
Setelah proses persalinan selesai, Carissa langsung dibersihkan dan dipindahkan ke ruang perawatan, sedangkan bayinya dibawa ke ruangan khusus bayi untuk dibersihkan juga.
Evan yang baru saja selesai menelpon langsung menemui Carissa di ruang perawatannya. Istrinya itu tampak sangat kelelahan, tapi kelihatannya dia tidak tidur.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa saat ini perutmu terasa sakit lagi?" Tanya Evan.
Carissa menoleh kearah Evan, lalu menggeleng pelan.
"Aku cuma merasa lelah. Sebelumnya tenggorokanku memang terasa agak sakit, mungkin karena tadi terlalu banyak berteriak. Tapi suster sudah memberiku minum teh hangat, jadi sekarang sudah jauh lebih baik." Ujar Carissa.
"Kalau lelah, istirahatlah. Kamu bisa tidur sebentar sebelum putri kita diantar kesini." Ujar Evan sambil membelai lembut pucuk kepala Carissa.
Sekali lagi Carissa menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja tidurnya, aku ingin melihat putri kita dulu. Dari tadi aku sudah terbayang-bayang seperti apa wajahnya." Jawab Carissa.
Evan tersenyum.
"Aku juga tidak sabar ingin melihatnya. Tadi saat dia digendong Dokter Grace, aku hanya melihatnya sekilas, tidak terlalu terlihat bagaimana wajahnya."
Carissa terlihat agak menautkan kedua alisnya.
"Kamu tidak ikut melihat keruang perawatan bayi?" Tanya Carissa.
"Tidak. Aku tadi memberi kabar pada Mama jika kamu sudah melahirkan. Lagipula setelah ini juga dia akan diantar kesini untuk diajari menyusu. Kita bisa melihat wajah putri kita bersama-sama." Ujar Evan lagi.
Carissa terdiam dan tak bisa berkata-kata, dipandangnya suaminya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Senyum tipis pun akhirnya tersungging di bibir Carissa.
"Oh, iya. Tadi aku juga menelpon Mamamu. Beliau terdengar sangat senang mengetahui kamu sudah melahirkan. Katanya nanti dia akan terbang ke sini untuk melihat cucunya." Ujar Evan lagi.
"Mamaku?" Ulang Carissa.
Evan mengangguk.
Carissa terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menatap mata Evan.
"Apa sungguh tidak jadi masalah jika Mamaku datang kesini? Apa kamu akan baik-baik saja?" Tanya Carissa kemudian.
__ADS_1
Evan tersenyum sambil kembali membelai pucuk kepala Carissa.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku sudah memaafkan semua yang terjadi dimasa lalu? Tentu tidak masalah jika Mamamu mau datang untuk melihat cucunya. Aku akan senang jika putri kita bisa mendapatkan kasih sayang dari banyak orang."
Carissa terdian sambil menatap mata Evan lekat. Mata Carissa tampak merah dan berkaca-kaca.
"Terima kasih..." Lirih Carissa bersamaan dengan setetes airmata yang tiba-tiba jatuh di pipinya.
Tangan Evan kembali terulur, dan kali ini dihapusnya airmata yang membasahi pipi Carissa.
"Bukan kamu yang harusnya berterima kasih, tapi aku. Kamu sudah banyak memberikanku kebahagiaan. Sekarang kamu juga telah memberiku kebahagiaan terbesar untuk seorang lelaki, yaitu menjadi seorang ayah. Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, Carissa. Sejak bersamamu, hidupku benar-benar terasa lengkap." Ujar Evan dengan lembut.
Carissa tertegun dengan mata yang kembali basah. Digenggamnya erat jemari Evan yang tengah membelai pipinya.
"Aku benar-benar bersyukur bisa dipertemukan denganmu." Lirih Carissa.
Evan tersenyum lagi, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Carissa. Diciumnya kedua pipi serta kening istrinya itu.
