
Carissa dan Evan menghabiskan waktu seharian dengan berjalan-jalan berkeliling kota. Mereka bahkan hanya makan makanan cepat saji untuk mengisi perut disiang hari. Makanan yang baru pertama kali Evan konsumsi karena Carissa terus merengek meminta dibelikan makanan itu. Sejak kembali ke Singapura, ada saat-saat dimana Carissa terkadang berubah menjadi seperti gadis kecil yang manja, sangat jauh dari sikap Carissa selama ini yang selalu terlihat dewasa.
Tampaknya hormon kehamilan terkadang membuatnya menjelma jadi sosok yang lain. Mungkin itu adalah cerminan dari anak yang dikandung Carissa saat ini, entahlah. Yang jelas Evan tak mempermasahkannya sedikit pun. Bagi Evan, bagaimana pun sikap Carissa, tetap terlihat manis di matanya.
Demi Carissa, Evan bahkan rela melakukan apapun yang selama ini tidak pernah dilakukannya. Termasuk saat ini berjalan di sepanjang trotoar jalan sambil memakan permen kapas.
"Jangan terlalu sering mengkonsumsi ini. Rasanya sangat manis, tidak baik untuk gigi. Gula darah juga akan meningkat tak terkendali." Ujar Evan mengingatkan saat melihat Carissa sangat lahap memakan permen kapasnya.
Carissa agak mencebikkan bibirnya.
"Ada saatnya punya suami dokter itu terasa menyebalkan. Apapun yang aku makan pasti akan dikomentari ini itu, berdampak buruk, minim gizi atau apalah itu. Aku jadi merasa seperti sedang melakukan konsultasi kesehatan." Gerutu Carissa sambil mengunyah kembali permen kapasnya.
Evan tersenyum.
"Aku cuma mengingatkan, itu untuk kesehatanmu juga. Kenapa sekarang kamu mudah sekali merajuk?" Tanya Evan sambil mencubit gemas pipi Carissa.
"Auww!" Carissa sedikit terpekik sambil memegangi pipinya yang dicubit Evan tadi.
"Sakit!" Sergah Carissa dengan wajah cemberut.
Evan tertawa kecil.
"Kamu seperti ini benar-benar menggemaskan." Evan mencuri satu ciuman di pipi Carissa yang sebelumnya mendapat cubitan.
"Aku jadi bertanya-tanya, akan seperti inikah putri kita nanti?" Tanya Evan lagi.
"Mana aku tahu, dia belum lahir. Lagipula itu pasti hanya alasan kamu saja supaya bisa mengerjaiku." Carissa masih bersungut-sungut.
"Kamu juga sekarang jadi galak. Apa putri kita nanti juga akan galak seperti ini?" Tanya Evan lagi.
Carissa agak membeliakan matanya karena mendengar Evan mengatakan dirinya galak.
"Kamu sekarang juga jadi banyak protes dan cerewet, seperti nenek-nenek." Balas Carissa tak mau kalah.
Sontak Evan tertawa. Melihat hal itu, Carissa tampak kesal dan melahap habis permen kapas di tangannya dalam waktu sekejap. Dia juga langsung merebut permen kapas milik Evan untuk dimakan juga.
Evan tercengang.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu ambil punyaku juga?" Tanyanya.
Carissa tak menjawab dan langsung melahap permen kapas yang direbutnya dari tangan Evan tadi hingga tak bersisa.
Evan terperangah sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada makanan manis lagi setelah ini. Kamu sudah cukup banyak mengkonsumsi gula." Ujar Evan dengan nada lebih serius.
"Tapi aku mau makan tiramisu." Jawab Carissa.
"Tidak, cukup." Evan menolak dengan tegas.
Carissa menghentikan langkahnya dan menatap Evan dengan tatapan tak suka. Mau tidak mau Evan juga menghentikan langkahnya.
"Tapi aku ingin sekali makan tiramisu..." Ujar Carissa lagi.
Astaga. Evan hampir gila melihat ekpresi Carissa saat ini. Entah kemana perginya seorang pianis terkenal yang anggun bagaikan seorang dewi itu. Yang ada di hadapan Evan saat ini adalah perempuan yang terlihat mengemaskan seperti seekor anak kucing.
"Tidak." Evan berusaha setengah mati untuk mengatakan tidak pada Carissa.
