setelah kepergian Carissa, dan larangan Zacky yang tidak memperbolehkannya mencari Carissa selama dia masih sakit, Evan bertekad untuk menjalani pengobatannya dengan bersungguh-sungguh. Dia ingin segera sembuh, atau setidaknya membaik agar bisa lekas mencari Carissa dan membawanya pulang.


"Terima kasih, Dokter Melissa." Ujar Evan.


Dokter Melissa yang selesai menuliskan resep untuk Evan tampak mengangkat wajahnya.


"Sebenarnya aku lebih suka kamu memanggilku dengan panggilan senior." Ujar Dokter Melissa lagi sambil menyerahkan resep yang di tulisnya tadi pada Evan.


"Tapi sekarang aku pasienmu. Mana ada pasien memanggil dokternya dengan panggilan senior." Jawab Evan.


Dokter Melissa kembali tersenyum pada Evan.


"Aku sangat senang akhirnya kamu perlahan kembali pada dirimu yang sebelumnya, Evan. Aku harap setelah ini kamu akan benar-benar sembuh dan tidak menemuiku lagi sebagai seorang pasien. Aku ingin melihat Dokter Evan Bramasta yang dulu di kagumi oleh para gadis cantik, sampai ada yang rela datang dengan mengaku sakit jantung demi untuk di rawat olehmu."


Evan kembali tersenyum meski tak mengatakan apapun.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, aku benar-benar minta maaf untuk istrimu. Aku sungguh tidak tahu jika dia sedang hamil. Dia datang mencari tahu keadaanmu dengan raut wajah putus asa. Awalnya aku tidak ingin memberi tahu, tapi lalu aku pikir demi kesembuhanmu, dia harus tahu kondisimu yang sebenarnya. Aku hanya tidak menyangka kalau dia begitu cepat mengambil keputusan dan pergi tanpa berpikir lagi." Ujar Dokter Melissa lagi. Kali nada bicaranya terdengar agak pelan.


Evan terdiam sesaat.


"Tidak apa-apa. Pada akhirnya dia memang akan tahu, entah aku yang memberitahunya atau orang lain. Mungkin kami memang butuh ruang untuk saling membenahi diri, terutama aku. Setelah kondisiku membaik, aku pasti akan segera membawanya pulang." Jawab Evan.


Dokter Melissa menganggukkan kepalanya. Dia berharap Evan benar-benar segera sembuh dan kembali bersatu dengan istrinya. Bagaimana pun Dokter Melissa memang punya andil besar atas perginya Carissa, tapi tentu saja yang di sampaikannya pada Carissa memang fakta.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Evan bangkit dan mengulurkan tangannya pada Dokter Melissa untuk berjabat tangan. Dokter Melissa pun menyambutnya sambil tersenyum.


Evan akhirnya keluar dari ruangan itu dan pulang ke apartemennya. Dia sudah bersiap untuk menyusul Carissa dan berencana membawa Carissa pulang. Sudah beberapa minggu sejak Carissa pergi, kehidupan Evan benar-benar terasa kosong. Setiap hari dia merindukan istrinya itu dan ingin tahu bagaimana keadaannya. Evan bahkan tidak bisa menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar karena sepertinya Carissa tidak lagi menggunakan nomor kontaknya yang lama.


Tapi rupanya Zacky diam-diam telah mencari tahu keberadaan Carissa. Carissa memang kembali ke Indonesia, tapi tidak tinggal bersama Alya, Mamanya. Alya sendiri telah tinggal di Amerika bersama Clara, Kakak Carissa. Dan sepertinya Alya tidak tahu jika sekarang Carissa pergi meninggalkan Evan. Agaknya Carissa tidak ingin menyusahkan Alya dan memilih untuk menderita sendirian.


☆☆☆


"Kondisimu baru saja membaik, Evan. Papa khawatir jika kamu menjemput Carissa sekarang, justru akan membuat kondisimu jadi memburuk lagi. Papa rasa kamu harus menunggu sampai kamu benar-benar sembuh." Zacky terlihat keberatan saat Evan mengatakan akan segera menjemput Carissa.


"Tapi, Pa, Carissa sedang hamil dan sendirian di sana, tidak ada yang menjaga. Pasti sangat sulit untuknya menjalani kehamilan tanpa siapa-siapa di sampingnya. Dia punya suami, tapi hidup seperti perempuan yang hamil di luar nikah. Bagaimana jika terjadi sesuatu dan tidak ada yang membantunya?" Ujar Evan dengan nada khawatir.


Zacky menghela nafasnya. Dia sangat mengerti dengan ke khawatiran Evan, tapi Zacky tidak ingin Evan bertindak gegabah dan mengacaukan segalanya. Tujuan kepergian Carissa adalah demi untuk kesembuhan Evan, dan itu terbukti dengan kondisi Evan yang terus membaik sejak Carissa tidak ada. Zacky tidak ingin dengan Evan bersama Carissa sekarang, keadaan Evan akan kembali memburuk dan pengobatannya berakhir sia-sia.


"Terlepas dari dia sendirian, keadaan Carissa saat ini sebenarnya cukup baik. Dia kembali bergabung dengan agensi yang selama ini menaunginya dan akan kembali bermain piano lagi. Dia mendapatkan fasilitas sebuah apartemen yang cukup nyaman dan telah mendapatkan sponsor. Dia juga sudah mulai berlatih lagi beberapa hari ini." Ujar Zacky kemudian.

__ADS_1


Evan tertegun mendengar penuturan Zacky. Hatinya semakin terasa sedih mengetahui Carissa berjuang seorang diri di luar sana. Rasa bersalah semakin kuat bercokol di dalam hatinya.


"Dia pernah mengatakan jika menjadi seorang pianis bukanlah murni keinginannya. Pasti dia melakukan itu demi untuk mendapatkan penghasilan dan tempat tinggal. Dia berusaha untuk bertahan tanpa aku. Bagaimana bisa aku membiarkan istri dan calon anakku kesusahan seperti itu, Pa?" Gumam Evan dengan sedih.


"Papa sebenarnya telah menghubungi agensinya dan meminta mereka untuk benar-benar menjaga Carissa. Papa juga menjadi salah satu sponsor yang akan memberikan semua fasilitas yang dia butuhkan. Tapi tentu saja Papa meminta pihak agensi Carissa untuk menyembunyikan identitas Papa. Jadi kamu tidak perlu khawatir dan fokuslah dengan kesembuhanmu. Carissa akan baik-baik saja." Ujar Zacky berusaha menenangkan Evan.


Evan terdiam dan tampak mencerna kata-kata Zacky.


"Oh iya, Papa juga sudah punya nomor kontak orang yang menjadi manajer Carissa saat ini. Nanti Papa berikan padamu supaya kamu bisa memantau langsung keadaan Carissa." Tambah Zacky lagi.


Evan menoleh kearah Zacky dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Kemudian dia tercenung sembari memikirkan kata-kata Papanya tadi cukup lama.


"Terima kasih, Pa." Ujar Evan akhirnya dengan nada lirih.


Sepertinya Evan tidak bisa menjemput Carissa sekarang, tapi dia bertekad untuk segera sembuh dan secepat mungkin berkumpul lagi dengan istrinya itu. Ya, Evan akan berjuang juga agar mereka bisa bersama-sama lagi.


'Bertahanlah sebentar lagi, Carissa. Aku pasti akan datang dan menjemputmu. Tunggu aku...'


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2