"Aku juga." Bisik Evan di telinga Carissa.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang dengan membawa putri mereka ke ruang perawatan Carissa. Setelah mengarahkan dan membimbing Carissa cara memberikan asi pada bayinya, perawat itupun undur diri, seakan ingin memberikan ruang pada keluarga kecil ini untuk menikmati momen kebersamaan mereka.
"Dia sangat cantik." Gumam Evan sambil mengamati putri mereka yang sedang asyik menyusu pada Carissa.
Carissa mengangguk dengan airmata yang terus bercucuran.
Evan beralih melihat kearah Carissa. Dia kembali tersenyum saat melihat Carissa yang kembali terlihat emosional.
"Kenapa menangis lagi? Apa perasaan bahagia juga membuat orang tidak bisa berhenti menangis?" Evan sedikit berseloroh sambil kembali menyeka airmata Carissa.
Carissa tampak terisak, meski dengan agak tertahan.
"Putri kita...aku kira dia akan lahir tanpa didampingi oleh Papanya. Aku kira aku akan menjadi ibu tunggal yang membesarkan anak seorang diri...aku kira kelak dia hanya akan mendapatkan kasih sayang dariku saja...hiks...hiks..."
Evan tertegun mendengar kata-kata Carissa.
"Aku kira kita tidak akan bersama-sama lagi seperti ini. Saat aku pergi, aku kira kita benar-benar akan berpisah..."
__ADS_1
Evan bangkit dan langsung memeluk Carissa serta putri mereka.
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu meninggalkanku dan membesarkan putri kita sendirian. Tidak akan pernah." Ujar Evan dengan suara yang ikut tergetar.
Membayangkan Carissa melahirkan seorang diri dan putrinya tumbuh tanpa seorang ayah, membuat Evan ikut merasa emosional juga. Diciumnya berulang kali pucuk kepala Carissa, lalu beralih pada putrinya juga.
Bayi mungil itu masih tetap asyik menyusu pada Mamanya dan tak terganggu dengan kecupan Evan di pipinya. Bahkan matanya yang sebelumnya terbuka, kini mulai terpejam.
Evan melepaskan rangkulannya ditubuh Carissa, lalu kembali memperhatikan putrinya itu.
"Lihatlah, sepertinya dia tertidur." Gumam Evan.
Carissa mengangguk sambil mengusap airmata dengan satu tangannya.
"Kamu sudah punya nama untuknya?" Tanya Carissa kemudian.
Evan mengangguk.
"Namanya Lily, Lily Bramasta." Gumam Evan.
"Lily?"
Evan kembali mengangguk mengiyakan.
"Putri kita secantik bunga lili. Seperti halnya bunga lili yang punya makna kesucian, kemurnian dan kesopanan, aku harap putri kita juga akan menjadi simbol akan tiga hal tersebut. Kelak dia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, anggun, cerdas dan menenangkan. Dia akan menjadi putri yang selalu membuat kita bangga."
Carissa tertegun selama beberapa saat. Dia tampak sedang mencerna kata-kata Evan barusan. Carissa setuju dengan apa yang didengarnya tadi, tapi entah kenapa ada bagian lain dari hatinya yang terasa sedikit mencelos. Bukankah Evan pernah mengatakan tidak masalah jika putri mereka nanti sedikit nakal?
"Lily...nama yang cantik." Gumam Carissa akhirnya.
"Lily, mulai sekarang jadilah putri yang manis. Jangan pernah membantah Mamamu, kamu tidak tahu bagaimana tadi Mama berjuang untuk membawamu bertemu dengan Papa." Evan kembali berseloroh sambil mengusapkan salah satu jarinya di pipi Lily.
Baiklah, Carissa mengerti. Sepertinya Evan sangat berharap putri mereka ini menjadi sosok yang tenang, santun dan penuh tata krama, seperti Evan sendiri. Setelah ini agaknya Carissa harus bekerja keras untuk mendidik putrinya agar tidak nakal dan bandel seperti dirinya dulu.
Bersambung...
Tetap like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