
Carissa terbangun dengan kepala yang terasa pusing dan perut yang mual tak terkira. Cepat-cepat dia pergi ke kamar mandi dan menggosok giginya agar mulutnya terasa lebih enak. Tapi bukannya merasa lebih baik, rasa mint dari pasta gigi yang di gunakannya justru membuat perutnya semakin terasa seperti di aduk-aduk.
"Hueekk..." Terdengar suara Carissa memuntahkan semua isi perutnya di kamar mandi.
Sontak Evan terbangun dan langsung bangkit dari tempat tidur. Di dapatinya Carissa sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandi. Dengan sigap Evan langsung mendekati Carissa dan memijat bahu serta tengkuknya agar istrinya itu merasa lebih baik. Setelah di rasa tak ada yang akan di muntahkannya lagi, Carissa membuka kran air dan berkumur membersihkan mulutnya.
Di rasa cukup, Carissa menutup kembali kran air di wastafel dan menghela nafasnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas dan seketika ia limbung. Beruntung Evan sigap menangkap tubuh Carissa dan segera membopongnya kembali ke tempat tidur.
Evan membaringkan Carissa di tempat tidur dengan raut wajah yang tidak terlihat bagus. Meski tahu jika yang di alami Carissa saat ini adalah hal yang wajar terjadi di awal kehamilan, tetap saja Evan merasa agak cemas.
"Masih mual?" Tanya Evan.
Carissa menggeleng.
"Perutku sudah lebih lega, hanya kepalaku saja yang masih agak pusing." Jawab Carissa dengan mata terpejam.
"Aku buatkan sarapan dulu, setelah itu baru minum obat yang di resepkan oleh Dokter Grace." Evan hendak beranjak dari duduknya, tapi lengannya di tahan oleh tangan Carissa.
"Aku tidak mau makan. Perutku mual lagi kalau membayangkan makanan." Ujar Carissa lirih.
Evan menghela nafasnya. Lalu segera mengambil air putih dan obat untuk Carissa.
"Minum obat mualnya dulu, setelah itu kamu bisa sarapan." Evan menyodorkan sebutir kapsul pada Carissa bersama dengan segelas air putih. Mau tidak mau Carissa menerimanya dan dan menelan kapsul itu dengan penuh perjuangan.
"Berbaringlah dulu sambil menunggu obatnya bekerja. Aku mandi dulu, setelah itu baru menyiapkan sarapan." Ujar Evan lagi.
Carissa hanya mengangguk dan menuruti kata-kata Evan tanpa sanggahan. Dia kembali berbaring, sedangkan Evan berlalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Sepuluh menit kemudian, Evan mendekati Carissa lagi dengan tubuh yang lebih segar. Dia mengenakan baju rumahan, agaknya suami Carissa itu tidak ke rumah sakit hari ini.
Evan mengusap kepala Carissa dengan lembut dan penuh perhatian.
"Mau sarapan apa?" Tanya Evan.
Carissa membuka matanya.
"Aku mau makan buah mangga, tapi yang masih muda." Jawab Carissa pelan.
Evan tertegun sesaat, sebelum akhirnya menghela nafasnya.
"Itu bukan menu sarapan, Carissa. Di dapur ada roti dan sereal, mau yang mana? Atau mau aku buatkan omelet?" Tanya Evan lagi.
Carissa menggelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku mau mangga muda..." Ujarnya lagi dengan keras kepala.
__ADS_1
Evan kembali terdiam. Sepertinya istrinya ini sudah mulai memasuki masa ngidamnya, sehingga sangat ingin makan yang rasanya asam.
"Baiklah..." Gumam Evan akhirnya.
"Aku akan meminta seseorang untuk mencarikan mangga muda, tapi sebelum mangganya datang, kamu harus memakan sesuatu yang lain dulu. Nanti calon anak kita tidak dapat asupan nutrisi kalau kamu hanya makan mangga muda saja." Tambah Evan lagi.
Akhirnya Carissa pun mengangguk.
"Jadi mau roti atau sereal?" Evan kembali bertanya.
Carissa menatap Evan seolah ragu mengatakan apa yang ingin di makannya.
"Aku mau pancake..." Jawab Carissa dengan suara kecil. Dia khawatir jika Evan akan merasa keberatan membuatkan makanan itu.