"Terlalu berlebihan mengkonsumsi gula tidak baik untuk kesehatanmu dan calon anak kita. Jika kamu terlalu banyak mengkonsumsi gula, yang diserap janin dalam kandunganmu hanyalah kalori kosong, sehingga dia akan kekurangan nutrisi, yang artinya akan berpengaruh juga pada pertumbuhan sel otaknya. Belum lagi resiko bayi mejadi terlalu besar di dalam kandungan hingga menyulitkan proses persalinan. Dan juga resiko kalian berdua terkena diabetes." Evan menerangkan panjang lebar.
"Kamu menyebalkan..." Akhirnya hanya itu saja yang Carissa gumamkan sambil kembali melangkahkan kakinya.
Evan tertegun sejenak sebelum akhirnya melangkah cepat menyusul Carissa.
"Sayang..." Evan mengenggam tangan Carissa. Meski tidak merespon dengan senyuman, Carissa tidak menolak genggaman tangan suaminya itu.
"Kamu boleh makan apa saja sebanyak yang kamu mau, selama itu tidak merusak kesehatan." Ujar Evan.
Carissa menoleh dan mengangguk, berusaha berdamai dengan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya saat ini. Sebenarnya Carissa mengerti dengan kekhawatiran Evan, tapi entah kenapa ada sisi kekanakan yang hadir di dalam dirinya hingga membuatnya bersikap tidak mau tahu layaknya remaja labil.
Ditengah perasaannya yang berkecamuk, tiba-tiba mata Carissa tertuju pada sesuatu hingga membuat langkahnya kembali berhenti.
Evan ikut menghentikan langkahnya. Dilihatnya Carissa tertegun sambil melihat kearah sebuah toko bunga.
"Mau bunga?" Tanya Evan.
__ADS_1
Carissa menoleh dengan senyum mengembang.
"Iya." Jawabnya.
Evan ikut tersenyum, lalu menarik tangan Carissa masuk ke dalam toko bunga tersebut.
"Selamat datang." Pelayan toko bunga tersebut menyambut kedatangan Evan dan Carissa.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nyonya?" Tanya pelayan tadi dengan ramah.
"Tolong beri istri saya seikat bunga." Pinta Evan.
"Nyonya ingin bunga apa? Mawar, tulip, babybearth, krisan, atau lili? Atau mau kombinasi?" Tanya pelayan iti lagi.
Carissa melangkah melihat-lihat aneka bunga yang ada di toko tersebut. Lalu dia berhenti di hadapan bunga putih yang memiliki wangi lembut dan mampu membuatnya merasa tenang.
"Saya mau bunga yang ini." Ujar Carissa.
Pelayan tersebut mengangguk sambil tersenyum.
"Bunga yang Anda pilih adalah bunga lili, Nyonya. Lili putih ini punya makna yang sangat bagus." Ujar pelayan itu sambil menyiapkan bunga yang diinginkan Carissa.
"Bunga juga punya makna?" Tanya Carissa. Selama ini dia tidak terlalu suka ataupun tertarik dengan jenis-jenis bunga, jadi tidak tentang makna pada bunga.
"Benar, Nyonya. Setiap bunga punya makna tersendiri. Contohnya mawar, secara umum bermakna cinta. Bunga babyberath punya makna ketulusan cinta sejati. Sedangkan lili secara umum memiliki makna kesucian, kemurnian dan kesopanan, tetapi ada juga yang memaknai lili putih sebagai lambang persahabatan." Pelayan tersebut memberi penjelasan sambil masih menyiapkan buket bunga lili untuk Carissa.
Carissa yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, pelayan tadi menyerahkan sebuket bunga lili pada Carissa. Carissa menerimanya dengan wajah berseri. Langsung diciumnya aroma bunga itu sambil mengulas sebuah senyuman.
Setelah membayar, Evan dan Carissa keluar dari toko bunga itu dan kembali berjalan di trotoar menuju tempat dimana mobil mereka terparkir.
Sepanjang mereka berjalan, Carissa terus menghirup aroma bunga lili ditangannya sambil tersenyum. Sedangkan Evan tersenyum karena melihat Carissa yang tampak sangat senang. Bagi Evan, Carissa adalah wujud dari makna bunga lili itu sendiri. Seorang wanita yang begitu murni, yang selalu mampu menyejukkan hatinya.
Bersambung...
Emak mengucapkan terima kasih buat yang udah support supaya Evan dan Carissa lanjut terus. Jadi terharu...
Terima kasih juga buat semua doa2nya, semoga diijabah sama Allah. Amin.
__ADS_1
Jgn lupa like, komen dan vote ya
Happy reading❤❤❤