
Evan menyeka airmata Carissa dengan lembut dan kembali membelai pucuk kepala istrinya itu. Di kecupnya kedua mata Carissa yang basah, lalu di bawanya Carissa ke dalam pelukannya.
Carissa membeku dengan perasaan yang semakin bergejolak. Tanpa sadar dia menggigit bibirnya sendiri karena menahan tangis.
"Jangan menangis lagi. Sekarang aku sudah di sini. Maaf kalau belakangan ini aku sering meninggalkanmu. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan." Ujar Evan sembari terus membelai kepala Carissa dengan lembut.
Carissa tak menjawab. Hanya tangannya saja yang membalas pelukan Evan. Mendapat perlakuan lembut dari Evan seperti ini, hatinya menjadi semakin bertambah sedih. Suaminya ini tampak berusaha terlihat baik-baik saja di hadapannya, padahal jelas keadannya sedang sangat buruk.
"Kamu sudah makan?" Carissa mengurai pelukannya dan berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
"Sudah. Tadi aku makan di apartemen." Jawab Evan.
Carissa kembali terdiam beberapa saat, lalu memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk memandang wajah Evan.
Evan balas menatap Carissa. Senyumnya kembali tersugging meski tipis. Dalam hati Carissa bertanya-tanya, seberapa sulitkah Evan menahan rasa sakitnya saat ini? Pasti tidak mudah berpura-pura terlihat baik-baik saja di saat dokter yang menanganinya bahkan mengatakan dirinya sekarat.
Tangan Carissa terulur menyentuh pipi Evan. Kemudian Carissa membelai wajah suaminya itu, lalu menyibakkan rambut yang menutupi sebagian dahinya. Dan tampaklah sesuatu yang membuat dada Carissa semakin terasa sesak. Sebuah bekas luka yang agaknya masih baru terlihat di dahi Evan. Bekas luka yang kemungkinan besar di dapat Evan saat sakit di kepalanya kambuh.
Dokter Melissa sebelumnya memang mengatakan juga pada Carissa jika Evan terkadang tanpa sadar sampai membenturkan kepalanya ke benda keras saat sakit di kepalanya benar-benar tak tertahankan lagi, hingga beberapa kali membuat kepalanya memar bahkan sampai terluka. Dan saat melihat dengan mata kepala sendiri seperti sekarang ini, hati Carissa benar-benar terasa hancur. Dia sungguh tak sanggup membayangkan penderitaan Evan lebih jauh lagi.
"Kenapa dahimu ada bekas lukanya?" Tanya Carissa dengan suara tergetar sembari menyentuh pelan bekas luka di dahi suaminya itu.
"Ini?" Evan juga ikut merabanya.
"Saat itu aku sedang buru-buru, jadi tidak sengaja menabrak sesuatu." Jawab Evan.
Carissa menatap Evan dengan sendu, hatinya terasa bagai di tusuk ribuan belati. Entah berapa banyak lagi Evan akan berbohong padanya demi untuk terlihat baik-baik saja. Carissa benar-benar harus berjuang keras agar tak kembali meneteskan airmatanya.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati..." Carissa kembali membelai wajah Evan dengan mata yang berkaca-kaca.
'Sampai kapan kamu mau menyembunyikan penderitaanmu ini, Evan? Jika aku tak mencari tahu sendiri keadaanmu, apakah kamu akan menanggung rasa sakit itu seumur hidupmu hanya untuk terus bersamaku?'
Rasanya tidak sanggup lagi Carissa menahan ledakan emosi di dalam dirinya. Nafasnya sampai agak tersengal karena pertahanannya yang mulai runtuh.
"Ini hanya luka kecil, tidak perlu sedih seperti itu. Anak kita bisa merasakan kalau Mamanya sedang sedih, nanti dia juga ikut sedih." Evan kembali tersenyum dan menghibur Carissa. Tangannya juga terulur menyentuh perut Carissa yang sudah tak serata dulu lagi. Evan mengusap lembut perut itu, lalu meraih Carissa lagi ke dalam pelukannya.
"Aku mencintamu, Evan..." Lirih Carissa dengan suara serak.
Evan tampak sedikit tertegun. Dia mulai merasa ada yang agak lain dengan Carissa malam ini.