"Pancake?" Tanya Evan meyakinkan.
Carissa mengangguk pelan.
"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan buatkan." Ujar Evan sembari bangkit dari duduknya. Tapi sekali tangan Carissa menahan lengan Evan.
"Aku mau pancake yang di siram madu di atasnya." Ujar Carissa lagi.
Evan mengangguk mengiyakan, tapi Carissa masih belum melepaskan tangan Evan juga.
Evan kembali menoleh dan melihat kearah Carissa.
"Kenapa?" Tanya Evan sambil kembali duduk di pinggiran tempat tidur.
Carissa langsung bangkit dari posisi berbaringnya, lalu tanpa bisa dia cegah, langsung saja dia memeluk Evan dengan erat.
"Terima kasih." Bisik Carissa sembari menelusupkan kepalanya di dada Evan. Sudah lama Carissa tidak melakukan hal itu. Di hirupnya pula aroma tubuh Evan, aroma yang belakangan ini tak pernah lagi dia rasakan.
Carissa merindukan suaminya ini, sangat.
Evan yang sedikit terkejut dengan kelakuan Carissa itu hanya bisa tertegun. Baru setelah beberapa saat, dia merespon dengan mengusap lembut kepala Carissa.
"Kalau kamu seperti ini, sarapannya tidak akan jadi sampai tengah hari nanti, Carissa." Ujar Evan mengingatkan.
Carissa bergeming. Pelukannya tetap tak juga mengurai.
"Sebentar lagi, biarkan seperti ini dulu." Pintanya lirih.
Evan diam dan hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Jangan merasa kesal. Aku hanya merindukanmu dan ingin memelukmu sebentar saja." Ujar Carissa lagi. Kali ini suaranya terdengar agak sedikit bergetar.
__ADS_1
Evan masih terdiam dan tak mengeluarkan suaranya.
"Aku pikir setelah semua yang terjadi, kamu akan terus menjauhiku. Aku pikir selamanya tidak akan bisa memelukmu lagi seperti ini... Aku sangat takut setiap kali membayangkan kamu pergi meninggalkanku."
Evan dapat merasakan tubuh Carissa sedikit tergetar. Tampaknya istrinya ini sedang merasakan sebuah emosi yang tak tertahankan saat ini.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kamu sangat tahu itu, Carissa." Ujar Evan sambil mengurai pelukan Carissa.
"Sudah aku katakan berulang kali, berhentilah memikirkan yang tidak-tidak. Ingatlah jika sekarang ada satu nyawa lagi di dalam dirimu, kamu harus memikirkan dia juga. Jangan sampai calon anak kita mendapatkan dampak buruk karena kamu merasa stes." Ujar Evan lagi dengan nada lebih serius.
Carissa menatap Evan sesaat, kemudian mengangguk mengiyakan.
"Iya, maaf..." Lirihnya.
"Kalau begitu, tunggulah di sini dulu. Aku akan buatkan sarapan untukmu. Kamu harus makan agar calon anak kita tidak kelaparan."
Sekali lagi Carissa mengangguk. Tapi sejurus kemudian dia tampak ingin mengatakan sesuatu lagi.
"Ada yang ingin kamu katakan lagi?" Tanya Evan.
"A-aku..." Carissa terlihat malu dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Evan lagi.
Carissa mengangkat wajahnya dan memberanikan diri melihat wajah Evan.
"Kamu sudah lama tidak mencium keningku..." Ujar Carissa pada akhirnya dengan lirih. Di tundukkan wajahnya karena malu. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Evan mendengar kalimatnya itu.
Di luar dugaan Carissa, Evan justru tersenyum. Lalu di raihnya wajah Carissa dan di kecupnya kening istrinya itu dengan lembut.
"Apa ada hal lain lagi yang kamu rindukan?" Tanya Evan kemudian.
Carissa menggeleng cepat dengan wajah tersipu.
"Tidak ada. Sekarang kamu sudah boleh ke dapur." Ujarnya cepat.
Evan kembali tersenyum sambil mengusap lembut rambut Carissa. Kemudian dia berlalu menuju ke dapur apartemannya untuk membuatkan Carissa sarapan.
Carissa melihat punggung Evan dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia berharap setelah ini kehidupan rumah tangganya akan kembali bahagia.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤
__ADS_1