"Dan aku ingin kamu bahagia..." Ujar Carissa lagi.
Evan terdiam sejenak, tapi sejurus kemudian dia tersenyum.
"Aku tahu. Aku juga mencintaimu, Carissa. Sebentar lagi anak kita akan hadir di tengah-tengah kita. Kebahagiaan kita akan lengkap."
Cepat-cepat Carissa menghapus airmata yang mengalir di pipinya, kemudian dia mengurai pelukan Evan.
"Cium aku." Pinta Carissa tiba-tiba.
Evan agak tertegun untuk beberapa saat, tapi sejurus kemudian dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah Carissa. Evan mengecup bibir Carissa beberapa kali, sebelum akhirnya di pagutnya bibir istrinya dengan lembut namun menghanyutkan.
Carissa memejamkan matanya, menikmati cumbuan Evan. Di kalungkan kedua lengannya pada leher suaminya itu, lalu di balasnya ciuman Evan dengan pagutan yang tak kalah menghanyutkan.
Carissa menyesap bibir Evan, mencurahkan segala perasaannya lewat ciuman itu. Seakan dia ingin menyampaikan begitu besar dan dalam rasa cintanya pada Evan. Kemudian dia menarik kembali wajahnya, menyudahi ciuman itu.
__ADS_1
Carissa dan Evan saling memandang. Keduanya seakan sama-sama ingin menenggelamkan satu sama lain lewat pandangan masing-masing.
Perlahan Carissa mengecupi setiap jengkal wajah Evan. Lalu di pandangnya wajah itu sekali lagi. Airmatanya kembali mengalir dan kali ini dia tak dapat menahan isakannya.
"Aku mencintaimu, Evan. Selamanya aku akan selalu mencintaimu. Terima kasih sudah menjadi suamiku dan membahagiakan aku setiap harinya..." Carissa memeluk Evan erat.
"Maafkan aku karena telah banyak menyusahkanmu..." Kali ini Carissa tersedu-sedu di dalam pelukan Evan. Dia tidak bisa menahan gejolak di dalam dadanya lebih lama lagi. Runtuh sudah pertahannya. Seumur hidup Carissa, inilah kali pertama dia merasa benar-benar hancur.
Evan tampak tertegun. Dia merasa ada yang berbeda dari istrinya ini sejak tadi. Carissa terlihat sedih dan menatap dengan tatapan yang sendu. Tapi Evan berpikir jika itu mungkin di sebabkan oleh dirinya yang jarang ada waktu untuk menemani Carissa belakangan ini.
"Kamu sedang berbicara apa? Kenapa sedih sekali seperti ini?" Tanya Evan sembari mengurai pelukan Carissa. Di hapusnya airmata Carissa dengan lembut.
Carissa kembali menatap wajah Evan, kali ini dia berusaha untuk tersenyum.
"Aku hanya terlalu merindukanmu." Ujarnya sembari menyentuh wajah Evan. Kemudian kedua tangannya mengusap dada Evan dan membuka satu persatu kancing kemeja yang Evan kenakan.
"Aku menginginkanmu..." Carissa kembali mencium Evan dan menanggalkan satu persatu pakaian yang di kenakannya. Evan pun menyambut pagutan bibir Carissa dan membalas cumbuan istrinya itu dengan bergairah.
Tak lama berselang, keduanya sama-sama tenggelam dalam permainan yang dulu selalu mereka lakukan dengan penuh kebahagiaan. Tapi kali ini semuanya terasa berbeda. Bahkan lenguhan nafas mereka terdengar sendu, seakan mereka berdua tengah menembangkan lagu sedih yang teramat pilu.
Carissa memejamkan matanya, berusaha untuk menikmati setiap sentuhan Evan. Tapi tak ayal airmata terus saja mengalir dari kedua sudut matanya. Desahan bercampur dengan isakan keluar dari bibir Carissa. Sesekali dia harus menggigit bibirnya agar tangisnya sedikit tertahan.
Carissa berusaha menerima dengan sepenuh hati sentuhan Evan lebih dari sebelumnya, karena mungkin ini adalah yang terakhir mereka melakukannya.
'Terima kasih, Evan. Aku tidak akan melupakan malam ini, karena sepertinya malam ini adalah malam terakhirku bersamamu.'
Bersambung...
__ADS_1
Tetap like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